Chapter 12

Dave memiliki lapangan basket pribadi di lingkungan rumahnya. Davina sampai harus merasa takjub beberapa kali. Davina jadi ingin tau apa pria itu juga memiliki lapangan sepak bola dan lapangan lainnya di dalam sini.

" Tangkap ! " Teriak Dave. Davina yang sedang melamun tidak sempat menangkap bola basket yang di lemparkan oleh pria itu. Akhirnya keningnya menjadi tempat pendaratan darurat bola tersebut.

" Aww ! " Pekik Davina sambil mengusap keningnya yang berdenyut sakit.

" Jangan banyak melamun budak, kau harus bekerja untuk menghiburku" Ujar Dave sambil menatap geli wajah Davina yang tengah kesusahan.

" Anda curang pak ! Saya masih dalam keadaan yang belum siap dan anda sudah melemparkan bola itu lebih dulu " Protes Davina lalu berjalan ke arah bola basket yang masih menggelinding di lapangan.

" Apa aku peduli ? "

" Tidak ! Anda tidak peduli pak ! " Teriak Davina dengan kesal. Memangnya ia minta di pedulikan, Davina cukup sadar diri bahwa ia tidaklah berharga untuk di pedulikan oleh orang lain. Dan Dave selalu mengulangi pertanyaan yang sama setiap kali ia protes.

" Cepat bawa kemari bolanya! "

Davina langsung melemparkannya dengan sekuat tenaga. Matanya berkilat tajam dan penuh amarah yang membumbung tinggi.

" Lempar yang sopan ! " Bentak Dave marah.

Memangnya dia sopan tadi saat melemparkan bolanya padaku?

" Dimengerti pak ! " Teriak Davina sambil mengambil posisi sedikit jauh di depan pria itu.

Dave memantulkan bola basket itu sambil menggiringnya mendekat ke arah Davina. Gadis itu mulai bersiap-siap untuk merebut bola dari tangan Dave. Saat posisi sudah dirasa cukup, Davina langsung berlari cepat ke arah pria itu lalu mencoba mengambil bola basket itu dari kedua tangan Dave. Sambil tersenyum tipis, Dave menghindar ke kiri dan Davina hanya bisa menangkap udara kosong dibelakangnya.

" Sial ! " Umpat Davina

" Apa yang kau lakukan budak?! Kejar aku ! "

Dave semakin menjauh, membawa bola basket itu mendekati ring. Davina yang melihatnya kembali mengejar Dave mencoba merebut lagi. Davina terus berlari sekuat tenaga, mencoba mengejar ketertinggalannya dan...

Bugh ! Bugh !

Ia jatuh tersandung kakinya sendiri, tubuh depannya menghantam lapangan. Dan kedua telapak tangannya harus bergesek dengan lapangan yang membuat kulit tangannya sedikit terkelupas. Davina memekik kesakitan sedangkan Dave dengan bahagianya melemparkan bola basket itu hingga masuk ke dalam ring.

" Sempurna " Gumam Dave penuh bangga menatap bola basket yang menggelinding masuk ke dalam ring.

" Hoi budak ! Sedang apa kau disana? " Seru Dave sambil berbalik, memandangi geli gadis muda itu yang mulai perlahan-lahan menghela tubuhnya sendiri.

" Belum apa-apa kau sudah terjatuh ckckck"

" Yah, bolanya sudah masuk " Sesal Davina sambil melirik ke arah ring.

" Lanjut ? " Tanya Dave.

" Lanjut. Jangan pikir bapak bisa menang dari saya" Davina bangkit kembali meski ia merasa sakit di kedua lututnya dan dadanya karena benturan tadi.

" Kau tidak putus asa rupanya ya. Kalau begitu kejar aku lagi " Dave bangkit berdiri lalu kembali membawa bola basketnya. Davina mengejar Dave kembali, ikut berbelok, mencoba merebut bola dari tangan pria itu tapi Dave malah mengangkatnya ke udara. Davina melompat, mencoba mengambil bola basket itu dari tubuh jangkung Dave. Pria itu tergelak, merasa puas berhasil membuat Davina kesusahan. Melompat-lompat persis seperti seekor kangguru.

" Kapan kau akan berhasil mengambilnya dariku " Ujar Dave sambil tertawa lepas.

" Saya pasti bisa pak ! " Davina melompat sekuat tenaga. Mencoba mengambil bola basket itu dari tangan Dave.

" Kalau begini terus, sampai setahun pun kau tidak akan pernah me....."

" Aaww ! " Pekik Davina yang tiba-tiba terjatuh karena kakinya terkilir dan ia dengan cepat berpegangan pada apa yang bisa di gapainya saat itu. Davina merasa begitu beruntung karena ia sempat menggapai sesuatu sebelum benar-benar jatuh terduduk.

" Maafkan saya pak ! " Desis Davina sambil mencoba untuk bangun. Namun saat Davina mengangkat wajahnya untuk memandangi Dave. Disaat itu jugalah Davina melihat dengan jelas sesuatu yang besar dan ketat menggantung di depan wajahnya.

" Apa itu ?! " Pekik Davina sembari melemparkan punggungnya ke belakang dengan cepat. Menatap horor pemandangan di depannya.

" Kau bermain basket atau sedang ingin menelanjangiku hah? " Ujar Dave dengan tenang padahal celana pendeknya sudah melorot hingga pergelangan kakinya menyisakan celana boxer hitam bertuliskan merk dagang ternama di pinggang berototnya.

" Davina kema....."

" Saya tidak mau bermain basket lagi pak !!! " Pekik Davina yang sudah berlari seperti orang kesurupan. Gadis itu bahkan beberapa kali jatuh lalu dengan cepat bangkit kembali lalu kemudian berlari sejauh yang ia bisa.

" Dia takut melihatmu junior. Jangan tersinggung " Gumam Dave sambil menunduk, untuk menatap miliknya.

" Dia benar-benar polos sekaligus bodoh " Decak Dave.

Davina berlari secepat mungkin, menjauhi Dave hingga saat ia hampir mencapai pagar depan, tubuhnya di cegat oleh satpam yang menyambutnya tadi.

" Kau di larang keluar dari rumah ini, nona" Seru pria satpam itu sambil menarik kasar bahu Davina.

" Saya harus pergi pak ! Biarkan saya pergi pak! " Ujar Davina dengan panik. Ia merengek pada satpam yang sedang menahan tangannya.

" Tuan Dave menyuruhku untuk menahanmu, nona" Pria satpam itu tengah menarik tangan Davina, membawanya kembali masuk ke dalam rumah. Kedua tangan Davina bergerak bebas, mendorong pria satpam itu agar menjauh.

" Saya tidak mau kembali ke dalam pak, lepaskan saya ! Biarkan saya pulang ! " Raung Davina. Aksi tarik menarik pun tak terhindarkan. Pria satpam itu terus menarik tubuh Davina, sedangkan gadis itu sengaja memberatkan tubuhnya sendiri.

" Kau keras kepala sekali ! "

" Aku mau pulang ! "

" Davina ! "

Matilah aku !

Davina menoleh takut-takut, tatapannya bergerak turun ke bawah dan syukurlah pria itu telah memakai celananya kembali. Dave melirik cepat ke arah satpamnya, menyuruh pria itu pergi dan hanya meninggalkan mereka berdua.

" Apa yang kau takutkan? " Dave berjalan mendekati Davina.

" Sa.....saya takut...." Ucap Davina dengan suara yang bergetar.

" Tenanglah, dia tidak berminat padamu. Dia hanya berminat pada wanita cantik yang sexy. Kemarilah ! " Dave menahan diri agar tidak tergelak di depan Davina. Gadis kecil itu lari kalang kabut, seperti dikejar-kejar oleh setan saat melihatnya hanya mengenakan boxer. Bagaimana jika Davina melihatnya tanpa sehelai benangpun. Dave tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi di wajah bodoh itu.

" Pak, saya tidak bermaksud melakukannya "

" Aku tau. Sekarang kemarilah, aku belum membolehkan kau untuk pulang " Tegas Dave sembari melambaikan sebelah tangannya pada Davina. Gadis itu perlahan mendekat namun Dave bisa melihat ketakutan yang jelas dari kedua mata hitam itu.

" Kau lari terbirit-birit saat melihat boxerku. Kurasa kau sudah cukup umur Davina " Dave terkekeh kecil. Sontak wajah Davina kembali memerah malu.

" Sudahlah pak, jangan di bahas lagi. Saya baru berumur dua puluh tahun"

" Wah, kau muda sekali. Tapi, banyak para gadis diluar sana yang sudah sangat mengenal bagian tubuh pria diumur segitu "

" Saya tidak berminat seperti para gadis-gadis itu, pak" Davina menunduk lesu. Jantungnya saja masih berdentum hebat.

" Davina " Panggil Dave. Dengan buru-buru Davina mengangkat kepalanya, menatap Dave dengan kedua mata gelapnya.

" Apa kau sudah pernah berhubungan *** ? "

" Pak ! Saya mohon jangan bahas hal ini lagi. Atau saya akan memaksa pulang dari sini "

" Come on Davina ! Ini hanya pembahasan biasa ! Semua orang sudah biasa membahas hal-hal seperti ini "

Davina menggeram tertahan.

" Jika saya menjawab pertanyaan ini, apa bapak akan berhenti membahas hal-hal menjengkelkan ini? " Tanya Davina.

Dave terlihat berpikir sebentar, tak lama kemudian pria itu tersenyum pada Davina.

" Baiklah. Aku akan berhenti membahas hal ini jika kau menjawab pertanyaanku"

" Saya tidak pernah melakukannya, pak " Ujar Davina secepat mungkin.

Benar-benar masih polos, murni dan suci.

Gumam Dave di dalam hati.

" Sudah saya jawab kan pak. Jadi saya mohon kita bahas hal yang lain saja, pak "

Dave sempat tertegun namun saat suara Davina kembali terdengar, Dave langsung tersenyum tipis.

" Baiklah Davina. Sekarang, kau ikut aku " Perintah Dave yang sudah lebih dulu melangkah masuk ke dalam rumah.

Davina mengikuti Dave dari belakang, ia hanya sempat melirik ke arah jam dinding yang ada di ruang tamu pria itu dimana jarum jamnya sudah berada di angka dua belas.

Sudah tengah malam dan aku masih harus mengikuti pria itu kesana kemari tanpa tujuan yang jelas. Aku bisa bangun kesiangan besok.

Dave membawa Davina masuk ke dapur lalu menyuruh gadis itu untuk menunggunya di dekat meja makan. Tanpa protes Davina mematuhinya, gadis itu menunggu dalam diam hal apalagi yang akan di lakukan oleh pria itu. Dave membuka kulkas lalu mengambil es batu dan menuangkannya ke dalam handuk kecil lalu mengikatnya.

" Gunakan ini untuk mengurangi lebam di kening dan juga kedua lututmu "

Davina sempat kaget dengan ucapan Dave namun setelah itu Davina buru-buru mengambil handuk berisi es batu tersebut.

" Terima kasih pak "

" Aku tidak benar-benar bisa memperlakukan budakku dengan kejam. Aku masih punya hati "

Memangnya aku ada bertanya. Tapi, syukurlah jika kau masih punya hati.

" Kau sudah makan malam? "

" A...apa pak ? " Davina terlalu kaget dengan pertanyaan Dave. Kenapa Davina merasa, Dave sedikit peduli padanya.

" Kau sudah makan malam? " Dave kembali mengulang pertanyaannya. Davina baru ingat bahwa dirinya belum makan tadi, ia hanya sempat meminum air putih yang diberikan Akmal lalu jatuh tertidur setelahnya.

" Belum pak "

" Kalau begitu tunggu disini. Aku akan mencari apa masih ada sisa makanan di dapur ini " Dave bangkit berdiri, meninggalkan Davina yang masih duduk di depan meja makan.

Sisa makanan? Kukira dia akan memasak untukku.

" Nah ini dia" Seru Dave sambil kembali membawa satu piring berisi omelet telur.

" Kau perlu nasi ? " Tanya Dave lagi. Davina mengangguk lesu.

" Ambil sendiri disana! " Tunjuk Dave pada alat pemasak nasi yang berada di atas meja di dekat kulkas.

Dengan terbelalak lebar Davina mencebikkan mulutnya.

" Ada apa dengan ekspresi wajahmu itu ? "

" Tidak ada apa-apa, pak " Davina buru-buru berdiri.

" Jangan-jangan kau kesal karena aku tidak memperlakukanmu dengan manis. Jangan berharap Davina. Aku tidak mungkin memasak untukmu atau mengambilkan nasi buatmu. Sudah diambilkan omelet, kau harusnya sudah bersyukur " Ujar Dave.

" Jangan terlalu percaya diri, pak. Ekspresi wajah saya begini karena saya ingin cepat-cepat pulang dari sini. Itu saja "

Dave terkekeh di belakangnya.

Davina ! Davina. Jangan mimpi ! Mana mungkin pria kejam itu peduli padamu.

To be continued....

Happy reading, love you guys😘

Terpopuler

Comments

Sarmila Ghaniyya Rahma

Sarmila Ghaniyya Rahma

bagus bgt karya mu thor

2023-02-02

0

Ratna Wati

Ratna Wati

di part ini aku ngakak thor,masa liat boxer lari terbirit-birit, coba kalau liat isinya langsung pingsan 😁😁😁

2022-03-21

2

Kenzo Julian

Kenzo Julian

linb oloiioko

2022-01-10

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1
2 Chapter 2
3 Chapter 3
4 Chapter 4
5 Chapter 5
6 Chapter 6
7 Chapter 7
8 Chapter 8
9 Chapter 9
10 Chapter 10
11 Chapter 11
12 Chapter 12
13 Chapter 13
14 Chapter 14
15 Chapter 15
16 Chapter 16
17 Chapter 17
18 Chapter 18
19 Chapter 19
20 Chapter 20
21 Chapter 21
22 Chapter 22
23 Chapter 23
24 Chapter 24
25 Chapter 25
26 Chapter 26
27 Chapter 27
28 Chapter 28
29 Chapter 29
30 Chapter 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chapter 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
79 Chapter 79
80 Chapter 80
81 Chapter 81
82 Chapter 82
83 Chapter 83
84 Chapter 84
85 Chapter 85
86 Chapter 86
87 Chapter 87
88 Chapter 88
89 Chapter 89
90 Chapter 90
91 Chapter 91
92 Chapter 92
93 Chapter 93
94 Chapter 94
95 Chapter 95
96 Chapter 96
97 Chapter 97
98 Chapter 98
99 Chapter 99
100 Chapter 100
101 Bonus Chapter 1
102 Bonus Chapter 2
103 Bonus Chapter 3
104 Bonus Chapter 4
Episodes

Updated 104 Episodes

1
Chapter 1
2
Chapter 2
3
Chapter 3
4
Chapter 4
5
Chapter 5
6
Chapter 6
7
Chapter 7
8
Chapter 8
9
Chapter 9
10
Chapter 10
11
Chapter 11
12
Chapter 12
13
Chapter 13
14
Chapter 14
15
Chapter 15
16
Chapter 16
17
Chapter 17
18
Chapter 18
19
Chapter 19
20
Chapter 20
21
Chapter 21
22
Chapter 22
23
Chapter 23
24
Chapter 24
25
Chapter 25
26
Chapter 26
27
Chapter 27
28
Chapter 28
29
Chapter 29
30
Chapter 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chapter 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78
79
Chapter 79
80
Chapter 80
81
Chapter 81
82
Chapter 82
83
Chapter 83
84
Chapter 84
85
Chapter 85
86
Chapter 86
87
Chapter 87
88
Chapter 88
89
Chapter 89
90
Chapter 90
91
Chapter 91
92
Chapter 92
93
Chapter 93
94
Chapter 94
95
Chapter 95
96
Chapter 96
97
Chapter 97
98
Chapter 98
99
Chapter 99
100
Chapter 100
101
Bonus Chapter 1
102
Bonus Chapter 2
103
Bonus Chapter 3
104
Bonus Chapter 4

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!