" Sayang...! Sayang..! Bangun yuk! Udah subuh!" Arin menggoyang-goyangkan tubuh Brian. Yang dibangunkan hanya bergerak sedikit, namun kemudian tertidur lagi.
" Sayaaaaang...!! Ayo bangun..!! sholat subuh dulu..!!" Panggil Arin lagi.
" Hemmmmmm....!!" Namun tiba-tiba Brian memeluk tubuh Arin.
" Ehhhh apaan sih? lepasin dong!!" Arin sedikit terkejut.
" Nggak!! Aku nggak mau lepasin!! Aku nggak mau pisah sama kamu!!"
" Ehhhh menggigau ya?"
" Enggak, aku nggak menggigau!!"
" Itu matanya masih merem."
" Nih udah kebuka." sambil mengintip dari sebelah matanya
" Ihhhh...lepasin dong!!"
" Yank?"
" Di sini aja ya, nggak usah pulang?"
" Ihhh...nih orang menggigau beneran deh!"
" Enak ya seandainya kita nikah beneran."
" Enak gimana?"
" Ya kayak gini, bangun tidur pelukan, mau tidur pelukan, mau berangkat kerja pelukan, mau ngapain-ngapain pelukan."
" Hahaha...lebai..!!"
" Kok lebai sih?"
" Kayak nggak pernah berumah tangga aja."
" Lah emang lebainya dimana?"
" Mungkin kalau pengantin baru iya, masih anget-angetnya, tapi kalau udah nikah bertahun-tahun masak iya masih gitu? palingan juga kamu baru dideketin udah bilang," Sana jauhan, panas nih!"
" Alah mungkin itu kamu?"
" Ya coba pikir, sekarang kamu gitu nggak sama istrimu?" Brian diam, sembari mengingat-ingat, dari awal nikah dengan Mirna, dia belum pernah merasakan berpelukan semesra ini. Tidak juga saat pengantin baru dulu. Malam itu Brian hanya melaksanakan kewajiban seorang suami saja, tidak lebih.
" Ahhh nggak usah bahas pasangan deh, bahas kita aja. Tapi kayaknya kalau aku nikah sama kamu, pasti aturan itu berlaku deh. Pokoknya aku pengen pelukan gini terus."
" Hahaha...nggak jadi ngapa-ngapain dong cuma pelukan terus?"
" Ihhh ya jadi dong, emang mau pelukan berjam-jam?"
" Udah deh...ngayal aja. Lepasin tangan kamu, ayo subuhan dulu." Ajak Arin.
" Sebentar dong!!" Tawar Brian.
" Mau ngapain lagi coba?"
" Aku mau minta maaf yank."
" Maaf buat apa?"
" Maaf untuk semuanya. Untuk hubungan kita yang nggak jelas ini, untuk rasa sakit yang kamu rasain setiap memikirkanku dengan istriku, untuk sebuah perhatian yang nggak pernah bisa aku kasih ke kamu selayaknya seorang kekasih."
" Nggak ada yang perlu dimaafin. Karena kita berdua sama, kamu juga merasakan hal yang sama kayak aku kan?"
" Tapi aku nggak bisa bohong, aku bahagia banget sama kamu."
" Iya...aku juga ngerasain itu semua."
" Nikah yuk!!"
" Kapan nih?"
" Sekarang."
" Ya udah ayo, keburu diambil kucing." Seloroh Arin.
" Hahaha..." Brian tertawa lebar.
" Terus kalau kita nikah, mau dikemanain pasangan kita?" Di sela tawanya.
" Enaknya dikemanain menurutmu?"
" Taruh kulkas aja biar awet."
" Udahhhh ahhhhh....sholat dulu sana, becanda aja!! Mana bau iler lagi!!" Sambil mendorong tubuh Brian.
" Hahaha...siap cintaku!!!" Sambil mencubit pipi Arin. Arin tersenyum, sembari memperhatikan Brian yang sedang menuju toilet.
Arin yang telah sholat duluan, kemudian membenahi tempat tidurnya. Sementara itu Brian terlihat khusuk menunaikan sholat subuh.
" Coba kita udah suami istri ya yank, pasti kita bisa makmuman." Sambil melipat sajadah.
" Nggak cuma sholat aja yank, tapi semuanya bisa kita lakuin bersama-sama."
" Contohnya?"
" Contohnya banyaklah. Makan, jalan-jalan, tidur."
" Terus apa lagi?" Sambil melirik penuh arti.
" Apaan sih? ngeres nih!!" Sambil mengacak-acak rambut Brian.
" Duhhh jangan dirusakin dong, tar gantengku ilang." Sambil membenahi rambutnya.
" Hahaha...genit ihh!!"
" Kapan ya yank?"
" Kapan apanya?"
" Kok apanya? ya nikahnya lah!"
" Ohhh masih berlanjut yang tadi to?"
" Ehhh ngajak berantem kayaknya!" Sambil berkacak pinggang.
" Hahaha...no....ampun-ampun!!"
" Ya...mana aku tau yank, tanya aja sama Allah, kita berjodoh apa nggak."
" Hiihhh nih orang, lama-lama nyebelin ya!"
" Hehehe...udah deh jangan dibahas lagi, bikin pusing. Jalan-jalan keluar yuk! sambil nyari sarapan!"
" Emang udah laper ya?" Jawab Brian sambil mdlirik arlojinya.
" Belum sih. Makanya kita jalan dulu, sembari olahraga, tar kan kalau capek laper hehehe."
" Hahaha....habis olahraga langsung makan, percuma dong olahraganya, numpuk lemak lagi kita."
" Ihhhhh...udah....ayokkkkk....!" Sambil menarik tangan Brian.
" Hahaha...iya sayang...!!"
" Jadi mandinya habis sarapan nih?" Sembari menggandeng tangan Arin.
" Iya nggak papa. Soalnya pasti nanti keringetan lagi."
" Tapi kamu belum mandi juga udah cantik kok yank!"
" Issshhhh...mulai deh!!"
" Hahaha.....!!" Brian semakin erat menggenggam jemari Arin. Mereka berdua berjalan sembari bercanda. Hari masih pagi, dan udara terasa sejuk. Masih sedikit kendaraan yang melintas, sehingga belum banyak asap yang bertebaran. Sepanjang kanan kiri terlihat aktivitas para pedagang yang sedang menggelar dagangannya. Para penjual makanan sudah terlihat ramai pengunjung. Biasanya mereka sudah buka dari sebelum subuh. Banyak muda mudi bergerombol yang juga menikmati susana pagi di kota ini.
Setelah lelah berjalan, mereka berdua mampir di sebuah waruh lesehan yang menyediakan menu tradisional.
" Yang satu nasinya dikit aja ya mas!"
" Baik mbak, ada pesanan yang lain lagi?"
" Udah cukup mas."
" Tunggu sebentar ya mbak!"
" Makasih mas."
" Makan kamu dikit banget sih yank? hemmm jangan-jangan karena ada aku ya??"
" Hahaha...enak aja!! Kalau ada kamu kenapa? malu gitu ngakuin kalau makanku banyak?"
" Mungkin."
" Ishhhh...enak aja, ya nggaklah..!! Buat apa malu? Aku tuh nggak mau sok bagus-bagusin di depan kamu. Ya beginilah aku, aku nggak mau berpura-pura. Lebih baik jadi diri sendiri dan apa adanya."
" Hemmm begitu ya. Jadi kamu makan sedikit bukan karena malu ada aku?"
" Hahaha....kalau malu ntar laper lagi, rugi sendiri dong aku!!"
" Yup..!!! Betul juga....!!"
" Kalau emang beneran cinta, kamu nggak akan mikir, aku makannya banyak apa nggak, pasti nerima aku apa adanya dong??"
" Nggak juga sih yank." Sambil dahinya berkerut."
" Lalu???"
" Pasti mikir dua kali dong aku, kira-kira cukup nggak uang belanja yang aku kasih ke kamu nantinya buat makan kita sebulan, kalau makanmu banyak gitu."
" Issshhhhhh...nyebelin!!!" Sambil mencubit pinggang Brian.
" Hahaha...!!" Sembari mencoba menghindar.
Tak lama pelayan datang sembari membawa makanan yang mereka pesan, dan sesaat kemudian Brian dan Arin asyik melahap makanan tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments