" Kemana kita akan pergi Sha? " tanyaku setelah masuk mobil
" Terserah kamu saja Fa, Resha ikut " jawab Resha
" Apa kamu tidak ada tempat yang mau dikunjungi Sha? " tanyaku lagi
" Tidak ada, Resha tidak berpikir akan pergi jalan-jalan soalnya " jawabnya lagi
Ku lajukan mobil ke arah dimana aku dan Resha kuliah dulu, saat kuliah kami seringkali mengunjungi studio seni lukis didepan kampus. Resha sangat tertarik dengan seni lukis, dulu aku selalu menemaninya setiap ada pameran disana. Banyak karya-karya hasil lukisan tangan teman satu kampus kami yang di jadikan pameran disana, Resha suka sekali melihat lukisan tapi dia tidak pandai dalam hal menggambar ataupun melukis.
Beberapa kali Resha mengikuti acara belajar lukis yang diadakan disana, namun hasilnya amat jauh dari yang diharapkan, bahkan dengan gambar anak TK pun dia masih kalah jauh. Entahlah, mungkin bakatnya itu hanya dalam penglihatan dan penilaian tentang sebuah gambar.
" Rafa, bukankah ini jalan ke arah kampus kita dulu? " tanya Resha heran
" Iya Sha " kataku sambil memarkirkan mobil
" Kenapa kamu mengajakku kesini? Ini kan studio seni lukis yang sering kita kunjungi " tanya Resha penasaran setelah melihatku memarkirkan mobil didepan studio
" Iya Sha, aku bingung harus membawamu kemana dan kebetulan tempat ini yang terlintas di pikiranku. Kamu tidak suka aku membawamu kesini Sha? Atau kamu mau pergi ke tempat lain? " tanyaku kalau-kalau Resha tidak menyukai tempat yang kami tuju
" Tidak Fa, bukan begitu. Ya, kaget saja kamu tiba-tiba mengajakku ke studio ini " jawab Resha terdengar tidak enak hati
" Berarti kamu setuju kalau kita masuk kedalam Sha? " tanyaku memastikan
" Oke, kenapa tidak " balas Resha dengan percaya diri dan masuk kedalam studio lebih dulu
Aku tersenyum melihat Resha memasuki studio itu, aku sangat berharap hubunganku dan Resha bisa kembali seperti dulu lagi, ya minimal tidak secanggung seperti sekarang.
Aku menyusul Resha masuk ke studio, betapa terkejutnya aku akan pemandangan didalamnya. Sungguh indah tiap lukisan yang terpasang disana, mungkin para pelukisnya sudah jauh lebih jago dan lebih mahir dalam memainkan kuasnya, hingga menorehkan tinta yang membentuk sebuah karya seni lukis yang sangat indah. Ini indah sekali hingga membuatku takjub dan tak bisa berkata-kata lagi.
" Rafa, sini Fa " panggil Resha dengan melambaikan tangannya
Aku tak menjawab panggilannya, melainkan segera menghampiri Resha.
" Lihat deh, lukisan ini bagus kan Fa? " tanya Resha begitu aku berdiri disampingnya
Lukisan itu mungkin terlihat biasa, tapi makna didalam lukisan itu sendiri terlihat sangat dalam.
• Move on •
Itulah judul dalam lukisan tersebut, arti dalam kata itu sendiri adalah bahwa kita harus move on atau berpindah dari satu objek ke objek lain. Mengenai makna dari lukisan itu menandakan kita harus terus berjalan dan berlari untuk mencapai apa yang kita inginkan, dalam lukisan terlihat seorang anak tengah berlari namun tak terlihat awal dan akhir perjalanannya. Dan itu berarti apapun awal dan bagaimana akhirnya nanti, kita harus tetap berjuang dan berusaha keras dalam menjalani hidup.
Sepertinya lukisan ini sangat cocok dengan suasana yang terjadi saat ini, Resha harus move on dan terus menjalani hidup bersamaku untuk kedepannya. Aku akan bertanya apakah lukisan ini boleh kami bawa pulang atau tidak, dan kuharap pengelola studio mengizinkan kami untuk membawanya.
" Resha, kamu tunggu disini sebentar ya " pintaku pada Resha dan segera pergi mencari pengelola studio itu
****
" Permisi Pak " sapaku
" Ya, ada yang bisa Bapak bantu? " tanya Pak Irawan
" Saya mau tanya, apa Bapak masih mengenal saya? " tanyaku memastikan
Pak Irawan seperti tengah berpikir dan mengingat-ingat sesuatu.
" Yaa Bapak ingat, kamu salah satu mahasiswa di Universitas itu kan? " tanya si Bapak setelah mengingatku
" Iya Pak, ini saya Rafa mahasiswa lulusan dari Universitas Harapan Bangsa. Syukurlah kalau Bapak masih mengingatku " kataku merasa lega
" Tentu saja Bapak ingat, kamu dulu kan sering sekali datang kesini. Ada apa Nak? Apa yang sedang kamu cari? " tanya Pak Irawan lagi
" Begini Pak, saya kesini bersama istri saya dan dia juga lulusan dari Universitas yang sama dengan saya, bahkan kami satu angkatan. Kami datang kemari untuk mengenang saat-saat kami kuliah dulu, kami berdua sedang melihat-lihat dan sepertinya istri saya tertarik dan suka dengan lukisan yang ada dipojok sana. Apa boleh kami membawanya pulang Pak? Kebetulan saya dan istri saya baru beberapa hari menikah dan saya ingin memberikan lukisan itu sebagai hadiah pernikahan, bagaimana Pak Irawan? Apa Bapak mengizinkannya? " tanyaku setelah panjang lebar menjelaskan tentang hubunganku dan Resha
Pak Irawan kembali berpikir sebelum dia melanjutkan perkataannya.
" Sebentar Nak Rafa, lukisan yang mana ya? " tanya Pak Irawan
" Lukisan yang dipojok sana, nama lukisannya Move on. Kami boleh membawanya kan Pak? " tanyaku lagi
Pak Irawan berjalan menghampiri lukisan tersebut, dan melihat Resha berdiri didepannya dengan serius.
" O lukisan ini? Ya boleh-boleh, tentu saja boleh Nak Rafa " ungkap Pak Irawan setelah melihat lukisannya dan membuat Resha terkejut karena tiba-tiba berdiri disampingnya dan berkata seperti itu
Pak Irawan kembali ke tempat duduknya didepan, dan mengatakan bahwa pelukisnya memang mengizinkan lukisan tersebut untuk dibawa pulang kalau ada peminatnya. Tentu saja dengan biaya yang lumayan agar bisa membawanya.
Aku memanggil Resha dan menyuruhnya duduk di kursi depan agar Pak Irawan bisa membungkus lukisan itu. Panjang lukisannya 1 m sedangkan tingginya mungkin sekitar 70/80 cm dan beratnya lumayanlah.
Aku meminta Pak Irawan memasukkan lukisan kedalam mobil saat kami tengah minum kopi di cafe sebelah. Aku ingin lukisan itu menjadi hadiah pertama pernikahan untuk Resha, dan memajangnya di Apartmentku nanti.
" Bagaimana Sha, ada tempat yang mau kamu kunjungi setelah ini? " tanyaku membuka percakapan
" Apa aku boleh pergi ke Apartment kamu sebelum kita pulang? " tanya Resha sedikit ragu-ragu
" Aku ingin melihat-lihat dulu keadaan Apartment sebelum mengemas barang dan pindah kesana, boleh kan Fa? " lanjut Resha
" Tentu saja boleh, toh nantinya kamu juga akan tinggal disana " balasku
" Baiklah, ayo kita pergi sekarang " kata Resha penuh semangat dengan senyum yang tersungging dibibirnya
Astaga, senyum itu. Senyum yang sudah cukup lama tak kulihat kini kembali mewarnai hidupku. Senyum yang membuatku jatuh hati, senyum yang membuatku bersemangat untuk pergi kuliah, senyum yang selalu hadir di setiap mimpiku kini kulihat lagi. Terima kasih Resha, kamu telah kembali memberiku senyuman itu.
Butuh waktu cukup lama untuk kami sampai di Apartment, lagu yang mengiringi perjalanan kami pun berhenti. Aku membawa Resha naik ke Apartmentku dilantai 22 dengan nomor 22-11.
" Ini Apartment kamu Fa? " tanya Resha setelah kami masuk
" Iya Sha, memang tidak begitu besar tapi cukup untuk kita berdua tinggal " balasku
Aku berjalan menuju kamar yang akan di tempati Resha dan memastikan bahwa kamar itu pas untuknya.
" Ini kamar kamu Sha " kataku
" Kamar? Aku pikir yang itu kamar kita "
" Tidak Sha, kita tidak akan tinggal dalam satu kamar. Aku tau bahwa kita berdua sudah menikah, tapi aku tidak mau kalau kamu sampai terpaksa untuk tidur dalam satu kamar denganku " sambungku memotong perkataan Resha
" Baiklah kalau itu keputusanmu " balas Resha dengan wajah sedikit kecewa
Resha, kenapa kamu setuju dengan perkataanku? harusnya kamu menolak dan tetap meminta kita tidur dalam satu kamar dengan alasan pernikahan. Atau kamu memang tidak bersedia tidur satu kamar denganku karena kamu tidak menyukaiku Sha?
****
*****
****
**Selamat membaca 🙂
Jangan lupakan like, vote dan rate-nya ya
Kasih kritik dan sarannya juga boleh
Terima kasih 🙂**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
DeputiG_Rahma
jejak DEBU datang lagi❤❤😁
2020-12-14
1
Imelda Nurrahmah
perjuangan babang Rafa...
2020-12-02
1