Seminggu sebelum aksi pencopetannya.....
Davina terbangun tiba-tiba saat merasakan ada pergerakan cepat di samping tubuhnya. Erangan halus menyergap telinganya, Davina mengusahakan dirinya untuk membuka kedua matanya dan melirik ke samping tubuhnya. Betapa terkejutnya Davina saat mendapati tubuh Dami yang kejang-kejang dan bersimbah keringat.
" Dami ! Dami ! Kau kenapa Dami?!! " Davina mengguncang pelan tubuh gadis kecil itu. Namun Dami seperti tidak merespon panggilannya. Rasa panas yang membakar terasa menyebar di kulit telapak tangannya. Davina semakin kalut.
" Dami tetaplah sadar kumohon! Kakak akan membawamu ke rumah sakit ! " Ujar Davina dengan sangat panik. Ia mengendong tubuh kecil Dami keluar dari dalam kamar.
" Kak mau kemana? " Tanya Akmal yang ikut terbangun mendengar keributan.
" Kau temani adik-adikmu dirumah, mal. Kakak harus segera membawa Dami ke rumah sakit " Jawab Davina sambil terburu-buru membawa Dami keluar rumah.
" Dami " Gumam Akmal sambil menatap sedih keduanya.
Davina berlari ke pinggir jalan raya menghentikan angkot yang untungnya sudah beroperasi di jam subuh-subuh begini.
" Ke rumah sakit Kasih Bunda pak! " Ujar Davina dengan sedikit berteriak. Ia menatap cemas wajah Dami yang memucat namun berkeringat dingin. Tubuh itu masih kejang-kejang di dalam pangkuannya.
" Kumohon cepat sedikit pak ! " Teriak Davina dengan panik.
" Sabar mbak, ini sudah diusahakan untuk cepat " Balas sopir angkot dengan wajah yang terlihat kesal.
Lima belas menit berlalu akhirnya mereka sampai dirumah sakit. Davina segera turun dan keluar dari dalam angkot lalu kemudian langsung berlari cepat membawa tubuh Dami masuk ke dalam UGD.
" Hei mbak! Kau belum bayar !! " Teriak sopir angkot. Davina sedikitpun tidak mendengar teriakan itu. Ia tetap berlari cepat memasuki ruang UGD.
" Siapapun disini tolong aku! " Pekik Davina sambil berlari menghampiri orang-orang yang berada di dalam UGD.
" Tenang nona kami akan membantu anda" Salah seorang perawat wanita menghampiri Davina.
" Kumohon tolong dia ! Adikku tiba-tiba kejang dan berkeringat dingin. Tubuhnya juga terasa sangat panas. Bantu dia! Kumohon ! " Tanpa Davina sadari, air matanya sudah mengalir dari sudut matanya.
Perawat itu tampak berlari ke arah sudut ruangan dan menghampiri seorang pria muda yang ternyata adalah seorang dokter di UGD tersebut.
" Dia mengalami kejang dan demam tinggi, dok" Ujar wanita perawat itu.
" Anda walinya? "
" Iya dok "
" Segera urus administrasi terlebih dahulu "
" Baiklah " Davina segera pergi untuk mengurus administrasi. Perawat dan dokter pria itu langsung membawa Dami ke dalam ruangan lain. Davina yang frustasi dan panik langsung terduduk di lantai sembari meratapi kepergian adik kecilnya.
" Oh Tuhanku ! Jangan ambil adikku. Aku begitu menyayanginya " Gumam Davina sembari menangis terisak sendirian. Punggungnya yang terlihat rapuh tampak bergetar kecil.
Hampir selama satu jam, Davina menunggu di dalam ruang UGD. Tapi, belum ada siapapun yang datang menemuinya, memberitahukan keadaan Dami adiknya. Davina berjalan mondar-mandir sembari menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Saat pria dokter itu muncul dan berjalan ke arahnya, disaat itu juga Davina sudah lebih dulu berlari menghampiri dokter tersebut.
" Dok, bagaimana keadaan adik saya?" Tanya Davina dengan wajah ketakutan. Wajah dokter tersebut terlihat sedikit aneh dan itu membuat perasaan Davina semakin tidak nyaman.
" Dokter spesialis yang akan menjelaskannya pada anda tentang kondisi adik anda? "
" Apa......adik saya...."
" Anda harus bertemu dengannya. Silahkan ikuti perawat itu " Ujar dokter di UGD tersebut pada Davina. Terlihat seorang perawat wanita yang berjalan menghampirinya. Davina seketika merasa kedinginan di sekujur tubuhnya. Segala pikiran buruk menyergap hatinya, pikiran blank dan sejenak ia hanya terpaku di tempat.
" Nona, mari saya antar "
" Apa?" Davina tersentak kaget. Perawat wanita itu tersenyum kecil padanya.
" Saya akan mengantar anda, nona. Dokter spesialis ingin menjelaskan sesuatu tentang kondisi adik anda. Mari "
" I...iya " Davina segera mengikuti perawat itu dari belakang.
Begitu pintu ruangan dibuka, dokter spesialis itu sudah lebih dulu tersenyum ramah dan mempersilahkan Davina untuk duduk di hadapannya. Davina hanya mengangguk kecil, lalu dengan kedua kaki yang gemetar, Davina memaksakan tubuhnya sendiri untuk berjalan mendekat lalu duduk di kursi yang ada di hadapan dokter spesialis tersebut. Davina menatap lama wajah dokter di depannya, usianya mungkin sekitar lima puluh tahun dan tampaknya penyakit yang serius telah terjadi pada Dami adiknya.
" Perkenalkan, nama saya Ferdinand Siregar. Saya adalah dokter spesialis onkologi yang akan menangani pasien atas nama Dami " Ujar dokter tersebut.
" Saya Davina, kakak Dami. Um...bagaimana kondisi adik saya dok? Kenapa adik.saya bisa tiba-tiba kejang dan demam tinggi seperti itu? " Tanya Davina dengan panik.
" Nona Davina, gejala tersebut terjadi karena imun tubuh Dami sedang berusaha melawan penyakit yang berada di dalam tubuhnya. Respon tubuh yang berlebihan itu menyebabkan Dami mengalami demam tinggi hingga mencapai 42 derajat celcius. Kondisi inilah yang menyebabkan adik anda mengalami kejang-kejang. " Jelas dokter Ferdinand.
" Adik saya menderita penyakit apa dok? " Desak Davina dengan tidak sabaran.
" Adik anda menderita leukimia stadium awal, nona Davina"
Deg....
Seluruh saraf ditubuhnya menegang tiba-tiba, Davina kehilangan daya dengarnya. Dari kedua matanya ia bisa melihat dokter tersebut masih berbicara, tapi ia tidak bisa mendengar apapun yang disampaikan oleh dokter yang ada di hadapannya. Davina, berpegangan pada pinggiran meja, ia menunduk lama sambil memejamkan kedua matanya. Tubuhnya gemetar dan berkeringat dingin.
" Nona Davina! " Panggil Dokter Ferdinand. Samar-samar Davina bisa mendengar suara dokter yang memanggil namanya.
" Nona Davina, apa anda baik-baik saja?! "
Davina menarik nafas panjang, berusaha memfokuskan dirinya kembali. Ia mengangkat wajahnya untuk menatap dokter Ferdinand, lalu kemudian berusaha untuk terus berbicara.
" Apa adik saya bisa sembuh dok ? " Tanya Davina yang sudah terisak pelan.
Dokter itu mengangguk dan Davina merasa setitik harapan menyadarkannya bahwa ia tidak boleh bersikap lemah seperti ini. Davina telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan melindungi adik-adiknya. Dengan berusaha menguatkan dirinya, Davina akhirnya mampu menatap lama wajah dokter di depannya.
" Bisa, asalkan kita melakukan pengobatan secara rutin untuk melawan pertumbuhan sel kanker yang berada di dalam darah.Sel kanker tersebut tidak akan cepat menyebar di dalam tubuh Dami "
" Kumohon, lakukan yang terbaik untuk adik saya dok"
" Iya, kita akan sama-sama berusaha nona Davina" Tegas dokter Ferdinand.
Setelah keluar dari dalam ruangan tersebut Davina hampir saja ambruk jika ia tidak buru-buru menekan sebelah tangannya pada tembok yang ada di depannya. Davina berbalik dan menyandarkan bagian belakang kepalanya pada tembok tersebut. Ia menengadahkan wajahnya sembari menangis.
" Darimana aku akan mendapatkan biaya untuk pengobatannya, Tuhan" Lirih Davina dengan isakan pelan yang memilukan. Saat di dalam dokter telah menjelaskan padanya, bahwa ia harus menyiapkan banyak biaya untuk pengobatan adiknya. Pengobatan kanker tersebut bisa memakan waktu selama bertahun-tahun sampai Dami benar-benar di nyatakan bebas dari kanker.
Aku tidak akan menyerah, apapun akan aku lakukan untuk menyelamatkan Dami.
Davina mengusap kasar kedua pipinya, lalu kemudian berlari ke tempat dimana Dami berada. Davina perlahan melangkah ke arah tubuh kecil yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Tubuh itu tidak lagi terlihat kejang-kejang namun kedua matanya masih terpejam.
" Damiku, kau baik-baik saja sekarang" Gumam Sabina sambil mengusap lembut kulit kening Dami.
" Kita akan bersama-sama melewati semua ini. Kakak akan terus menjaga Dami, hingga Dami bisa melewati semua ini " Davina menunduk dengan air mata yang kembali mengalir dari sudut matanya.
" Kakak akan membantu Dami agar bisa sembuh seperti dulu lagi. Dami pasti akan sembuh dan bisa bersekolah lagi seperti anak-anak yang lain"
" Jangan tinggalkan kakak Dami, kau harus tetap bertahan sayang. Jika kau bertahan, kakak juga akan bertahan, Dami "
" Kumohon tetaplah bertahan Damiku" Davina memajukan wajahnya, untuk mengecup lembut kening adiknya.
Siang harinya, saat Davina baru saja turun dari dalam lift ketika ia baru selesai memperbaiki toilet di salah satu kamar hotel berbintang lima itu, Davina melihat seorang pria tampan bersetelan jas yang terlihat mahal juga keluar dari lift yang sama dengannya. Pria itu melangkah cepat keluar dari dalam lift menuju basement. Awalnya Davina tidak berniat untuk mencopet pria itu namun saat ia kembali memikirkan bagaimana kondisi Dami, disaat itulah pikiran jahat itu merasuki pikirannya. Davina menggelung rambutnya ke atas lalu menutup kepalanya dengan jaket hoodie yang ia kenakan, Davina kemudian memasang masker hitam di wajahnya.
Ia berjalan pelan mengikuti pria itu dari belakang. Saat pria itu hendak membuka pintu mobilnya, dengan cepat Davina menubruk tubuhnya ke tubuh tinggi pria itu.
" Maaf pak " Gumam Davina sambil menunduk. Namun sebelah tangannya sudah lebih dulu masuk ke dalam saku celana pria itu dan mengambil dompetnya. Saat Davina baru akan pergi, pria itu langsung mencekal pergelangan tangannya. Seketika jantung Davina hampir melompat keluar dari rongga dadanya. Dengan menahan gemetar Davina berusaha mengangkat wajahnya untuk menatap mata pria itu. Davina bisa melihat senyum miring terulas dari bibir pria itu. Sambil mengulurkan sebelah tangannya, pria itu berujar pelan.
" Aku akan melepaskanmu nona tapi sebelum kau pergi....Kembalikan dulu dompetku " Ujar pria itu. Di detik itu juga, Davina merasa ingin mengubur dirinya sendiri hidup-hidup.
Satu hal yang Davina pikirkan setelah itu adalah segera melarikan diri dengan menendang tulang kering pria itu. Ia tidak akan mau mengembalikan dompet itu pada pemiliknya, karena ia benar-benar sangat membutuhkan uang saat ini. Meski Davina tahu apa yang telah ia lakukan salah namun Davina tetap akan melakukannya. Dalam hatinya Davina berjanji.
Maafkan aku pak, tapi aku akan berusaha mengembalikan semua uangmu yang ku curi, aku berjanji.
To be continued....
Happy reading, love you guys😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Lin Frie
mampir menarik
2021-10-25
0