Mobil yang Papi kendarai melaju dengan kencangnya, membawa kami menuju ke Rumah Sakit terdekat.
" Bertahanlah Kak, sebentar lagi kita sampai " pintaku pada Kak Rafi yang tengah kesakitan
" Ayo Pi cepetan, kasihan Rafi " bujuk Mami yang tak sabar
" Sabar dong Mi, Papi juga berusaha agar cepat sampai, tapi kita harus berkendara dengan tidak melebihi batas maksimal Mi " jawab Papi
*****
Setelah 15 menit berpacu dengan kecepatan, akhirnya sampai juga di depan Rumah Sakit. Papi langsung bergegas turun dan membawa Kak Rafi untuk masuk kedalam.
" Dokter, Suster, tolong anak saya Dok " teriak Mami diiringi isak tangis
Dokter yang malam itu tengah berjaga menghampiri kami bersama para Suster dan langsung membawa Kak Rafi masuk kesebuah ruangan.
*****
Sudah hampir satu jam Kak Rafi didalam sana, tapi belum ada satu orang pun yang keluar untuk memberi tahu kami bagaimana kabar Kak Rafi.
" Ya Allah, sembuhkanlah Kak Rafi, berikanlah ia kekuatan " pintaku dalam doa kepada Yang Maha Kuasa
Bayang-bayang kenangan kami bersama terus melintas dalam fikiranku, aku sama sekali tidak menyangka Kak Rafi yang selama ini kukenal ceria, penuh semangat, sekarang terbaring lemah karena sebuah penyakit yang kami sekeluarga tidak ada yang tau.
" Kak Rafi berjuanglah, Kakak pasti bisa " pintaku dalam hati
" Resha, bagaimana keadaan Nak Rafi? " tanya Ayahku yang baru saja sampai bersama dengan Ibu
" Ibu, Kak Rafi bu " aku langsung memeluk Ibu
" Sabar ya sayang, kamu harus kuat " kata Ibu yang tengah memelukku sambil mengusap-usap belakang kepala dan punggungku
" Rafi masih didalam, kami juga belum tau bagaimana keadaannya " jawab Papi dengan lemah
Setelah memelukku Ibu menghampiri Mami yang tengah duduk termenung penuh lesu.
" Yang sabar ya Bu, semoga Nak Rafi baik-baik saja " kata Ibu pada Mami yang juga mengusap-usap pundak dan bahu Mami
" Iya, terima kasih ya Bu " jawab Mami
Tidak lama kemudian pintu ruangan terbuka dan keluarlah Dokter yang bertugas tadi.
" Bagaimana keadaan anak saya Dok? " tanya semua orang yang langsung menghampiri Dokter saat itu juga
" Kondisi pasien saat ini masih kritis, kami harus melakukan banyak pemeriksaan lagi kepada pasien. Bapak dan Ibu berdoa saja semoga anak Bapak dan Ibu bisa melewati masa kritisnya " jelas Dokter
" Rafiiiiii " teriak Mami terisak-isak
" Kak Rafi " batinku tak percaya dengan apa yang kudengar barusan
***
****
*****
~ RAFA POV ~
" Fa, tolong kamu periksa semua dokumen ini. Aku merasa sepertinya ada yang janggal didalamnya " pinta Rasya di ruanganku
Sudah hampir dua bulan aku bekerja bersama Rasya mengelola Perusahaan yang ia rintis. Sesuai janjinya, Rasya membantuku bekerja di Perusahaan dan memegang setengah saham dari Perusahaan tersebut.
Setelah Resha dan Kak Rafi pulang dari Korea, aku memutuskan untuk tinggal sendiri dengan menyewa sebuah Apartement. Rasya selalu menawarkan agar aku membeli Apartement dengan uang yang ia pinjamkan, tapi aku ingin membelinya dengan uang hasil kerja kerasku sendiri.
Setelah memutuskan pergi meninggalkan rumah, aku sama sekali belum mengunjungi rumah orang tuaku karena aku tidak mau melihat kemesraan Resha dan Kakakku. Sesekali setelah pulang kerja aku mampir sebentar untuk melihat keadaan Mami, dan sesuai dugaanku tidak ada orang lain selain Mami di rumah pada jam-jam itu.
Ingin sekali rasanya aku melihat bagaimana kehidupan Resha setelah aku pergi, apakah ia bahagia atau tidak? " Tentu saja ia bahagia, bagaimana mungkin ia tidak bahagia hidup bersama orang yang ia cintai " pikirku menjelaskan tiap pertanyaan yang muncul dalam hatiku
Setiap aku memikirkan Resha, kenangan kebersamaan kami sewaktu kuliah dulu selalu bermunculan. Tawa Resha, jahilnya ia, bagaimana wajah fokusnya saat mencoba memecahkan sebuah pertanyaan yang menurutnya cukup rumit, dan senyum manis yang membuatku jatuh hati kepadanya. Memikirkannya saja sudah membuatku senang.
" Fa Rafa, hei Rafa " panggilan Resya yang setengah teriak membuyarkan lamunanku
" Hei Sya, ada apa? " tanyaku yang setengah terkejut
" Kamu lagi mikirin apa Fa sampai senyum-senyum sendiri? " tanya Rasya
" Tidak, aku tidak memikirkan apa-apa " bantahku
" Jangan bohong deh Fa, kalau tidak sedang memikirkan sesuatu tidak mungkin kan aku masuk dan panggil beberapa kali kamu tidak dengar. Apa Fa? Apa yang kamu pikirkan? " tanya Rasya terus menginterogasi
" Iya oke oke, aku jawab. Aku penasaran bagaimana kehidupan Resha setelah aku keluar dari rumah Orang tuaku " kataku menjawab sedikit pertanyaan Rasya
" Astaga Fa, ngomong-ngomong soal Resha aku baru ingat. Tadi dia telfon nanyain kenapa nomor kamu tidak bisa dihubungi " kata Rasya
" Kenapa kamu baru bilang sekarang? Terus kamu jawab apa? " tanyaku balik menginterogasi Rasya
" Aku jawab kamu sudah ganti nomor " lanjut Rasya
" Terus dia nanya apa lagi? " tanyaku lagi
" Kenapa kamu ganti nomor kalau penasaran? " Rasya malah bertanya balik
" Rasya jawab saja pertanyaanku, Resha nanya apa lagi sama kamu? " tanyaku tak menggubris pertanyaan Rasya
" Dia hanya minta tolong untuk menyampaikan pesan kalau Kak Rafi katanya masuk Rumah Sakit dan kondisinya kritis " jelas Rasya
" Apa? Kak Rafi kritis? Kenapa dengan Kakakku Sya? " tanyaku tak percaya
" Aku juga tidak tau Fa, lebih baik kamu lihat sendiri keadaan Kakak kamu seperti apa " saran Rasya
Aku langsung bergegas meninggalkan ruanganku setelah mendengar perkataan Rasya tadi. Berbagai pertanyaan muncul dalam pikiranku, " Kenapa Kak Rafi bisa kritis? Ada apa sebenarnya? " Selama aku kecil sampai sekarang, aku bahkan tidak pernah mendengar Kak Rafi sakit sedikitpun. Ia selalu sehat tapi kenapa Kak Rafi tiba-tiba dibawa ke Rumah Sakit bahkan kondisinya kritis. Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi selama dua bulan aku meninggalkan rumah?
****
*****
Setelah beberapa menit akhirnya aku sampai ditempat Kak Rafi berada, kutanyakan pada Resepsionis dimana ruangan Kak Rafi tepatnya. Setelah mencari, terlihatlah sosok yang sangat kukenal, sosok yang baru saja menghadiri pikiranku. Ya, dia adalah Resha, kulihat ia tengah duduk melamun memeluk sang Ibu yang juga tengah duduk disampingnya sembari mengusap-usap rambut Resha.
Pandanganku berkeliling melihat siapa saja yang tengah berada disana, semua sudah hadir kecuali aku. Wajah Mami yang tengah sembab, kebingungan Papi yang sedari tadi kulihat ia terus saja mondar-mandir, wajah Ayah dan Ibu Resha yang juga nampak bingung harus berbuat apa, serta wajah kesedihan Resha yang selama ini belum pernah kulihatnya.
Aku mencoba menghampiri mereka, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Kak Rafi?
" Mi, Pi " panggilku
Seketika mereka semua langsung beralih pandangan kearahku.
" Rafa " panggil Mami dan berjalan menghampiriku
Lalu kusambut Mami dengan pelukan, pelukan yang mungkin sedikit meredakan kesedihan Mami karena putranya yang lain juga berada disisinya.
Ingin rasanya aku bertanya namun kuurungkan melihat keadaan yang tidak memungkinkan ini, lebih baik kutanyakan langsung pada Dokter nanti.
*****
*****
*****
Halo Kakak2 semua 🙂 selamat membaca dan Terima kasih sudah membaca karyaku 🙂
Jangan lupakan like, vote dan rate-nya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments