"Kau akan pergi ke butik dengan Lexy?" tanya Kris mendengar percakapan dengan Axel tadi.
"Tidak," jawab Real singkat.
"Oho.. jadi kau akan mengajak, Qia." Mata Kris terangkat dengan wajah jahilnya.
"Karena kita akan memesan gaun untuk pesta pertunangan, jelas aku akan mengajak Qia. Tidak mungkin aku mengajakmu. Karena aku tidak akan melakukan pertunangan denganmu. Jadi simpah wajah isengmu itu," Real keluar dari ruang baca di ikuti Kris.
"Nanti malam kau harus mau ke club bersamaku," kata Kris.
"Tidak. Besok aku punya banyak pekerjaan. Jangan lupa besok pagi kau juga harus bekerja. Jangan seenaknya saja hanya karena kau adalah sahabatku. Aku tidak akan segan membekukan kartu kreditmu," ancam Real. Kris menunduk lesu. "Bermain-mainlah dengan wanitamu sekarang. Aku akan pergi dengan Qia. Jangan menggangguku," hardik Real.
"Oke, tuan. Saya berjanji tidak akan mengganggu waktu berdua anda dengan wanita...," kata Kris layaknya ksatria kepada kaisarnya.
......................
......................
Real tidak bisa menemukan perempuan itu di sekitar ruang tengah. Apa mungkin dia sedang melakukan pekerjaan di dapur? Mata Real melirik ke arah pintu ruang makan yang langsung menuju dapur. Kakinya berjalan menuju kesana. Dan benar. Dia mendapati perempuan itu sedang mencuci piring dan sebagainya.
Bik Inah yang melihat kedatangan tuannya terkejut. Dia sadar tuannya itu tidak ingin nona Qia mengerjakan pekerjaan pelayan.
"Ikut aku pergi keluar, Qia," perintah Real. Qia memutar tubuhnya mendengar ajakan yang lebih mirip dengan tantangan perang. Tangan Qia masih penuh dengan sabun pencuci piring. Real menggeram dalam hati melihatnya.
Perempuan ini sangat, sangat keras kepala. Apa susahnya berdiam diri seperti nyonya besar? Hmmm... Tentu saja dia tidak ingin seperti itu. Karena tujuannya mendekatiku bukan seperti itu. Orang lain sangat mungkin sangat menginginkan hidup mewah dengan bersantai. Tapi dia memaksa untuk terus melakukan sesuatu yang sudah di kerjakan para pelayan di rumah ini. Dia memang aneh.
"Ini hanya pekerjaan ringan. Tolong ijinkan aku melakukannya," Rupanya Qia mengerti Real sedang geram melihatnya.
"Bersiaplah. Sepuluh menit lagi kita akan pergi," kata Real tidak membahas soal Qia yang mencuci piring. Lalu dia keluar dari dapur.
"Ya."
"Sudah saya katakan nona tidak perlu melakukannya. Saya sudah biasa karena ini memang pekerjaan saya," Bik Inah langsung mengambil alih pekerjaan Qia. Dia merasa telah melakukan kesalahan dengan membiarkan tamunya melakukan pekerjaan rumah. "Sebaiknya anda mencuci tangan dan segera bersiap-siap. Tuan pasti sedang menunggu Anda."
"Baiklah...." Qia berjalan menuju kamarnya. Bik Inah melanjutkan pekerjaannya yang sempat di gantikan Qia. Sebenarnya Qia bingung bersiap-siap bagaimana. Karena dia juga tidak terlalu suka berdandan. Akhirnya Qia hanya mengganti kaosnya dengan blus. Memakai sepatu kets dan segera turun.
Mata Real yang sedang menunggu di ruang tamu memindai tubuh kurus Qia. Sementara Qia hanya terdiam di amati oleh Real. Dia tidak berpikir banyak soal apa yang ada dalam benak lelaki di hadapannya itu. Qia memandang ke arah lain membiarkan Real memandangi dirinya.
Qia tidak terlihat berusaha tampil wow ataupun mempesona. Dia hanya perlu berpakaian wajar dan sopan. Dan juga tidak banyak yang bisa di pakainya dalam tas ranselnya. Dia hanya punya beberapa helai pakaian.
"Kau terlihat sangat lusuh," ucap Real datar dan dingin sambil berjalan menuju pintu depan. Qia membiarkan cacian Real. Dia adalah tunawisma di dalam rumah ini. Jadi wajar kalau dia harus diam saat tuannya mencaci maki. Tapi kalimat Real barusan senenarnya tidak terlalu di anggap oleh Qia. Dia sudah terbiasa dengan cacian makian semacam itu.
Axel sudah menunggu di depan. Menunggui tuannya dan Qia muncul di samping mobilnya.
"Masuk ke dalam mobil," perintah Real sambil menunjuk mobil berwarna hitam mengkilat dengan jari telunjuknya. Qia mengikuti Real yang masuk ke dalam mobil. Axel hanya membukakan pintu untuk Real karena Qia tidak mau pengawal pribadi Real melakukan itu untuknya.
Di dalam mobil Qia hanya diam. Tidak ada percakapan antara Qia dan Real. Qia hanya memandangi jalanan.
"Mobil ini akan menuju kemana?" tanya Qia tanpa menoleh ke arah Real.
"Kau akan mengetahui dengan segera," Mobil akhirnya sampai pada butik Elizabeth. Di dalam butik Eliz menyambut Real dengan ramah. Eliz adalah seorang perempuan berumur 37 tahun yang belum pernah menikah. Dia mendedikasikan hidupnya untuk dunia fashion. Dan ini adalah langganan keluarga Arkana.
Real adalah pembeli tetap butik ini. Jadi ELizabeth sangat menghormati bila pengunjung VVIP ini datang. Qia yang muncul belakangan dari balik Real sangat menyita perhatian ELizabeth. Bukan hanya karena Qia seorang perempuan, tapi juga penampilannya. Gaya berpakaian itu sangat kontras dengan penampilan Real yang elegan.
"Anda bersama seorang perempuan rupanya," kata Elizabeth masih dengan tatapan heran yang di sembunyikan saat melihat penampilan Qia yang sangat sederhana. Jauh berbeda dengan Real yang sangat berkelas. Tapi Elizabeth adalah orang yang mengerti tata krama. Dia tetap memperlakukan Qia seperti dia memperlakukan Real. Walaupun penampilannya sangat sederhana, seorang Real Arkana sendiri yang membawanya. Itu menunjukkan dia sangat spesial.
"Apa yang bisa saya bantu?" tanya Elizabeth dengan senyum mengembang. Minuman dan kue-kue kering sudah tersedia di meja untuk tamu spesial mereka.
"Bisa kau pilihkan beberapa baju untuknya?" Real menunjuk Qia yang sedang memandang sepotong baju cantik yang dipakai oleh manekin. Baju berpotongan dada sabrina dengan panjang selutut. Mengingatkan dia gaun yang di pakai saat bertemu pertama kali dengan Real.
"Qia, kemarilah.." Qia menengok dan berjalan mendekati Real. "Ikut dengannya."
"Untuk apa?"
"Dia akan memberitahu." Tangan Real menunjui ke arah Elizabeth yang sudah menunggu.
"Mari nona...." Elizabeth mempersilakan dengan tangannya di depan dada. Qia menatap ragu ke arah pemilik butik itu.
"Dia tidak akan memakanmu," kelakar Real tapi tanpa senyum atau gelak tawa terlukis di bibirnya. Semua orang pasti akan bingung akan menanggapi apa. Qia hanya mendengkus kecil lalu mengikuti Elizabeth di belakangnya. Pemilik butik itu menyodorkan banyak pakaian-pakaian indah.
"Tuan Real ingin anda memilihnya," kata Elizabeth. Qia mengerutkan kening. Pakaian itu sangat tidak cocok untuknya. Itu lebih cocok untuk sebuah ajang peragaan busana daripada di pakai sehari-hari. Bagaimana bisa Qia memakai itu semua di rumah. Qia berjalan ke arah Real.
"Pakaian itu, kau yang memilihnya?" tanya Qia.
"Kenapa?" tanya Real tanpa melihat ke arah Qia. Dia masih membaca halaman majalah bisnis.
"Aku tidak butuh pakaian semacam itu. Itu sangat tidak nyaman. Bisa berikan aku pakaian yang lain?"
"Tapi aku membutuhkannya. Ada waktunya kau harus tampil sempurna untuk menemaniku di suatu acara. Aku tidak mau kau berpakaian lusuh saat aku mengajakmu." Kali ini Real mengatakannya dengan menatap tajam ke arah perempuan di depannya. Ini semacam perintah.
"Seonggok sampah tidak akan terlihat sempurna walaupun di rubah dengan apapun," gumam Qia pelan. Perempuan ini menyebutkan kata sampah merujuk pada dirinya sendiri. Itu yang di katakan Felix D. saat Real datang ke rumah keluarga Qiandra untuk meminta ijin bertunangan dengan Qia. Felix D. mengatakan dengan tidak langsung bahwa Qia adalah sampah. Maka dari itu Felix Dexy Qiandra membiarkan Qia di bawa oleh musuh bisnisnya.
Ujung mata Real melirik ke arah perempuan yang berdiri di dekat pintu ruang ganti. Dia mendengar gumam kecil barusan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 192 Episodes
Comments
Nadia
aku suka novel yg tipe" seperti ini
2022-07-30
0
Wulan Zahira
kemana ortunya Qia????seperti apa yaw kehidupannya sebelum ketemu real...kayaknya penuh dg penderitaan
2021-12-28
0
Widuri
lady sumpah cara penulisanmu istimewah, q bener2 terbuai setiap q baca dalam imajinasiku karakter pemeran dalam novel org2 cerdas, dan pasti lady slalu bikin pemeran cewek wanita kuat q suka karakter tanpa harus nangis buat cari perhatian sicowok, ingat asha dan arga, trs ada novel 1 lagi tapi bkn karya lady tapi juga bagus cewknya kuat walaupun lemah dia dihadapkan 2 binatang buas, tapi tetep tegar tanpa nangis bombay (akram dan alana), buat lady sukses selalu, q lama gk baca novelmu ni buka lagi, maklum q muda bosan
2021-10-05
4