" Iya mas, aku udah di hotel. Aku pengen ketemu temen-temen besok." Jawab Arin sambil menatap wajah Yuda di layar hpnya.
" Ya udah Inget!! bawa terus hpnya, biar kalau aku telfon, bisa langsung kamu angkat,dan jangan aneh-aneh!!" Kata Yuda lagi di akhir kalimatnya. Kemudian dia menutup telfonnya tanpa basa basi seperti biasanya.
" Hehhhh....berjauhan, masiiiih aja galak!!" Kata Arin sambil mengantongi hpnya dan melangkah keluar kamar. Untungnya fasilitas di hotel yang dia tempati cukup lengkap. Ada sebuah cafe yang terletak di hotel itu, sehingga dengan mudah dia bisa mengisi perutnya tanpa harus berjalan keluar.
Arin memang tidak terbiasa makan malam, hanya moment tertentu saja jika dengan terpaksanya dia harus mengisi perutnya di malam hari. Bila sudah lebih dari jam 6 sore biasanyanya dia akan berhenti menyantap makanan yang mengandung karbohidrat, dan biasanya jika lapar lagi, mungkin dia hanya memakan buah saja.
Setelah menunggu beberapa saat, makanan yang dipesannya sudah tersedia di meja. Dia makan sambil menikmati pemandangan di depannya. Kota yang dari dulu tidak pernah sepi pengunjung, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Kota yang selalu dirindukannya, dan ingin membuatnya terus kembali mengunjunginya. Kota yang menyimpan banyak kenangan manis saat dia sekolah dulu.
" Yank, seandainya ada kamu, mungkin aku nggak sendirian, dan saat ini pasti aku sedang tertawa-tawa mendengarkanmu cerita." Khayal Arin.
Entah seperti apa wujud asli Brian yang sesungguhnya. Namun seandainyapun dia tidak setampan dengan apa yang dia lihat di layar hp, mungkin dia tidak akan mungkin berbalik 90° meninggalkan pria itu, karena kenyamanan yang dia dapatkan dari Brian, tidak setimpal jika harus dibandingkan dengan fisik semata. Arin sudah pernah merasakan memiliki suami tampan dan kaya-raya, namun ternyata semuanya itu tidak bisa mendatangkan kebahagian yang sebenarnya, dibandingkan saat bersama seseorang yang benar-benar mencintainya dengan tulus.
Arin mengaduk-aduk teh panas yang ada di hadapannya. Setelah selesai menghabiskan sisa makanan, kemudian dia segera membayarnya. Arin lalu berjalan kembali menuju kamarnya. Sebenarnya dia ingin keluar menelusuri jalanan yang kanan kirinya ramai pedagang itu sembari melihat-lihat, namun diurungkannya karena sebentar lagi magrib. Seorang pelayan hotel yang kebetulan berpapasan memberikan senyum ramah padanya. Arin membalasnya sambil menganggukan kepala.
Saat mendekati kamar, dia sedikit bingung, ada seseorang yang sedang duduk di kursi yang ada di depan kamarnya itu.
" Siapa dia? aku kan belum kasih tau alamat hotelku ke temen-temen?"
" Aahhh mungkin itu pengunjung lain yang kebetulan duduk di depan kamarku." Kata Arin lagi dalam hati. Kebetulan posisi pria itu sedang menunduk, sambil memainkan hpnya, jadi dia tidak tau bahwa si empunya kamar datang.
" Permisi mas!" Kata Arin mencoba menyapa pria tersebut. Spontan pria itu mengangkat kepalanya. Jantung Arin serasa mau copot. Wajah yang tidak asing di matanya. Sedikit jauh berbeda dari yang dia lihat selama ini. Namun dia hafal sekali bahwa dia adalah orang yang sedang ditunggunya.
Ternyata yang disapapun sama terkejutnya dengan Arin. Laki-laki itu menatapnya dari atas ke bawah. Dia belum pernah melihat Arin di dunia nyata, ternyata apa yang ada di hadapannya saat ini, jauh lebih indah dari apa yang dibayangkannya.
" Sayang???" panggilnya sembari berdiri. Arin tertegun sejenak. Bibirnya seperti terkunci rapat. Brian, lelaki itu ada di hadapannya sekarang. Lebih tampan dari apa yang dia lihat di layar hp selama ini.
" Haiiii sayang???" Kata Brian lagi sambil melambai-lambaikan tangannya di depan mata Arin.
" Ehhh ehhmmm...!" Arin terlihat gugub.
" Kenapa? kaget ya?"
" Kamu Brian kan?"
" Iya aku Brian. Kamu bener Arin kan? wanita yang aku cintai, yang sering aku impikan bisa ketemu di dunia nyata dan bukan hanya di layar hp?"
" Nggak usah panjang lebar gitu ah!" Ujar Arin malu-malu. Brian kemudian mengulurkan tangannya. Arin bahkan lupa bersalaman dengan pria itu.
" Yank kok??" Arin bahkan kehilangan kata-kata.
" Kenapa? bingung ya? Aku tadi bohong sama kamu. Aku pengen kasih kejutan, tadi aku masih di perjalanan ke arah sini." Arin hanya mengangguk-angguk saja, dia masih belum percaya dengan yang dilihatnya sekarang.
" Ehhh kok masih bengong aja sih?" Arin benar-benar tidak menyangka, Brian ada di depannya saat ini.
" Sini duduk!!" Sambil menggandeng tangan Arin dan memintanya duduk di kursi satunya. Brian terus memandangi wajah Arin tanpa berkedip.
" Sumpah aku nggak nyangka banget kita akhirnya bisa ketemu, padahal tadi waktu kamu bilang nggak bisa dateng, aku udah nggak berharap sama sekali, tapi...." Kata Arin.
" Tapi sekarang, aku ada di depan kamu." Brian menyambung kalimat Arin, dan Arinpun tersenyum manis sekali.
" Walau bagaimanapun caranya, pasti aku bakal usahainlah ketemu kamu. Masak aku tega ngga nemuin kamu, padahal kamu udah datang jauh-jauh kesini.
" Ya aku pikir kamu beneran nggak dateng." Jawab Arin pelan. Brian hanya tersenyum saja sambil memperhatikan wanita yang duduk di sampingnya itu.
" Kok ngelihatin terus sih?" Kata Arin malu-malu sambil menundukkan kepalanya. Wajahnya bersemu merah, seperti seorang remaja yang baru saja jatuh cinta.
" Kamu cantik banget yank."
" Kaya baru lihat aja, kan biasanya juga di hp lihat terus?"
" Iya di hp kan beda sama aslinya. Aslinya ternyata jauh lebih cantik."
" Isssshhh mulai deh katroknya." Arin sudah mulai bisa menguasai dirinya.
" Aku menginap di hotel ini juga lho, tuh kamarnya di sebelah kamarmu."
" Kebetulan banget masih kosong ya, jadi kita bisa sebelahan?" Wajah Arin terlihat sumringah tidak menyangka kamar mereka bersebelahan.
" Aku kan pesennya hampir berbarengan sama kamu."
" Maksudnya?"
" Waktu kamu bilang alamat hotel ini, aku langsung pesen kamar di sebelahmu."
" Ihhh nyebelin!!! Jadi kamu udah ngerencanain semuanya ya?" Sambil memukul bahu Brian, karena ternyata dia sudah merencanakan dari awal.
" Yaankk....aku itu sayang banget sama kamu. Apapun caranya aku berusaha pengen bisa deket sama kamu." Sambil memegang kedua jemari Arin.
" Maafin aku ya, kemarin sempet marah sama kamu."
" Dan pasti kamu mikirnya aku nggak serius sama kamu kan?"
" Hemmm iya nggak ya?"
" Hiihhh...dasar kamu ya."
" Awwww....." Arin kesakitan karena pipinyanya dicubit oleh Brian.
" Kamu tuh kalau mau mikir kaya gitu diinget-inget dulu, buat apa aku berani ambil resiko hubungin kamu tiap hari, kalau aku nggak cinta kamu yank!"
" Iya...iya maaf."
" Gitu aja...?? selesai ya?"
" Terus maunya apa?"
" Hemmmm apa ya??" Sambil melirik nakal pada Arin.
" Ehhhh jangan macem-macem ya!! walaupun kita sedang di hotel, tapi kita bukan muhrim ya!"
" Ehhh emang mau ngapain?? ihhh mikir jorok ya?" Muka Arin bersemu merah lagi.
" Ihhhh nyebelin banget sih kamu!!" Sambil memukul bahu Brian lagi, dan mereka berdua terbahak.
Arin begitu bahagia hari itu. Dia lupa Yuda, dia lupa sudah memiliki keluarga, bahkan dia lupa bahaya yang sedang menghadangnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments