Suasana pagi ini cerah sekali. Real tidak ke kantor karena ini adalah hari libur. Sengaja dia bangun lebih pagi dan keluar kamar setelah selesai membersihkan diri. Ujung matanya melirik ke pintu kamar Qia yang tertutup. Seperti tidak ada pergerakan di dalam kamar. Menandakan bahwa dia masih tidur.
Tapi langkah Real terhenti saat mendapati perempuan itu sedang berdiri membawa penyedot debu. Dia sedang membersihkan ruang tengah yang berada tepat di bawah tangga. Real melihat tidak percaya dari balkon di dalam rumah di lantai dua.
"Apa yang sedang kau lakukan?!" tanya Real dari balkon. Qia yang tidak menyangka akan mendapat salam pagi dari Real Arkana adalah dengan pertanyaan itu kaget.
"Maaf. Aku sedang membersihkan rumah." Real menuruni tangga.
"Apa aku mengajakmu ke sini untuk jadi pembantu atau semacamnya?!" tanya Real agak keras saat sudah sampai di hadapan perempuan itu. Qia diam.
"Jawab pertanyaanku?!" tanya Real geram.
"Tidak."
"Dan apa yang kau lakukan sekarang?! Apa kau juga akan membersihkan semua halaman rumah?! Mencabut rumput dan sebagainya itu?!" Real murka. Qia diam lagi sambil menunduk. Entah apa yang membuat Real sangat marah.
"Aku membawamu kesini adalah sebagai tunanganku.." desis Real geram.
"Bukankah itu hanya palsu? Bukankah itu hanya sebuah kesepakatan?" kali ini Qia mendongak.
"Lalu? Apakah kau juga akan melakukan sesuatu di luar kesepakatan? Bukankah syarat dariku adalah kau harus mengikuti semua perintahku."
"Benar." Qia tidak bisa lagi menghindar semua perkataan Real benar. Persyaratan kesepakatan ini adalah mengikuti perintahnya.
"Perintah dari ku adalah... hiduplah dengan tenang di dalam rumah ini. Jangan melakukan hal-hal lain selain hal yang kau sukai. Karena di dalam rumah ini tidak akan ada yang menjahatimu." Hampir saja Real mengatakan soal luka di punggung Qia. Untung saja lidahnya masih bisa di kendalikan.
"Terima kasih. Tapi membersihkan rumah adalah kebiasaan yang aku sukai." Real yakin saat ini dirinya sudah kalah debat dengan perempuan ini. Apa yang harus di lakukan supaya dia tidak bekerja terlalu berat.. Real memejakan mata berpikir.
"Kau tahu, aku sangat tidak menyukai rumahku di huni orang yang sakit. Aku tidak ingin kegiatanmu membersihkan rumah membuat orang panik karena kelelahan dan kesakitan." Maksud Real adalah merujuk pada kejadian di ruang makan itu. Tapi Real tak ingin kekhawatirannya terlihat.
"Sakitku tidak akan muncul hanya karena aku lelah, Re.... al." Ini pertama kalinya nama itu di sebut oleh Qia. Terasa canggung dan berat.
Kenapa harus menambahkan nama itu pada kalimat barusan, sesal Qia dalam hati.
Real terdiam. Matanya memandang perempuan di depannya.
"Kalau kau suka sekali dengan bersih-bersih, kau cukup membersihkan kamarku saja. Tidak boleh membersihkan tempat lain kecuali kamarku dan kamarmu sendiri," kata Real kemudian yang membuat Qia mendongak kaget.
"Ini perintah." tegas Real. Wanita ini akan terus mementangnya kalau tidak di tekan.
"Kalau memang kau merasa sakit, kau harus segera memberi tahu. Bukan, kau harus segera melapor padaku. Jadi kau bisa memeriksakan tubuhmu dengan segera," kata Real tanpa melihat Qia karena segera memutar tubuhnya dan kembali menaiki anak tangga satu persatu dan kembali ke lantai dua. Qia masih memandangi punggung itu dari belakang sampai dia hilang kembali masuk ke kamarnya.
"Terima kasih.."
Hhhh.... Real langsung merebah.
Wanita itu sangat keras kepala. Apa yang akan di lakukannya kalau dia kesakitan seperti itu saat sedang sendirian? Bodoh sekali kalau aku memikirkan itu. Semuanya terserah dia asal kesepakatan dengan dia tercapai. Dia menerima keuntungan dari kesepakatan ini begitu pula aku.
"Sarapan sudah siap, Tuan," kata Bik Inah tak lama kemudian.
"Ya. Terima kasih." Real beranjak dari tempat tidur dan keluar kamar. Menapaki anak tangga untuk turun ke lantai satu. Qia yang menyadari keberadaan Real langsung memutar tubuhnya dan membungkuk. Real tidak mengindahkan Qia yang membungkuk tapi langsung melangkahkan kaki untuk menuju ruang makan.
Dia marah? Soal aku yang bersih-bersih? Bukankah itu keuntungan yang dia dapatkan. Tapi aku rasa dia sangat tidak menyukai itu. Hh...
"Dia sudah makan, Bi?" tanya Real di ruang makan.
"Siapa yang di maksud, tuan?" tanya Bibi tidak paham. Karena di rumah ini sekarang ada dua tamu, Kris dan Qia.
"Qia."
"Sudah Tuan. Tapi hanya sedikit."
"Kenapa? Apa makanannya tidak enak? Atau bukan selera dia?" cecar Real tidak sabar. Bik Inah menggeleng.
"Saya rasa perutnya nona Qia bermasalah. Nona makan beberapa suap saja sudah mual mau muntah. Saya pikir dulu Nona selalu melewatkan jam makan. Jadi sekarang perutnya tak terbiasa untuk makan rutin,"
Melewatkan jam makan? Dasar bodoh! Manusia itu butuh makan. Kalau makan saja di lewatkan bagaimana dengan daya tahan tubuhnya. Pantas saja dia terlihat kurus seperti itu.
"Halo, Qia. Apa yang sedang kamu lakukan?" sapa Kris yang juga muncul.
"Membersihkan rumah," Kris melihat wanita itu dengan seksama.
"Real sudah bangun?"
"Sudah."
"Apa dia melihatmu?"
"Ya." Kris manggut-manggut.
"Sekarang ada di mana dia?"
"Di ruang makan."
"Oke, terima kasih Qia... Sebentar," Kris berhenti dan memutar tubuhnya.
"Kamu sudah makan?"
"Sudah."
"Bagus. Aku akan makan juga," Kris memberikan jempolnya dan melangkah menuju ruang makan. Dimana Real yang sedang berhawa muram.
"Kenapa diam saja disini? Dia sedang melakukan sesuatu di sana. Apa kau yang memberinya perintah?" kata Kris yang langsung membahas Qia.
"Tidak. Itu inisiatifnya sendiri. Dia sangat ingin bekerja."
"Apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Seorang puteri keluarga kaya sangat jarang melakukan hal itu karena sudah banyak pelayan di dalam rumahnya. Tapi dia melakukannya seperti kegiatan sehari-hari. Dia tidak merasa terbebani melakukan itu semua." Kris langsung menyendok nasi.
"Dia sangat keras kepala," ucap Real geram. Kris melirik. Ekspresi kesal yang sangat terlihat jelas. Tapi itu bukan raut wajah ingin menghukum orang yang membuatnya kesal. Real hanya kesal cuma itu. Dia lebih terlihat muram saat mengatakan Qia sangat keras kepala.
"Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?"
"Tidak ada." jawab Real singkat. Kris tersenyum. Pasti ada sesuatu yang Real sembunyikan. Semuanya terlihat sangat jelas dengan sikapnya belakangan ini yang sangat berubah. Tapi Kris tidak mendesak untuk bertanya lebih jauh. Yang perlu di lakuka adalah menonton. Dan dia akan maju apabila saatnya di perlukan.
"Bagaimana kalau pekerjakan dia di kantormu," usul Kris.
"Dia tidak mau aku yang memberinya pekerjaan. Dia ingin mencari pekerjaan sendiri," kata Real sambil menyuap nasi ke mulutnya. Baru kali ini Kris melihat Real yang sengaja mengalah pada orang. Real itu orang yang kaku. Dia tidak mau keputusannya diubah oleh orang lain.
Akhirnya ada orang baru yang merubah suasana kaku ini. Kris tersenyum.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 192 Episodes
Comments
Ficky Anggraini Sunarko
you are the best Thor...i like it...👍👍👍
2021-07-27
0
Sisilia Jho
seru ya Kris dapat tontonan komedi romantis, seorang Real yg sedang jatuh cinta tanpa di sadari, jatuh cinta sama tawanan yg keras kepala
2020-11-19
0
icequen_
aku jarang komentar Thor tapi like ku ngak pernah hilang di setiap bab
2020-11-17
18