" Sayang? kok melamun?" Panggil Brian mengagetkan Arin.
" Ehhh nggak....Aku cuma ingin melihat wajah kamu lebih lama."
" Nggak apanya? bengong begitu."
" Iya, kan lagi konsentrasi."
" Kamu tuh ada-ada aja." Jawab Brian sambil matanya terus melihat ke jalan.
" Yank?"
" Iya."
" Kamu mau nggak nikah sama aku?" Arin tertegun sesaat mendengar pertanyaan Brian.
" Yank?"
" Ehhh iya?"
" Kok melamun lagi sih? kenapa? kamu sedang ada masalah?"
" Nggak yank. Aku kaget aja sama pertanyaan kamu."
" Aku cuma pengen tau jawaban kamu."
" Seandainya aku single dan kamupun single, aku pasti bersedia jadi istri kamu yank. Aku mau kita menikah tanpa ada satupun yang tersakiti." Jawab Arin. Brian menarik nafas panjang.
" Yank sampai kapan ya kita begini? rasanya aku nggak bisa jauh dari kamu sama sekali."
" Apa yang kamu rasain sama dengan apa yang aku rasain. Tapi nggak mungkinkan kamu mau menceraikan istrimu demi aku? dan nggak mungkin juga kamu memintaku untuk cerai dari suamiku? Apalagi kondisi keluarga kita baik-baik saja tanpa ada masalah."
" Seperti janji kita yank. Biarlah semua berjalan apa adanya, dan kita tunggu takdir Tuhan." Jawab Brian lirih.
" Iya yank. Aku benar-benar mencintai kamu. Aku merasa kamu udah jadi bagian hidup aku."
" Iya sayang demikian juga sama aku. Kuat ya, demi hubungan kita?" Brian berusaha menghibur kekasihnya.
" Yank, nanti kalau udah sampai di toko, hp aku masukin kantong nggak apa-apa kan?"
" Iya nggak papa, kan masih bisa denger suara kamu."
" Iya, kamu temenin aku ya?"
" Siap sayang." Dan Brianpun tertawa mendengar jawaban Arin yang sumringah.
Sampai di toko, Hp dimasukkan ke dalam saku celana Brian, tapi mereka masih bisa mengobrol, karena Brian masih memakai headset di telinganya. Arin bisa mendengar saat Brian membeli kebutuhan percetakannya. Dia tersenyum sendiri. Dia bisa merasakan, begitu besarnya rasa cinta Brian padanya.
" Sayang?" Panggil Brian.
Tidak ada jawaban sama sekali. Brian pikir telfonnya telah dimatikan, karena merasa tidak ada suara deru nafas Arin seperti awal tadi. Diambilnya hp dari saku celananya, dan dilihatnya Arin sudah terlelap. Brian tersenyum melihat Arin begitu pulas. Tidak hanya sekali, Brian sering mempersilahkan Arin tidur jika saat mereka mengobrol, kekasihnya itu terlihat mengantuk. Brian hanya terus memperhatikan kekasihnya tidur dari layar hpnya. Dan jika dirasa sudah benar-benar pulas, Brian akan mematikan telfonnya. Tapi Arin berani tidur dalam kondisi menelfon, jika suaminya sedang tidak ada di rumah saja.
Brian memasukkan hpnya kembali ke dalam saku celana, dan tetap membiarkan Arin tidur. Rasanya iba melihat wanita pujaannya itu saat terlelap. Ingin sekali dia memeluk dan melindunginya setiap saat. Namun apa yang bisa dia perbuat? bahkan untuk menemui wanita itu saja dia tidak bisa. Hatinya sangat tersiksa, rasanya sakit sekali memendam perasaan rindu yang amat besar itu.
Brian menyelesaikan belanja kebutuhannya. Dan Arin masih terus terlelap. Brian memasukkan semua belanjaannya ke dalam mobil, lalu segera mengeluarkan hpnya dan dijepitkan pada alat penjepit yang ada di dasboard mobilnya. Dilihat Arin belum juga terbangun. Brian lagi-lagi tersenyum. Lalu menjalankan mobilnya.
Baru berjalan sebentar, terlihat badan Arin menggeliat, headset yang masih menempel di telinganya sepertinya telah mengganggu tidurnya, karena adanya suara klakson mobil yang sedikit keras.
" Sayang, kamu sudah bangun? maaf ya, suara klaksonku mengagetkanmu ya?" Brian merasa bersalah, dia tadi sedikit terkejut karena ada pengendara motor yang memotong jalan secara mendadak, sehingga dengan reflek dia menekan klakson sedikit lama.
" Ehhh aku ketiduran ya? Maaf ya sayang." Sambil mengucek-ucek matanya.
" Nggak papa, kamu ngantuk ya? Semalam emang habis wa aku nggak langsung tidur?"
" Iya, aku kepikiran kamu yank."
" Kepikiran gimana?"
" Ya kepikiran. Udah nungguin aku lama, eh nggak taunya aku nggak bisa nemenin kamu ngobrol."
" Nggak papa sayang, situasinya emang sulit buat kita berdua komunikasi. Jadi kita harus saling ngerti ya? Sebaliknya kalau aku nggak bisa hubungin kamu, kamu juga harus ngerti ya? minimal kita kasih kabar aja lewat status kayak biasanya."
" Iya sayang." Arin menatap wajah Brian begitu lama, menelusuri tiap senti wajah pria yang ada di dalam layar hpnya.
" Kok ngeliatin terus kenapa sih?"
" Pengen aja ngeliatin."
" Awas lho nanti kebayang terus."
" Kalau nggak kebayang nanti kamu bingung lho?, soalnya aku lupa sama kamu."
" Ehhh jangan-jangan ya udah liatin aja terus ya."
" Heemmm....ngarep." Jawab Arin sambil mencibir. Brian hanya terkekeh melihat Arin.
" Yank, aku laper, temenin makan ya?"
" Iya sayang aku temenin. Mau makan apa?"
" Makan mie ayam aja deh."
" Hiihhh..orang kok hobinya mie sih."
" Hehehe...daripada hobinya nyuri jemuran tetangga."
" Yeee...apa hubungannya?"
" Hubungannya ya baik-baik aja yank, buktinya nggak ada yang lapor polisi."
" Ihhh ngomongin apa sih sebenarnya?"
" Ngomongin mie." Jawab Brian tanpa bersalah.
" Kok nyampe kantor polisi segala?"
" Ya kan polisi juga doyan mie sayang."
" Hahahaha....!" Arin tergelak mendengar kalimat konyol Brian.
Mobil Brian memasuki sebuah warung mie ayam. Dia kemudian turun, dan memesan satu buah mangkok. Brian meletakkan hp di atas meja yang ada di hadapannya.
" Yank...aku serasa gendong kamu, kemana-mana aku bawa." Kata Brian sambil tertawa.
" Hahaha...bisa aja."
" Kamu mau nggak? Aku pesenin juga." Canda Brian.
" Iya, tar gambarnya kamu wa'in ke aku ya."
Brian dan Arin terus mengobrol hingga pesanan mie ayam Brian datang. Brian makan sambil terus ditemani Arin. Rasanya waktu terasa pendek saat Arin sedang bersama Brian. Tidak ada kesedihan, dan hanya ada tawa.
" Yank, besok kumisnya dicukur ya?"
" Kenapa? kamu nggak suka?"
" Bukannya nggak suka. Coba deh kamu cukur, pasti kamu kelihatan lebih cerah wajahnya, dan lebih kelihatan muda."
" Bener nih dicukur. Ntar kalau aku kelihatan tambah muda terus abg deketin aku nggak apa-apa ya?"
" Ntar aku pikir-pikir dulu." Jawab Arin sambil sok mikir.
" Hahaha...kamu tuh yank. Nggak mungkinlah aku mau cari lagi, nambahin pikiran aja. Aku aja mikir gimana caranya bisa ketemu sama kamu udah pusing kok."
" Yaaa...siapa tau pengen nyari lagi."
" Nggak sayang, demi Allah aku sayang banget sama kamu, aku nggak akan nyakitin kamu. Iya besok aku cukur ya." Arin tersenyum. Sebegitunya Brian menyayangi Arin, sehingga apapun yang diminta Arin, dia selalu berusaha melakukannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments