Arin segera mengambil sebuah headset di dalam laci mejanya. Dia sengaja mensilent hpnya agar tidak terdengar nada dering jika seseorang menelfonnya.
" Assalamualaikum." Arin menyapa Brian di seberang sana. Dilihatnya wajah pria itu begitu lelah, dan matanya sayu.
" Wa alaikum salam." Jawab Brian.
" Sayang...kamu capek ya?" Tanya Arin, saat melihat wajah kekasihnya di layar handphone.
" Iya sayang...Tadi seharian aku harus membantu pegawaiku menyelesaikan pesanan." Sambil mengucek-ucek matanya.
" Kenapa nggak tidur sih?"
" Ya kan aku udah janji mau tefon kamu."
" Ya Allah...kan kamu bisa wa aku kalau kamu capek, aku pasti ngerti kok."
" Nggak yank, tadi siang aku udah bikin kamu nunggu, sekarang aku nggak mau bikin kamu nunggu lagi."
" Kenapa sih laki-laki ini sesayang ini sama aku? walaupun aku nggak ada di dekatnya, tapi aku bisa merasakan begitu besarnya perasaan dia padaku." Kata Arin dalam hati.
Arin menatap wajah kuyu kekasihnya di layar handphone. Dia selalu tidak bisa menahan kesedihannya setiap menelfon laki-laki itu. Rasanya dia sudah tidak mampu menahan kerinduan yang begitu besar untuk bertemu dengannya.
" Yank? kenapa kamu diam? kata-kataku ada yang salah ya? yank maafin aku ya? kamu masih marah gara-gara tadi siang?"
Tiba-tiba Arin menitikkan air mata.
" Brian, kenapa kamu bikin aku semakin sayang sama kamu dengan semua sikap kamu itu sih?" Arin berbicara sendiri dalam hati.
" Sayang? kenapa nangis? yank...yank...pleas maafin aku ya? aku tadi siang benar-benar lupa karena kesibukanku, aku janji nggak akan mengulanginya lagi." Kata Brian sambil mengangkat telapak tangannya.
Arin tersenyum sambil mengusap air matanya.
" Nggak sayang, aku udah maafin kamu kok."
" Terus kenapa kamu nangis?" Nada bicara Brian terdengar khawatir.
" Aku tuh sayang banget sama kamu...aku sedih nggak bisa bareng sama kamu. Kenapa sih kita harus dipertemukan sekarang, dan bukan dulu saat kita sama-sama sendiri?" Tanya Arin lirih.
" Sayang...aku juga sedih, aku juga sayang banget sama kamu. Kita yang ngambil keputusan untuk terus menjalani semua ini, dan resikonya kita tanggung bersama, termasuk merasakan sakit berjauhan kayak gini dan belum tentu bisa bersama."
" Sampai kapan sayang?" Arin seolah protes pada situasi yang sedang dialaminya. Brian hanya diam dan terus memandangi kekasihnya.
" Aku juga nggak tau yank...Maafin aku yang nggak bisa bahagiain kamu. Aku mencintai kamu, dan situasilah yang nggak memungkinkan untuk kita bisa dekat." Jawab Brian pelan.
" Rasanya aku udah nggak kuat jalani ini semua yank. Apalagi kalau sedang mikirin kamu bareng sama istrimu, rasanya sakit banget!"
" Kamu pikir aku nggak cemburu kalau mikirin kamu bareng sama suamimu? Kita sama yank. Kita udah janji untuk terus bareng kan? pleas jangan tinggalin ya? Aku nggak sanggup kalau harus kehilangan kamu. Kamu itu penyemangat aku sayang." Brian begitu takut kekasihnya akan mengambil keputusan sepihak, apalagi kondisi Arin saat ini begitu rapuh.
" Yank aku pengen deket sama kamu, mungkin nggak ya?" Nada bicara Arin terdengar begitu berharap
" Aku nggak tau yank, aku juga bingung dengan situasi ini." Jawab Brian pelan.
Mereka berdua terlanjur bermain-main dengan perasaan, padahal sudah jelas amat tidak mungkin bagi berdua untuk bersatu.
Mungkin ini adalah keputusan terbodoh yang Arin buat selama hidupnya. Menjalani hubungan dengan seseorang yang memiliki resiko besar, namun tidak tau sampai dimana ujungnya. Hanya takdir yang mereka andalkan. Namun takdir gila seperti apa yang Arin dan Brian harapkan untuk bisa bersatu? Apakah mereka berharap suatu hari nanti mereka bisa bersama tanpa menyakiti masing-masing pasangan? namun apa yang ada di pikiran mereka? apakah mereka berharap suatu hari maut menjemput masing-masing pasangan, sehingga kemudian Arin dan Brian bisa bersatu? Bodoh..ya bodoh... Arin menyadari itu hal yang sangat bodoh dan tidak masuk akal.
Arin sendiri tidak mungkin meninggalkan Yuda, begitupun dengan Brian, tidak akan mungkin dia meninggalkan istri dan kedua anaknya demi Arin. Tapi cinta mereka membuat mereka bertahan di situasi yang amat sulit itu.
Arin segera menghapus air matanya, rasanya tidak tega jika menumpahkan segala kesedihan hatinya di depan laki-laki yang amat dicintainya itu, toh Brianpun merasakan hal sama seperti yang Arin rasakan.
" Yank...."
" Iya." Brian mulai melihat kesedihan di wajah Arin sedikit hilang.
" Kapan ya kita bisa ketemu?"
" Harusnya aku yang tanya begitu sayang, kapan kamu ada waktu bisa ketemu sama aku?"
" Iya kamu mah enak, cowok mau pergi kemana aja sendirian bebas, istrimu nggak akan curiga. Kalau aku? mana mungkin suamiku mengijinkan aku pergi sendirian, yang ada dia bakalan pasang kamera tersembunyi di badanku." Gerutu Arin sambil cemberut, dan Brian begitu gemas jika sudah melihat wanita pujaannya itu mulai bersungut-sungut.
" Sayaaaanggg...kamu lucu deh kalau kayak gitu." Kata Brian sambil tersenyum.
" Iiihhh..apanya sih yang lucu?"
" Muka kamu? muka kamu tuh kalau lagi cemberut itu bikin gemes tau?"
" Hiiihhh kebiasaan deh!!"
" Hahaha...iya iya...maaf. Sayang aku tuh takut kalau kita bertemu, terus aku ataupun kamu nggak bisa pisah, pasti sedih banget kan?"
" Iya sih sayang. Tapi apa iya kita mau kayak gini terus, sama sekali belum pernah melihat secara nyata satu sama lain?"
" Ya udah gini aja, kita mau ketemuan dimana? aku nurut, kamu yang nentuin waktu sama tempatnya. Gimana?"
" Hehhhh...mimpi kali yank." Gumam Arin.
" Mimpi gimana sayang? kan aku nurut, kamu yang nentuin semuanya."
" Perginya sih gampang, terus ijinnya itu gimana? apa alasanku sama suamiku?"
" Lah..kamu nanya aku? terus aku nanya siapa?" Dengan wajah yang dibuat sepolos mungkin.
" Tanya aja sama pak lurah." Jawab Arin.
" Hahaha...kamu tuh bisa aja."
" Heran ya yank?"
" Kenapa?" sambil terus memandangi wajah tampan Brian
" Kita kan belum pernah ketemu, kenapa bisa secocok dan senyaman ini ya saat aku ngobrol sama kamu?"
" Iya ya...kok bisa gitu ya?" Kening Arin sedikit berkerut.
" Nah aku nanya kamu kok kamu ganti nanya ke aku?"
" Ya udah tanya aja ke pak lurah, siapa tau punya jawabannya."
" Yeeee...bales nih?" sambil tertawa ngakak. Dan Arinpun ikutan tertawa.
" Apa mungkin kita ini jodoh yang tertukar ya yank?"
" Tertukar sama siapa?"
" Ya sama manusia, masa kambing?" Brian lagi-lagi membuat Arin tertawa lebar. Rasanya tidak ada hal yang tidak menyenangkan saat bersama Brian, sejenak dia bisa melupakan kepenatan yang dia alami saat bersama Yuda.
Arin melirik jam dinding di kamarnya, tepat pukul 02.00.
" Yank tidur yuk, udah malem nih." Ajak Arin.
" Udah ngantuk ya? emang kangennya udah ilang?"
" Yeee...kalau mau diturutin bisa sampai pagi kita ngobrol, cuma kan harus inget waktu. Kamu besok harus kerja, ntar ngantuk lho. Kalau aku kan pengangguran."
" Eh iya. Makasih ya selalu ngingetin aku."
" Iya sayang." Jawab Arin singkat.
" Ya udah tidur yuk."
" Iya...beneran ya? jangan mainan hp lagi."
" Iya sayangku yang cantik, janji deh langsung tidur."
" Ya udah assalamualaikum sayang."
" Ehhh nanti dulu...buru-buru amat."
" Lha emang mau ngobrol lagi? kan udah malem?"
" Nggak sayang, aku cuma mau bilang, pleas jangan tinggalin aku ya, aku butuh kamu, aku sayang banget sama kamu." Wajah Brian berubah serius, Arin melihat kesungguhan perasaan pria itu dari sorot matanya.
" Ya sayang, aku nggak akan ninggalin kamu." Jawab Arin.
" Janji?"
" Janji sayang. Hingga takdir nanti yang menjawabnya, seperti janji kita dulu."
" Iya sayang, makasih ya? I love you."
" I love you too. Ya udah ya aku tutup?"
" Iya sayang. Assalamualaikum."
" Waalaikum salam." Arin memandangi wajah kekasihnya. Rasanya tidak ingin menutup telfon itu, namun Arin harus melakukannya, karena sebenarnya dia juga khawatir Yuda masuk ke kamar dan mengetahui dia sedang menelfon seseorang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
𝕸𝖆𝖘𝖎𝖙𝖆𝖍 𝕬𝖟𝖟𝖆𝖍𝖗𝖆
next... semangat mbak 🥰🥰🥰
2021-10-14
1