Sementara itu Arin yang baru saja menutup telfon dari Brian, langsung melemparkan tubuhnya di atas kasur. Dia kembali merasa sendiri. Arin membayangkan saat Brian tiba di rumahnya, kemudian disambut senyum manis istrinya, pasti itu sangat menyenangkan. Tiba-tiba darah Arin berdesir, ada perasaan cemburu yang datang.
" Hehhhh menyebalkan!!" Serunya sambil melemparkan hp yang dipegangnya sedari tadi di sebelahnya, untung hp itu tidak jatuh dan pecah bertubi-tubi. Lalu Arin beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah keluar.
Rumahnya yang besar terasa amat sepi. Walaupun samar-samar terdengar di telinganya kedua orang asisten rumah tangganya sedang tertawa-tawa, entah apa yang mereka bicarakan berdua sehingga segembira itu. Arin tersenyum sendiri, andai dia bisa merasakan tawa lepas seperti mereka, pasti Arin akan merasa segala beban yang ada di hatinya terluapkan. Arin tidak ingin mengganggu kedua asistennya itu, akhirnya dia menghidupkan layar televisi. Tapi tetap saja pikirannya melayang terbang entah kemana, matanya menatap ke televisi, tapi tidak sedikitpun dia bisa berkonsentrasi menikmati acara yang ada di depannya.
Sebenarnya segalanya telah ia miliki. Seharusnya hidupnya sempurna dan bahagia. Namun Yudalah yang membuat Arin merasa apa yang dimiliki sekarang tidak ada artinya apa-apa.
Arin masuk ke kamarnya kembali, lalu menulis status di hpnya.
" Kamu lagi ngapain yank? nyebelin!! kl habis vcall gini pasti aku ga bisa konsen sama sekali, inget kamu terus!!" Kemudian status itu dikirimnya. Arin terus melototi hpnya, berharap statusnya dilihat Brian.
Seperti sebuah aliran listrik tegangan tinggi, ternyata sedari tadi Brian belum juga beranjak dari duduknya dan masih mengotak atik hpnya.
" Hahhh...kenapa yang aku rasain sama dengan dia sih?" Wajah Brian terlihat sumringah saat melihat status Arin. Tanpa basa basi dia langsung mengetik sebuah tulisan dan mengirim wa pada Arin.
" Sayang, aku juga inget kamu terus. Duhhhhh gimana sih yank, kok rasanya aku nggak bisa lupa sama kamu?"
Arin gembira sekali, ternyata Brian sedang stanby di depan hpnya juga, itu berarti dia masih bisa berkirim pesan dengan kekasihnya itu. Akhirnya mereka berdua terlihat asik bersenda gurau, Walaupun Brian sambil sesekali melirik pintu di depannya, waspada jika tiba-tiba istrinya masuk.
Bagi Arin saat ini, tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain mengurung diri di dalam kamar, dan mengobrol bersama Brian. Bahkan Arin mengabaikan handphone satunya. Padahal sewaktu-waktu Yuda bisa saja menelfonnya.
" Sayang udah dulu ya, udah sore, aku mau mandi." Balas Arin.
" Ya udah sayang, mandi dulu terus dandan yang cantik ya."
" Hemmm....dandan cantik juga ga dilihat kamu percuma." Balas Arin lagi.
" Hahaha...iya juga ya. Ya udah mandi dulu sana."
" Iya sayang, nanti malam lagi ya, inshaallah. Assalamualaikum."
" Waalaikum salam." Brian membalas salam Arin disertai emote cinta. Dia sudah tidak sebete tadi lagi. Brian lalu meletakkan handphonenya, wajahnya terlihat sumringah.
Arin segera beranjak dari tempat tidurnya, tiba-tiba dia teringat sesuatu.
" Aduuhhh....Yuda telfon nggak ya? mudah-mudahan enggak!!" Arin buru-buru mengambil handphone satunya. Dilihatnya ada 10 buah panggilan.
" Mati aku!! bakalan ngomel-ngomel lagi dia." Bathin Arin. Segera ditelfonnya nomor Yuda. Terdengar suara Yuda di seberang sana. Dan tebakan Arin benar, tanpa basa basi dia langsung memarahi Arin.
" Kamu itu kemana aja? kamu liat nggak? aku udah telfon kamu berapa kali? kalau emang ga mau angkat telfon, nggak usah pakai hp segala!!"
" Habis darimana kamu? Kamu sengaja ya nggak bawa hp biar aku nggak bisa cek kamu?" Yuda terus nyerocos dan tidak memberi kesempatan Arin menjawabnya.
Arin diam saja, dan sengaja membiarkan suaminya selesai melampiaskan amarahnya. Karena selama ini, jika Yuda marahdan Arin menjawabnya, sekalipun jawaban itu merupakan sebuah penjelasan, pasti suaminya akan mengatakan itu adalah sebuah bantahan, jadi Arin selalu memilih diam dan cari aman.
" Kamu sekarang ke ATM, transfer uang ke rekening yang aku WA'in ke kamu."
" Sekarang mas?"
" Ya sekarang!! masa besok!!" Yuda yang tidak pernah mau tau situasi dan kondisi, Yuda yang selalu memberi perintah istrinya, ibarat memberi perintah seorang bos pada pegawainya, tidak ada kata nanti dan harus.
" Iya mas." Arin selalu mengiyakan perintah suaminya itu, walaupun dengan rasa dongkol yang teramat sangat. Lalu Yudapun mematikan hpnya, tanpa salam, tanpa ucapan terimakasih, atau basa basi lainnya, dan itu sudah biasa bagi Arin.
" Kenapa sih dia itu nggak bisa lembut dikiiiiiitt aja? minimal kalau menyuruhku gunain kek kata tolong, atau yang lainnya...hehhhh...menyebalkan!!" Arin menggerutu dalam hati.
Arin lalu segera berdiri, meraih kunci motor yang ada di atas meja riasnya, lalu berjalan keluar. ATM terlihat ramai, dia berdiri ikut mengantri bersama dengan yang lainnya. Sebuah nomor rekening ditekannya, tak lama sebuah tulisan berhasil muncul di monitor, lalu Arin menarik struk yang keluar dari mesin tersebut, setelah selesai dia segera pulang kembali.
Sampai di rumah, Arin segera menelfon Yuda.
" Mas bukti transfernya aku kirim ke siapa?" Arin menelfon suaminya.
" Udah simpen aja dulu, yang penting udah ditransfer, besok aku kabarin lagi." Jawab Yuda, setelah itu dia menutup telfonnya.
" Hiiihhh...menyebalkan!!! selalu begitu, apa-apa harus sekarang!!! aku pikir urgent!! Egoisss!!!" Rani yang begitu hafal sifat suaminya yang permintaannya selalu ingin dituruti, dan tidak pernah mau mengerti kondisi, membuat Rani begitu muak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
T!@n9α£it
Arin kok jadi Rani thorrr???🙄🤭😁
2021-10-02
0