Real tidak akan menurutinya begitu saja. Siapa Qia dengan seenaknya mengajukan syarat kepada tuan kejam dan dingin ini. Dia hanya kerikil kecil di keluarga Qiandra yang akan lenyap dan menguap di udara begitu saja tanpa ada yang bisa mengingatnya. Real tidak tertarik dengan perempuan ini. Dia hanya penasaran soal keinginannya yang ingin meminta tolong.
"Hanya itu?" tanya Real dengan tenang. Tapi detak jantung Qia tak berhenti berdetak kencang. Aura kuat Real memang tak tertandingi. Sangat mengintimidasi lawan-lawannya dengan mudah. Maka dari itukah banyak orang yang merasa gugup bila berhadapan dengannya.
"Yang aku pikirkan sekarang memang hanya itu," jawab Qia ragu akhirnya. Dia merasa perlu memberikan syarat lainnya lagi tapi tidak tahu apa.
"Apa yang kau maksud soal aku yang harus melenyapkanmu. Aku harus tahu itu." Qia terdiam. Tuan di depannya ini memang hanya sangat tertarik soal itu. Dia sebenarnya tidak mau menolong.
Soal itu seharusnya semua orang tidak perlu tahu. Cukup aku yang perlu tahu.
"Karena aku tidak tahu dimana letak keharusanku untuk menolongmu. Jadi, bisa saja perjanjian ini batal kalau tidak ada yang membuatku tertarik." Dia bisa membaca apa yang sedang di pikirkan Qia.
Real duduk bersandar di badan sofa. Menatap rendah ke arah Qia. Menunjukkan bahwa dia hanya secuil kerikil. Yang perlu di tendang hanya dengan ujung kaki akan terlempar jauh tanpa orang tahu. Dia ingin menguji wanita yang sangat ingin meminta tolong itu.
"Baiklah...Saya akan memberitahu anda." Qia akhirnya harus membuka semua rencana yang akan di jalaninya demi memuluskan jalan untuk dirinya sendiri.
"Saya ingin orang yang mengincar saya tahu, bahwa saya tidak bisa di sentuh jika saya berada di dekat anda, Tuan Real Arkana. Lalu dengan perlahan saya akan menghilang dan lenyap dengan bantuan anda." Qia menuturkan alasannya meminta tolong.
"Maksudmu...Kau ingin aku membunuhmu? Kau ingin mati?" Qia tersenyum lucu tapi juga sedih mendengar kata mati. Membuat Real sedikit terusik dengan senyum itu.
"Ya, kalau bisa. Tapi bukan. Aku hanya akan hidup dengan kehidupan baru. Bukan sebagai Qia dari keluarga Qiandra tetapi sebagai orang lain. Aku ingin lepas dari bayang-bayang keluarga Qiandra."
"Kau ingin menghapus dirimu yang sekarang, dan muncul sebagai orang baru?" tanya Real sambil memajukan badannya karena rasa tertariknya dengan kalimat Qia. Sepertinya dia mulai paham arti dari kata lenyap untuk perempuan ini.
"Ya," jawab Qia tegas. Real menyipitkan mata sedang berpikir. Menyandarkan tubuhnya kembali ke badan sofa. Menyilakan kakinya sambil sesekali melihat ke arah Qia. Berpikir lagi.
"Baik. Aku ikuti tawaranmu." Dan ternyata berhasil. Qia mengerjapkan mata. Matahari bersinar begitu cerah. Secerah hati Qia yang bisa menghela nafas lega. "Aku akan penuhi semua persyaratanmu." Semua berjalan lancar. Selancar air yang mengalir dari pegunungan menuju lembah. Sejuk dan damai.
Damainya hatiku.
"Dan kau juga harus mengikuti semua syaratku." Glek! Qia lupa laki-laki di depannya juga punya hak penuh untuk membuat persyaratan dengannya. Dan itu bisa lebih menakutkan daripada syaratnya.
Bodohnya aku sengaja melakukan penawaran dengan tuan menakutkan ini. Tapi memang dia yang paling cocok untuk jadi pelindungku yang kuat. Dia tangguh dan berani. Juga berpengaruh.
"Bukan syarat. Lebih tepatnya, perintah." Real menekankan pada kata perintah. Dan Qia paham itu lebih cocok dengan Real daripada mengajukan syarat. Dia berwenang atas perintah yang akan di lontarkan.
"Lexy, kau dan Axel masuk." perintah Real lewat intercom. Qia terdiam di sofa sambil menggerak-gerakkan jari-jarinya di atas paha. Gelisah akan kesepakatan yang akan dibuat.
"Sekalian saja. Karena kau yang telah menyebabkan berita itu bermunculan seperti penyakit, kau juga yang harus membereskannya," ujar Real membahas soal berita heboh di televisi itu lagi sambil menunggu dua orangnya datang.
"Apa maksud anda? Bukankah anda bilang akan membungkam mereka dengan paksa?"
Tok! Tok! Lexy dan Axel muncul dari balik pintu.
"Aku tidak perlu menyuruh pegawaiku kalau sudah ada dirimu yang membereskannya. Sesuai dengan keinginanmu untuk selalu berada di sampingku.." Qia berpikir keras lagi.
"Lexy, kau tidak perlu bersusah payah membungkam semua media itu. Aku punya rencana lain." Lexy mengangguk. Rencana lain apa itu. Apakah sangat menguntungkan atau tidak
"Axel, ikut dengan ku kerumah keluarga Qiandra." Axel mengangguk.
"Tunggu. Kenapa anda harus kerumah saya?" tanya Qia.
"Mengantarmu pulang. Kau harus kemasi barangmu yang di perlukan, kau akan tinggal di rumah Arkana,"
"Tinggal di rumah anda? Kenapa?" tanya Qia sangat terkejut. Dia mengulang pertanyaan yang sama. Kenapa dan kenapa.
"Bukankah kau akan menjadi orang yang selalu berada di dekatku?" tanya Real yang sudah mulai berdiri. Qia memikirkan sesuatu tapi kemudian geleng-geleng karena ragu. Tidak mungkin pikirannya sama dengan tuan yang berhati beku itu.
"Apakah...aku..,"
"Ya. Kau akan jadi calon isteriku sesuai dengan apa yang di beritakan," katanya dengan senyum ala Real Arkana. Senyuman yang di penuhi dengan ide jahatnya. Benarkah? Perlukah se-ekstrim itu untuk mendapat perlindungan dari seorang Real Arkana? Memang Qia ingin selalu berada di dekat dia, tapi bukan seperti ini.
"Lexy persiapkan kamar untuknya di rumah. Aku ingin kau menghubungi Pak Samo untuk membereskannya. Mulai saat ini dia adalah calon isteriku. Dan jangan sampai ada orang tahu selain kalian berdua. Camkan baik-baik itu," kata Real dengan menekankan kata calon isteri untuk di ingat baik-baik oleh mereka.
"Baik tuan," jawab Axel dan Lexy hampir bersamaan.
"Langsung malam ini, tuan?" tanya Lexy. Real mengangguk.
"Baik." Lexy langsung keluar ruangan mengurus semuanya dengan segera. Sementara Axel masih di dalam ruangan.
"Sepertinya ada yang sedang bermain api denganku. Dan sepertinya menarik jika aku sengaja mengikuti alur yang sudah di buat oleh mereka. Aku ingin tahu siapa mereka. Dengan mengikuti alur, mereka pasti akan muncul dengan pongahnya. Merasa aku sudah masuk perangkap mereka. Dan kau, sebagai ganti karena aku mau membantumu kau harus mengikuti apa yang aku perintahkan bukan?" Tunjuk Real ke arah Qia.
Hanya begitu saja? Aku sudah boleh bergembira? Aku sudah boleh bersorak, yeee!! Tidak. Sepertinya belum waktunya. Ini masih terlalu awal untuk merayakannya. Aku belum bebas sepenuhnya. Aku hanya akan menuju bebas. Tapi, bukankah ini malah tidak seperti bebas. Ahh sudahlah...
Real turun ke lantai dasar dengan Axel dan Qia.
"Jalan di sampingku." perintah Real ketus. Qia berjalan agak cepat untuk mengikuti langkah Real yang lebar. Juga agar terlihat sedang berjalan berdua.
"Tegakkan tubuhmu. Walaupun palsu, aku tidak ingin calon isteriku terlihat lemah seperti itu," Qia mengikuti semua perkataan Real. Sengaja Real berjalan sejajar dengan Qia. Dimaksudkan untuk mengecoh para pemburu berita yang masih berkeliaran di depan gedung Arkana Corporation melihatnya. Dan bisa membuat mereka menayangkan berita kehebohan lagi pada di televisi. Real.akan memancing pihak yang berani melawannya.
Sebenarnya Real.bisa langsung mencari mereka. Tapi Real sedang ingin bermain-main sedikit. Apalagi dengan kedatangan mahkluk asing yang memintanya bantuan untuk alasan ingin di leyapkan. Dan ingin memulai kehidupan baru sebagai orang lain.
Real tertarik dengan alasan nyeleneh perempuan di sampingnya. Tapi bukan hanya itu yang membuat seorang Real yang biasanya dingin mau menerima Qia. Real menemukan dirinya sendiri yang pernah ingin hilang dan lenyap dari kehidupan ini. Melihat diri Qia, Real seperti bercermin pada dirinya sendiri.
Itu dirinya pada 10 tahun yang lalu sampai ada seseorang yang bersedia menolongnya. Menjadikan dirinya kuat dan mampu menjadi sosok Real Arkana seperti sekarang ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 192 Episodes
Comments
Andriani
selalu menarik perhatian pembaca oh my Lady....
2022-10-08
0
Andriani
jodohnya Real Arkana nih
2022-10-08
0
Ujang Taqyudin
lanjut
2022-01-08
0