Real yang duduk di sebelah Qia, mulai menekan tombol panggil di ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Kalau boleh tahu, kamu sedang menelpon siapa? Kalau kau ingin menelpon seorang dokter, lebih baik jangan," tanya Qia ingin mencegah. Real menoleh.
"Aku memang akan panggilkan dokter untuk memeriksamu." Real hendak menelpon Liam, dokter keluarga Arkana untuk memeriksa kesehatan Qia, tapi perempuan itu mencegah.
"Jangan. Aku benar-benar tidak apa-apa. Aku tidak perlu seorang dokter. Aku hanya butuh istirahat," kata Qia masih dengan suara lemah. Tangan Real masih memegang ponsel yang sudah ada di dekat telinganya. Tangannya mengambang di sana.
"Aku tidak mau tiba-tiba ada mayat di rumahku. Sungguh merepotkan harus mengurusi hal semacam itu." Qia tersenyum hambar. Tapi dia juga sebenarnya merasa lucu.
"Percayalah. Aku hanya butuh sedikit ketenangan," pinta Qia. Kedua mata perempuan itu terlihat serius. Lebih tepatnya memohon kepada Real untuk tidak menghubungi dokter. Setelah mendengar itu untuk yang kedua kalinya, Real baru menutup ponselnya. Tidak jadi menelpon Liam dokter keluarga Arkana.
"Terserah." jawab Real. Tapi masih saja mencoba memperhatikan keadaan Qia.
"Tidak perlu menatapku dengan berwajah cemas seperti itu. Aku sudah terbiasa melalui ini. Buang kecemasanmu itu," kata Qia dengan wajah mengejek di balik rasa lelahnya. Kepanikan Real menunjukkan kecemasannya. Real berdiri dengan tiba-tiba dan menjauh dari sisi Qia. Lelaki ini baru sadar dirinya sedang mencemaskan perempuan yang baru saja menginjakkan kaki di rumahnya. Real melihat ke arah wanita itu dengan tatapan pongah.
"Aku hanya kasihan kepadamu," kata Real angkuh tidak ingin menunjukkan rasa kepeduliannya. Qia tersenyum tipis.
"Benar, seorang Real Arkana lebih cocok mengasihani orang daripada mencemaskan orang. Walaupun aku tidak suka, tetaplah bersikaplah seperti itu." Qia membenarkan posisi duduknya. Dan menghela nafas kemudian. Real menatap perempuan itu.
"Kalau kau sudah bisa banyak bicara seperti itu berarti kau punya banyak tenaga. Pertama mulailah dengan menghabiskan makananmu. Aku tidak suka orang membuang-buang makanan." tunjuk Real ke arah piring di atas meja makan di depan Qia dengan kesal lagi.
"Baik," jawab Qia lalu mulai menghabiskan makanannya lagi. Yang tadi sempat tak terurus karena kejadian yang membuat panik itu. Real kembali ke tempat duduknya. Wanita itu bersikap dingin lagi. Real sendiri masih belum paham kenapa perempuan itu bersikeras mengatakan tidak apa-apa dengan keadaan seperti tadi.
Mungkin dia tidak ingin orang-orang melihat rasa sakitnya barusan. Sepertinya dia juga tidak menyukai orang yang menatapnya iba. Lebih baik orang menghujat dan menghina, daripada dikasihani saat kita sedang berjuang. Itu sangat menyedihkan. Raut wajahnya mengatakannya dengan jelas. Tapi lebih lagi, dia tidak ingin di cemaskan oleh orang yang baru di kenalnya.
Dia hanya sementara. Dia hanya lewat saja. Jadi tidak perlu tergantung pada manusia lainnya. Harus membiasakan diri melakukan sendiri. Karena akhirnya dia akan lenyap sendirian. Real masih di sana. Tubuhnya enggan pergi walaupun perempuan di hadapannya sudah bersikap enggan dengan pertolongannya tadi.
Kadang Qia masih memejamkan mata sebentar, kemudian membuka mata lagi. Lalu makan dan menguyah perlahan. Memang tidak parah seperti tadi. Tapi perempuan itu masih mencoba bertahan dari rasa sakit. Real berdecih kesal melihat Qia yang sepertinya masih merasakan sakit. Tapi Real juga tidak mau beranjak dari tempat duduknya ataupun bertanya. Dia hanya perlu diam sambil memperhatikan.
Pelan-pelan Qia makan dan akhirnya makanan itu sudah habis. Real melihat Qia seperti seorang ayah yang memperhatikan seorang bayi sedang belajar makan.
"Real, aku datanggg!!!" muncul si playboy Kris. Qia dan Real menoleh ke asal suara. Laki-laki itu muncul dan membuat suasana tegang di meja makan buyar. Mungkin karena ketegangan itu, Real tidak mendengar langkah kaki Kris sebelum sapaan itu muncul.
"Halo juga Axel." Kris juga menyapa Axel yang setia berdiri di dekat pintu ruang makan. Axel akan membungkukkan badan memberi hormat kepada Kris. Tapi Real mencegahnya.
"Jangan membungkuk kepada Kris. Kamu tidak harus melakukannya, Axel."
"Baik, Tuan."
"Dasar kau, Real. Aku datang dan ingin melihat tamu kita," kata Kris yang datang tanpa permisi. Real tidak merespon. Dia terlihat tidak suka dengan kedatangan sahabatnya itu. Tapi Kris terlihat santai meskipun Real menatapnya tajam. Dia sangat tertarik untuk melihat Qia. Meletakkan pantatnya diatas kursi, tepat di depan Qia.
Qia juga hendak membungkuk memberi hormat.
"Tidak perlu seperti itu untuk seorang wanita. Aku bukan Real. Aku seorang pengagum wanita," kata kris dengan penuh rayuan. Bibirnya selalu saja mengucapkan kata manis bila yang di hadapi adalah seorang perempuan. Itu perlakuan khusus Kris untuk semua wanita. Kris tidak akan pernah kehilangan kata-kata manis bila untuk berbicara pada seorang wanita.
"Halo..." Kris menghentikan sapaannya karena dia sepertinya belum mengetahui nama wanita di depan Real.
"Qia. Namaku Qia," Perempuan ini menyebut namanya. Kris tersenyum dengan sikap Qia yang tanggap.
"Halo Qia," sapa Kris ramah. Dia memang ramah terhadap semua wanita. Lalu lelaki itu menatap ke arah Qia.
"Akhirnya kamu ada di rumah angker Real Arkana," Real melirik ke arah Kris.
"Rumah ini angker bukan karena banyak hantu, tetapi karena sikap pemiliknya yang sangat dingin membuat suasanan rumah jadi angker." Kris menjelaskan sambil tertawa senang. Yah, Kris memang senang menggoda Real sahabatnya.
"Rumah ini tidak angker. Rumah ini juga tidak dingin. Rumah ini hanya berkesan dingin dan angker. Tapi di dalamnya penuh kehangatan," kata Qia yang membuat Real menoleh dengan retina matanya yang sempat melebar. Kris yang duduk di depan Qia juga mengangkat alisnya terkejut dengan pendapat Qia.
"Benarkah? Apakah benar rumah ini penuh dengan kehangatan?" tanya Kris dengan mata berbinar jahil. Lalu menatap Real yang bersidekap. Dan Real perlu menampik tatapan Kris yang penuh selidik. Real merasa tidak pernah menyuruh wanita itu berkata demikian.
"Kamu baru di dalam rumah ini, kenapa sudah bisa mengatakan hal itu."
"Seseorang yang tulus itu akan tetap terlihat walaupun di tutupi dengan beribu keangkuhan sekalipun." Kris tersenyum senang. Dan lagi-lagi melirik Real dengan penuh kecurigaan. Lelaki ini tidak merespon tatapan penuh selidik Kris itu. Dia tertarik dengan apa yang di dengarnya barusan. Retina matanya melebar lagi saat mendengar Qia mengatakan itu.
"Aku sudah selesai makan. Bolehkah aku kembali ke kamarku? Aku sangat berterima kasih jika kamu mengijinkannya," ucap Qia datar.
"Ya. Silahkan." Qia berdiri dan membawa piring kotornya.
"Apa yang sedang kau bawa itu?"
"Piring kotor,"
"Mau apa kau dengan piring kotor itu?"
"Mencucinya. Aku terbiasa melakukannya. Jadi tidak masalah. Ini hanya sebuah piring, bukan?" Mendengar itu Real tidak bisa menjawab. Lalu mengibaskan tangannya untuk menyuruh segera pergi mencucinya. Kris yang menjadi penonton di sana memperhatikan dengan seksama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 192 Episodes
Comments
Hesti Ariani
selalu keren ceritanya👍👍👍💝
2021-12-31
0
Mogu
mata. aku bengakak bca novel ni dri jam 12min smpe jm 2 kurg udh ngabisin tisu bnyk untk bocah tdr pules sbkh ga ke usik suara mewek nda nya
2021-09-02
0
mia💞
udah lama d favoritin...baru sempet baca...
ternyata semenarik novel2 mu yh lain thor...
makasih buah karya nya...love you..😘😘😘😘
2021-08-31
0