Qia menghentikan obrolan soal aku dan kamu itu. Dengan cerdas dia memilih mengangguk setuju. Tak akan bisa Qia menentang Real Arkana.
"Baik."
Lalu Qia memakan makananya dengan perlahan. Dia termasuk perempuan yang rapi saat sedang makan. Tangannya menyendok dengan tenang lalu mengunyahnya perlahan. Tidak ada bunyi-bunyian yang terdengar dari mulutnya saat mengunyah. Sesekali tangan itu menyelipkan anak rambut yang jatuh ke atas pipinya. Lalu menyuap lagi. Mata bulat itu melihat ke sekeliling ruang makanan, menjelajahi rumah besar ini.
Berkali-kali anak rambut itu jatuh. Dan membuat perempuan itu kesal. Secara sembarangan dia mengikat rambut itu dengan pita pengikat serbet sebagai pajangan di meja makan. Terlihat lebih fresh karena semua rambut di ikat dengan baik.
Dari tempat duduk Real. Terlihat wajah Qia dari samping. Sudut pandang yang bagus untuk di lihat. Qia memang terlihat lebih santai daripada pertama bertemu. Entah santai atau dia hanya pasrah menjadi 'tawanan' Real. Kemungkinan pasrah memang besar. Melihat situasi dalam keluarganya yang tidak bersahabat itu membuatnya harus betah tinggal di kediaman Arkana.
"Makanlah yang banyak. Bukankah aku pernah bilang, walaupun kamu tunangan palsu, tidak seharusnya kau menunjukkan tubuh kurus keringmu di hadapan banyak orang."
"Baik." Dua kali perempuan itu menjawab Real hanya dengan satu kata. Baik. Itu pun dia tidak menambahkan kalimat jawaban lainnya. Singkat, padat, jelas, dan terasa membosankan bagi Real.
Bosan? Kenapa jadi membosankan jika hanya mendengarkan dia menjawab singkat. Bukankah itu berarti dia patuh terhadap orang yang lebih kuat darinya?
"Apa yang akan kau lakukan ke depannya?" tanya Real.
"Mungkin aku ingin bekerja."
"Kenapa? Untuk mengisi waktu luangmu?" Karena saat menjadi tunangan palsu Real bukankah akan tersedia semuanya baginya. Dan lagi dia tinggal dalam rumah mewah ini. Apa yang kurang dari itu?
"Bukan. Aku ingin menyimpan uang itu. Karena kelak saat aku sudah selesai dengan perjanjian ini, aku bisa melanjutkan hidupku. Meskipun membahagiakan menjadi seperti orang yang baru lahir, bukankah aku juga perlu uang saat hidup menyendiri nanti," Real menghentikan tangannya menyuap. Kalimat perempuan itu selalu menyedihkan. Selalu terasa kelam, hitam dan suram.
Real menghela nafas.
"Pekerjaan apa yang kau inginkan?"
"Maaf, saya tidak meminta pekerjaan kepada anda,"
"Ehemm.." Real berdehem. Mengkoreksi kata-kata Qia yang di rasa ada yang salah.
"Maaf, aku tidak ingin meminta pekerjaan kepadamu," Qia paham lalu mengulang kalimatnya dengan mengkoreksi kata-kata yang salah.
"Aku bisa memberimu banyak pekerjaan. Bermacam-macam pekerjaan hebat bisa kau lakukan kalau aku yang mengaturnya."
"Aku hanya membutuhkan pekerjaan biasa. Tidak perlu hebat."
"Kenapa? Padahal aku bisa memberimu pekerjaan hebat."
"Pekerjaan sederhana bisa membuat bahagia kalau sesuai dengan diri kita," Qia orang yang keras kepala rupanya. Real mulai memahami itu.
"Seperti apa?"
"Aku tidak tahu tapi aku pasti bisa menemukannya," jawab Qia yakin. Real meneguk minumannya. Dia menyelesaikan makannya lebih cepat.
"Apa kau pikir aku akan mengijinkannya?" tanya Real mengintimidasi. Qia lupa. Benar, saat ini dirinya ada di tangan seorang Real Arkana. Qia kembali makan. Tapi dengan wajah lesu lagi.
"Saat semua media sedang melihatmu karena kau adalah tunangan Real Arkana, bukankah seharusnya hanya hal baik yang boleh ditunjukkan. Kau sangat egois juga rupanya. Kau hanya ingin membuat nyaman dirimu saja tanpa melihat dampak bagi lainnya,"
"Benar. Aku memang seperti itu," ucap Qia lirih. Lalu dia merasakan kepalanya sakit. Sekilas percakapan aneh muncul di otaknya. Qia memejamkan mata.
"Dasar anak egois! Kau sudah di besarkan dengan baik tapi kau hanya memikirkan dirimu sendiri?!"
Real melihat ada yang aneh dengan perempuan itu. Dia kesakitan. Tangannya menggenggam erat dan gemetar.
"Qia!!" teriak Real. Brak! Real beranjak dari tempat duduknya dengan panik dan mendorong kursi dengan keras. Hingga kursi itu terjungkir ke belakang. Lalu mendekat dengan cemas. Dia terduduk di lantai dengan lutut sebagai tumpuannya. Agar lebih leluasa melihat keadaan Qia.
"Pak Samo! Pak Samo! Cepat, kemari!" Qia masih memejamkan mata. Tangannya masih gemetar.
Kepala Qia masih sakit tapi suara-suara itu perlahan hilang. Tangannya masih gemetar, tapi kemudian melemah. Genggaman tangan Qia melemah seiring dengan menghilangnya gemetar di tangannya. Ada suara lain yang mengisi kepalanya.
"Qia, kau tidak apa-apa?!" tanya Real setengah berteriak sambil memegang tangan Qia. Perlahan Qia membuka matanya. Qia kaget. Real berada sangat dekat dengannya. Tapi dia hanya bisa mengerjapkan mata dengan lemah.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Real dengan wajah cemas. Sepertinya suara-suara yang menindih suara menakutkan itu milik Real. Mata Qia mengerjap lagi. Hhh... Real menghela nafas lega.
Pak Samo datang di ikuti dengan yang lain. Semua panik mendengar teriakan Tuannya yang histeris. Axel juga mendatangi ruang makan. Melihat tuan mereka yang ada di lantai semua kaget dan heran. Seorang Real Arkana sedang berlutut di depan perempuan itu?
"Ya, tuan ada apa?" tanya Pak Samo khawatir. Semua menatap dengan pandangan yang sama. Real hanya menghela nafas lagi. Lalu berdiri sambil mengusap wajah dan rambutnya. Real menggelengkan kepala lelah seperti habis mengalami hari yang berat. Lalu menatap Qia yang mengatur nafas setelah terengah-engah tadi.
"Aku tanya. Kau tidak apa-apa?" tanya Real ke Qia yang masih terlihat lelah.
"Ya." Semua yang melihat hanya diam sambil memperhatikan. Real mengusap rambutnya lagi. Gusar. Hal ini tidak pernah terlihat dari seorang Real Arkana yang terkenal kuat, dingin dan tidak berhati di luar sana.
"Kembalilah kalian. Sudah tidak ada apa-apa." perintah Real. Tapi mereka ragu untuk melangkah pergi. Mendengar teriakan tadi itu sangat tidak biasa. Apalagi melihat Tuan Mereka sedang berlutut di depan perempuan yang baru datang itu.
"Aku sungguh tidak apa-apa. Kalian kembalilah," perintah Real dengan nada lembut. Walaupun diluar sana Real di kenal sangat kejam, tapi di dalam kediamannya sendiri, Real adalah orang yang hangat. Walaupun kadang moodnya bisa berubah sangat buruk juga. Semua pegawainya sangat menyukai majikan mereka yang baik.
Akhirnya setelah yakin tuan mudanya tidak apa-apa, mereka kembali ke tempat masing-masing. Hanya tinggal Axel di dalam ruangan. Dia takut keselamatan tuan mudanya terancam jadi dia masih diam berdiri di sana. Di dekat dinding. Real membiarkannya. Lalu dia menarik kursi makan di dekat Qia. Lalu duduk di atas kursi.
"Kau sungguh tidak apa-apa?" tanya Real lagi. Ini sudah kesekian kalinya Real menanyakan keadaan Qia.
"Ya. Aku sungguh tidak apa-apa." Qia sudah kembali seperti biasa. Wajahnya tidak lagi pucat. Jari-jarinya sudah bisa di gerakkan dengan normal. Qia hendak mengambil air untuk minum. Tangannya gemetar. Real meraih gelas itu dengan cepat dan mengambilkan air. Lalu menyodorkan ke Qia.
"Terima kasih." Qia meminumnya. Di temani Real yang duduk di sampingnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 192 Episodes
Comments
Yovi Zakaria
bagus novel nya author serti yg sudah sudah
2022-05-24
0
Kustri
Trauma masa lalu,,
2022-01-09
0
Syamsidar Imelda
masalalu qia penuh dgn tanda tanya
2021-10-05
0