" Kak Rafi, ayo cepetan Kak " ajakku tak sabar pada Kak Rafi
" Tunggu sebentar Rafa, Kakak harus menyelesaikan tugas sekolah dulu " kata Kak Rafi
" Tugas sekolahnya nanti saja Kak, sekarang Kak Rafi harus main sama Rafa dulu " pintaku yang terus merengek
" Iya iya, ya sudah ayo kita main " ajak Kak Rafi yang langsung mengambil mainan robot-robotan yang ada ditanganku
" Kak Rafi curang, Rafa kan belum siap " rengekku
Kak Rafi hampir selalu menuruti perkataanku, mungkin karena perbedaan usia kami yang tidak terlalu jauh. Papi, Mami selalu sibuk sepanjang waktu saat kami kecil. Mereka jarang menghabiskan waktu bersama anak-anaknya, hingga sekarang kami hampir memiliki segalanya berkat kerja keras mereka siang dan malam.
Sebagai putra tertua Kak Rafi memiliki tanggung jawab yang besar dalam menjaga, mengawasi dan melindungiku selama Papi dan Mami tidak dirumah. Mungkin itu juga menjadi salah satu penyebab hubungan kami sedekat ini, karena biasanya dua orang anak lelaki yang usianya tidak terlalu jauh akan selalu bertengkar.
" Aduh Kak, sakit " rintihku kesakitan
" Rafa, kamu kenapa? " tanya Kak Rafi saat menghampiriku
Kak Rafi segera menggendongku dipunggungnya dan masuk kedalam Rumah, ia tampak sibuk dalam sesaat kesana kemari mencari sesuatu.
" Kak Rafi cari apa? " tanyaku polos
" Kakak cari kotak P3K Fa, kamu tau dimana tidak? Seingat Kakak ada didalam sini, tapi kenapa tidak ada ya " jawab Kak Rafi merasa bingung
" Kakak lupa ya, kemarin kan kita main Dokter bohongan di kamar Kak " jelasku memberitahu
" Astaga Kakak lupa, sebentar ya Kakak ambil dulu kotaknya " kata Kak Rafi yang langsung berlari menuju kamar
***
****
*****
" Rafa, bangun sayang " panggil Mami sembari sedikit menggoyang-goyangkan badanku
Aku tersentak bangun dari mimpiku karena guncangan Mami.
" Mami, ada apa Mi? " tanyaku setelah membuka mata
" Kamu tolong temani Resha sebentar ya, Mami sama Papi keluar dulu ada sedikit urusan " lanjut Mami
" O, iya Mi " kataku yang masih setengah mengantuk
Orang tuaku pergi untuk mengurus sesuatu, Ayah dan Ibu Resha juga tidak ada, mungkin mereka pergi saat aku tertidur semalam.
Dalam mimpiku tadi Kak Rafi selalu menjadi Dokter saat aku terluka, sekarang Kak Rafi terbaring tak sadarkan diri didepanku sementara aku sama sekali tidak bisa menjadi Dokter sungguhan untuk mengobatinya.
Kulihat Resha masih duduk disamping ranjang Kak Rafi, masih memegang erat tangannya sejak semalam. Apa yang Resha lakukan? Apa ia sama sekali tidak tidur tadi malam?
Ingin sekali rasanya aku menghibur dan menenangkan Resha seperti dulu, entah kenapa waktu yang kita jalani sekarang sudah tidak bisa kembali lagi. Mungkin hubunganku dan Resha bisa seperti saat kami masih kuliah, berteman baik bahkan lebih karena sekarang aku dan Resha menjadi Saudara Ipar. Tapi perasaanku menolak dan tidak bisa menerimanya sedikit pun.
Kuberanikan diri mendekati Resha untuk membujuknya beristirahat di sofa.
" Sha, lebih baik kamu beristirahat sebentar di sofa, biar aku yang menjaga Kak Rafi " bujukku pada Resha
" Tidak Fa, aku ingin ada disamping Kak Rafi saat ia sadar nanti " jawab Resha yang secara halus menolak bujukanku
" Ya sudah terserah kamu, aku keluar sebentar membeli sarapan dulu kalau begitu " kataku langsung pergi keluar meninggalkan Resha
****
****
Aku membeli bubur ayam kesukaan Resha agar ia mau sedikit makan, karena sejak semalam Resha menolak semua makanan yang kami berikan padanya. Semoga saja ia mau makan
setelah melihat salah satu makanan favoritnya, pikirku.
Saat aku masuk ruangan kulihat Resha masih dalam posisi duduknya tak berpindah sedikitpun, kusiapkan sarapan yang kubeli tadi untuknya.
" Sha " panggilku lirih
Resha sama sekali tidak menengok atau menjawab panggilanku.
" Resha, ini kubelikan bubur ayam kesukaanmu. Kamu makan dulu ya, sejak semalam kamu kan belum makan apa-apa Sha " kusodorkan bubur ayam didepannya agar ia sedikit melirik dan merasa tergugah untuk memakannya
" Tidak Fa terima kasih, aku tidak lapar " jawaban itu yang selalu Resha katakan
" Ya sudah, aku letakan diatas meja ya. Nanti kamu harus memakannya walaupun hanya sedikit " pintaku sambil meletakan bubur tersebut
Kuletakkan bubur ayam diatas meja samping Resha duduk, aku keluar ruangan agar Resha mau memakannya. Jujur saja, kalau keadaanku sama seperti saat kuliah dulu aku pasti akan memaksanya makan bahkan menyuapinya.
Aku duduk diruang tunggu membiarkan Resha berdua saja dengan Kak Rafi, suara panggilan masuk seketika membuatku tersadar.
" Halo Sya " sapaku pada Rasya dibalik telfon
" Kak Rafi masih belum sadar, mungkin hari ini aku tidak masuk ke Kantor Sya " kataku memberitahu Rasya
Setelah beberapa menit melakukan panggilan telfon dengan Rasya, aku memutuskan masuk kedalam ruangan untuk melihat kondisi Resha.
" Resha " teriakku segera menghampirinya
Saat membuka pintu kulihat Resha jatuh pingsan di lantai, kubaringkan Resha di sofa dan bergegas memanggil Dokter untuk memeriksa keadaannya.
****
" Bagaimana keadaannya Dok? " tanyaku khawatir
" Pasien jatuh pingsan karena kekurangan cairan dan kelelahan, saya akan meminta suster untuk menginfusnya " kata Dokter menjelaskan
" Baik Dok, lalu kapan Resha siuman Dok? " tanyaku lagi
" Pasien akan segera siuman setelah kondisi tubuhnya sudah kembali normal " lanjut Dokter
" Baik Dok, terima kasih "
Aku segera memberitahukan keadaan Resha kepada Mami dan Papi, juga kepada Ayah dan Ibunya.
****
Setelah mereka tiba di Rumah Sakit aku menjelaskan keadaan Resha kepada semua orang. Sekarang ia terbaring tak sadarkan diri disebelah Kak Rafi karena aku meminta suster menyiapkan satu ranjang lagi untuk Resha agar kami lebih mudah melihat kondisi mereka berdua.
Saat kami tengah khawatir dengan keadaan Resha, Kak Rafi tiba-tiba sadar dan memanggil kami. Semua orang menanyakan bagaimana keadaan Kak Rafi, akan tetapi ia mengatakan dan meminta sesuatu hal yang menurut kami sangat tidak masuk akal.
Karena Kak Rafi menjelaskan dan berusaha sekuat tenaga meyakinkan kami semua akan permintaannya itu. Maka Papi, Mami, Ayah dan Ibu Resha entah bagaimana akhirnya menyetujui permintaan Kak Rafi dan langsung menyiapkannya saat itu juga.
****
****
" Saya terima nikah dan kawinnya Naresha Permata Putri binti Bapak Syahputra dengan maskawin uang senilai dua juta dua ratus sebelas ribu rupiah dibayar tunai " kataku melafalkan ijab qabul dengan perasaan tak karuan
" Bagaimana para saksi? Sah? " tanya Pak Penghulu
" Sah " jawab semua orang yang ada diruangan
Aku sama sekali tidak percaya dengan apa yang terjadi sekarang, bagaimana ini bisa terjadi? Apa ini semua hanya mimpiku saja? tanyaku dalam hati
Kalau memang benar ini semua hanyalah mimpi dan harapanku semata, aku harus segera bangun dari tidurku, aku tidak boleh membiarkan hal seperti ini terjadi walaupun hanya dalam mimpi.
" Fa, Rafa " panggil Mami yang melihatku terus melamun setelah ijab qabul selesai
Kali ini sedikit goyangan yang Mami lakukan di pundakku bukan untuk membangunkanku dari tidur melainkan menyadarkanku dari lamunan.
" Iya Mi, maaf Rafa ketiduran lagi ya, Resha.... " aku menghentikan perkatanku saat melihat dan menyadari keadaan sekeliling
" Kamu kenapa Fa dari tadi melamun terus? " tanya Mami
" Apa? Jadi ini sama sekali bukan mimpi? Dan yang terjadi barusan adalah.... Tidak mungkin, ini sama sekali tidak mungkin " batinku
****
****
****
Terima kasih, selamat membaca 🙂
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Imelda Nurrahmah
kenapa rafi thor.... kok jadi raga nikah
2020-11-23
1