Aku terbangun dari tidurku dan mendapati bahwa Kak Rafi sudah tidak ada disampingku, kemana Kak Rafi pergi pagi-pagi begini? Kusingkapkan selimut yang menutupi tubuhku semalam, lalu kulangkahkan kaki ke kamar mandi siapa tau Kak Rafi memang sedang mandi. Namun ternyata dia tidak ada disana.
" Kak Rafi, kakak dimana? " tanyaku sebelum melihat sosok yang kukenal tengah berdiri di balkon sedang menikmati indahnya pemandangan pagi ini
" Resha " jawabnya memanggil namaku
" Kakak sedang apa? " tanyaku penasaran dan mendekat
" Sini deh, kamu lihat " ajak Kak Rafi untuk segera pergi kearahnya
" Ada apa Kak? " tanyaku lagi
" Woooaaaah, indah sekali Kak " kagumku setelah melihat pemandangan yang terpampang didepanku saat ini
" Cantik bukan? "
" Iya Kak, cantik sekali " kataku dengan mulut masih menganga karena takjub
" Iya Sha, cantik seperti kamu " puji Kak Rafi lalu memelukku dari belakang
Seketika wajahku langsung merah merona karena perlakuan Kak Rafi pagi ini, membuat jantungku dag dig dug dengan kencangnya.
" Resha, kamu tau tidak? "
" Tidak Kak " jawabku langsung sebelum Kak Rafi menyelesaikan perkataannya barusan
" Hei, dengarkan dulu " protes Kak Rafi karena perkataannya yang kupotong sebelum ia meyelesaikan apa yang ingin ia katakan
" Iya Kak, Kak Rafi mau bicara apa? " aku bertanya balik
" Kamu tau tidak, sekarang Kakak tengah menjadi apa? " tanya Kak Rafi yang sukses membuatku penasaran
" Menjadi apa? Maksud Kakak, Resha tidak mengerti " jawabku polos yang memang tidak mengerti maksud dari perkataannya tadi
" Sekarang Kakak tengah menjadi laki-laki yang paling bahagia dan paling beruntung Sejagat Raya " lanjut Kak Rafi dengan senyum yang merekah lebar diwajahnya
" Kenapa memangnya? " tanyaku masih belum mengerti
" Karena Kakak akhirnya bisa menjadikanmu pendamping hidup Kakak yang sah dan memilikimu sepenuhnya " sambung Kak Rafi membuatku kembali tersenyum
" Kakak beruntung sekali bisa memiliki pendamping yang baik hati, sholehah, pengertian, plus cantik sepertimu " sambung Kak Rafi lagi yang juga sukses membuatku merah merona dan ikut tersenyum karenanya
" Kak Rafi bisa aja " jawabku sambil tersenyum malu dipelukan Kak Rafi
" Tapi Sha, ada satu yang Kakak sesali " kata Kak Rafi dan membuatku bertanya-tanya
" Apa Kak? " tanyaku penasaran
" Kenapa Kakak sekarang memeluk Resha, Resha kan belum mandi " lanjut Kak Rafi dengan nada menyindir langsung
Aku terkejut, sontak pergi menjauh kearah samping. Apa yang baru saja Kak Rafi katakan benar-benar membuatku malu setengah mati, selama ini aku selalu mandi dan berusaha perfect didepannya, dan sekarang? Aaaaaaa, tidak... Teriakku dalam hati
" Kenapa Sha? " tanya Kak Rafi yang seolah-olah lupa dengan apa yang ia katakan tadi
" Kakak " kataku pelan sambil memasang wajah cemberut
" Haha, Resha Resha. Kakak hanya bercanda, sekarang kamu adalah Istriku. Bagaimanapun penampilanmu, kamu akan selalu cantik bagiku. Karena apa Sha? " Kak Rafi mencoba bertanya agar perhatianku teralihkan
" Apa Kak? " kutanyakan balik pada Kak Rafi yang memang tidak kuketahui apa yang akan ia katakan lagi selanjutnya
" Karena, cintaku kepadamu mengalahkan pandanganku. Ayo kita mandi " ajak Kak Rafi yang juga menggendongku untuk kedua kalinya sambil tersenyum nakal
" Kakaaaaakk " teriakku sambil memukul-mukul kecil pundaknya
****
****
~ RAFA POV ~
Aku bangun sedikit lebih pagi, agar bisa berbicara kepada Papi sebelum akhirnya ia pergi ke Kantor. Selesai mandi dan berpakaian, aku langsung turun kebawah, dan benar juga Papi belum berangkat kerja.
" Pagi Pi " sapaku pada Papi yang tengah membaca koran sambil menikmati secangkir kopi
" Iya Fa, ada apa? Tumben kamu bangun pagi " jawab Papi yang setengah menyindir
" Eh Rafa sudah bangun, ayo sayang kita sarapan bersama " ajak Mami yang baru datang setelah menyiapkan sarapan
" Pagi Mi " sapaku pada Mami
Aku bingung harus mulai darimana untuk mengatakannya, melihatku yang tengah kebingungan akhirnya Mami bertanya padaku.
" Rafa, ada apa Nak? "
" Tidak apa-apa Mi " jawabku tidak mengatakannya dengan jujur
" Ya sudah, kita sarapan dulu saja. Baru nanti kamu bicarakan sama Papi dan Mami " kata Mami yang seakan tau bahwa aku akan mengatakan sesuatu yang penting
Aku mengikuti perkataan Mami untuk sarapan dulu, sebelum mengatakan apa yang sudah kujanjikan kepada sahabatku semalam.
" Rafa, sekarang kamu sudah lulus. Sebaiknya kamu bekerja di Kantor dengan Papi " saran Papi langsung disela-sela waktu makan
" Iya Fa, benar kata Papi. Kuliahmu kan Bisnis Management, kamu harus langsung turun ke Perusahaan untuk mengasah bakatmu " sambung Mami menyetujui perkataan Papi
" Maaf Pi, Mi, bisakah Rafa tidak bekerja di Perusahaan Papi? " tanyaku memberanikan diri
" Papi sama Mami ingat Rasya tidak teman SMA-ku dulu? Dia sedang membuka usaha baru, dan dia menawarkan Rafa untuk bekerjasama membangun Bisnisnya itu " lanjutku menjelaskan sebelum Papi dan Mami melarangku untuk bekerja selain di Perusahaan Papi
Papi dan Mami tampak terkejut, lalu kulihat mereka saling pandang sebelum memutuskan untuk memulai pembicaraannya.
" Memangnya sudah jelas Perusahaan apa yang akan kamu kelola itu? " tanya Papi yang terdengar seperti meragukanku
" Sudah Pi " jawabku singkat
" Emm, begini Rafa. Bukannya Papi sama Mami tidak mengijinkan kamu untuk belajar mengelola Perusahaan sendiri, tapi kamu itu sama sekali belum pernah turun langsung ke Perusahaan. Alangkah baiknya kalau kamu bekerja di Kantor Papi dulu untuk mengasah bakatmu " kata Mami menjelaskan panjang lebar yang intinya bahwa aku tidak diperbolehkan untuk mencoba bekerja diluar sana
" Tapi Mi " protesku karena memang aku tidak mau dan tidak tertarik kalau harus bekerja di Kantor Papi
" Tidak ada tapi Rafa, kalau kamu memang benar-benar mau mengelola bisnis sendiri kamu harus belajar di Kantor Papi dulu " sanggah Papi memotong perkataanku tadi
" Papi sudah selesai sarapan, Papi berangkat dulu Mi " pamit Papi
" Iya Pi, hati-hati " jawab Mami lalu mencium punggung tangan Papi begitu juga denganku
" Iya Pi " jawaban singkat yang kuberikan saat Papi pamit untuk ke Kantor
" Rafa sudah selesai Mi " lanjutku lagi lalu menaiki tangga untuk pergi ke kamar
" Rafa " panggil Mami merasa kasihan atas penolakan yang kuterima dari Papi tadi
Aku tidak menghiraukan panggilan Mami dan tetap menuju ke kamarku. Sesampainya di kamar kurebahkan lagi badanku diatas tempat tidur, aku terus berpikir kenapa nasibku seperti ini.
Ditengah lamunan tiba-tiba handphone-ku berdering, siapa yang menelfonku pagi-pagi? Aku bangkit dan kuambil sumber suara yang berbunyi tadi yang tergeletak dimeja samping tempat tidur. " Nomor baru? Siapa? " tanyaku dalam hati
" Halo Fa, ini aku Rasya " sapa seorang laki-laki diseberang sana yang ternyata adalah sahabatku yang tidak sengaja bertemu tadi malam
" Oh Rasya, darimana kamu tau nomorku Sya? " tanyaku mengingat semalam sepertinya aku belum memberikan nomorku
" Tentu saja aku tau, ini kan nomor kamu sewaktu kita SMA dulu " jawab Rasya membuatku kaget karena ia masih memiliki nomor handphone-ku
Sejak lulus SMA memang aku tidak mengganti nomorku seperti teman-temanku yang lain, aku tidak terlalu suka gonta-ganti nomor. Saat aku memiliki sesuatu, apapun itu aku tidak akan pernah menggantinya. Begitu juga saat aku menyukai suatu hal aku akan tetap dan selalu menyukai hal itu, tanpa terkecuali.
" Ada apa Sya? " tanyaku langsung paham bahwa Rasya pasti menelfonku karena ada sesuatu yang penting sementara kami baru saja bertemu tadi malam
" Aku mau mengajakmu bertemu di Cafe biasa jam 10 siang ini " jawab Rasya langsung
" Oke, aku akan menemuimu nanti " kataku menyetujui ajakan Rasya lalu kututup telfonnya
*****
*****
Selamat membaca kakak2 semua 😉
Jangan lupakan like, vote, dan rate-nya ya kak ☺️
Kasih komentar juga tidak apa-apa ☺️
Terima kasih 👍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
StrawCakes🍰
like ❤
2021-04-02
1
Dandeliond⭑ᵉᶥᶠ
hayooo Rasya ada apa. ..
semangat mba 😍😍
2020-03-31
1