Senyum cerah terukir jelas di bibir Davina saat melihat Dami yang sedang di periksa oleh dokter Ferdinand. Hari ini adik kecilnya sudah di perbolehkan pulang, namun pengobatan serta kontrol secara rutin harus tetap di lakukan.
" Sebenarnya, Dami sakit apa sih pak dokter? " Tanya Dami sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
" Hanya demam dan menggigil saja kok " Jawab dokter Ferdinand.
" Lalu, kenapa Dami lama sekali dirawat disini? "
" Itu karena demam Dami belum juga turun-turun. Makanya dokter belum membolehkan Dami untuk pulang kerumah "
" Uh, demamnya bandel " Gerutu Dami. Dokter Ferdinand langsung tertawa.
" Iya, demamnya emang bandel banget. Susah sekali disuruh turun "
" Sampai Dami tidak bisa masuk sekolah jadinya. Teman-teman Dami pasti sudah rindu berat pada Dami"
" Ternyata setelah pulih, dami jago bicara ya" Dokter Ferdinand tersenyum hangat sembari mengusap puncak kepala Dami.
" Dia memang selalu seperti itu setiap harinya dok" Sambung Davina yang sudah berjalan menghampiri mereka berdua.
" Terima kasih banyak dok, atas segala bantuannya" Davina tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk menyalami dokter Ferdinand yang hampir sebaya dengan ayahnya.
" Sama-sama, tetap pastikan dia selalu makan makanan yang bergizi dan jaga segala aktivitasnya agar dia tidak terlalu capek "
" Baiklah. Saya akan mengingat semuanya, dok "
Setelah semua urusan administrasi selesai, Davina langsung membawa Dami kembali ke rumah dengan menaiki angkot. Saat di perjalanan sopir angkot beberapa kali meliriknya, dan Davina menyadari hal itu.
" Ada apa pak? " Tanya Davina.
" Bukannya, mbak ini orang yang waktu itu pergi begitu saja tanpa membayar ongkos pada saya"
" Hah? " Davina terperanjat kaget namum ia berusaha mengingatnya.
" Ooh...bapak yang waktu itu ya " Davina terkekeh kaku sambil menggosok tengkuknya.
Malu-maluin kamu Davi
Gerutunya dalam hati.
" Saya sudah memanggil mbak berapa kali, tapi mbaknya tetap saja tidak mendengar "
" Maafkan saya pak, waktu itu saya terlalu panik"
" Iya saya tahu kok mbak "
" Saya akan membayar lebih nanti, pak"
Sesampainya dirumah, Akmal, Amel, Sina dan Dodi langsung berlari menyambut mereka. Dami yang kesenangan langsung melompat-lompat kecil memeluk mereka berempat.
" Aku rindu Dami ! " Teriak Ane dan Sina
" Bang Akmal juga rindu sama Dami " Ujar Akmal.
" Dami rindu semuanya. Bang Dodi ? " Dami melirik pada Dodi yang selalu diam dan tak banyak bicara.
" Sebenarnya kalau tidak ada Dami, rumah jadi tenang. Tapi terlalu tenang membuat kepalaku jadi sakit. Jadi, lebih baik ada Dami dirumah "
" Sekalinya bicara langsung panjang lebar kau Dod " Seru Amel sambil cekikikan.
" Benar mel, udah kayak rel kereta api " Sambung Sina.
" Sudah, sudah jangan berkata seperti itu. Nanti Dodi tidak mau bicara lagi " Sela Akmal. Amel dan Sina sama-sama tertawa.
" Sudahlah. Ayo kita masuk ke dalam dulu. Jangan bicara di teras rumah. " Davina mengajak mereka semua untuk masuk ke dalam rumah.
Davina membuka bahan makanan yang baru di belinya tadi saat pulang dari rumah sakit. Ia akan memasak untuk kelima adiknya itu. Tak berapa lama tampak Sina dan Amel berlari menghampirinya.
" Biar Amel dan Sina membantu kakak ya? " Seru Amel dari belakang. Davina menoleh pada gadis cantiknya itu lalu tersenyum.
" Tidak usah, kakak bisa melakukannya. Kalian berdua kakak beri tugas untuk menemani Dami bermain. Ingat, jangan melompat-lompat atau lari-larian. Dami tidak boleh capek " Peringat Davina pada kedua adiknya.
" Begitu ya"
" Hm "
" Baiklah kakak. Kami pergi ! " Teriak Amel dan Sina.
Davina kembali melanjutkan acara memasaknya sambil sesekali bersenandung kecil. Menyanyikan lagu favoritnya. Akmal dan Dodi sedang bermain kelereng di depan rumah, sedangkan Dami, Amel dan Sina bermain boneka di dalam rumah.
" Wah mobil keren siapa itu ? " Gumam Dodi sembari berdiri, menatap kagum mobil sport hitam metalik yang berhenti tepat di depan rumah mereka.
" Mana? " Akmal ikut menoleh dan langsung berdecak penuh kagum.
" Keren sekali. Mobil siapa itu ? " Tanya Akmal.
" Kau malah balik bertanya pula. Yang jelas bukan mobil kita " Sahut Dodi.
Dave yang masih berada di dalam mobil, memandangi sejenak rumah kecil yang ada di depannya saat ini. Kecil, kumuh dan sudah sangat tidak layak untuk di tempati oleh manusia. Bahkan menurut Dave rumah itu mungkin sewaktu-waktu bisa saja rubuh jika ada gempa dengan kekuatan 2 skala richter mengguncangnya.
Ya Tuhan, apa benar masih ada manusia yang tinggal di dalam rumah seperti ini.
Seketika perasaan kasihan menyergap batinnya. Tapi Dave berusaha mengenyahkan perasaan itu.
" Pak, anda tidak ingin keluar? " Tanya Morgan. Dave tersentak dan baru tersadar bahwa dirinya sudah menghabiskan beberapa detiknya hanya untuk memandangi rumah reot itu.
" Tentu saja aku akan keluar, Morgan " Dave segera membuka pintu mobilnya dan melangkah cepat menghampiri dua orang anak yang sedang berdiri di depan rumah.
" Om siapa? " Tanya Akmal begitu Dave sudah berdiri di depan dua anak laki-laki itu. Dodi malah berjalan ke arah mobil Dave lalu memegang takut-takut badan mobil tanpa mempedulikan siapapun.
" Nama saya Dave Abraham " Jawab Dave dengan nada suara yang datar.
" Nama saya Akmal, om. Tapi, om mencari siapa ya?"
" Wanita bernama Davina Arista "
" Kak Davina?! " Seru Akmal dengan wajah kagetnya.
" Dimana dia? " Tanya Dave tanpa perlu bersusah payah untuk berbasa-basi.
" Kakak ada di dalam. Kalau begitu Om tunggu sebentar biar Akmal panggilkan" Akmal bergegas masuk kedalam rumah. Dave menoleh ke arah Morgan yang tampak sedang mengawasi Dodi.
" Sedang apa bocah itu? "
" Sepertinya dia menyukai mobil anda, pak. Dia hanya menyentuh sedikit mobil anda " Ucap Morgan. Dave mendesah malas.
" Biarkan saja dia. Lagipula dia hanya anak kecil" Gumam Dave. Ia tidak suka memarahi anak kecil.
Akmal berhenti di belakang tubuh Davina sambil terengah-engah. Suara tarikan nafasnya berhasil membuat Davina berbalik dan langsung memegang bahu Akmal.
" Ada apa ? " Tanya Davina panik.
" Diluar kak, ada orang yang datang mencari kakak"
" Siapa? "
Seketika otak Akmal langsung blank, padahal tadi om diluar tadi sudah memberitahukan namanya. Tapi, karena ia terlalu panik jadinya Akmal pun lupa nama orang tersebut.
" Akmal lupa kak"
Davina sudah berlari cepat keluar dari rumahnya. Tampak dari jauh seseorang dengan setelan rapi sedang berdiri membelakanginya. Orang itu terlihat sedang berbicara dengan seorang pria. Davina perlahan mendekat, namun perasaannya tiba-tiba berubah tidak nyaman. Davina sama sekali tidak menghentikan langkah kakinya, ia semakin mendekati pria itu.
Kenapa postur tubuhnya terlihat tidak asing. Apa aku mengenalnya?
Gumam Davina dalam hati. Semakin ia mendekat, persaaannya semakin tidak nyaman. Sampai-sampai Davina merasa seluruh tubuhnya merinding.
" Maaf, apa anda mencari saya? "
Tubuh tinggi itu perlahan berputar dan seketika itu juga Davina merasa nyawanya terbang jauh meninggalkan raganya.
" Dave.....Abraham " Gumam Davina dengan terbata-bata.
" Ah pengagum rahasiaku....sekaligus pencopet dompetku " Desis Dave sembari tersenyum miring.
Seketika itu juga seluruh nafas Davina langsung tercekat di tenggorokan. Jantungnya berpacu dengan sangat hebat. Smirk menakutkan terulas dari bibir Dave.
" Akhirnya aku menemukanmu Davina Arista"
Oh Tuhankuuuu......!!! Bagaimana bisa dia menemukanku dengan sangat cepat !!
To be continued.....
Happy reading, love you guys😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Alfa Annisa
seru banget !!!!!
2022-01-07
1
anggun
pengagum rahasia alias copet 😆😆😆😆😆😆
2021-10-25
3