" Tidaaak " aku terbangun dari tidurku karena mimpi yang sangat aneh
" Mimpi apa tadi? Bagaimana aku bisa memimpikan hal seperti itu? Resha, apa yang kamu pikirkan? Ayo sadar Resha, sadar " pikirku
tok tok tok
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Tunggu dulu, dimana aku? Bukankah ini rumah Mami dan sekarang aku ada didalam kamarku. Tapi seingatku, aku ada di Rumah Sakit. Kenapa tiba-tiba di rumah, apa yang terjadi? Berbagai pertanyaan memutari pikiranku
tok tok tok
" Ya, siapa? " tanyaku pada sumber ketukan
" Non Resha, ini bibi non " jawab sang sumber ketukan masih diseberang pintu
" Ya, masuk saja bi pintunya tidak dikunci ko " kataku
Dia adalah Asistent Rumah Tangga yang bekerja di Rumah Mami, namanya bi Yem. Dia sudah bekerja di tempat Papi Mami lebih dari 20 tahun, sejak Kak Rafi dan Rafa masih kecil. Tapi selama beberapa bulan kemarin bi Yem izin cuti untuk mengurus anaknya yang sakit parah, sehingga ia tidak hadir dalam pernikahanku dan Kak Rafi.
" Maaf non Resha, apa non Resha butuh sesuatu? biar bibi siapin " kata bi Yem menawarkan
" Tidak bi, terima kasih " lanjutku yang memang tidak membutuhkan apapun untuk saat ini
" Baiklah non, bibi permisi dulu. Nanti kalau non Resha perlu apa-apa panggil bibi saja ya non " lanjut bi Yem sebelum meninggalkan kamar
" Tunggu bi, Resha mau tanya yang bawa Resha pulang, siapa ya? " tanyaku penasaran karena bi Yem pasti tau jawabannya
" O, itu den Rafa yang bawa non Resha pulang tadi malam. Memangnya ada apa non? " tutur bi Yem
" Tidak ada apa-apa bi, terus Rafa ada bilang sesuatu tidak? " tanyaku lagi
" Den Rafa cuma bilang buat jagain non Resha, terus langsung pergi lagi " lanjut bi Yem
" O, ya sudah. Terima kasih bi " kataku menghentikan pertanyaan-pertanyaan yang ingin kutanyakan namun ku urungkan
" Baiklah non, bibi permisi kebelakang dulu " pamit bi Yem
" Iya bi " jawabku singkat
Rafa membawaku pulang tadi malam, tapi kenapa aku tidak ingat sama sekali, apa mungkin dia menggendongku saat aku tidur. Aku harus siap-siap pergi ke Rumah Sakit, siapa tau Kak Rafi sudah sadar.
Ditengah-tengah aku menyibukkan diri, aku merasakan dan mendengar sesuatu berbunyi. Astaga perutku, aku merasa lapar sekali. Sudah hampir dua hari aku belum makan, pantas saja aku seperti orang yang kelaparan.
Aku langsung turun ke bawah dan meminta bi Yem memasakkan sesuatu untukku. Tak butuh berapa lama, akhirnya cacing-cacing di perutku terasa damai tanpa adanya protes karena kelaparan.
Setelah selesai makan, aku memesan layanan taksi online untuk mengantarku ke Rumah Sakit. Di rumah ini tidak ada yang memakai jasa supir untuk mengantar kemana mereka pergi, karena setiap orang mengendarai mobil sendiri. Papi dan Mami selalu pergi bersama, Kak Rafi juga mengendarai mobil sendiri begitupula dengan Rafa. Rafa? Aku tidak mendengar kabar darinya selama hampir dua bulan, sampai pada saat Kak Rafi masuk Rumah Sakit.
Dia bagaikan ditelan bumi entah kemana, tak terdengar sedikitpun kabar darinya. Dimana ia tinggal, bagaimana keadaannya, dan apa yang ia lakukan selama ini. Aku sama sekali tidak mengerti kenapa Rafa memutuskan untuk pergi dari rumah dan hidup mandiri, dia tidak pernah memberitahuku apa alasan dia melakukan hal itu. Apa dia masih Rafa yang kukenal dulu atau bukan? Dia sudah banyak sekali melakukan perubahan, entah apa maksudnya aku sama sekali tidak bisa memahaminya. Seharusnya hubunganku dan Rafa semakin akrab karena kami tinggal di rumah yang sama dan bertemu hampir setiap hari, tapi dia berubah setelah aku dan Kak Rafi menikah.
Entahlah, aku tidak mau memikirkan hal yang aku sendiri tidak bisa menebak apa jawabannya. Lebih baik aku menunggu taksi online saja didepan.
ting tong, ting tong
Belum sampai aku didepan rumah, ternyata sang supir taksi sudah memencet bel dan menungguku di balik gerbang. Aku mempercepat langkah kakiku dan bergegas masuk kedalam taksi.
Didalam perjalananku, pemikiran tentang Rafa terus saja menggangguku. Aku pun meminta Pak Supir mempercepat laju kendaraannya, aku ingin segera sampai dan bertemu Kak Rafi.
Lima belas menit kemudian, barulah taksi yang aku tumpangi sampai didepan Rumah Sakit karena jalanan yang sedikit macet. Ku langkahkan kaki menuju ruangan dimana Kak Rafi berada, dan betapa terkejutnya aku akan pemandangan yang kulihat saat ini.
Selang infus yang dipakai Kak Rafi dilepaskan, wajah yang baru kemarin siang kulihat masih baik-baik saja, sekarang pucat pasi. Apa yang terjadi? Kenapa semua orang tampak sedih? Mami menangis histeris memanggil nama Kak Rafi, ada apa ini? Apa yang terjadi selama aku dirumah?
Aku melangkahkan kaki mendekati Kak Rafi, kulihat wajahnya yang pucat pasi, ku raih tangannya dan ku genggam erat.
" Kak Rafi " panggilku lirih
" Kak Rafi sudah sadar kan Kak? Kenapa Kakak diam saja? Kak Rafi " panggilku terus
" Mami, kenapa Kak Rafi diam saja Mi? " tanyaku beralih pada Mami yang sudah sedikit meredakan tangisnya
" Ayah, Ibu ada apa dengan Kak Rafi? Kenapa selang infusnya dilepas Bu? Kenapa Kak Rafi diam saja? " aku beralih bertanya pada Orangtuaku karena tak mendapat jawaban dari Mami
" Resha, kamu harus kuat ya sayang " jawab Ibuku
" Kuat? Apa maksud Ibu? Tolong jawab Bu, ada apa dengan Kak Rafi? " aku terus memaksakan pertanyaanku pada Ibuku sendiri
" Nak Rafi, dia " perkataan Ibu terpotong tak kuat menahan tangis
" Kak Rafi kenapa? Kenapa Ibu menangis? Ibu tolong jawab pertanyaan Resha Bu " aku yang sedari tadi mencoba menahan airmata kini sudah tak bisa menahannya lagi
Aku menangis duduk bersimpuh dihadapan Ibu yang tak kunjung menjawab pertanyaanku, aku tak kuat menahannya hingga tiap tetes airmata mengalir dengan sendirinya.
" Resha, Nak Rafi sudah tiada "
Aku diam seribu bahasa mendengar jawaban yang dikatakan Ayahku, aku tidak percaya dengan apa yang kudengar barusan. Aku bangkit dan berdiri menghampiri Ayahku.
" Apa yang Ayah katakan? " tanyaku tak percaya
" Iya Resha, Nak Rafi sudah meninggal. Dia meninggalkan kita semua tadi pagi sebelum kamu sampai disini " jelas Ayah
" Meninggal? " aku kembali duduk bersimpuh merasa lemah tak berdaya
Untuk beberapa saat aku terpaku diam membisu, aku berusaha berdiri dan menghampiri Kak Rafi yang tengah terbujur kaku. Ku usap wajah lelaki yang baru beberapa bulan ku nikahi itu, kulit wajahnya kini menjadi dingin dan tak sehangat dulu lagi.
" Kak Rafii " airmata kembali membasahi pipiku
" Kenapa Kak? Kenapa Kak Rafi tega melakukan hal ini sama Resha? Apa salah Resha Kak? Kenapa Kakak pergi meninggalkan Resha begitu saja? Kenapa? " pertanyaan demi pertanyaan keluar dari mulutku
" Resha " teriak semua orang yang terkejut melihatku kembali jatuh pingsan
****
*****
****
Selamat membaca 🙂 dan terima kasih
Maaf baru update setelah beberapa bulan istirahat
Jangan lupa like, rate, dan votenya ya 🙂
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Ara Irza
ko rafi meninggal sh,, thorrr
2020-11-25
5