Arin dan Brian terus menikmati malam berdua sembari bersenda gurau. Banyak hal yang mereka bicarakan, terkadang Arin tergelak mendengar cerita Brian, terkadang wajahnya berubah serius.
Setelah selesai makan, mereka menyusuri jalan sambil bergandengan, seperti sepasang remaja yang baru jatuh cinta. Kendaraan umum berlalu lalang. Suara pedagang ramai menjajakan dagangannya. Walaupun kota ini sekarang sudah semakin padat, namun ciri khasnya tidak pernah hilang. Angkutan tradisionalnya masih terjaga hingga sekarang.
" Duduk situ yuk!!" Ajak Arin sambil menarik tangan Brian ke sebuah bangku taman yang baru ditinggalkan oleh sekelompok remaja. Brian mengikuti langkah Arin.
" Ahhhhh!!" Akhirnya dapat tempat duduk juga.
" Capek ya?" Kata Brian.
" Dikiiit!!" Sambil mempraktekkan dengan menempelkan jari kelingking ke ibu jarinya.
" Hotel kita di ujung sana, dan kita udah jalan di ujung sini lho, lumayan kan?"
" Baru jalan segitu masak udah capek? Sini kakinya diselonjorin!" Sambil menggeser tubuhnya, memberi ruang kosong agar kaki Arin bisa dinaikkan. Arinpun menurut.
" Aku pijitin ya?" Sambil memulai memijit kaki Arin. Arin tersenyum, sembari memperhatikan Brian yang sedang asyik memijitnya.
" Yuda bahkan tidak pernah melakukan ini padaku. Jangankan di tempat umum seperti ini. Di rumah yang hanya kita berdua yang tau saja, dia tidak mau, apalagi di tempat yang banyak dilihat orang seperti ini." Arin berkata dalam hati.
" Hei kok melamun, enak ya pijitanku?" Arin terkejut dari lamunannya.
" 10 menit 100 ribu ya?" Lanjut Brian.
" Hahaha mahal amat?"
" Jelas dong, ongkos kesininya aja mahal!!"
" Hahaha dasar!!"
" Yank!"
" Iya?"
" Nggak malu mijitin aku kayak gini?"
" Kenapa malu?"
" Nggak takut dibilangin bucin?"
" Apa? micin?"
" Ihhhh kok micin sihhh!!! bucin sayang!!!" Sambil mencubit perut Brian.
" Hahaha iya iya becanda!!"
" Yang tau bucin atau nggaknya kan kita sendiri yank. Bucin itu kalau hanya salah satu saja dari kita yang terus berupaya mempertahankan hubungan. Bucin itu kalau hanya salah satu saja yang terus mengalah. Itu baru bucin."
" Tapi kamu kan cowok?"
" Lalu kenapa kalau cowok?"
" Ya pasti orang-orang menebak kita ini pasangan suami istri, dan mereka pikir dengan begini kamu dikira isti dong."
" Hahaha yang tau isti apa nggak kan kita sendiri juga yank. Buat apa malu dengan omongan orang untuk menunjukkan perhatian ke pasangan? Kebahagiaan kita kan cuma kita yang menciptakan. Mencintai itu adalah saling memberi dan saling menerima. Kita nggak bisa melarang orang berbicara mengenai kita. Yang penting, sebagai pasangan, kita harus saling menghargai satu sama lain, mengetahui hak dan kewajiban, juga menjaga nama baik pasangan dimanapun kita berada, itu udah cukup."
" Ya Allah, seandainya Yuda itu kamu, mungkin hidupku terasa sempurna. Pemikiranmu tentang arti mencintai pasangan sangat sederhana namun penuh makna." Bathin Arin.
" Kalau aku sih yank, melihat ada pemandangan seperti ini di depan umum, aku nggak akan berpikiran senegatif itu. Justru aku akan iri, karena belum tentu setiap pasangan bisa menunjukkan rasa cintanya itu secara-terang-terangan. Jika itu terjadi, berarti kamu harus pertahankan dia, karena dia sudah mengalahkan ego sendiri dengan tanpa malu mengakui mencintai kamu."
" Dengan kata lain......?????" Jawab Arin dengan lirik penuh arti.
" Berarti jangan sampai kita berpisah yank." Sambil tersenyum manissss sekali.
" Hahaha...kamu tuh selalu bisa bikin aku ketawa yank." Jawab Arin.
" Udah ah!!" Sambil menurunkan kakinya.
" Udah nggak capek lagi??"
" Lumayan, udah hilang capeknya. Makasih ya sayang!!!" Sambil mencium tangan Brian.
" Nah itu maksud kalimatku tadi." Jawab Brian.
" Apa???"
" Ucapan terimakasih saja itu sudah menunjukkan bahwa kamu itu menghargai apa yang aku lakukan."
" Ya iyalah, masak aku harus diem aja."
" Emang kamu sering ngelakuin hal itu sama istrimu ya?"
" Udah dehhh...jangan bahas pasangan, tar bete lagi!!"
" Hihihi...nggak pengen tau sih, cuma kalau inget jengkel sendiri."
" Makanya nggak usah nanya-nanya biar nggak jengkel. Aku aja nggak pengen tau yang kamu lakuin sama suamimu, karena aku nggak mau sakit hati yank."
" Hemmm....yank?"
" Iya?"
" Sejauh apa kamu mencintaiku?"
" Kalau dibilang sejauh apa aku nggak tau yank. Tapi seandainya hari ini aku nggak beristri, mungkin aku akan langsung melamarmu, dan memintamu jadi istriku."
" Kalau seandainya hari ini aku minta kamu bercerai dengan istrimu dan segera menikahiku?"
" Aku nggak mungkin ngelakuin itu, karena aku juga nggak akan mungkin memintamu cerai dari suamimu. Aku nggak mau, aku ataupun kamu jadi penyebab utama keretakan rumah tangga kita. Andainyapun kita berjodoh seperti yang sering kita omongin, aku ingin semua berjalan dengan baik-baik, tanpa ada yang tersakiti, dan tanpa mengorbankan siapapun demi untuk kita bisa bersatu. Karena kita nggak tau yank, seandainya kita menikah nanti, rumah tangga kita nanti sebahagia yang kita bayangkan atau tidak, dan jika semua diawali dengan keburukan, aku nggak mau itu nanti bisa jadi boomerang rumah tangga kita dan saling menyalahkan satu sama lain."
" Tapi jangan berfikir buruk ya, aku nggak mau bercerai dari istriku, bukan berarti aku nggak mencintai kamu."
" Iya yank, aku tau. Aku dan kamu itu sama, di posisi yang sama, mengalami situasi yang sama, jadi aku bisa paham semua itu."
" Aku sampai nggak tau lagi gimana caranya bisa buktikan rasa cinta aku ke kamu, seandainya nggak ada status yang menghalangi buat kita berdua bersatu, mung....."
" Sssttt...udah ah...katanya jangan bahas hal itu lagi. Eh yank, beli wedang ronde itu yok!" Arin mengalihkan pembicaraan.
" Emang kamu suka?"
" Ihhh ya suka dong!!"
" Ya udah tunggu sini, biar aku pesenin ya!"
" Oke!!"
Brian lalu berjalan ke arah seorang penjual wedang ronde.
" Lengkap yank??" Tanya Brian sedikit berteriak, setelah agak jauh berjalan karena dia lupa menanyakan tadi pada Arin.
" Iya lengkap!!!"
Brian lalu membalikkan badannya, dan berjalan kembali. Tak lama diapun sudah kembali sembari membawa dua mangkuk wedang ronde.
" Makasih!!" Ucap Arin sambil menerima wedang ronde dari Brian.
" Hemmmm...enak banget yank. Di tempatku nggak ada minuman kayak gini, makanya setiap kemari, aku puas-puasin yank."
" Kan bikin sendiri bisa yank?"
" Iya bisa, cuma kan pasti nggak seasyik ini, apalagi sembari menikmati suasana di malam hari kayak gini."
" Iya bener. Memang nikmat makanan itu bukan hanya berasal dari lidah kita saja, tapi hati juga ikut merasakan. Walaupun makanan yang kita makan itu sekelas menu sultan, tapi kalau hati kita sedang tidak mood, pasti jadi hambar rasanya."
" Yuppp...anda cerdasss!!" Sambil mengacungkan kedua ibu jarinya di hadapan Brian.
Brian melirik arloji di tangannya, " Udah malem yank, ke hotel yuk?" Sembari mengulurkan tangannya pada Arin, Arin menerima uluran tangan Brian, lalu mereka berjalan bersama kembali ke hotel.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Almira
cinta yang tidak mengandalkan nafsu ya mereka,bisa tahan godaan padahal kesempatannya banyak..
2022-04-01
0