" Aku berangkat dulu." Pamit Yuda sembari naik ke atas mobil. Arin yang mengantarnya di depan pintu hanya mengangguk saja. Dia dulu membayangkan saat menikah nanti, ketika suaminya pergi kerja, dia akan mencium tangan suaminya, dan suaminya mencium keningnya. Namun ternyata itu hanya khayalannya saja. Rani memperhatikan kendaraan suaminya hingga hilang dari pandangan mata. Kemudian dia masuk kembali ke dalam rumah.
Arin segera mengambil hpnya, berharap Brian mengirimkan pesan. Sepagi ini biasanya pria itu selalu menanyai kabarnya, walaupun hanya terkesan basa basi, namun itu sebuah bentuk kecil perhatian Brian pada Arin.
" Pagi sayaanggkuuu...pasti udah wangi ya? soalnya harumnya kecium sampai ke hidungku." Arin tersenyum sendiri. Mungkin abg saja tidak segombal itu terhadap kekasihnya, namun semakin Arin meledek Brian dengan kebasiannya itu, justru pria itu semakin menjadi-jadi, dan membuat Arin terbahak.
Saat Arin baru saja ingin membalas wa Brian dengan statusnya, tiba-tiba pria itu menelfonnya.
" Sayang? kok bisa nelfon sepagi ini? kamu lagi dimana?"
" Aku lagi keluar yank, ada urusan dikit. Kangen yank." Jawab Brian sambil menatap Arin dari layar hpnya. Arin hanya tersenyum saja.
" Kamu tuh ya, kalau aku lagi di deket suamiku gimana? tiba-tiba kamu langsung telfon gini?"
" Ya nggak gimana-gimana." Jawab Brian santai.
" Nggak gimana-gimana bagaimana?"
" Ya nggak mungkinlah kamu berani buka statusku di deket suamimu, iya kan?"
" Iya juga sih." Jawab Arin dalam hati.
" Nahhh..diem, berarti betul kan jawabanku?"
" Ehhh tapi bukan berarti kamu bisa langsung call kayak gini dong!"
" Iya...iya...maaf. Aku kangen banget sama kamu, jadi nggak sabar pengen liat wajah kamu."
" Hemmm....gombal lagi."
" Hihihi...biarin aja."
" Oh ya, jadi besok berangkat jam berapa?"
" Aku berangkat pagi yank, naik pesawat. Tapi aku mau nengokin anakku dulu di pondoknya, mungkin lusa kita baru bisa ketemu. Emang kamu bisa nemuin aku?"
" Ya liat besok yank. Mudah-mudahan aku ada alasan tepat untuk keluar kota nemuin kamu."
Arin hanya mengangguk anggukan kepala. Arin maklum dengan kondisi Brian yang sudah berkeluarga. Pasti nanti dia akan membuat seribu satu alasan untuk membohongi istrinya, agar bisa menemui dia.
" Yank, kalau nggak bisa nggak papa, daripada nanti bisa jadi masalah buat keluarga kamu kedepannya." Jawab Arin pelan.
" Ya pokoknya aku akan usahakan dulu, semisal nggak bisa, berarti belum takdir kita buat ketemu."
Arin diam saja. Kalau memang tidak bisa, memangnya dia bisa berbuat apa? marahpun tidak mungkin, karena diapun tau sulitnya berada di posisi Brian saat ini.
" Yank???" Arin sedikit terkejut dengan panggilan Brian.
" Kamu melamun?"
" Ehh enggak yank. Iya nggak papa, aku nggak akan memaksa kok. Emang besar resikonya kalau harus dipaksakan." Jawab Arin.
" Yank. Aku sangat mencintai kamu, dan nggak mau kehilangan kamu. Aku ingin suatu hari nanti kita bisa menghabiskan sisa hidupku sama kamu. Dan kalaupun besok aku belum bisa menemui kamu, bukan berarti hubungan kita berakhir kan?" Nada bicara Brian terlihat khawatir.
" Yank, aku cuma bisa menjalani ini semampuku, dan sebisaku bertahan sama kamu. Aku berusaha menjaga hubungan kita. Tapi seandainya suatu hari nanti aku lelah, dan nggak sanggup lagi mempertahankannya, bukan berarti aku nggak mencintai kamu, tapi mungkin aku sudah nggak mampu merasakan sakitnya jauh dari kamu dan nggak bisa memiliki kamu." Jawab Arin.
" Yahhh aku tau itu yank."
" Eh Yank...hari ini kamu cantik banget sih!" Brian mengalihkan pembicaraannya.
" Kamu tuh ya, basinya nggak habis-habis."
" Hahaha aku kan nggak cuma punya stok basi ratusan, ribuan basiku buat kamu."
" Hahaha...garing ah kamu."
Obrolan mereka berdua kembali ceria. Padahal di hati mereka sama-sama pedih merasakan hubungan yang tidak jelas itu.
" Ohh iya besok kamu berarti menginap di pondok anakmu dulu ya?"
" Iya, mungkin dua harian aku di sana. Aku dapat ijin pergi seminggu dari suamiku."
" Lohhh nanti suamimu kalau telfon kamu dan lihat kamu nggak di pondok anakmu dia curiga?"
" Aku kan udah bilang kalau aku pengen nostalgia sama teman-temanku dulu. Aku pengen nemuin teman-teman kuliahku dulu di sana nanti."
" Terus kalau kamu sama temenmu, aku gimana?"
" Hahaha ya kamu sabar aja di hotel ya, kalau kamu ikut tar bahaya lagi."
" Nasib...nasib..!!"
" Hahahaa....resiko yank." Jawab Arin di sela tawanya.
" Hemmm iya deh. Tar aku main sendiri aja dulu sementara waktu."
" Nahhhhh pinter!!!"
Brian dan Arin sama-sama lupa apa yang akan mereka lakukan bisa menimbulkan masalah besar, namun keduanya sedang benar-benar jatuh cinta, hingga membuat mereka tidak menyadari resiko yang akan dihadapi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments