Dave baru saja mendapatkan wejangan dari ibunya, bahwa ia harus bersikap lembut dan penuh sopan santun pada wanita cantik yang akan di temuinya nanti di restoran. Dave memakai kemeja berwarna merah maroon dengan celana bahan yang dijahit dengan sempurna dan teliti oleh desainer. Baju bermerk memang tidak ada duanya. Selain bahannya yang nyaman dan jahitannya yang sempurna. Pakaian mahal itu memang berhasil membuat Dave merasa berkelas dari orang lain.
" Baiklah. Kali ini, wanita seperti apa yang akan aku temui. Apa dia mudah di rayu, atau pura-pura jual mahal padahal suka. Atau justru sangat murahan dan mata duitan. Apa aku bisa menemukan seseorang dengan sifat yang sama seperti Davina " Gumam Dave sambil menatap cermin besar di depannya. Tak lama, Dave langsung terdiam.
" Akh! Kau sadar apa yang kau katakan Dave. Kenapa kau harus membawa-bawa namanya ! " Teriak Dave dengan frustasi.
" Davina itu hanya budakmu, Dave " Gumam Dave lebih kepada dirinya sendiri. Ia menyambar jas mahalnya lalu segera mengambil kunci mobilnya dan melangkah pergi keluar dari dalam kamarnya.
Dave mengetuk-ngetuk jemarinya di setir mobilnya, berusaha memfokuskan diri untuk menatap jalanan sore ini. Namun tiba-tiba senyuman polos dan penuh keikhlasan melintas begitu saja di dalam kepalanya.
Ciiiiiittt.......!
Dave mengerem mobilnya secara mendadak di tengah jalan raya, suara klakson serta sumpah serapah orang-orang berhasil menyadarkan Dave bahwa ia hampir mencelakai dirinya sendiri. Dave memukul kasar setir mobilnya sembari menggeram marah entah harus kepada siapa.
" Ada apa denganku?! " Gumam Dave sambil mengusap kasar wajahnya. Belum pernah ia merasa seperti saat ini, melakukan kesalahan dan selalu merasa aneh pada diri sendiri. Namun reaksi tubuhnya selalu menyuarakan nama satu wanita yang sama.
" Apa yang sudah dia lakukan padaku? Kenapa aku jadi begini ? " Dave mengerang frustasi di dalam mobil. Ia bukan seperti dirinya sendiri yang biasanya selalu menganggap semua wanita itu biasa saja. Tidak ada yang mampu menguasai pikirannya seperti ini. Tapi pencopet miskin itu malah menjadi sosok yang lancang mengobrak-abrik isi pikiran dan hatinya. Ponsel berdering, menyadarkan Dave dari keadaannya sekarang ini.
" Davina " Gumam Dave sambil memperhatikan layar ponselnya dengan nomor wanita itu yang tertera disana. Dave menggeser layar ponselnya sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi mobilnya.
" Halo ! " Ujar Dave dengan sedikit membentak.
" Apa anda baik-baik saja pak ? "
Tanya Davina dengan nada suara yang terdengar takut.
" Aku sedang dalam perjalanan untuk menemui seorang wanita di restoran "
" Oh, berarti anda sedang menyetir. Kalau begitu saya akan mematikan panggilan ini pak "
" Ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku?! " Teriak Dave. Beberapa detik tidak ada suara dari gadis itu. Dave melihat ponselnya, tapi panggilan mereka masih terhubung.
" Anda marah pada saya pak? "
" Iya ! "
" Maafkan saya kalau begitu pak "
" Lalu, kenapa kau menelponku hah?! " Bentak Dave lagi.
" Anda akan marah lagi jika saya mengatakannya pada anda, pak "
" Katakan sekarang? Atau aku akan mendatangimu sekarang juga ! " Ancam Dave penuh amarah.
" Baiklah pak. Saya....ingin meminta izin untuk tidak masuk sore ini. Saya ingin menemani adik-adik saya ke kebun binatang. Berhubung hari ini hari minggu jadi sa....."
" Tidak perlu ! Aku perintahkan kau datang ke restoran Italia Sweet sekarang juga ! Tanpa bantahan "
Dave mematikan segera panggilan Davina lalu setelah itu Dave langsung melemparkan ponselnya ke atas dashboard mobilnya.
Davina menatap ngeri ponsel di tangannya sembari terdiam seribu bahasa. Adik-adiknya sedang menunggu kepastiannya. Tapi, Davina merasa gagal untuk memenuhi janjinya pada mereka. Dengan berat hati Davina harus memberitahu adik-adiknya.
" Akmal " Panggil Davina dengan lesu.
" Iya kak "
" Kakak minta maaf pada kalian. Hari ini kakak harus menemui bos. Dia meminta kakak untuk bekerja sore ini. Ke kebun binatangnya lain kali ya " Beritahu Davina dengan berat hati. Adik-adiknya yang lain menghampirinya.
" Jadi, kita tidak akan melihat gajah kak" Ujar Dami. Davina mengangguk lemah.
" Padahal aku ingin melihat harimau" Sambung Sina dengan kecewa.
" Kak, aku sudah mengenakan pakaian bagus" Amel ikut bersuara.
" Ah, lebih baik kita dirumah saja. Aku tidak terlalu suka kebun binatang. Aku malas mencium aroma kotoran mereka " Keluh Dodi. Semua menatap Dodi.
" Kau selalu saja beda dari yang lain Dodi ! " Pekik Amel, Sina dan Dami.
" Sudahlah, kita bisa pergi lain kali ya kan kak? " Akmal bertanya pada Davina. Gadis itu mengangguk sambil berusaha tersenyum.
" Iya "
" Jadi jangan bersedih, kita akan pergi tapi setelah kak Davina tidak sibuk lagi. Lagipula kakak sibuk begini demi kita juga kan"
" Iya kak" Semuanya menjawab meski dengan suara yang terdengar kecewa.
Begitu turun dari angkot, Davina langsung memasuki restoran Italia itu mengabaikan tatapan orang-orang yang jelas-jelas memperhatikan penampilannya. Kepala Davina berputar memandangi ke segala arah, mencari posisi Dave berada. Saat matanya menangkap posisi meja pria itu, Davina langsung segera menghampirinya.
" Anda membutuhkan sesuatu pak? " Tanya Davina dengan rasa kesal luar biasa pada pria di hadapannya saat ini. Tapi Davina berhasil menyembunyikannya dengan baik di hadapan Dave.
" Kau sudah tiba rupanya " Ujar Dave dengan tenang. Davina ingin sekali menendang wajah pria itu. Tadi saat ia menelpon pria itu membentaknya seperti orang gila dan sekarang Dave malah bertingkah tenang.
" Siapa dia Dave ? " Tanya wanita manis dan anggun yang duduk di sebrang meja. Dave tersenyum sekilas pada wanita itu.
" Dia pacarku " Jawab Dave dengan santai.
" Pacar ? " Wanita manis itu mengulangi. Davina ingin melabrak mulut pria itu.
" Pak Dave an....."
" Jangan memanggilku begitu sayang" Dave menarik tangan Davina. Membuat Davina ingin berteriak dan mengatakan ada apa dengan pria ini ?!
" Dave, kita baru saja membicarakan hal yang serius barusan "
" Iya aku tau, Selena. Tapi aku sudah lebih dulu berjanji pada pacarku ini "
" Saya bu...."
Dave menarik kuat tangan Davina membuat gadis itu segera menghentikan ucapannya.
" Kau pasti berbohong Dave " Selena menyipitkan kedua matanya. Dave sudah merasa aneh saat melihat wanita itu pertama kali. Selena terlihat manis dan berkelas. Dia bukan seperti wanita murahan yang bisa dengan muda ia rayu lalu ia tiduri dan setelahnya Dave akan memberi alasan pada ibunya bahwa calon menantu yang ibunya pilihkan adalah wanita murahan.
Dave tidak menyangka jika ternyata wanita itu memang seseorang yang serius dan penuh komitmen. Dave beberapa kali mencoba memberi alasan namun Selena selalu berhasil membungkamnya dengan kata-kata yang hebat. Wanita itu pintar sekali. Dave tidak suka wanita pintar seperti Selena.
Wanita itu bahkan berkata bahwa ia akan membawa Dave untuk bertemu langsung dengan kedua orang tuanya. Dan Selena juga mengatakan padanya, bahwa ia belum pernah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seseorang. Hanya Dave yang berhasil membuatnya merasakan perasaan cinta itu. Dave ingin segera pergi meninggalkan meja makan namun Selena selalu berusaha mencegahnya. Lalu Selena juga mengatakan bahwa wanita itu akan mengadu pada ibunya bahwa Dave telah melanggar janji. Dave gagal berpikir.
" Dia benar pacarku, Selena "
" Tidak mungkin seorang pacar memanggilmu pak"
" Dia hanya sedang berusaha menyembunyikan identitasnya padamu, Selena "
" Kau bukan pacarnya kan? " Selena langsung bertanya pada Davina. Membuat gadis itu langsung kebingungan.
Memang bukan mbak. Saya hanya budak pria ini. Aduh ! Bagaimana caranya aku memberitahu wanita cantik ini ?
" Lihat, dia diam saja. Berarti itu benar " Tegas Dave.
" Aku tidak percaya Dave " Selena menggeleng sambil tersenyum.
" Apa yang membuat kau tidak mau mempercayai ku?"
" Gadis ini tampak biasa saja. Dia bukan tipe wanita kesukaanmu. Wanita ini terlihat sederhana sekali, Dave "
" Oh, jadi kau tidak percaya padaku ya? " Dave tersenyum miring.
Dengan tiba-tiba Dave menarik tangan Davina membuat gadis itu tertarik ke depan dan jatuh terduduk di atas pangkuan Dave. Kedua lengan Dave melingkari pinggang gadis itu dengan sikap protektif.
" Pak...."
" Kau bantu aku atau aku akan memberitahu adik-adikmu rahasia terbesarmu, Davina " Bisik Dave.
" Kalian mau apa ?! " Tanya Selena dengan rasa terkejut luar biasa.
" Menunjukkan padamu bagaimana hubungan kami sebenarnya " Setelah mengatakan kalimat itu, Dave langsung mencium bibir Davina membuat gadis itu tersentak kaget dan melotot padanya. Dave menciumnya dengan lihai sedangkan Davina hanya bisa duduk diam diatas pangkuan pria itu.
Apa yang di pikirkan keparat ini??!
" Kau benar-benar jahat Dave ! " Ujar Selena dengan marah sambil bangkit berdiri dan meninggalkan Dave yang masih mencium bibir Davina secara sadar.
Aku berhasil melakukannya. Aku berhasil menciumnya. Bibirnya benar-benar manis, semanis gulali.
To be continued.....
Happy reading, love you guys😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Ratna Wati
awas nanti ketagihan Lo bang
2022-03-21
0
Mujiningsih
dah tau rasanya nanti ketagihan lho😆😆
2021-10-25
2
Lian Cin
klo Dave udh mencium bibir Davi pasti ketagihan n mau lagi mau lagi
2021-10-24
1