Selamat malam, miss Davina Arista. Besok pagi, anda di harapkan untuk bisa hadir tepat waktu di depan pintu ruangan Direktur Utama sebelum pukul enam pagi. Kami tidak mentolerir adanya keterlambatan sekecil apapun. Terima kasih,
Asisten Direktur Utama
Morgan
Davina menatap lemas pesan singkat dari asisten pria itu. Pria bernama Dave Abraham. Sambil mendesah panjang, Davina membaringkan tubuhnya disamping adik-adiknya yang sudah tertidur pulas.
" Aku bahkan tidak sanggup membayangkan bagaimana dia akan memperlakukan pencopet sepertiku nanti. Ini menakutkan sekali " Gumam Davina sambil memejamkan kedua matanya. Ya, ia sudah pasrah akan di perlakukan seperti apa nanti oleh pria kejam dan bermulut beracun itu. Tapi, sekalipun pasrah, Davina tidak mungkin menjadi manusia yang benar-benar pasrah. Ia mungkin akan bisa menggigit kaki majikannya jika diperlakukan diluar batas kemanusiaan.
Ketika menjelang subuh, Davina sudah sibuk memakai pakaiannya. Ia bahkan memilih pakaian paling sopan yang pernah ia punya, celana berbahan kain dan kemeja lengan pendek yang sudah tidak baru lagi. Ia juga memakai flat shoes yang baru dibelinya dengan menggunakan uang pria itu. Padahal ia lebih suka memakai sepatu ket, tapi mau bagaimana lagi sepatu itu telah hilang disaat ia mencopet dompet Dave.
" Kakak mau pergi sekarang ? " Tanya Akmal yang masih menggosok-gosok kedua matanya.
" Iya mal. Jaga adik-adikmu ya. Jangan lupa sarapan, kakak sudah membuatkannya untuk kalian. Oh iya, kamu harus menunggu Dami sampai dia pulang sekolah. Jangan membiarkan dia sendirian, Dami tidak begitu sehat " Ujar Davina sambil sibuk memasang ikat pinggang di celana kainnya.
" Baik Kak. Tapi Kakak kerja apa sih, sampai harus pergi pagi begini ? "
" Kakak kerja di perusahaan besar, Akmal. Jadi, aturannya pegawai baru seperti kakak harus berangkat lebih dulu daripada yang lain "
" Apa kakak kerja di perusahaan om yang kemarin?"
" Iya mal. Kakak kerja di perusahaan miliknya" Davina sibuk mengikat rambut panjangnya yang sedikit bergelombang.
" Akmal sedikit khawatir kak. Om itu terlihat seram sekali "
" Memang. Tapi Akmal tenang saja, kakak masih bisa mengatasinya dengan baik "
" Sungguh ? "
" Iya. Kakak pergi dulu ya. Jangan lupa, belajarlah dengan baik di sekolah "
Setelah itu, Davina langsung berangkat menaiki angkot yang sudah menjadi langganan barunya. Angkot yang pernah mengantar Dami ke rumah sakit waktu itu. Rasa dingin langsung menjalar ke seluruh tubuhnya begitu ia turun dari dalam angkot. Davina menatap takjub pada bangunan tinggi bertingkat yang berdesain sangat bagus melebihi hotel-hotel berbintang lima.
" Ini kantor milik pria itu? Wah, Luar biasa besar ! Berapa banyak yang di habiskan olehnya untuk membangun kantor sebesar dan semewah ini ? " Gumam Davina sambil masih menengadahkan wajahnya pada bangunan bertingkat di depannya.
" Aish ! Tentu saja banyak. Kau akan mati serangan jantung jika mendengar berapa nominalnya Davina " Gerutunya pada diri sendiri. Davina dengan cepat masuk ke halaman kantor dan menghampiri salah satu satpam yang sedang berjaga di depan pintu masuk kantor.
" Anda siapa? " Tanya Satpam itu sambil menelisik penampilan Davina dari atas sampai bawah.
" Nama Saya Davina Arista. Saya karyawan baru disini pak "
" Karyawan baru? "
" Iya. Karyawan baru di kantor ini " Jelas Davina berusaha meyakinkan pria satpam tersebut.
" Kau kerja di bagian apa? "
Davina seketika langsung kebingungan. Ia tidak diberitahu harus bekerja di bagian apa oleh pria itu.
" Saya belum di beritahu harus bekerja di bagian apa, pak"
" Begitu ya. Tapi, sekalipun seorang office boy, mereka sudah diberitahu lebih dulu seperti apa tugas mereka di perusahaan ini. Tapi, kau... baru kali ini saya melihat ada karyawan yang belum jelas seperti anda "
" Saya benar-benar sudah diterima disini pak. Ini benar kan kantor milik Pak Dave Abraham?" Tanya Davina lagi. Ia berusaha meyakinkan pria satpam itu bahwa ia memang disuruh bekerja di perusahaan besar ini.
" Iya benar sekali. Ini kantor milik Pak Abraham "
" Kalau begitu, bisakah bapak mengantar saya ke ruang kerja milik pria itu "
" Pak Abraham mbak " Peringat satpam itu pada Davina.
" Ya, maksud saya pak Abraham" Ralat Davina.
" Ingat, jangan pernah berani memanggilnya dengan nama depannya. Anda bisa terkena masalah mbak" Satpam itu segera mengambil salah satu kunci lalu kemudian berjalan lebih dulu dari Davina.
Mereka masuk ke dalam kantor lalu kemudian menaiki lift. Davina melirik singkat pada satpam di sebelahnya, wajahnya cukup menyeramkan tapi dalam hati Davina berdo'a bahwa semoga saja pria itu orang yang baik. Davina melihat ke atas melihat lift yang di naikinya berhenti di lantai 30. Mereka keluar bersama lalu setelah itu pria satpam itu berbalik menatapnya.
" Ini ruangan pak Abraham. Kau disuruh menunggu di depan pintu ruangannya kan? "
" Benar pak " Davina mengangguk cepat.
" Kau berani menunggu disini sendirian? " Tanya satpam itu sebelum berlalu.
Davina menatap ke sekelilingnya, suasana masih sangat sepi. Jelas tidak ada siapapun yang berada di kantor saat ini karena ia sendiri yang berangkat subuh begini. Sambil menelan ludahnya, Davina mengangguk ragu-ragu.
" Kalau begitu saya pergi "
Jangan pergi pak !
Teriak Davina dalam hati. Namun ia tidak bisa mengatakannya langsung pada satpam itu. Sampai satpam berlalu dan sudah terlihat lagi, Davina baru merasa merinding luar biasa. Ia menatap takut ke sekelilingnya, takut-takut bila nanti ada sesosok wanita yang mengesot di lantai kantor.
" iiiih, tahan, tahan " Davina bergidik takut. Ia hampir melompat masuk ke dalam lift lalu kabur tapi wajah Dave tiba-tiba melintas di benaknya. Berhasil menahan kedua kaki Davina agar tetap di tempat. Wajah pria itu bahkan lebih seram dari suster ngesot.
" Dia lebih seram Davina. Kau bisa berakhir di dalam penjara bila melarikan diri lagi "
Satu jam kemudian.....
" Aaaakh! Kau siapa?! " Pekik seseorang. Davina tersentak kaget dan langsung berdiri. Rupanya ia jatuh tertidur dan seorang wanita cantik telah berdiri di depan tubuhnya.
" Kenapa ada gembel disini hah! "
" Bukan mbak ! Bukan. Saya bukan gembel, saya...."
" Mana ada gembel yang mau mengaku " Potong Alexa. Wanita itu beringsut menjauhinya, sambil memandang jijik dirinya.
" Sudah kubilang aku bukan gembel mbak. Aku karyawan baru disini "
Alexa melebarkan kedua matanya. " Kau......karyawan disini? " Tunjuk Alexa tidak percaya.
Davina langsung mengangguk cepat.
" Kau diterima di bagian apa? "
" Ba....bagian. Nah, yang itu aku belum tau mbak"
" Mustahil. Kalau begitu kau memang gembel yang mengaku-ngaku sebagai seorang karyawan disini " Tuduh Alexa.
Davina benar-benar merasa frustasi karena wanita di depannya.
" Jika anda tidak percaya, kita tunggu saja pak Abraham. Biar dia saja yang menjelaskannya"
" Pak Abraham? Darimana kau mengenalnya? Apa kau salah satu wanita malam yang meminta pertanggungjawaban padanya? "
" Apa?!! " Pekik Davina dengan histeris. Bisa-bisanya wanita itu menuduhnya seperti itu. Alexa tampak memandangi Davina dari ujung kaki hingga ujung rambut lalu sedetik kemudian menggeleng cepat.
" Tapi, sepertinya bukan. Dari penampilanmu sih kau tidak terlihat seperti wanita malam. Kau lebih terlihat seperti gembel "
" Aku bukan gembel, mbak ! " Bentak Davina yang sudah kesal dengan segala tuduhan yang dilontarkan oleh wanita cantik yang memergokinya sedang tertidur didepan pintu ruang kerja Dave Abraham.
Ting !!
Alexa dan Davina sama-sama menoleh ke arah pintu lift yang baru terbuka. Sosok tinggi beraura maskulin itu sudah melangkah keluar dari dalam lift diikuti asisten pribadinya dari belakang. Davina melihat langkah kaki pria itu seolah melambat-lambat. Suara langkahnya bergema hingga mampu mendirikan bulu kuduknya. Davina melirik ke arah wanita cantik di sampingnya. Wanita itu tampak tersenyum lebar menyambut sang iblis yang menyerupai seorang pria tampan.
" Selamat pagi Mr. Abraham " Ucap wanita itu sambil membungkuk hormat. Davina kebingungan sendirian, ia bingung apa dirinya harus ikut membungkuk.
" Alexa, kau siapkan jadwal temuku dengan para investor" Suara tegas pria itu benar-benar terdengar menuntut.
" Baik pak. Akan saya kerjakan dengan senang hati " Alexa kembali tersenyum lebar.
Oh jadi namanya Alexa. Tampaknya dia menaruh hati pada pria iblis itu. Hah, menyedihkan sekali
" Hm pak, apa anda mengenalnya? " Alexa melirik ke arah Davina. Kedua mata Dave bergerak mengikuti arah lirikan mata sekretarisnya. Davina mencoba untuk tersenyum. Namun bukan jenis senyum yang indah. Senyum yang Davina tunjukkan adalah senyum kaku. Beberapa detik berlalu, tidak ada jawaban yang keluar dari mulut pria itu.
Apa dia akan berpura-pura lupa? Atau dia akan mengatakan bahwa aku ini gembel.
" Dia seorang budak"
Ternyata lebih buruk dari kata gembel
" Budak " Ulang Alexa.
" Ya hanya seorang budak. Jabatannya lebih rendah dari seorang office boy di kantor ini. "
Davina langsung tercengang tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut beracun pria itu.
" Tadi, saya mengira dia hanyalah seorang gembel yang menyusup masuk ke dalam kantor " Alexa terkekeh kecil. " Rupanya dia hanyalah seorang budak anda, pak " Lanjutnya.
Dave tidak menanggapi lagi ucapan Alexa, pria itu segera melangkahkan kakinya dengan cepat melewati Davina dan juga Alexa.
" Jadi, kau hanya seorang budak pak Abraham. Kenalkan....namaku Alexa Velexia. Jabatanku sebagai seorang sekretaris di kantor ini. Jangan menyebutku mbak. Panggil aku nona Alexa, budak hahahaa ! " Tawa puas membahana di depan wajah Davina.
" Kau.....cepat kemari ! " Teriak Dave dari dalam ruangan. Sontak Davina langsung membalikkan tubuhnya lalu kemudian berjalan cepat masuk ke dalam ruangan meninggalkan wanita bernama Alexa yang masih menertawainya dengan puas.
Dave Abraham....Awas saja kau ! Aku akan buat perhitungan padamu ! Lihat saja nanti.
To be continued.....
Happy reading, love you guys😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Camelia Putri
saya tidak suka lihat supaya Dev terlalu sombong.dsn kasar
2022-03-05
0
Tieny Roesmiasih
hahaha,.. susternya kan biasa ngesot di rumah sakit non Viinn... 😂😂😂
2021-10-22
0
Clara
ya bgus davi semangat kasih pljar ma bos PK nya...buat bucin
2021-10-21
0