Setelah puas berkeliling di dalam kebun binatang, mereka baru kembali ke rumah pada pukul setengah enam sore. Dave dan Morgan menurunkan rombongan anak bebek di rumah sederhana itu dengan induk bebek yang terlihat begitu manis. Setiap kali Dave menatap lama wajah Davina. Dave selalu merasa tenang dan damai, ia bahkan tidak pernah bosan untuk melihatnya. Meski wajah gadis itu sama sekali tidak di polesi make up apapun tapi Dave selalu merasa ketagihan dan ingin berlama-lama memandangi wajah polos itu.
" Terima kasih om Dave ! " Ucap adik-adik Davina. Dave hanya terdiam tidak mengangguk apalagi bersuara.
" Terima kasih om Morgan " Ujar Akmal yang tadinya saat di kebun binatang ia sudah menanyakan nama pria yang duduk disampingnya.
" Ya, Akmal. Senang bisa bermain bersama kalian" Sahut Morgan sembari tersenyum.
" Nama om baik itu Morgan ya ? " Bisik Sina pada Amel.
" Aku baru tau juga " Kata Amel.
" Aku tidak suka sama om Dave " Bisik Dami yang juga ikut bergabung dalam obrolan Sina dan Amel.
" Sama Dami. Kami juga tidak suka padanya. Dia terlihat pemarah dan jahat " Tambah Amel. Mereka bertiga sedang membicarakan Dave dengan suara yang sangat pelan dan kecil.
Davina berharap Dave tidak mendengar semua yang di ucapakan oleh adik-adiknya. Dalam hati, ia berharap jika Dave dan Morgan bisa segera pergi dari rumah mereka.
" Baiklah, kami harus pergi. Sampai jumpa lagi " Pamit Morgan. Mereka melambai dan tersenyum pada Morgan sedangkan Dave. Pria itu sudah lebih dulu menekan pedal gas mobilnya hingga kendaraan itu melesat cepat.
" Benar-benar pria yang aneh" Gumam Davina sambil menatap kepergian pria itu.
Keesokan harinya, Davina sudah berlari dari kedai kopi menuju perusahaan sembari membawa kopi caramel machiato kesukaan Dave. Pagi-pagi sekali Dave sudah menyuruhnya untuk pergi ke kedai kopi itu. Padahal saat itu masih pukul enam pagi. Dan kedai kopi itu masih tutup. Davina harus menunggu selama dua jam di luar toko hanya untuk bisa memesan kopi caramel machiato. Davina terkadang merasa bahwa Dave mungkin sudah tidak waras. Tapi, jika pria itu sudah tidak waras lalu kenapa Dave masih bisa memimpin perusahaan dengan baik.
" Ini kopi pesanan anda, pak " Davina meletakkan cup berisi kopi machiato pesanan Dave di atas meja kerja pria itu.
" Sekarang kau pergi ke toko bunga dan belikan aku bunga tulip untuk ibuku. Ini uangnya dan......" Dave mengangkat wajahnya. Davina terlihat menunggu kelanjutan ucapan pria itu.
" Dan jangan coba-coba berani mengambil kembaliannya " Lanjut Dave.
Anjir ! Mulutnya memang sangat beracun ! Untung aku sudah menyiapkan mentalku dari tadi malam.
" Baik pak. Saya tidak akan melakukannya" Davina dengan cepat mengambil dua lembar uang seratus ribu dari tangan pria itu.
Hanya beberapa menit saja dan Davina sudah berada di depan toko bunga langganan pria itu. Dengan sedikit berlari, Hailey memasuki toko bunga tersebut dan seorang wanita cantik berambut pirang langsung menyambutnya dengan sangat ramah.
" Selamat datang, nona. Ada yang perlu saya bantu? " Tanya wanita itu. Davina menoleh cepat dan tersenyum pada wanita itu.
" Aku ingin membeli bunga Tulip "
" Oh, tentu saja nona. Tunggu sebentar, aku akan menyiapkannya untuk anda " Wanita itu hendak berbalik pergi.
" Apa aku boleh ikut denganmu? " Tanya Davina.
" Tentu saja"
Davina berdiri tidak jauh dari wanita cantik itu yang sedang memetik bunga Tulip .
" Namamu siapa? " Tanya Davina
" Namaku Bela " Wanita cantik itu menoleh pada Davina.
" Aku Davina. Senang bisa berkenalan denganmu"
" Kau membeli bunga ini untuk siapa? "
" Untuk seseorang yang sedikit tidak waras dan diktaktor "
Bela terkekeh kecil. " Sepertinya kau membencinya "
" Ya, aku sangat membencinya. Tapi sayangnya dia itu seorang bos besar di perusahaan tempat aku bekerja"
Sebenarnya bukan bekerja sih lebih tepatnya membudak.
Davina mendesah lesu. Kepalanya pusing memikirkan jalan hidupnya ini.
" Bos besar di perusahaan ? " Bela menoleh. Wanita itu menegakkan tubuhnya. Mungkinkah pria itu pria yang sama yang sering membeli bunga tulip di dengannya.
" Siapa namanya? " Tanya Bela lagi. Davina mengangkat kedua alisnya. Entah kenapa ia merasa kalau wanita di depannya ini terlalu ingin tau tentang bosnya.
" Namanya Dave Abraham "
Seketika wajah cantik itu langsung terkejut namun tak lama ekspresi terkejut itu berubah menjadi ekspresi bahagia yang tak terkira.
" Apa aku bisa meminta nomor ponselmu? " Tanya Bela.
" Tentu. O8xxxxx"
Setelah lama berbincang dengan Bela, Davina bergegas kembali ke perusahaan.Ia tidak mau mendapatkan puluhan kata-kata sadis dari mulut pria itu. Saat ia membuka pintu ruangan pria itu, hal pertama yang Davina dapati adalah tatapan tajam dari kedua mata wanita nyentrik yang pernah ia tabrak.
Ibu Dave, sedang apa beliau disini
" Pasti dia yang menyuruhmu kan? " Satu pertanyaan terlontar dari bibir ungu mencolok itu. Dengan takut-takut Davina menjawab.
" Iya " Jawab Davina singkat namun nada suaranya kurang begitu stabil. Agak bergelombang.
" Jangan gemetaran. Santai saja Davina. Apa aku terlihat menyeramkan? " Tanya ibu Dave.
Sejujurnya tidak, tapi penampilan anda benar-benar membuat mataku lebih berwarna.
Dress hijau stabilo dengan stileto ungu mencolok yang warnanya sama persis dengan bibirnya dan tak ketinggalan rambut bercatnya yang merah membara.
" Bilang saja jika dia terlihat mengerikan"
" Tidak! Anda terlihat berwarna, bu " Sela Davina buru-buru.
" Hahahaha. Aku suka gadis jujur sepertimu. Davjna, apa kau tau jika warna-warna ini adalah warna yang trend di musim ini? " Jelas ibu Dave. Davina sedang berpikir, sungguh ia tidak pernah mengikuti tren pakaian. Kesibukannya hanya berpusat pada bagaimana ia akan bertahan hidup dengan kelima adiknya. Davina hanya sibuk mencari uang dan uang, soal tren ia nol besar. Lagipula, sekalipun ia mengikuti tren ketika berpakaian, Davina juga tidak akan mampu untuk membelinya. Jadi percuma saja !
" Saya tidak tau tren dalam berpakaian bu" Akui Davina dengan jujur. Ibu Dave langsung tertawa.
" Aku tidak menyangka masih ada orang yang tidak begitu peduli dengan tren. Tapi tak apa Davina, kau tidak sendirian. Suamiku juga sama sepertimu "
" Syukurlah" Davina menarik nafas lega.
" Ya dia memang selalu mengabaikan tren ketika berpakaian. Bahkan, suamiku itu masih memiliki pakaian di era sebelum kemerdekaan. Apa kau percaya? "
" Saya percaya bu. "
" Sedangkan aku dan Dave selalu sibuk melihat majalah agar tidak ketinggalan edisi terbaru dari pakaian-pakaian yang di keluarkan oleh desainer ternama di negara ini maupun negara lain "
" Saya percaya bu "
" Sudahlah bu, kau banyak bercerita. Dia tidak akan pernah mengerti dengan segala macam tren dan apapun itu " Potong Dave.
" Kau sudah tidak sabar rupanya "
" Langsung saja bu, mumpung dia masih disini"
" Baiklah, baiklah anakku"
" Davina " Panggil ibu Dave.
" Iya bu " Davina merasa aneh dengan suara ibu Dave yang tiba-tiba berubah serius.
" Aku datang kesini berniat untuk melamarmu. Maukah kau menjadi menantuku, Davina Arista "
" Menantu " Pekik Davina dan langsung berdiri. Wajahnya terlihat begitu kaget.
Ibu Dave ikut berdiri. Wanita paruh baya itu mendekati Davina lalu memegang sebelah pundak Davina dengan begitu lembut.
" Maaf bu. Tapi saya tidak menyukai pak Dave ! " Tolak Davina.
" Lalu bagaimana dengan foto kalian berdua disini? " Ibu Dave mengulurkan selembar foto pada Davina. Di dalam foto itu Davina bisa melihat gambar dirinya dan Dave yang sedang berciuman.
" Bagaimana anda bisa tau? "
" Aku punya banyak mata-mata nak"
Davina menggeleng panik. " Jangan salah sangka bu. Sejujurnya aku tidak ingin berciuman dengannya tapi dia....dia memaksaku, bu " Adu Davina. Dave tidak bersuara sama sekali. Pria itu hanya menatapnya dengan tajam.
" Tapi di foto ini kalian terlihat begitu menikmati"
" Tidak bu ! Anda salah sangka " Davina menggeleng panik.
" Tolonglah Davina. Ibu sangat berharap padamu. Dave tidak pernah mau menikah dengan puluhan wanita yang ibu pilihkan untuknya tapi kali ini dia meminta ibu untuk datang kemari dan melamarmu "
" Apa ?!! " Pekik Davina dengan histeris. Ia langsung menatap Dave dan menuntut penjelasan.
Anda tidak tau yang sebenarnya bu. Dia berniat menyiksaku karena aku telah mencuri darinya.
" Saya tidak bisa bu " Tolak Davina.
" Dave akan menanggung semua kehidupan adik-adikmu nak "
Davina terhenyak dengan ucapan terakhir ibu Dave. Ia teringat dengan keadaan Dami yang sekarang. Adik-adiknya juga perlu bersekolah tinggi sedangkan ia bekerja siang dan malam pada Dave hanya untuk menjadi budak yang tidak dibayar. Ia ingin membantah tapi Dave selalu berhasil mengancamnya.
" Dave akan memberikan apapun yang kau perlukan Davina. Dia sangat mampu untuk melakukannya "
Wajah Davina tertunduk.
" Ibu akan memastikannya untukmu. Mohon bantu ibu, Davina. Ibu sudah cukup tua. Jika kau tidak menerima lamaran ini, ibu mungkin tidak akan pernah melihat Dave menikah "
" Saya mau, bu " Jawab Davina pada akhirnya.
Akhirnya aku berhasil membuatmu menjadi milikku, Davina Arista.
To be continued.......
Happy reading, love you guys😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Faylan Laurantica
greget Thor huwaaaa
2022-09-29
0
Mujiningsih
bilangnya g mau nikah ...kok jadi ngebet nikah Ama Davina...😄😄
2021-10-25
2
Yanti Kumari
gpp la dave kn baik juga. cuma player yg udh tobat aj🤣🤣🤣🤣
2021-10-25
3