Aku berakhir didalam kamar Rafa, hanya berdua dengannya dan harus tidur dalam satu ranjang. Bagaimana ini? mengapa aku merasa sangat canggung. Memang ini bukan kali pertama aku berada didalam kamar Rafa, akan tetapi waktu itu aku masuk ke kamarnya untuk bertanya suatu hal kepadanya, lalu sekarang? Mulai hari ini, detik ini aku harus mulai terbiasa tidur dalam satu ruangan dengan Rafa. Memang benar ini menjadi kesempatan bagus agar aku bisa leluasa mencari keberadaan surat itu, tapi??
" Apa yang kamu pikirkan Resha? " pertanyaan Rafa membuatku sedikit tersentak
" Tidak ada, Resha tidak memikirkan apa-apa " jawabku spontan
" Kamu tidak perlu khawatir, kita tidak akan tidur bersama. Aku akan tidur di sofa dan kamu boleh tidur di ranjang " perkataan Rafa membuatku sedikit lega
Kulihat Rafa tengah sibuk mencari selimut cadangan didalam lemari, tanpa ada percakapan lagi Rafa meninggalkanku tidur lebih awal lagipula aku memang tidak ada bahan pembicaraan karena situasi canggung yang tiba-tiba ini.
Beberapa menit kemudian kudengar Rafa sedikit mendengkur, sepertinya dia sangat lelah hingga langsung tertidur dalam hitungan menit. Apa kucari sekarang saja surat itu, ini kesempatan emas mumpung Rafa sedang tertidur pulas.
Aku bingung memutuskan antara mencari surat itu atau tidak, aku terus berpindah posisi tidur tapi aku tidak mau kalau harus tertangkap basah oleh Rafa untuk yang kedua kalinya.
****
" Mami, Resha " panggilan Rafa membuatku tersentak
" Baguslah kalau kamu belum tidur Rafa " jawaban Mami membuat Rafa bingung
" Memangnya ada apa Mi? Tadi Rafa baru selesai mandi dan mendengar seperti ada orang yang berbicara didepan kamar Rafa, makanya Rafa keluar " jawaban Rafa membuatku terpaku
" Begini Rafa, Mami mau memberikan ini sama kamu terus Mami lihat Resha seperti sedang kebingungan didepan kamar kamu " jawaban Mami benar-benar membuatku sangat malu
Resha mohon Mi jangan diteruskan, mau taro dimana muka Resha nanti?
" Apa ini Mi? " Rafa bingung Mami memberikan sebuah amplop kepadanya
" Itu buku tabungan Rafa, lengkap dengan kartu atm dan pinnya " jelas Mami
" Tapi ini punya siapa Mi? dan untuk apa? kenapa Mami memberikannya sama Rafa? " Rafa melayangkan bertubi-tubi pertanyaan
" Itu punya Mami, Rafa "
" Punya Mami? tapi kenapa di kasih ke Rafa Mi? " Rafa semakin bingung
" Buku tabungan itu Mami berikan sama kamu dan Resha, itu sekedar untuk jaga-jaga Rafa. Memang isinya tidak seberapa tapi tolong kamu simpan ya " lanjut Mami
" Tapi Mi, inikan punya.... " cegah Rafa
" Sudah, Mami minta kamu simpan itu baik-baik, anggap saja itu hadiah pernikahan kamu dan Resha dari Mami dan sebagai permintaan maaf Mami karena tidak memberikan resepsi pernikahan yang layak untuk kalian berdua " jelas Mami panjang lebar
Pernikahanku dan Rafa memang jauh dari acara pernikahan yang biasanya, karena kami melakukannya di Rumah Sakit didepan Alm. Kak Rafi yang hanya dihadiri penghulu dan beberapa orang saja. Aku sendiri juga tidak merasakan pernikahannya secara langsung, karena kondisiku yang tidak sadarkan diri mengingat itu adalah permintaan Kak Rafi untuk yang terakhir kali. Surat pernikahan juga baru diantarkan kemarin dan baru ditanda tangani olehku dan Rafa.
" Tidak Mi, Mami tidak perlu meminta maaf, kami semua tau kondisi saat itu tidak memungkinkan jadi Mami tidak boleh merasa bersalah, Rafa akan terima dan menyimpan buku tabungan ini baik-baik. Terima kasih atas semuanya ya Mi " kata Rafa lalu memeluk Ibunya
" Iya Rafa dan satu hal lagi, kamu tidak boleh mengunci pintu sebelum Resha masuk kamar. Ingat ya, sekarang Resha adalah istrimu " lanjut Mami lagi
" Iya Mamiku sayang, Rafa pasti akan selalu ingat itu. Sekarang lebih baik Mami kembali ke kamar dan istirahat ya " bujuk Rafa lalu mengantarkan Ibunya kedepan tangga
" Baiklah kamu juga istirahat ya, ajak Resha masuk Rafa " pinta Mami
" Resha, selamat malam ya sayang dan selamat istirahat " Mami balik menaiki tangga dan menghampiriku yang masih berdiam diri disana lalu memeluk dan mencium pipiku
Aku tersentak dengan pelukan Mami, sekarang apa yang harus aku lakukan? Mami sudah mengatakan semuanya dan membuatku tak berkutik
" Resha, apa yang kamu lakukan? kenapa diam saja, ayo cepat masuk " setelah berbicara Rafa segera masuk dan meninggalkanku yang masih berdiri mematung
****
****
Aku terbangun mendengar suara adzan subuh, kuambil jam kecil di meja sebelah tempat aku tidur dan menunjukkan pukul 04.30 pagi.
Ku rapikan tempat tidur lalu pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudlu.
Aku lupa kalau tidak ada mukena di kamar Rafa, maka kuputuskan untuk pergi ke kamarku dan melakukan shalat subuh disana.
*****
~ RAFA POV ~
Aku terbangun merasakan sakit di sekujur badan karena tidur di sofa kecil semalaman, kulihat jam di layar ponsel baru menunjukkan pukul 6 pagi. Aku tidak melihat Resha di kamarku, mungkin dia sudah kembali ke kamarnya jadi kuputuskan berpindah tempat ke ranjang dan melanjutkan tidurku karena sekarang hari minggu, aku ingin sedikit merelakskan diriku setelah hari-hari yang panjang kemarin.
*****
tok tok tok
" Den Rafa, den " panggil bi Yem
Aku terbangun mendengar suara ketukan dan seseorang memanggil namaku.
" Ya, siapa? " tanyaku
" Ini bibi den, den Rafa di panggil sama Ibu suruh turun " jawab bi Yem
" Ya bi, sebentar lagi Rafa turun " kataku bergegas bangkit dari tempat tidur dan mencuci muka
Lima menit kemudian aku turun, masih dengan pakaian yang ku kenakan tadi malam karena memang belum mandi. Ini minggu pertama aku kembali ke rumah Mami setelah dua bulan lebih hidup mandiri, aku ingin menghabiskan akhir pekanku dengan bersantai seperti dulu sebelum kembali ke rutinitas dengan tumpukan kertas putih.
" Astaga Rafa, kenapa kamu masih memakai baju itu? Kamu belum mandi Fa? " tanya Mami yang sedikit terkejut melihatku masih memakai pakaian tadi malam
" Iya, memangnya kenapa Mi? Sekarang kan hari minggu, Rafa ingin bersantai sejenak Mi " kataku dengan polosnya
" Tapi sekarang kamu sudah menikah Rafa, kamu harus mengubah kebiasaanmu itu. Lihat Resha, dia sudah berdandan rapi. Nanti kamu ajak dia jalan-jalan sebentar ya, kasihan dia " bujuk Mami
" Tapi Mi... "
" Tidak ada tapi, sekarang kamu sarapan dulu terus mandi dan siap-siap " titah Mami
" Ya baiklah " aku hanya bisa menuruti perkataan Mami
Kami berempat bersama-sama sarapan nasi goreng buatan bi Yem, sudah cukup lama aku tidak memakan nasi goreng buatannya. Sejak kecil, bi Yem lah yang memastikan makanan yang ku makan setiap hari selalu bervariasi, bergizi dan kaya akan nutrisi.
" Rafa, kapan kamu kembali ke Apartment? " pertanyaan Papi seakan-akan menyuruhku untuk segera pergi
" Nanti sore mungkin Pi " ku jawab dengan menyudahi acara makan
" Kenapa kamu tidak bilang sama Mami Rafa? " tanya Mami terdengar agak marah
" Rafa baru mau bilang, tapi Mami menyuruh Rafa untuk pergi mengajak Resha jalan-jalan " belaku
" Tidak apa-apa, kamu pergi saja dengan Resha nanti biar Mami yang mengemas barang-barang kamu dan Resha " kata Mami menawarkan diri
" Rafa tidak membawa barang banyak ko Mi, mungkin Mami harus meminta bi Yem untuk mengemas barang-barangnya Resha, biasanya kan wanita yang paling banyak bawaannya " lanjutku
" Tidak perlu Mi, nanti biar Resha mengemas sendiri. Lagipula kan Resha yang paling tau barang apa saja yang mau di bawa dan yang tidak, waktu ke Korea kemarin kan yang mengemas barang-barang Resha dan Kak Rafi Resha sendiri, jadi Mami tidak perlu khawatir Mi " tolak Resha
" Tuh kan Mami denger sendiri, sudah ya Mi Pi Rafa mandi dulu " pamitku dan pergi menaiki tangga
****
*****
****
**Selamat membaca 🙂
Jangan lupakan like, vote dan rate-nya ya 🙂
Kritik dan sarannya juga boleh
Terima kasih 🙂**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments