Dami terbangun lebih dulu lalu diikuti Akmal, Amel, Sina dan Dodi. Mereka menatap Davina dengan wajah yang penuh tanya. Apa gerangan kakak mereka yang telah bersiap-siap dengan setelan hitam putih subuh-subu begini. Sambil menggerutu, Davina menatap cermin di depannya dengan kedua tangannya yang sibuk mengikat helaan rambut panjangnya.
" Sudah mau berangkat kerja lagi kak? ". Tanya Dami.
" Iya Dami. Kakak harus berangkat lagi. Obatmu jangan lupa diminum ya "
Dami mengangguk.
" Perasaan Akmal, kakak baru saja pulang ke rumah kan? " Akmal menimpali.
" Iya. Tapi yang penting kakak tetap pulang ke rumah kan " Sahut Davina. Akmal terdiam.
" Iya sih kak. Tapi Amel bingung, sebenarnya kakak kerja apa sih? " Kini Amel yang bersuara. Sontak Davina menghentikan jemarinya yang sibuk memoles wajahnya dengan bedak bubuk yang ia beli di warung dekat rumahnya. Harganya hanya berkisar antara belasan ribu saja. Cukup murah bukan ?
" Kakak kerja halal kok mel, hanya saja bos kakak sedikit galak. Tapi dia baik kok " Davina memasukkan bedak bubuk itu ke dalam tasnya.
" Iya Amel tau kak. Tapi, sejak bekerja disana kakak jadi super sibuk " Celetuk Amel.
" Iya benar kak" Sambung Dami. Davina tersenyum lembut pada adik kecilnya itu.
" Kakak selalu berusaha untuk bekerja sebaik mungkin agar kalian bisa hidup dengan layak seperti orang lain. Jadi, untuk saat ini kakak akan selalu sibuk. Tapi, kakak janji saat akhir pekan nanti kakak akan mengajak kalian untuk pergi ke kebun binatang. Kalian mau? "
" Mau kak ! " Semuanya menjawab dengan cepat.
Davina sedikit berlari memasuki kantor Dave. Hari ini ia sudah di perintahkan oleh pria itu agar segera datang ke ruang meeting. Setelah bertanya pada satpam, Davina segera memasuki ruang meeting dengan pakaian hitam putihnya. Dave sudah duduk di depan banyak orang. Beberapa dari mereka tampan terkejut melihatnya, namun Davina tetap memfokuskan tatapannya pada Dave yang sedang melambaikan sebelah tangan padanya.
" Kau hampir saja terlambat "
" Apa meetingnya sudah di mulai pak? " Tanya Davina hati-hati.
" Sebentar lagi. Segera hidupkan laptopnya" Perintah Dave dengan tegas. Pria itu terlihat serius tidak seperti tadi malam saat mereka bermain basket bersama. Davina mengangguk cepat. Ia langsung menghidupkan laptop yang ada di hadapannya. Dave langsung berdiri sambil membenarkan setelan jasnya. Pria itu mulai berbicara dengan lantang di hadapan banyak orang, memaparkan segala hal yang bahkan tidak di mengerti sama sekali oleh Davina. Saat Dave memberi kode padanya untuk memindahkan setiap slide di layar infokus, Davina mengikuti perintah pria itu. Pagi ini ia bertugas untuk menjadi operator laptop bagi pria itu.
" Ku kira kau tidak bisa melakukannya dengan benar tadi " Ujar Dave sambil melangkah keluar dari ruang meeting. Davina mengikutinya dari belakang.
" Dan ternyata saya bisa pak. Apa anda merasa menyesal karena telah gagal membuat saya tersiksa pak? " Davina tersenyum senang.
" Tidak. Aku justru merasa senang karena kau telah berhasil melakukannya dengan baik. Setidaknya aku tidak malu di depan orang-orangku "
Terdengar dengusan kecil dari mulut Davina.
" Mr. Abraham ! " Panggil Alexa. Wanita itu terlihat buru-buru mendekati mereka.
" Ada apa Alexa? " Tanya Dave.
" Maaf sebelumnya jika pertanyaan saya sedikit tidak sopan. Kenapa anda menyuruhnya untuk melakukan tugas itu padahal biasanya saya yang berada di posisi itu " Alexa melirik penuh rasa cemburu pada Davina.
" Oh Tuhan Alexa, apa kau tidak punya pertanyaan lain yang lebih penting? " Dave berdecak kesal.
Alexa menunduk malu. Wajahnya seketika langsung memerah.
" Miss Alexa, jangan berani lagi mempertanyakan hal-hal yang tidak berguna padaku. Aku bukanlah orang yang cukup sabar untuk mendengar pertanyaan yang tidak bermutu " Setelah itu Dave langsung berjalan melewati Alexa yang masih menunduk. Davina hendak mengikuti pria itu, namun saat melihat wajah Alexa, Davina memutuskan untuk berhenti sejenak.
" Apa nona baik-baik saja? " Tanya Davina dengan tulus. Alexa melirik tajam padanya, membuat Davina sedikit terkejut dengan ekspresi wajah wanita itu.
" Pergi kau! " Ujar Alex lalu pergi begitu saja.
" Davina! " Teriak Dave sambil menggeram kesal. Sontak Davina langsung berlari cepat mengejar Dave.
" Tunggu pak ! "
" Awas saja jika kau berani menghentikan langkah kakimu. Kau tau bukan kalau kantor polisi masih buka hingga saat ini " Ancam Dave.
" Saya tau pak ! " Jawab Davina buru-buru.
" Anda mau kemana pak? "
" Makan siang "
" Baiklah. Apa saya juga harus ikut pak? " Tanya Davina lagi.
" Iya, kau harus selalu ikut denganku kemanapun aku pergi. Karena kau budakku " Tegas Dave.
" Baiklah " Ujar Davina dengan lesu.
" Lebih bersemangat, berani sekali kau menjawab ku dengan suara tidak bersemangat seperti itu ! "
" SIAAAP PAK ! " Seru Davina. Kedua sudut bibir Dave tertarik ke samping.
" Begitu baru benar " Gumam Dave.
Saat mereka berdua sudah sampai di depan restoran, Dave langsung turun begitu saja meninggalkan Davina yang masih sibuk melongo di depan pintu restoran. Dave mendesah kesal lalu kembali lagi menghampiri wanita miskin itu.
" Kenapa kau berdiri disini hah? " Tanya Dave dengan kesal. Davina menoleh sambil mencebikkan mulutnya.
" Apa saya tidak akan diusir pak? "
Dahi Dave berkerut seketika karena pertanyaan wanita itu.
" Lihatlah pak, semua orang yang di dalam restoran ini mengenakan pakaian yang bagus dan juga mahal. Aku takut pemilik restoran akan mengusirku. Lihatlah pakaianku pak, usang dan murahan. " Akui Davina dengan jujur. Dave memandangi Davina dari ujung kaki hingga ujung rambut. Ia baru sadar jika gadis itu hanya mengenakan kemeja putih dan celana kain berwarna hitam dengan sepatu karet hitam yang sangat murah. Outfit yang gadis itu kenakan mungkin hanya berjumlah seratus ribu saja.
Dave mendesah kesal, perasaan iba itu muncul lagi.Gadis kecil itu selalu membuatnya bersimpati, bersikap murah hati saat melihat penampakan yang selalu disuguhkan Davina padanya. Dengan kesal, Dave menarik cepat lengan Davina dan aksinya itu spontan membuat Davina terkejut.
" Pak ! " Protes Davina.
" Masuk saja, jika ada yang berani mengusirmu aku akan memukul kepalanya" Ujar Dave sambil membawa masuk Davina ke dalam restoran mewah itu.
Aku malu pak !
Saat sudah duduk di depan meja dengan makanan yang beragam jenis Davina terdiam. Dave menatap wajah gadis itu dari samping. Dave sudah lebih duku makan sedangkan Davina, gadis itu masih diam dan menatap semua makana itu seperti tidak berminat sama sekali untuk menyentuhnya.
" Kau sedang apa Davina? "
" Iya pak " Tubuh Davina sedikit tersentak kaget. Ia menoleh cepat pada Dave.
" Aku bertanya kau sedang apa? Kenapa kau tidak segera makan dan menikmati semua makanan ini. Apa makanan ini tidak sesuai dengan seleramu ? " Dave bertanya seperti seorang wartawan yang sedang memburu informasi.
" Bukan tidak enak pak. Semua makanan ini pasti enak rasanya. Tapi, aku tidak bisa makan karena....aku teringat pada adik-adikku. Mereka hanya makan telur goreng dan nasi putih. Saya tidak bisa makan pak. Maafkan Saya " Davina menundukkan kepalanya, meminta maaf pada pria itu.
Dave menarik nafas panjang dan sambil menggeram tertahan, ia langsung memukul pelan kepala gadis itu dengan sendok di tangannya.
" Aww ! "
" Pak ! Kenapa anda memukul kepala saya?! " Keluh Davina sembari menggosok-gosok kepalanya.
" Makan ! "
" Tapi pak....."
" Makan ! " Perintah Dave lagi.
Dia selalu saja memaksaku. Aku benci padanya!
Dengan setengah hati, Davina menyendokka satu persatu lauk ke dalam piringnya sendiri. Wajahnya tampak merengut kesal. Dave kemudian mengambil ponsel dari dalam saku jasnya lalu menghubungi Morgan.
" Segera datang ke restoran. Aku menunggumu! " Ujar Dave pada Morgan di seberang telepon. Setelah memberikan perintahnya, Dave langsung kembali fokus pada gadis disampingnya yang sedang mengunyah makanan dengan terpaksa.
" Makan yang benar. Habiskan semua makanan itu "
Davina tidak menyahut. Tak lama Morgan yang memang sudah tau restoran langganan pria itu menghampiri meja mereka.
" Apa ada sesuatu yang harus saya lakukan, pak ? " Tanya Morgan. Davina sontak langsung mengangkat wajahnya, terkejut dengan kedatangan asisten pria itu.
" Pesan seluruh makanan ini, bungkus lalu kau antar ke rumah Davina. " Perintah Dave sambil mengelap bibirnya dengan serbet kecil yang tergeletak diatas meja. Davina langsung menoleh pada Dave dengan kedua matanya yang berbinar penuh haru.
" Pak, anda....."
" Jangan cepat menyimpulkan, aku melakukan ini karena aku hanya ingin melakukannya. Aku tidak mau kau bekerja asal-asalan jika aku tidak memberi makan adik-adikmu juga " Potong Dave dengan cepat. Davina tersenyum senang.
" Terima kasih pak " Ujar Davina dengan senyum bahagia di wajahnya.
Sial ! Senyumannya begitu murni dan ikhlas. Kenapa dia selalu membuatku berubah begini ? Sadar Dave !
To be continued......
Happy reading, love you guys😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Nur Sanah
mulai dah tuch ada perasaan kasihan lama2 perasaan dihati1🥰
2022-12-27
0
Ratna Wati
ceritanya bagus tapi kenapa sedikit ya yang berminat
2022-03-21
2
Esi Susanti
mantap ceritanya,,,☺️☺️☺️
2021-10-28
2