Chapter 4

Seminggu sebelum aksi pencopetannya.....

Davina terbangun tiba-tiba saat merasakan ada pergerakan cepat di samping tubuhnya. Erangan halus menyergap telinganya, Davina mengusahakan dirinya untuk membuka kedua matanya dan melirik ke samping tubuhnya. Betapa terkejutnya Davina saat mendapati tubuh Dami yang kejang-kejang dan bersimbah keringat.

" Dami ! Dami ! Kau kenapa Dami?!! " Davina mengguncang pelan tubuh gadis kecil itu. Namun Dami seperti tidak merespon panggilannya. Rasa panas yang membakar terasa menyebar di kulit telapak tangannya. Davina semakin kalut.

" Dami tetaplah sadar kumohon! Kakak akan membawamu ke rumah sakit ! " Ujar Davina dengan sangat panik. Ia mengendong tubuh kecil Dami keluar dari dalam kamar.

" Kak mau kemana? " Tanya Akmal yang ikut terbangun mendengar keributan.

" Kau temani adik-adikmu dirumah, mal. Kakak harus segera membawa Dami ke rumah sakit " Jawab Davina sambil terburu-buru membawa Dami keluar rumah.

" Dami " Gumam Akmal sambil menatap sedih keduanya.

Davina berlari ke pinggir jalan raya menghentikan angkot yang untungnya sudah beroperasi di jam subuh-subuh begini.

" Ke rumah sakit Kasih Bunda pak! " Ujar Davina dengan sedikit berteriak. Ia menatap cemas wajah Dami yang memucat namun berkeringat dingin. Tubuh itu masih kejang-kejang di dalam pangkuannya.

" Kumohon cepat sedikit pak ! " Teriak Davina dengan panik.

" Sabar mbak, ini sudah diusahakan untuk cepat " Balas sopir angkot dengan wajah yang terlihat kesal.

Lima belas menit berlalu akhirnya mereka sampai dirumah sakit. Davina segera turun dan keluar dari dalam angkot lalu kemudian langsung berlari cepat membawa tubuh Dami masuk ke dalam UGD.

" Hei mbak! Kau belum bayar !! " Teriak sopir angkot. Davina sedikitpun tidak mendengar teriakan itu. Ia tetap berlari cepat memasuki ruang UGD.

" Siapapun disini tolong aku! " Pekik Davina sambil berlari menghampiri orang-orang yang berada di dalam UGD.

" Tenang nona kami akan membantu anda" Salah seorang perawat wanita menghampiri Davina.

" Kumohon tolong dia ! Adikku tiba-tiba kejang dan berkeringat dingin. Tubuhnya juga terasa sangat panas. Bantu dia! Kumohon ! " Tanpa Davina sadari, air matanya sudah mengalir dari sudut matanya.

Perawat itu tampak berlari ke arah sudut ruangan dan menghampiri seorang pria muda yang ternyata adalah seorang dokter di UGD tersebut.

" Dia mengalami kejang dan demam tinggi, dok" Ujar wanita perawat itu.

" Anda walinya? "

" Iya dok "

" Segera urus administrasi terlebih dahulu "

" Baiklah " Davina segera pergi untuk mengurus administrasi. Perawat dan dokter pria itu langsung membawa Dami ke dalam ruangan lain. Davina yang frustasi dan panik langsung terduduk di lantai sembari meratapi kepergian adik kecilnya.

" Oh Tuhanku ! Jangan ambil adikku. Aku begitu menyayanginya " Gumam Davina sembari menangis terisak sendirian. Punggungnya yang terlihat rapuh tampak bergetar kecil.

Hampir selama satu jam, Davina menunggu di dalam ruang UGD. Tapi, belum ada siapapun yang datang menemuinya, memberitahukan keadaan Dami adiknya. Davina berjalan mondar-mandir sembari menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Saat pria dokter itu muncul dan berjalan ke arahnya, disaat itu juga Davina sudah lebih dulu berlari menghampiri dokter tersebut.

" Dok, bagaimana keadaan adik saya?" Tanya Davina dengan wajah ketakutan. Wajah dokter tersebut terlihat sedikit aneh dan itu membuat perasaan Davina semakin tidak nyaman.

" Dokter spesialis yang akan menjelaskannya pada anda tentang kondisi adik anda? "

" Apa......adik saya...."

" Anda harus bertemu dengannya. Silahkan ikuti perawat itu " Ujar dokter di UGD tersebut pada Davina. Terlihat seorang perawat wanita yang berjalan menghampirinya. Davina seketika merasa kedinginan di sekujur tubuhnya. Segala pikiran buruk menyergap hatinya, pikiran blank dan sejenak ia hanya terpaku di tempat.

" Nona, mari saya antar "

" Apa?" Davina tersentak kaget. Perawat wanita itu tersenyum kecil padanya.

" Saya akan mengantar anda, nona. Dokter spesialis ingin menjelaskan sesuatu tentang kondisi adik anda. Mari "

" I...iya " Davina segera mengikuti perawat itu dari belakang.

Begitu pintu ruangan dibuka, dokter spesialis itu sudah lebih dulu tersenyum ramah dan mempersilahkan Davina untuk duduk di hadapannya. Davina hanya mengangguk kecil, lalu dengan kedua kaki yang gemetar, Davina memaksakan tubuhnya sendiri untuk berjalan mendekat lalu duduk di kursi yang ada di hadapan dokter spesialis tersebut. Davina menatap lama wajah dokter di depannya, usianya mungkin sekitar lima puluh tahun dan tampaknya penyakit yang serius telah terjadi pada Dami adiknya.

" Perkenalkan, nama saya Ferdinand Siregar. Saya adalah dokter spesialis onkologi yang akan menangani pasien atas nama Dami " Ujar dokter tersebut.

" Saya Davina, kakak Dami. Um...bagaimana kondisi adik saya dok? Kenapa adik.saya bisa tiba-tiba kejang dan demam tinggi seperti itu? " Tanya Davina dengan panik.

" Nona Davina, gejala tersebut terjadi karena imun tubuh Dami sedang berusaha melawan penyakit yang berada di dalam tubuhnya. Respon tubuh yang berlebihan itu menyebabkan Dami mengalami demam tinggi hingga mencapai 42 derajat celcius. Kondisi inilah yang menyebabkan adik anda mengalami kejang-kejang. " Jelas dokter Ferdinand.

" Adik saya menderita penyakit apa dok? " Desak Davina dengan tidak sabaran.

" Adik anda menderita leukimia stadium awal, nona Davina"

Deg....

Seluruh saraf ditubuhnya menegang tiba-tiba, Davina kehilangan daya dengarnya. Dari kedua matanya ia bisa melihat dokter tersebut masih berbicara, tapi ia tidak bisa mendengar apapun yang disampaikan oleh dokter yang ada di hadapannya. Davina, berpegangan pada pinggiran meja, ia menunduk lama sambil memejamkan kedua matanya. Tubuhnya gemetar dan berkeringat dingin.

" Nona Davina! " Panggil Dokter Ferdinand. Samar-samar Davina bisa mendengar suara dokter yang memanggil namanya.

" Nona Davina, apa anda baik-baik saja?! "

Davina menarik nafas panjang, berusaha memfokuskan dirinya kembali. Ia mengangkat wajahnya untuk menatap dokter Ferdinand, lalu kemudian berusaha untuk terus berbicara.

" Apa adik saya bisa sembuh dok ? " Tanya Davina yang sudah terisak pelan.

Dokter itu mengangguk dan Davina merasa setitik harapan menyadarkannya bahwa ia tidak boleh bersikap lemah seperti ini. Davina telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan melindungi adik-adiknya. Dengan berusaha menguatkan dirinya, Davina akhirnya mampu menatap lama wajah dokter di depannya.

" Bisa, asalkan kita melakukan pengobatan secara rutin untuk melawan pertumbuhan sel kanker yang berada di dalam darah.Sel kanker tersebut tidak akan cepat menyebar di dalam tubuh Dami "

" Kumohon, lakukan yang terbaik untuk adik saya dok"

" Iya, kita akan sama-sama berusaha nona Davina" Tegas dokter Ferdinand.

Setelah keluar dari dalam ruangan tersebut Davina hampir saja ambruk jika ia tidak buru-buru menekan sebelah tangannya pada tembok yang ada di depannya. Davina berbalik dan menyandarkan bagian belakang kepalanya pada tembok tersebut. Ia menengadahkan wajahnya sembari menangis.

" Darimana aku akan mendapatkan biaya untuk pengobatannya, Tuhan" Lirih Davina dengan isakan pelan yang memilukan. Saat di dalam dokter telah menjelaskan padanya, bahwa ia harus menyiapkan banyak biaya untuk pengobatan adiknya. Pengobatan kanker tersebut bisa memakan waktu selama bertahun-tahun sampai Dami benar-benar di nyatakan bebas dari kanker.

Aku tidak akan menyerah, apapun akan aku lakukan untuk menyelamatkan Dami.

Davina mengusap kasar kedua pipinya, lalu kemudian berlari ke tempat dimana Dami berada. Davina perlahan melangkah ke arah tubuh kecil yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Tubuh itu tidak lagi terlihat kejang-kejang namun kedua matanya masih terpejam.

" Damiku, kau baik-baik saja sekarang" Gumam Sabina sambil mengusap lembut kulit kening Dami.

" Kita akan bersama-sama melewati semua ini. Kakak akan terus menjaga Dami, hingga Dami bisa melewati semua ini " Davina menunduk dengan air mata yang kembali mengalir dari sudut matanya.

" Kakak akan membantu Dami agar bisa sembuh seperti dulu lagi. Dami pasti akan sembuh dan bisa bersekolah lagi seperti anak-anak yang lain"

" Jangan tinggalkan kakak Dami, kau harus tetap bertahan sayang. Jika kau bertahan, kakak juga akan bertahan, Dami "

" Kumohon tetaplah bertahan Damiku" Davina memajukan wajahnya, untuk mengecup lembut kening adiknya.

Siang harinya, saat Davina baru saja turun dari dalam lift ketika ia baru selesai memperbaiki toilet di salah satu kamar hotel berbintang lima itu, Davina melihat seorang pria tampan bersetelan jas yang terlihat mahal juga keluar dari lift yang sama dengannya. Pria itu melangkah cepat keluar dari dalam lift menuju basement. Awalnya Davina tidak berniat untuk mencopet pria itu namun saat ia kembali memikirkan bagaimana kondisi Dami, disaat itulah pikiran jahat itu merasuki pikirannya. Davina menggelung rambutnya ke atas lalu menutup kepalanya dengan jaket hoodie yang ia kenakan, Davina kemudian memasang masker hitam di wajahnya.

Ia berjalan pelan mengikuti pria itu dari belakang. Saat pria itu hendak membuka pintu mobilnya, dengan cepat Davina menubruk tubuhnya ke tubuh tinggi pria itu.

" Maaf pak " Gumam Davina sambil menunduk. Namun sebelah tangannya sudah lebih dulu masuk ke dalam saku celana pria itu dan mengambil dompetnya. Saat Davina baru akan pergi, pria itu langsung mencekal pergelangan tangannya. Seketika jantung Davina hampir melompat keluar dari rongga dadanya. Dengan menahan gemetar Davina berusaha mengangkat wajahnya untuk menatap mata pria itu. Davina bisa melihat senyum miring terulas dari bibir pria itu. Sambil mengulurkan sebelah tangannya, pria itu berujar pelan.

" Aku akan melepaskanmu nona tapi sebelum kau pergi....Kembalikan dulu dompetku " Ujar pria itu. Di detik itu juga, Davina merasa ingin mengubur dirinya sendiri hidup-hidup.

Satu hal yang Davina pikirkan setelah itu adalah segera melarikan diri dengan menendang tulang kering pria itu. Ia tidak akan mau mengembalikan dompet itu pada pemiliknya, karena ia benar-benar sangat membutuhkan uang saat ini. Meski Davina tahu apa yang telah ia lakukan salah namun Davina tetap akan melakukannya. Dalam hatinya Davina berjanji.

Maafkan aku pak, tapi aku akan berusaha mengembalikan semua uangmu yang ku curi, aku berjanji.

To be continued....

Happy reading, love you guys😘

Terpopuler

Comments

Lin Frie

Lin Frie

mampir menarik

2021-10-25

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1
2 Chapter 2
3 Chapter 3
4 Chapter 4
5 Chapter 5
6 Chapter 6
7 Chapter 7
8 Chapter 8
9 Chapter 9
10 Chapter 10
11 Chapter 11
12 Chapter 12
13 Chapter 13
14 Chapter 14
15 Chapter 15
16 Chapter 16
17 Chapter 17
18 Chapter 18
19 Chapter 19
20 Chapter 20
21 Chapter 21
22 Chapter 22
23 Chapter 23
24 Chapter 24
25 Chapter 25
26 Chapter 26
27 Chapter 27
28 Chapter 28
29 Chapter 29
30 Chapter 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chapter 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
79 Chapter 79
80 Chapter 80
81 Chapter 81
82 Chapter 82
83 Chapter 83
84 Chapter 84
85 Chapter 85
86 Chapter 86
87 Chapter 87
88 Chapter 88
89 Chapter 89
90 Chapter 90
91 Chapter 91
92 Chapter 92
93 Chapter 93
94 Chapter 94
95 Chapter 95
96 Chapter 96
97 Chapter 97
98 Chapter 98
99 Chapter 99
100 Chapter 100
101 Bonus Chapter 1
102 Bonus Chapter 2
103 Bonus Chapter 3
104 Bonus Chapter 4
Episodes

Updated 104 Episodes

1
Chapter 1
2
Chapter 2
3
Chapter 3
4
Chapter 4
5
Chapter 5
6
Chapter 6
7
Chapter 7
8
Chapter 8
9
Chapter 9
10
Chapter 10
11
Chapter 11
12
Chapter 12
13
Chapter 13
14
Chapter 14
15
Chapter 15
16
Chapter 16
17
Chapter 17
18
Chapter 18
19
Chapter 19
20
Chapter 20
21
Chapter 21
22
Chapter 22
23
Chapter 23
24
Chapter 24
25
Chapter 25
26
Chapter 26
27
Chapter 27
28
Chapter 28
29
Chapter 29
30
Chapter 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chapter 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78
79
Chapter 79
80
Chapter 80
81
Chapter 81
82
Chapter 82
83
Chapter 83
84
Chapter 84
85
Chapter 85
86
Chapter 86
87
Chapter 87
88
Chapter 88
89
Chapter 89
90
Chapter 90
91
Chapter 91
92
Chapter 92
93
Chapter 93
94
Chapter 94
95
Chapter 95
96
Chapter 96
97
Chapter 97
98
Chapter 98
99
Chapter 99
100
Chapter 100
101
Bonus Chapter 1
102
Bonus Chapter 2
103
Bonus Chapter 3
104
Bonus Chapter 4

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!