Malam harinya....
" Aku pulang " Ujar Davina dengan lesu sambil melangkah masuk ke dalam rumah dengan pakaian yang kotor dan acak-acakan.
" Kak, apa sudah terjadi sesuatu? "
" Tidak ada yang terjadi mal, kakak baik-baik saja"
Kreek !
Suara punggung Davina terdengar mengerikan begitu ia mendaratkan bokongnya di atas kursi. Urat-urat dan tulangnya sudah hampir remuk karena seharian mengepel berjongkok kadang juga berdiri ketika akan menggapai dinding lift yang paling atas lalu kemudian kembali berjongkok lagi. Akmal menghampirinya sambil membawa segelas air putih.
" Minum dulu kak "
Davina mengangguk, ia mengulurkan sebelah tangannya untuk mengambil gelas di tangan Akmal.
Kreek !
Kini tangan kanannya yang mengeluarkan suara kretekan yang cukup keras.
" Haaaa ! Apa tulang-tulangku akan patah semua! " Pekik Davina sambil menggosok rambutnya dengan frustasi.
" Tulang mana yang patah kak? " Tanya khawatir sambil menatap khawatir kakaknya.
" Semua tulang kakak, mal "
Akmal kebingungan, tapi bukankah tadi ia melihat kakaknya masih bisa berjalan dengan baik saat masuk ke dalam rumah. Tidak ada yang tampak patah.
" Apa om itu memperlakukan kakak dengan buruk? "
" Om? Ah pria itu " Gumam Davina sambil meneguk air putih di dalam gelas hingga tandas.
" Dia memperlakukan kakak dengan baik, mal. Kakak diberikan pekerjaan yang bagus di kantornya. "
Akmal mendesah lega. Ia menatap penampilan kakaknya dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Wajah kakak terlihat kumal, rambutnya juga berantakan dan bajunya benar-benar sangat kotor. Sebenarnya kerjaan apa yang diberikan oleh om itu pada kak Davina?
" Kau tidurlah mal, kakak tidak mau kau terlambat pergi ke sekolah " Perintah Davina. Akmal secepat kilat masuk ke dalam kamar.
Dave membuka pintu kamarnya dengan kasar, lalu kemudian melemparkan sepatu kulit limited edition miliknya ke dalam tong sampah. Davina, si budak bodoh itu telah membuat sepatu kulitnya basah karena menyerap air kotor yang di gunakan gadis itu untuk mengepel lantai. Dave merasa murka dan ingin sekali melempar Davina dari jendela kantornya tapi ia tidak kunjung melakukan hal itu. Dave masih bermurah hati untuk membiarkan gadis kecil itu menghirup oksigen di bumi ini. Lagipula Dave tidak ingin membuat dirinya sendiri masuk ke dalam penjara gara-gara si pencopet itu.
" Kenapa aku harus bertemu dengan gadis gila sepertinya? Pencopet lagi " Gerutu Dave sambil masuk ke dalam kamar mandi. Baru saja Dave keluar dari dalam kamar mandi, tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Saat ia melihat nama pemanggilnya, Dave langsung mendesah kesal. Meski kesal, nyatanya ia tetap mengangkat panggilan tersebut.
" Daveee!! " Teriak ibunya dari seberang ponsel. Dave refleks menjauhkan ponselnya dari telinga.
" Ada apa bu? Kenapa berteriak di tengah malam begini? "
" Ini baru jam sembilan malam son. Jangan sok alim deh, kau itu biasa tidur jam satu malam."
" Lalu kenapa ibu menelponku lagi hm? "
" Ibu ingin memberitahumu bahwa ada perubahan jadwal kencan "
" Perubahan jadwal kencan? " Ulang Dave.
" Iya son. Ibunya meminta agar kalian bisa bertemu secepatnya sebelum anaknya terbang ke prancis untuk melakukan pemotretan majalah disana. Kencannya akan dimulai besok sore "
" Siapa nama anaknya? Yang mana orangnya? " Tanya Dave secara beruntun.
" Bukankah ibu sudah mengirimkan fotonya padamu lengkap dengan namanya"
" Sudah. Tapi ibu mengirimkan lebih dari sepuluh foto wanita yang berbeda padaku. Aku harus melihat wajahnya bu. Jika tidak sesuai dengan seleraku, aku tidak mau datang "
" Hahaha, maafkan ibumu ini nak. Maklum ibu sudah menginjak usia lima puluh tahun jadi daya ingat ibu sedikit berkurang. Ibu akan mengirimkan fotonya padamu "
Tring !
Dave dengan cepat membuka pesan dari ibunya dan seketika muncul foto seorang wanita cantik dengan rambut hitam panjang bergelombangnya yang terawat dan sehat. Wajahnya merupakan perpaduan dari dua negara yang berbeda. Cantik dan pastinya berkelas. Tipe-tipe yang paling banyak di temuinya, Dave sampai merasa bosan.
" Bagaimana son? Kau sudah melihatnya? Dia sangat cantik kan "
" Lumayan bu. Baiklah, aku akan datang besok sore "
" Di restoran biasa ya nak "
" Baik bu " Ujar Dave dengan malas.
" Jangan berani menipu ibu son apalagi ingkar janji. Kau tau kan resikonya "
" Dimengerti nyonya besar "
Dave segera mematikan ponselnya lalu melemparkannya dengan malas ke atas kasur. Sebenarnya ia malas untuk melakukan kencan seperti yang sudah di rencanakan oleh ibunya, tapi Dave akan merasa lebih kacau bila ia tidak hadir dalam acara kencan ini. Ibunya menerornya siang dan malam dengan khotbah yang panjang hingga kadang-kadang Dave merasa telinganya sampai berdesing panas.
Agaknya Dave sedang merasa malas untuk melakukan apapun saat ini. Dave ingin mengajak sahabat-sahabatnya untuk bersenang-senang malam ini tapi rasanya....ia malas untuk keluar rumah.
Apa sebaiknya aku menelpon gadis pencopet itu ya? Mungkin saja dia bisa menghilangkan rasa bosan yang tengah kuderita saat ini.
Dave sedikit buru-buru menggapai ponselnya yang tadi di lemparkannya begitu saja di atas kasur.
" Morgan, kirimkan nomor Davina ke ponselku sekarang juga " Perintah Dave. Setelah menelpon asistennya, Dave langsung membawa ponselnya berjalan keluar kamarnya. Senyum mengembang memenuhi garis bibir Dave. Kali ini ia akan bersenang-senang dengan gadis kecil itu. Dave akan menyiksa Davina dan itu membuatnya merasa begitu bersemangat.
" Tampaknya aku tidak akan mati bosan malam ini" Gumam Dave. Begitu Morgan mengirimkan nomor Davina padanya di detik itu juga Dave langsung menghubungi nomor tersebut.
Dreet ! Dreet ! Dreet ! dreeeeet......!
Davina masih berbaring dengan kedua kakinya yang terentang ke kiri dan kanan.
" Kemana dia? Berani sekali dia mengabaikan panggilanku " Gerutu Dave sembari berjalan mondar-mandir. Panggilannya sama sekali tidak diangkat oleh Davina.
Dreet ! Dreet ! Dreet !
Tubuh Davina baru tersentak kaget saat suara ponselnya tidak kunjung berhenti. Dengan rasa ngantuk luar biasa, tangan Davina menjangkau ponsel miliknya yang ia letakkan di dekat kepalanya. Kening Davina berkerut dalam saat melihat nomor baru masuk ke dalam ponselnya di tengah malam begini.
" Halo "
" Datang ke rumahku sekarang juga ! "
" Maaf, ini siapa ya? "
Sambil menggertak marah, Dave mendekatkan mulutnya pada ponsel
" Datang ke rumahku sekarang juga....pencopet ! "
" Dave.....ada apa dengannya? Aish ! Tidak bisakah pria itu membiarkanku tidur barang sejenak saja? " Gerutu Davina lalu kembali membaringkan tubuhnya.
Dret ! Dreeet !
" Baik pak ! Saya akan ke rumah anda sekarang juga! " Teriak Davina begitu ia mengangkat panggilan pria itu.
Davina melihat waktu di ponselnya yang menunjukkan pukul sepuluh lewat. Davina ingin menjerit, mencakar apapun yang ada di dekatnya saat ini karena ulah pria tak beradat itu. Malam-malam begini, Dave menyuruhnya keluar dan pergi kerumahnya. Entah apa yang di pikirkan oleh otak kecil pria itu. Davina sungguh tidak mengerti.
Tring !
Satu pesan masuk ke dalam ponsel Davina sebelum ia benar-benar menutup pintu rumahnya. Saat Davina membuka pesan itu, ternyata pesan singkat itu dikirim oleh Dave. Pria itu mengiriminya alamat rumah. Dengan tubuh yang masih terasa remuk redam, Davina berdiri di pinggir jalan menunggu angkutan yang bisa membawanya untuk bisa pergi kerumah Dave. Setelah menunggu hampir selama dua puluh menit, barulah Davina mendapatkan angkutan di jam-jam malam seperti ini. Meski takut, Davina tetap memaksa dirinya masuk ke dalam angkutan tersebut.
" Mau kemana mbak? " Tanya sopir angkot begitu Davina duduk. Sambil mengamati keadaan di dalam angkutan tersebut, Davina berujar pelan.
" Pergi ke alamat ini pak " Davina menunjukkan ponselnya ada sopir angkot. Pria tua itu mengangguk mengerti lalu mulai menekan pedal gasnya hingga angkot butut itu melaju cepat.
Begitu Davina tiba di depan pagar rumah Dave, ia langsung terbelalak lebar. Davina masih ingat betul jika dirinya pernah masuk ke dalam rumah besar yang ada di hadapannya saat ini. Tepatnya saat ia mengambil sisa makanan yang kemudian harus berakhir dengan dikejar-kejar oleh satpam di rumah tersebut.
" Jadi rumah ini miliknya. Bisa-bisanya dia memiliki semuanya mulai dari wajah, harta dan tahta. " Rutuk Davina dengan kesal.
" Cari siapa ya? " Tiba-tiba salah satu satpam menghampiri Davina yang masih sibuk mengamati rumah mewah milik Dave.
" Pak Dave ada ? "
" Kau siapa? " Tanya satpam itu sembari menatap Davina dengan penuh curiga.
" Pak Dave yang meminta saya untuk datang kemari"
" Tunggu sebentar " Satpam itu berlari masuk ke dalam posnya dan menghubungi tuannya. Tak lama satpam itu kembali lagi.
" Kau boleh masuk " Ujar satpam sambil membukakan pagar untuk Davina.
Gadis itu masuk ke dalam rumah besar itu dengan decak kagum yang tiada habisnya. Semua perabotan di dalam rumah pria itu benar-benar membuatnya kesal karena terlalu iri. Perabotan mewah itu di desain dengan unik hingga tampak begitu indah.
" Harga guci ini mungkin bisa membeli satu rumah baru " Gumam Davina sambil mengusap lembut satu guci berwarna biru yang di letakkan didekat tangga.
" Kau pasti ingin mencurinya " Ujar seseorang dengan tiba-tiba. Davina menoleh cepat dan mendapati Dave baru saja berjalan turun ke arahnya.
" Saya hanya melihat-lihat saja pak "
" Benarkah?" Dave tersenyum sinis, sambil menaikkan sebelah alisnya.
" Kenapa bapak selalu mencurigai saya? Seolah-olah saya akan mencuri semua hal yang bapak punya"
" Wajar saja aku selalu curiga, mengingat aku pernah kehilangan dompetku "Dave lebih dulu duduk di sofa berukuran besar miliknya.
" Baiklah, saya sudah bersalah pak. Tapi, bisakah anda melupakan hal ini, lagipula saya juga akan bertanggung jawab atas kerugian yang anda dapatkan"
" Ya, kau memang harus bertanggung jawab karena kalau kau berani lari dariku. Maka aku sendiri yang akan menyeretmu masuk ke dalam penjara " Dave tersenyum bangga.
" Saya tau pak "
Dave melirik pada Davina sebentar, mengamati penampilan gadis itu yang terlihat begitu sederhana dan menyedihkan. Rambutnya saja diikat asal-asalan, Bahan kaos dan celana jeansnya terlihat sangat murah. Wajahnya pun tidak begitu cantik namun kedua mata gelap itu terlihat cukup menarik menurut Dave.
" Jadi, apa tujuan anda menyuruh saya datang kemari, pak? " Suara Davina berhasil menyentak Dave dari lamunan singkatnya.
" Aku bosan dan butuh di hibur "
" Bapak bosan. Dan saya harus pergi malam-malam begini hanya untuk menghibur anda " Davina membuka mulut dengan lebar. Dalam hati, ia ingin sekali meneriaki pria itu.
" Kenapa? Kau keberatan ? " Tantang Dave.
" Tidak "
" Bagus. Seorang budak memang tidak berhak protes"
" Ya saya tau pak. Jadi, anda ingin saya melakukan apa sekarang? "
" Bagaimana jika kita bermain basket "
Davina langsung terbelalak lebar.
" Saya tidak pernah memainkan olahraga itu sebelumnya "
" Apa aku peduli? "
" Tidak pak "
" Sekarang kau ikut aku" Dave langsung bangkit berdiri lalu kemudian berjalan melewati Davina.
Oh Tuhan manusia apa dia ? Dimanakah otaknya berada. Apa dia tidak melihat jika ini sudah tengah malam ?
To be continued....
Happy reading, love you guys😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Atmani Ani
wah bikin ngakak thor
2021-11-16
2
Lusi Yani
kasian davina
2021-10-22
2
Clara
kasian bnget davi nya...gatau aja gmna.ksusahn davi bos PK...
2021-10-21
1