Aku akhirnya pergi ke rumah Orangtuaku dan mencoba menanyakan segala pertanyaan yang belum terjawab, dalam perjalanan aku memikirkan dan memilah-milah apa yang harus kutanyakan pada mereka nanti.
tok tok tok
" Assalamu'alaikum, Ayah Ibu " ku ketuk pintu dan ku ucap salam pada Ayah dan Ibu
Kini setelah menikah aku sudah tidak bisa seperti dulu lagi, tidak perlu mengetuk pintu hanya mengucapkan salam dan langsung masuk begitu saja karena aku masih berstatus putri mereka. Namun sekarang, aku harus menunggu mereka menjawab salam dan membukakan pintunya untukku karena statusku sekarang sudah berganti menjadi istri dan menantu di rumah orang lain.
" Wa'alaikumsalam sebentar ya " teriak Ibu di belakang sana seperti sedang melakukan suatu hal yang sibuk
" Resha, astaga putri Ibu disini, Ibu kangen sekali Nak " Ibu terkejut setelah membuka pintu dan melihatku yang mengetuk pintu tadi
" Iya Ibu, Resha juga kangen " aku membalas pelukan Ibu dengan erat
Ini adalah hari pertama aku bertemu dengan Ibu, setelah beberapa hari melewati kejadian yang tidak terbayangkan dalam keluarga kami kemarin.
" Ayo kita masuk Nak, Ibu sedang membuat kue di dapur " ajak Ibu
" Membuat kue Bu? Buat siapa? " tanyaku sedikit penasaran
" Buat kamu dan Pak Handoko sekeluarga dong, tadinya setelah kuenya selesai di buat Ibu dan Ayah berencana pergi kesana. Tapi karena sekarang Resha ada disini, nanti biar Resha yang bawa saja sekalian " jelas Ibu
" Kenapa Ayah dan Ibu tidak ikut Resha kesana saja Bu? " tanyaku
" Tidak apa-apa Resha, kamu saja yang bawa. Ayah dan Ibu harus pergi keluar kota sebentar " jelas Ibu lagi
" Keluar kota? Kemana Bu? Ke rumah siapa? " tanyaku bertubi-tubi
" Ke rumah teman Ayah di Semarang, dia mau mengadakan acara dan mengundang kami untuk datang kesana " lanjut Ibu
" Oh " kataku singkat
" O ternyata kuenya sudah matang. Semoga rasanya enak " kata Ibu sambil mengeluarkan kue dari oven
" Tentu saja dong Bu, kue buatan Ibu kan selalu enak " pujiku tersenyum lebar
Setelah kue yang Ibu buat sudah agak dingin, aku mencoba beberapa dan seperti yang kukatakan tadi kue buatan Ibuku memang selalu enak hingga membuatku ketagihan.
Ditengah acara makan kue, aku baru ingat apa tujuanku datang kesini.
" Ibu, Ayah dimana? Kenapa Resha tidak melihat Ayah dari tadi? " tanyaku mulai membuka percakapan serius
" Ayah sedang keluar untuk membeli barang yang akan dibawa ke Semarang nanti, memangnya ada apa Nak? " tanya Ibu yang masih sibuk sendiri dengan kuenya sejak tadi
" Tidak apa-apa "
" O iya Bu, boleh Resha tanya sesuatu sama Ibu? " sambungku
" Iya boleh, memangnya Resha mau tanya apa Nak? " kata Ibu menyetujui
" Begini Bu, Resha mau tanya saat sebelum Kak Rafi pergi Ibu dan Ayah ada disana kan? " aku berusaha sedikit memberanikan diri bertanya pada Ibu
Untuk sesaat Ibu menghentikan kegiatannya setelah mendengar pertanyaanku kali ini, sepertinya Ibu sedikit terkejut dan tidak menyangka aku akan bertanya tentang hal itu secepat ini. Dan Ibu hanya menganggukan kepala tanda setuju bahwa mereka memang ada disana saat itu.
" Lalu apa yang Kak Rafi katakan Bu? " lanjutku to the point
Ibu diam sejenak seperti tengah berfikir sebelum akhirnya menjawab pertanyaanku.
" Saat itu Nak Rafi hanya mengatakan dan meminta satu hal kepada kami semua, yaitu menikahkanmu dengan Rafa " jawaban Ibu membuatku tersadar bahwa yang dikatakan Rafa ternyata benar, karena Ibu tidak pernah berbohong kepadaku
" Lalu apa lagi yang Kak Rafi katakan Bu? " tanyaku mulai menggali-gali
" Nak Rafi tidak mengatakan apa-apa, hanya meminta kami semua agar hidup bahagia dan sehat selalu " jawaban Ibu membuatku sedikit kecewa
" Benar Bu? Hanya itu yang Kak Rafi katakan? " desakku
" Iya Resha, hanya itu " jawaban Ibu kembali membuatku kecewa
" Tapi tunggu sebentar, sepertinya saat itu Nak Rafi memberikan sebuah surat pada Nak Rafa tapi Ibu tidak mengetahui apa isinya karena Nak Rafa segera menyimpannya " kali ini perkataan Ibu membuatku bersemangat
Sepertinya ada harapan atas pertanyaanku dibalik surat itu, aku harus segera mencarinya.
" Resha, tunggu dulu Nak. Kamu mau kemana? " tanya Ibu yang terkejut melihatku pergi dengan tiba-tiba
Aku menghentikan langkah dan berbalik menghadap Ibu.
" Resha ada urusan sebentar Bu, Resha pergi dulu ya " pamitku
" Tunggu dulu Nak, Resha duduk dulu disini " cegah Ibu
" Kenapa Bu? Resha kan bilang ada urusan sebentar " rintihku
" Iya Ibu tau tapi kamu duduk dulu sebentar, tunggu Ibu menyiapkan ini Nak. Tadi Ibu kan sudah bilang kamu harus membawa ini untuk keluarga Nak Rafa disana " lanjut Ibu sambil memasukkan kue kedalam kotak
" Iya iya, Resha tunggu " kataku kembali memakan kue
" Ini dia kuenya, tolong berikan kepada Ibu mertuamu ya dan Ibu titip salam buat keluarga disana " kata Ibu
" Iya Ibu, kalau begitu Resha pamit ya Bu Assalamu'alaikum " kataku mencium punggung tangan Ibu dan mengucap salam
" Iya Resha, hati-hati di jalan ya Nak, Wa'alaikum salam " jawab Ibu membalas salamku
Dalam perjalanan pulang ke rumah Mami aku terus berfikir, dimana aku harus mencari surat yang diberikan Kak Rafi kepada Rafa. Pasti ada didalam kamar Rafa, tapi bagaimana caraku untuk bisa masuk kesana?
****
*****
****
~ RAFA POV ~
" Bagaimana Sya keadaan Perusahaan beberapa hari ini? " tanyaku pada Rasya setelah beberapa hari aku cuti
" Aman Fa, sudah aku urus semuanya. Bagaimana keadaan keluargamu sekarang Fa? " tanya Rasya penasaran setelah bertemu mereka terakhir kali di pemakaman Kak Rafi
" Sudah lebih baik, mereka sudah mengikhlaskan kepergian Kak Rafi dan mulai menata hidup mereka kembali " jelasku
" Syukurlah kalau begitu, aku khawatir sekali saat melihat keadaan Ibumu saat itu. Lalu bagaimana dengan Resha, bukankah kamu bilang bahwa kamu sudah menikahinya? Apa itu benar Fa? " tanya Rasya yang selalu penasaran dengan kisahku dan Resha
Aku mulai menceritakan dan menjelaskan semuanya kepada Rasya, termasuk mengenai surat dan video itu. Hanya dengan menceritakannya kepada seseorang yang kupercaya membuatku sedikit lebih tenang dan nyaman. Aku meminta sedikit solusinya, apa yang harus aku lakukan saat ini untuk menghadapi Resha.
****
****
Tidak terasa waktu pun berlalu dengan cepat dan berganti malam, aku tidak menyangka pekerjaanku akan sebanyak ini akibat cuti kemarin. Kulihat jam dinding di ruanganku sudah menunjukkan pukul 7.30 malam dan kuputuskan untuk segera pulang. Pulang? aku harus pulang kemana malam ini? ke Apartment atau ke rumah Papi Mami?
Kurasakan sesuatu bergetar dalam saku celanaku, dan kulihat nama Mami tertera didalamnya.
" Halo Mi " kataku setelah mengangkat telfon dari Mami
" Rafa, kamu pulang ke rumah Mami kan sayang? Mami sudah meminta bi Yem memasakkan makanan kesukaan kamu, kamu pulang kesini ya Fa " pertanyaan Mami yang menurutku sudah dipaksakan jawabannya sama Mami dan mau tidak mau aku harus menurutinya
" Iya Mi, Rafa pulang ke rumah Mami sekarang " kataku mengiyakan permintaan Mami
" Baiklah, Mami tunggu di rumah ya sayang. Hati-hati bawa mobilnya " lanjut Mami
" Iya Mi " kataku sebelum menutup telfon
****
****
****
****
**Selamat membaca 🙂
Jangan lupa like, rate dan votenya ya
Terima kasih 🙂**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
DeputiG_Rahma
likee
2020-12-12
1
Imelda Nurrahmah
jujur ya aja babang Rafa. supaya hidup damai
2020-11-29
5