Dave memiliki lapangan basket pribadi di lingkungan rumahnya. Davina sampai harus merasa takjub beberapa kali. Davina jadi ingin tau apa pria itu juga memiliki lapangan sepak bola dan lapangan lainnya di dalam sini.
" Tangkap ! " Teriak Dave. Davina yang sedang melamun tidak sempat menangkap bola basket yang di lemparkan oleh pria itu. Akhirnya keningnya menjadi tempat pendaratan darurat bola tersebut.
" Aww ! " Pekik Davina sambil mengusap keningnya yang berdenyut sakit.
" Jangan banyak melamun budak, kau harus bekerja untuk menghiburku" Ujar Dave sambil menatap geli wajah Davina yang tengah kesusahan.
" Anda curang pak ! Saya masih dalam keadaan yang belum siap dan anda sudah melemparkan bola itu lebih dulu " Protes Davina lalu berjalan ke arah bola basket yang masih menggelinding di lapangan.
" Apa aku peduli ? "
" Tidak ! Anda tidak peduli pak ! " Teriak Davina dengan kesal. Memangnya ia minta di pedulikan, Davina cukup sadar diri bahwa ia tidaklah berharga untuk di pedulikan oleh orang lain. Dan Dave selalu mengulangi pertanyaan yang sama setiap kali ia protes.
" Cepat bawa kemari bolanya! "
Davina langsung melemparkannya dengan sekuat tenaga. Matanya berkilat tajam dan penuh amarah yang membumbung tinggi.
" Lempar yang sopan ! " Bentak Dave marah.
Memangnya dia sopan tadi saat melemparkan bolanya padaku?
" Dimengerti pak ! " Teriak Davina sambil mengambil posisi sedikit jauh di depan pria itu.
Dave memantulkan bola basket itu sambil menggiringnya mendekat ke arah Davina. Gadis itu mulai bersiap-siap untuk merebut bola dari tangan Dave. Saat posisi sudah dirasa cukup, Davina langsung berlari cepat ke arah pria itu lalu mencoba mengambil bola basket itu dari kedua tangan Dave. Sambil tersenyum tipis, Dave menghindar ke kiri dan Davina hanya bisa menangkap udara kosong dibelakangnya.
" Sial ! " Umpat Davina
" Apa yang kau lakukan budak?! Kejar aku ! "
Dave semakin menjauh, membawa bola basket itu mendekati ring. Davina yang melihatnya kembali mengejar Dave mencoba merebut lagi. Davina terus berlari sekuat tenaga, mencoba mengejar ketertinggalannya dan...
Bugh ! Bugh !
Ia jatuh tersandung kakinya sendiri, tubuh depannya menghantam lapangan. Dan kedua telapak tangannya harus bergesek dengan lapangan yang membuat kulit tangannya sedikit terkelupas. Davina memekik kesakitan sedangkan Dave dengan bahagianya melemparkan bola basket itu hingga masuk ke dalam ring.
" Sempurna " Gumam Dave penuh bangga menatap bola basket yang menggelinding masuk ke dalam ring.
" Hoi budak ! Sedang apa kau disana? " Seru Dave sambil berbalik, memandangi geli gadis muda itu yang mulai perlahan-lahan menghela tubuhnya sendiri.
" Belum apa-apa kau sudah terjatuh ckckck"
" Yah, bolanya sudah masuk " Sesal Davina sambil melirik ke arah ring.
" Lanjut ? " Tanya Dave.
" Lanjut. Jangan pikir bapak bisa menang dari saya" Davina bangkit kembali meski ia merasa sakit di kedua lututnya dan dadanya karena benturan tadi.
" Kau tidak putus asa rupanya ya. Kalau begitu kejar aku lagi " Dave bangkit berdiri lalu kembali membawa bola basketnya. Davina mengejar Dave kembali, ikut berbelok, mencoba merebut bola dari tangan pria itu tapi Dave malah mengangkatnya ke udara. Davina melompat, mencoba mengambil bola basket itu dari tubuh jangkung Dave. Pria itu tergelak, merasa puas berhasil membuat Davina kesusahan. Melompat-lompat persis seperti seekor kangguru.
" Kapan kau akan berhasil mengambilnya dariku " Ujar Dave sambil tertawa lepas.
" Saya pasti bisa pak ! " Davina melompat sekuat tenaga. Mencoba mengambil bola basket itu dari tangan Dave.
" Kalau begini terus, sampai setahun pun kau tidak akan pernah me....."
" Aaww ! " Pekik Davina yang tiba-tiba terjatuh karena kakinya terkilir dan ia dengan cepat berpegangan pada apa yang bisa di gapainya saat itu. Davina merasa begitu beruntung karena ia sempat menggapai sesuatu sebelum benar-benar jatuh terduduk.
" Maafkan saya pak ! " Desis Davina sambil mencoba untuk bangun. Namun saat Davina mengangkat wajahnya untuk memandangi Dave. Disaat itu jugalah Davina melihat dengan jelas sesuatu yang besar dan ketat menggantung di depan wajahnya.
" Apa itu ?! " Pekik Davina sembari melemparkan punggungnya ke belakang dengan cepat. Menatap horor pemandangan di depannya.
" Kau bermain basket atau sedang ingin menelanjangiku hah? " Ujar Dave dengan tenang padahal celana pendeknya sudah melorot hingga pergelangan kakinya menyisakan celana boxer hitam bertuliskan merk dagang ternama di pinggang berototnya.
" Davina kema....."
" Saya tidak mau bermain basket lagi pak !!! " Pekik Davina yang sudah berlari seperti orang kesurupan. Gadis itu bahkan beberapa kali jatuh lalu dengan cepat bangkit kembali lalu kemudian berlari sejauh yang ia bisa.
" Dia takut melihatmu junior. Jangan tersinggung " Gumam Dave sambil menunduk, untuk menatap miliknya.
" Dia benar-benar polos sekaligus bodoh " Decak Dave.
Davina berlari secepat mungkin, menjauhi Dave hingga saat ia hampir mencapai pagar depan, tubuhnya di cegat oleh satpam yang menyambutnya tadi.
" Kau di larang keluar dari rumah ini, nona" Seru pria satpam itu sambil menarik kasar bahu Davina.
" Saya harus pergi pak ! Biarkan saya pergi pak! " Ujar Davina dengan panik. Ia merengek pada satpam yang sedang menahan tangannya.
" Tuan Dave menyuruhku untuk menahanmu, nona" Pria satpam itu tengah menarik tangan Davina, membawanya kembali masuk ke dalam rumah. Kedua tangan Davina bergerak bebas, mendorong pria satpam itu agar menjauh.
" Saya tidak mau kembali ke dalam pak, lepaskan saya ! Biarkan saya pulang ! " Raung Davina. Aksi tarik menarik pun tak terhindarkan. Pria satpam itu terus menarik tubuh Davina, sedangkan gadis itu sengaja memberatkan tubuhnya sendiri.
" Kau keras kepala sekali ! "
" Aku mau pulang ! "
" Davina ! "
Matilah aku !
Davina menoleh takut-takut, tatapannya bergerak turun ke bawah dan syukurlah pria itu telah memakai celananya kembali. Dave melirik cepat ke arah satpamnya, menyuruh pria itu pergi dan hanya meninggalkan mereka berdua.
" Apa yang kau takutkan? " Dave berjalan mendekati Davina.
" Sa.....saya takut...." Ucap Davina dengan suara yang bergetar.
" Tenanglah, dia tidak berminat padamu. Dia hanya berminat pada wanita cantik yang sexy. Kemarilah ! " Dave menahan diri agar tidak tergelak di depan Davina. Gadis kecil itu lari kalang kabut, seperti dikejar-kejar oleh setan saat melihatnya hanya mengenakan boxer. Bagaimana jika Davina melihatnya tanpa sehelai benangpun. Dave tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi di wajah bodoh itu.
" Pak, saya tidak bermaksud melakukannya "
" Aku tau. Sekarang kemarilah, aku belum membolehkan kau untuk pulang " Tegas Dave sembari melambaikan sebelah tangannya pada Davina. Gadis itu perlahan mendekat namun Dave bisa melihat ketakutan yang jelas dari kedua mata hitam itu.
" Kau lari terbirit-birit saat melihat boxerku. Kurasa kau sudah cukup umur Davina " Dave terkekeh kecil. Sontak wajah Davina kembali memerah malu.
" Sudahlah pak, jangan di bahas lagi. Saya baru berumur dua puluh tahun"
" Wah, kau muda sekali. Tapi, banyak para gadis diluar sana yang sudah sangat mengenal bagian tubuh pria diumur segitu "
" Saya tidak berminat seperti para gadis-gadis itu, pak" Davina menunduk lesu. Jantungnya saja masih berdentum hebat.
" Davina " Panggil Dave. Dengan buru-buru Davina mengangkat kepalanya, menatap Dave dengan kedua mata gelapnya.
" Apa kau sudah pernah berhubungan *** ? "
" Pak ! Saya mohon jangan bahas hal ini lagi. Atau saya akan memaksa pulang dari sini "
" Come on Davina ! Ini hanya pembahasan biasa ! Semua orang sudah biasa membahas hal-hal seperti ini "
Davina menggeram tertahan.
" Jika saya menjawab pertanyaan ini, apa bapak akan berhenti membahas hal-hal menjengkelkan ini? " Tanya Davina.
Dave terlihat berpikir sebentar, tak lama kemudian pria itu tersenyum pada Davina.
" Baiklah. Aku akan berhenti membahas hal ini jika kau menjawab pertanyaanku"
" Saya tidak pernah melakukannya, pak " Ujar Davina secepat mungkin.
Benar-benar masih polos, murni dan suci.
Gumam Dave di dalam hati.
" Sudah saya jawab kan pak. Jadi saya mohon kita bahas hal yang lain saja, pak "
Dave sempat tertegun namun saat suara Davina kembali terdengar, Dave langsung tersenyum tipis.
" Baiklah Davina. Sekarang, kau ikut aku " Perintah Dave yang sudah lebih dulu melangkah masuk ke dalam rumah.
Davina mengikuti Dave dari belakang, ia hanya sempat melirik ke arah jam dinding yang ada di ruang tamu pria itu dimana jarum jamnya sudah berada di angka dua belas.
Sudah tengah malam dan aku masih harus mengikuti pria itu kesana kemari tanpa tujuan yang jelas. Aku bisa bangun kesiangan besok.
Dave membawa Davina masuk ke dapur lalu menyuruh gadis itu untuk menunggunya di dekat meja makan. Tanpa protes Davina mematuhinya, gadis itu menunggu dalam diam hal apalagi yang akan di lakukan oleh pria itu. Dave membuka kulkas lalu mengambil es batu dan menuangkannya ke dalam handuk kecil lalu mengikatnya.
" Gunakan ini untuk mengurangi lebam di kening dan juga kedua lututmu "
Davina sempat kaget dengan ucapan Dave namun setelah itu Davina buru-buru mengambil handuk berisi es batu tersebut.
" Terima kasih pak "
" Aku tidak benar-benar bisa memperlakukan budakku dengan kejam. Aku masih punya hati "
Memangnya aku ada bertanya. Tapi, syukurlah jika kau masih punya hati.
" Kau sudah makan malam? "
" A...apa pak ? " Davina terlalu kaget dengan pertanyaan Dave. Kenapa Davina merasa, Dave sedikit peduli padanya.
" Kau sudah makan malam? " Dave kembali mengulang pertanyaannya. Davina baru ingat bahwa dirinya belum makan tadi, ia hanya sempat meminum air putih yang diberikan Akmal lalu jatuh tertidur setelahnya.
" Belum pak "
" Kalau begitu tunggu disini. Aku akan mencari apa masih ada sisa makanan di dapur ini " Dave bangkit berdiri, meninggalkan Davina yang masih duduk di depan meja makan.
Sisa makanan? Kukira dia akan memasak untukku.
" Nah ini dia" Seru Dave sambil kembali membawa satu piring berisi omelet telur.
" Kau perlu nasi ? " Tanya Dave lagi. Davina mengangguk lesu.
" Ambil sendiri disana! " Tunjuk Dave pada alat pemasak nasi yang berada di atas meja di dekat kulkas.
Dengan terbelalak lebar Davina mencebikkan mulutnya.
" Ada apa dengan ekspresi wajahmu itu ? "
" Tidak ada apa-apa, pak " Davina buru-buru berdiri.
" Jangan-jangan kau kesal karena aku tidak memperlakukanmu dengan manis. Jangan berharap Davina. Aku tidak mungkin memasak untukmu atau mengambilkan nasi buatmu. Sudah diambilkan omelet, kau harusnya sudah bersyukur " Ujar Dave.
" Jangan terlalu percaya diri, pak. Ekspresi wajah saya begini karena saya ingin cepat-cepat pulang dari sini. Itu saja "
Dave terkekeh di belakangnya.
Davina ! Davina. Jangan mimpi ! Mana mungkin pria kejam itu peduli padamu.
To be continued....
Happy reading, love you guys😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Sarmila Ghaniyya Rahma
bagus bgt karya mu thor
2023-02-02
0
Ratna Wati
di part ini aku ngakak thor,masa liat boxer lari terbirit-birit, coba kalau liat isinya langsung pingsan 😁😁😁
2022-03-21
2
Kenzo Julian
linb oloiioko
2022-01-10
0