Memang banyak orang datang ke hadapan Real untuk hal-hal yang menguntungkan bagi mereka.
Jika seorang pengusaha yang mendatangi Real berarti dia ingin berbisnis dengan Arkana Corporation yang mencakup semua bidang. Apabila konglomerat itu punya puteri, maka orang itu akan mendatangi Real dengan menyodorkan puterinya untuk di nikahi.
Menjadikan seorang Real Arkana sebagai menantu adalah sebuah keuntungan yang berlimpah.
Apabila seorang musuh yang mendatanginya, berarti dia ketakutan akan di lenyapkan Real dan memohon ampunan. Apabila orang susah yang datang mengunjungi Real berarti dia meminta bantuan dan uang.
Namun tidak ada yang datang mengharap untuk dilenyapkan. Hanya perempuan ini.
"Lexy, bawa dia ke ruanganmu. Tunggu disana. Jangan masuk ke ruanganku sebelum aku panggil," perintah Real kemudian.
Mengakhiri keheningan di dalam ruangan karena semua tertegun dengan ucapan yang muncul dari wanita itu.
Kris tersenyum simpul. Axel tidak jadi bertindak. Dia jadi diam si dekat perempuan itu. Lexy mengajak perempuan itu ke ruangannya.
"Silahkan ..." Lexy mempersilahkan Qia menuju pintu keluar dengan tangannya. Qia masih diam sambil memandang ke arah Real.
Saat aku berjalan selangkah keluar menjauh dari ruang ini, apa aku akan masih punya kesempatan untuk bertemu dengannya lagi. Apa aku punya kesempatan untuk meminta dan memohon bantuannya lagi. Apakah akan ada kesempatan seperti ini lagi?
Matanya menatap sayu ke arah Real yang mulai duduk di kursi kerjanya. Kris mencoba mempelajari arti mata itu. Dan melihat ke arah Real yang tidak lagi melihat ke arah perempuan itu.
"Nona ..." panggil Lexy. Karena Qia tidak segera melangkahkan kaki. Mendengar ini Real mendongak.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Real yang melihat wanita itu masih di ruangan ini.
"Tidak ada. Maaf," jawab Qia lalu mengikuti arahan Lexy. Selepas perempuan itu pergi Real mulai bicara,
"Kau sudah mendapatkan informasinya?" tanya Real ke arah Axel. Orang kepercayaan yang mampu mencari informasi apapun. Axel mendekat ke meja kerja tuannya.
"Dia puteri keluarga Qiandra ...." Begitu ungkap Axel saat memberitahu soal perempuan yang meminta pertolongan saat pesta tadi malam.
"Aku tidak pernah tahu keluarga Qiandra mempunyai seorang puteri ...," gumam Real sambil masih mengerjakan sesuatu di laptopnya.
"Keluarga Qiandra?" tanya Kris ingin tahu.
"Kau masih di sini?" tegur Real.
"Ayolah Real ... Aku juga ingin ikut dalam kejadian seru ini."
"Bukankah aku bilang ini bukan mainan. Apa kau juga tertarik akan mengencaninya karena dia seorang perempuan?"
"Bukan itu maksudku. Oke. Aku akan diam jikalau kau merasa terusik dengan mulutku. Tapi biarkan aku disini," ujar Kris sambil memohon. Rupanya Kris merasa rugi kalau tidak bisa ikut dalam interogasi kali ini.
"Ingat. Tutup mulutmu!" hardik Real.
Kris menyatukan ibu jari dan telunjuk untuk membentuk ok. Dia setuju persyaratan Real supaya bisa tetap menyaksikan perempuan itu. Kris terlampau penasaran hingga merasa perlu mengikuti kelanjutan cerita ini.
"Ada yang sengaja menghapus data soal dirinya dalam semua berkas-berkas keluarga Qiandra. Sehingga banyak orang yang tidak tahu tentang puteri ini," beber Axel.
Tangan Real berhenti. Mengernyitkan alis. Kris juga menguping tapi tidak berani berkomentar.
"Menghapus?" tanya Real sambil menatap serius ke arah Axel.
"Benar."
"Siapa dia?"
"Saya masih belum bisa menemukannya."
"Bahkan dirimu juga tidak bisa?" tanya Real lambat. Menekankan kalimatnya kalau hal itu tidak mungkin. Namun Axel terdiam yang artinya dia belum bisa mengetahui orang yang menghapus data berkas keluarga Qiandra.
Tatapan mata Real kembali tajam. Ada nada tidak suka di sana. Axel terdiam. Dia siap menerima hukuman.
"Baiklah .. aku tidak perlu tahu siapa itu." Axel lega. Real diam sejenak. Berpikir mau diapakan perempuan itu. Real ingat lagi kata-kata perempuan itu soal melenyapkan diri. Baru kali ini dia mendengar ada orang yang ingin di lenyapkan olehnya selain musuh-musuhnya.
Kalau ada yang sengaja menghapus datanya berarti ada yang mengincar dirinya.
Real mengatupkan jari-jemari dan memejamkan mata. Ini biasanya yang dia lakukan saat berpikir.
Kris memperhatikan Real.
Keputusan apa yang akan diambil Real saat ini. Biasanya dia tidak perlu berpusing memikirkan langkah yang perlu dilakukan untuk membereskan 'debu-debu' di sekitarnya. Namun entah kenapa kali ini Real perlu berpikir.
Kalimat sederhana tapi penuh makna tadi membuatmu sangat penasaran bukan? Kau ingin tahu lebih jauh apa maksud seorang perempuan yang tidak pernah di ketahui itu tiba-tiba ingin di lenyapkan olehmu.
Dia bukan ingin melenyapkan orang. Kalau hanya ingin melenyapkan orang, bukankah sebagai keluarga Qiandra dia bisa menyewa orang. Tidak perlu mendatangimu. Tapi untuk apa di ingin melenyapkan dirinya sendiri. Terutama sengaja ingin seorang Real Arkana yang melakukannya.
Lagi-lagi Kris tersenyum. Kali ini senyumnya lebih mengembang daripada tadi. Kris seperti menonton film. Menebak-nebak kejadian apa yang selanjutnya terjadi. Ini kejadian tidak biasa.
Kris lupa soal Dezka. Sampai ponselnya berdering lagi. Tubuhnya berjingkat saat melihat nama Dezka muncul di layar ponsel.
"Gawat!!" pekik Kris panik. Real yang sedang diam berpikir terusik.
"Kris!"
"Sorry, ini soal wanita ku. Gawat!" Kris menerima panggilan ponselnya.
"Ya, haloo sayang ... Kau sudah di hotel Atlantis? Baik aku akan kesana. Iyaaaa ... Aku akan kesana. Maafkan aku sayang ...Tidak. Aku sedang berbisnis. Aku rapat penting. Sebentar lagi aku pulang. Aku akan minta tolong pada petugas hotel untuk membuka pintu kamarku untukmu, Emmuah!" Perbincangan yang menggelikan. Raut wajah Real datar melihat Kris.
"Sungguh disayangkan aku tidak bisa ikut dalam kejadian seru ini. Aku harus pergi menemui wanitaku. Bye ... Real, Axel! Kabari aku kalau kau sudah bisa memutuskan," Kris pergi. Dan Real lebih senang saat dia tidak ada.
"Panggil perempuan itu ke sini dan kau tunggu di luar," Real memberi perintah. Axel segera keluar menemui Lexy. Selang beberapa menit, muncul perempuan itu. Real masih duduk di balik meja kerjanya.
"Duduk." Qia menggeram dalam hati saat Real menyuruhnya duduk. Seperti seorang tuan menyuruh hewan peliharaannya. Namun Qia wajib patuh. Real pindah tempat. Duduk di sofa yang sama seperti tadi.
"Apa yang kau inginkan dengan meminta bantuanku?" Mata Qia bersinar mendengar pertanyaan Real.
"Berarti Anda mengabulkan permohonan saya?"
"Tergantung dari apa yang kau tawarkan?" jawab Real dengan bersandar pada sofa.
Hh, ternyata memang tidak mudah melakukan penawaran dengannya.
"Ijinkan saya berada di dekat anda sementara waktu." Kening Real berkerut tapi masih mendengarkan penuturan Qia dengan seksama. "Anda bisa memanfaatkan saya. Gunakan saya dan manfaatkan saya juga sesuka anda," ucap Qia tanpa bermaksud merayu atau menggoda.
Tatapan matanya tidak sensual seperti banyak wanita yang dengan sengaja menyodorkan diri mereka untuk di tiduri. Tetapi tatap mata letih akan kehidupan. Kedua alis Real terangkat. Perempuan ini mengambil napas panjang. Seperti akan melakukan lompatan yang panjang.
"Tapi, aku tidak bisa memberikan nyawaku kepadamu. Karena percuma aku minta tolong padamu menyelamatkanku tapi dengan mudah menyerahkan nyawaku. Karena aku juga ingin hidup." Kedua alis Real terangkat. Ada yang mengusik pendengarannya. Kata 'saya' tadi tiba-tiba berubah menjadi 'aku'. Perempuan ini mungkin sudah larut dalam kalimatnya sendiri. Real membiarkan.
"Lalu?"
"Tubuhku bisa kau manfaatkan kecuali ..." Qia menghela napas kesal karena harus menjelaskan. Real mencoba menebak dalam pikirannya. "Aku tahu kau tidak akan menginginkan tubuh ini untuk ditidurimu, tapi aku perlu menegaskan, aku tidak akan mengijinkanmu untuk manfaatkan tubuh ini untuk kau ajak bermain-main di atas ranjang." Tatap Qia lurus dan tajam ke arah Real.
"Bahkan jika aku memaksanya?" Kalau saja Kris mendengar pertanyaan ini dari Real, Kris akan berteriak kegirangan. Kris, dimana kamu?
"Kenapa kau perlu memaksaku? Kau bisa memanggil perempuan yang kau bilang lebih indah dari tubuhku." Real tersenyum mendengar jawaban perempuan itu.
Membuat Qia merinding. Karena dia tahu itu senyuman palsu yang bisa saja artinya ; aku sangat tidak suka kau berada di depanku. Enyah, kau!
Real memegang dagunya. Berpikir. Lalu menatap Qia yang mulai gelisah. Alarm otomatis muncul pada tubuhnya. Dan tubuhnya merespon tanda bahaya itu dengan meremas ujung tasnya, bergeser sedikit untuk menjauh dari tuan berhawa gelap itu. Qia merasa was-was dengan apa yang akan dilakukan Real selanjutnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 192 Episodes
Comments
Borahe 🍉🧡
bru kali ini baca novel belum ketebak alurnya
2023-10-18
0
Tias Iyar
masih bingung mencerna ceritanya karena belum terungkap
2022-03-08
1
Januar
penuh dengan teka teki
2022-02-17
0