Awalnya kedatangan Qia ke rumah, di sambut biasa oleh penjaga yang ada di pintu depan. Tapi saat muncul seorang lelaki dari dalam mobil, penjaga itu langsung terkejut. Lalu para pengawal yang menjaga pintu depan segera memberitahu seseorang lewat ponselnya.
Kedatangan Real Arkana ke kediaman keluarga Qiandra sungguh mengejutkan seluruh penghuni rumah. Melihat dari riwayat yang ada, keluarga Qiandra adalah pebisnis yang menjadi lawan dari Arkana Corporation. Kabar kuat berhembus dengan kencang soal tabiat mereka yang sangat berambisi dalam bisnis.
Mata mereka tak lepas menatap Qia yang datang bersama dengan lawan bisnis mereka. Aura tegang terasa sangat tinggi. Qia tidak memperdulikan mata-mata itu menatapnya aneh dan tajam. Kedua mata Real menangkap ketidaksinkronan hubungan gadis ini dengan orang di dalam rumah.
"Aku datang," sapa Qia datar saat melihat tante Imelda berdiri di depan pintu dengan wajah terkejutnya. Tapi Imelda langsung tanggap. Dengan senyum palsunya dia mempersilahkan Real masuk. Pelayan rumah segera menyediakan minuman untuk Real Arkana.
"Ada apa gerangan tuan datang ke kediaman kami?" tanya Tante Imelda dengan senyum menawan. Real juga tersenyum sambil menyeruput minuman yang di sediakan.
"Aku datang untuk dia." tunjuk Real ke arah Qia yang berjalan masuk ke dalam rumah bagian dalam. Axel membisikkan nama Qia dengan terlambat. Jadi Real hanya bisa menyebut, dia. Dalam hati Real sempat berpikir kenapa aku baru di beritahu soal nama itu. Tapi mereka tidak bisa berkutik.
"Ada perlu apa anda dengan keponakan saya?"
"Keponakan? Anda bibinya?" Real menaikkan alis. Jadi dia adalah bibi dari perempuan itu. Entah kenapa sejak Qia mendatangi rumah ini dia selalu menatap Qia dengan waspada. Seperti merasakan cemas yang sangat.
"Iya."
"Dimana orang tua Qia?"
"Kenapa bertanya soal orang tua Qia? Sebenarnya ada keperluan apa?"
"Aku dan Qia akan mengadakan pesta pertunangan." kata Real tenang. Bibi yang masih cantik di depannya itu tersentak kaget.
"Bagaimana bisa tiba-tiba anda mengadakan pertunangan dengan Qia, padahal dia..." Kalimat menggantung di sana. Lalu Tante Imelda memutar matanya. Membenahi rambut dan mulai tersenyum lagi. Menutupi kepanikan yang sesaat tersirat.
"Pertunangan? Anda tidak keliru?" tanya Imelda berusaha tenang.
"Tidak. Aku memang akan bertunangan dengan Dia," Tante Imelda pamit sejenak. Lalu dengan terburu-buru melangkah ke belakang. Menghampiri kamar Qia yang terbuka sedikit.
Brak!
Membuka pintu kamar dengan keras. Qia yang ada di dalam hanya menoleh tanpa bereaksi apa-apa. Imelda menghampiri Qia dengan mata geramnya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Imelda sambil mendorong bahu Qia. Tubuh itu goyah dan hampir saja terjatuh ke belakang kalau enggak ada meja di sampingnya.
Qia tidak menjawab. Lalu dia kembali memilah bajunya dengan kedua tangannya.
"Hei! Kau punya telinga bukan?!" teriak Imelda marah sambil menarik lengan Qia sampai akhirnya dia menoleh.
"Lebih baik kau tutup mata, telinga dan mulutmu.." ucap Qia datar. Kepala Qia mendongak dan menatap Imelda lurus.
"Bukankah itu yang anda katakan Tante?" tanya Qia kemudian. Imelda terhenyak kaget mendengar kalimat Qia yang mengulang perkataannya.
"Kau mulai berani berulah Qia. Seharusnya kau lenyap saat itu juga."
"Tenang saja tante, aku pasti akan lenyap
Jadi tante bisa merasa tenang berada di rumah ini. Sekarang, biarkan aku keluar dari rumah ini," kata Qia yang sudah selesai memilah bajunya yang hanya beberapa helai.
"Kau akan menghancurkan kami?" tanya Bibi Imelda dengan mata takut, penasaran dan juga ragu.
"Kenapa? Bibi takut kalau seandainya aku benar-benar akan menghancurkan keluarga ini? Hmmm.." Qia tersenyum sinis.
"Kenapa kalian yang biasa menghancurkan orang sekarang malah takut saat di hancurkan...," Bibi Imelda hendak meraih rambut Qia tapi segera di cekal oleh tangan Qia.
"Bersabarlah...Semuanya akan menjadi milikmu.." kata Qia dengan tatapan yang menekan. Imelda membulat kaget. Lalu Qia pergi tanpa permisi.
"Aku siap." Qia muncul di ruang tamu. Axel dan Real melihat ke arah perempuan itu. Mata Real menatap bawaan Qia yang hanya sedikit. Hanya sebuah tas ransel yang kemungkinan isinya hanya 2 sampai 4 pakaian.
"Aku hanya punya harta sebanyak ini. Jangan menatapku seperti itu." Qia paham arti tatapan laki-laki di depannya. Imelda muncul dari belakang Qia. Lalu tersenyum lagi ke para tamunya.
"Duduklah dulu Qia, bukankah kita harus membicarakan tentang hal ini secara terbuka dengan keluarga bukan," Imelda mengulur waktu. Mungkin dia sedang menunggu seseorang. Qia mendengus kecil dan membuang muka kesamping. Tersenyum merasa lucu. Real mengamati. Langkah kaki Qia menuju sofa dan kemudian duduk di sebelah Real.
"Aku sudah duduk sesuai dengan permintaan tante. Silahkan kalau ada yang mau di katakan." kata Qia.
"Sebentar lagi Om Dexy datang...," kata Imelda dengan wajah puas lalu menyeringai senang. Seperti berkata 'aku akan adukan kamu'. Imelda
"Saya harap anda mau menunggu Tuan Dexy. Orang yang bertanggung jawab atas Qia. Bukankah pertunangan ini harus dapat restu dari keluarganya?" Real melihat ke samping. Perempuan itu tidak perduli. Dia melihat ke arah lain. Lalu Real melihat ke tuan rumah.
"Saya tidak suka menunggu dan berlama-lama di sini. Tapi demi Qia, saya usahakan menahan diri untuk bisa menunggu." Qia terkejut dan menoleh ke samping. Menatap rahang tegas itu dengan heran. Demi Qia dia bilang? Sandiwara sudah di mulai ternyata.
"Kalau begitu bolehkah saya tinggal anda dan Qia sebentar?"
"Silahkan.." Real mempersilahkan. Imelda pergi dar ruang tamu. Tinggal Qia dan Real. Juga Axel yang masih berada di samping Real.
Qia menghela nafas. Meletakkan punggungnya ke sandaran sofa. Tasnya dia biarkan tergeletak di atas karpet cantik di lantai. Real diam mengamati perempuan di sampingnya. Perempuan yang swperti menjadi tamu di dalam rumahnya sendiri.
Tak lama seseorang berperawakan gempal tapi pendek datang. Dia Dexy. Orang penting dalam Qiandra Corporation. Pemegang saham terbesar. Di sampingnya Imelda menemani dengan membisikkan sesuatu di telinga Tuan Dexy. Saat sudah sampai di depan Real, dia tersenyum menyambut kedatangan Real.
"Haloo...suatu kehormatan seorang Real Arkana datang ke rumah kami.." Real berdiri dan menyalaminya. Qia masih tetap duduk di tempatnya. Hanya melihat saja tanpa berusaha menyambutnya.
"Kau kah itu, Qia?" tanya Dexy melihat keponakannya. Qia mengangguk. Dia hanya diam.
"Silahkan duduk, duduk.." kata Om Dexy mempersilahkan masih dengan wajah sumringahnya.
"Ada apa dengan maksud kedatangan anda, Tuan Real Arkana?"
"Aku akan bertunangan dengan keponakan anda, Qia." Dexy melirik Qia. Tapi gadis itu hanya duduk diam tidak ingin membicarakan apa-apa.
"Wow, ini sangat mengejutkan." Dexy mampu menyembunyikan rasa tidak sukanya terhadap ide ini.
"Aku bisa lepaskan satu kalau kau juga bisa lepaskan satu.." kata Real yang dengan kalimat penuh dengan kode. Qia dan Imelda hanya mengernyitkan alis tidak mengerti. Tapi Om Dexy diam sambil memegang dagu. Dia seoertinya paham arti dari kode Real. Maka dari itu dia coba berpikir.
"Aku tidak akan percaya padamu begitu saja, anak muda. Tapi tidak masalah. Bisa juga seperti itu." Dexy tersenyum menatap pengusaha muda di depannya.
"Lalu?"
"Ambil saja sampah yang memang akan aku buang." ujar Om Dexy. Sementara itu Qia mendengus merasa lucu. Kali ini dia paham. Dia mengerti. Sampah itu adalah dia.
"Kau mendapatkan restu tanpa bersusah payah, tuan." kata Qia tersenyum sambil menepuk pundak Real. Ini membuat Real terkejut. Tanpa permisi Qia berdiri menuju pintu keluar.
"Sekarang ijinkan kami pergi. Biarkan Qia tinggal di rumah Arkana," ini bukan seperti berpamitan kepada besan atau ipar. Kalimat itu seperti pengumuman bahwa mulai hari ini Qia akan pindah ke rumah keluarga Arkana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 192 Episodes
Comments
Andriani
kenapa keluarga Qia ya... om n tantee nya nih
2022-10-08
1
mia💞
mulai paham alur nya..
2021-08-31
0
manthili
karakter perempuan kuat semua best pokoke...
2021-08-15
0