" Ingat!! kalau sudah transfer kirim kertas slipnya ke aku..!!"
Hanya itu pesan yang disampaikan suaminya pada Arin. Bukannya memintanya jaga diri baik-baik atau kalimat yang mengesankan perhatian suami pada istrinya, justru lagi-lagi urusan duniawi yang dikatakan Yuda padanya.
" Iya mas. Hati-hati di jalan." Lalu mencium tangan suaminya.
Tanpa menjawab, Yuda lalu naik ke dalam mobil dan menstarternya. Arin memperhatikan mobil yang dikendarai suaminya hingga hilang berbelok keluar halaman rumah. Ada perasaan lega di hatinya.
Yaahhh....semua rasa cintanya pada Yuda seolah hilang. Bahkan dia lupa moment dulu saat bercanda berdua dengan suaminya, tidur-tiduran di kasur sembari berceloteh banyak hal. Padahal ukuran kamarnya dulu jauh dari kata nyaman. Sempit, banyak nyamuk, dan juga bocor di sana-sini. Namun suasana dulu lebih indah dibanding sekarang, disaat cinta Yuda pada dirinya belum tergantikan oleh harta. Namun sekarang, saat dia menempati rumah besar dan mewah, serta lengkap dengan fasilitas canggih, rasa itu semuanya musnah.
Mereka berdua jarang sekali bersenda gurau, bahkan sudah tidak pernah sama sekali. Yuda lebih sering asyik bermain hp, dan lebih sering mengobrol bersama rekan bisnisnya dibanding dengan Arin. Arin merasa kesepian di rumah besarnya itu. Yuda tidak semanis dulu. Seringkali dia marah-marah dan menekuk wajahnya tanpa sebab, dan tanpa Arin tau apa kesalahannya.
Arin masuk ke dalam rumah kembali. Kedua asisten rumah tangganya terlihat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Lalu Arin mengambil handphonenya. Pagi tadi dia sudah membuat status untuk Brian, mengingatkan kekasihnya itu untuk sholat subuh. Jika Sudah membacanya, biasanya Brian langsung chat Arin.
" Iya sayang, baru aja selesai. Makasih ya selalu ngingetin aku. I love you sayangku." Emote hati disertakan pada akhir kalimat. Brian membalasnya tadi pada pukul 5 pagi, sesaat setelah Arin mengirimkan pesan padanya.
" Yank...kangen." Lalu Arin memposting status tersebut. Setelah itu Arin meletakkan handphonenya dan pergi ke dapur.
" Mbak, nanti minta tolong ganti sprai kamar saya ya?" Pada asisten yang lebih muda.
" Oh iya bu."
" Mbak kalau pengen masak, masak aja terserah. Apa yang ada di kulkas ambil aja. Suami saya pergi satu mingguan. Kalau saya kan makannya gampang, apa aja mau. Apa yang mbak masak, tar saya juga ikut makan."
" Oh iya bu. Iya ya buk, bapak susah banget makannya, jangankan ibu, saya yang ngeliat aja ikut bingung ngeliat ibu tiap hari pusing mikirin makanannya bapak."
" Mbak Asih sama Bu Parmi kan paham, suami saya memang agak susah untuk masalah makanan. Dia maunya cuma saya yang meladeni dia."
" Tapi bersyukur juga lho bu."
" Bersyukur gimana?"
" Ya itu berarti ketergantungan bapak sama ibu sangat besar, jadi bapak nggak akan mungkin macem-macem hehehe." Arin cuma tersenyum saja.
" Kalian berdua nggak tau sih, ketergantungan suamiku itu kalau wajar sih nggak papa, tapi buatku sangat tidak wajar." Gerutu Arin dalam hati.
Arin mencomot pisang goreng yang tadi pagi dimasaknya, namun sama sekali tidak disentuh oleh suaminya. Arin jarang sekali sarapan nasi, biasanya dia hanya minum teh panas, dan diisi makanan kecil saja. Lalu kemudian duduk di depan meja makan memperhatikan asistennya yang sedang bekerja.
" Mbak, pisang." Katanya menawari dua orang asisten rumah tangganya. Arin memang cukup dekat dengan kedua asistennya, dengan adanya mereka, Arin merasa sedikit terhibur, dan tidak terlalu kesepian.
" Ohh iya bu, makasih."
" Mbak Flo kapan pulang bu?" Flora, anak satu-satunya Arin saat ini tinggal di pondok pesantren di luar daerah, usinya sudah menginjak 12 tahun. Dialah yang membuatnya kuat selama ini. Dia amat tau apa yang dirasakan bundanya. Karena diapun sangat hafal watak ayahnya.
" Masih lamalah mbak. Biarin, dia di sana saja kalau cuma liburan sebentar. Kalau libur panjang baru saya suruh pulang. Kenapa? kangen ya?"
" Hehehe...iya buk. Kalau ada mbak Flo rumah ini rasanya ramai." Arin tersenyum. Dia juga sangat rindu dengan anak semata wayangnya.
Flora anak yang aktif, dan sangat familiar. Usianya sebenarnya masih terbilang anak-anak, tapi jika diajak mengobrol, pemikirannya sudah seperti orang dewasa. Dia sangat akrab dengan pegawai di rumah Arin. Flo juga anak yang manis dan tidak merepotkan sama sekali.
" Saya ke kamar dulu ya mbak."
" Ibu ini betah banget di kamar?"
" Ya mau kemana mbak? main kemana-mana, kalau mas Yuda tau bisa marah dia."
" Hehehe...iya juga ya bu....cari aman aja deh ya bu, yang penting selamat." Arin hanya tersenyum saja menanggapi kalimat asistennya.
Asisten rumah tangganya sebenarnya amat tau bagaimana perasaan Arin yang sebenarnya. Yuda bahkan tidak segan mengomel di hadapan mereka berdua, sehingga mereka paham bagaimana watak Yuda. Mereka sangat kasihan dengan Arin. Arin perempuan yang sangat nerimo tapi masih saja terus salah di hadapan Yuda. Padahal jika Yuda tidak ada di rumah, Arin bisa saja keluar rumah kemanapun dia suka, tanpa ada yang melarangnya, namun entah kenapa karena besarnya tekanan Yuda terhadapnya, menjadikan Arin begitu takut untuk melanggar aturan yang dibuat Yuda.
Arin membuka hpnya. Dilihat sebuah pesan masuk di aplikasi wanya.
" Sayang, kalau kamu nggak sibuk, dan ada waktu, kamu vcall aku ya? aku lagi di luar rumah." Begitu isin pesan Brian. Hati Arin amat berbunga-bunga. Brianlah saat ini satu-satunya yang bisa membuat hatinya bahagia. Tanpa menunggu lama Arin segera mengambil headset, lalu memencet tombol call. Tak lama Brian mengangkatnya, ternyata dia sedang berada di dalam kendaraannya.
" Assalamualaikum sayangku." Sapa Brian. Wajahnya amat manis sekali.
" Waalaikum salam sayang." Arin membalasnya sambil tersenyum manis pula. Wajahnya begitu sumringah.
" Mau kemana yank?"
" Ini aku mau belanja."
" Ohhh bahan pesanan percetakan?"
" Ihhh pinter banget sih sayangku ini."
" Yeee...emangnya kamu mau belanja cabai? nggak mungkinkan?"
" Hahaha...kalau belanjanya sama kamu, terus jalannya gandengan tangan, aku rela deh masuk pasar." Gurau Brian, Arinpun tertawa.
" Kamu tuh pinter banget sih ngegombalnya."
" Hehehe..tar kalau telfonan ngobrolnya terlalu serius, kamu bosen. Kita kan cuma bisa komunikasi lewat hp, jadi sebisa mungkin bangun suasana biar nggak jenuh."
" Iya juga sih." Gumam Arin.
" Suamimu udah berangkat ya?"
" Udah yank, dari tadi."
" Kok kamu nggak diajak?"
" Urusan kerjaan yank, ngapain ngajak istri? kecuali liburan baru ngajak istri."
" Heemmmm...coba kalau kita sama-sama sendirian yank, aku pasti akan langsung nikahin kamu, dan kemana aja kamu aku ajak."
" Sekalipun itu urusan pekerjaan?"
" Ya, jika memungkinkan dan nggak mengganggu aktivitasku."
" Hemmm....bohong!"
" Loh kok bohong?"
" Buktinya sekarang kamu nggak ng!ajak istrimu dan malah telfonan sama aku."
" Aku nggak perlu mengulang ceritaku kenapa bisa sama dia kan?"
" Hehehe...iya sayang."
" Kamu sama dia itu berbeda. Perasaanku ke kamu sama perasaanku ke dia itu beda. Dulu saat aku mengenalnya yang aku rasakan lain, nggak sedalam ini yank."
" Iya maaf sayang. Hehhh...kita telat sih ketemunya." Gumam Arin pelan.
Arin masih ingat sekali cerita kekasihnya itu. Dulu Brian menikahi istrinya bukan karena cinta, tapi lebih kepada sebuah pelarian. Dulu Brian pernah dikecewakan kekasihnya, dia pergi dengan laki-laki lain saat mereka sudah bertunangan. Brian lalu bertemu istrinya yang sekarang. Itupun istrinyalah yang suka padanya terlebih dahulu. Hanya 1 bulan kenal, kemudian mereka menikah. Pantas Arin tidak pernah menemukan foto istrinya satupun di album medsos milik Brian. Dia bisa mengetahui wajah istri Brian melalui sebuah komenan di postingan milik Brian. Memang tidak sebanding dengan Brian yang begitu tampan dan mempesona. Istrinya jelas sekali sosok wanita yang sangat polos, tidak terlalu tinggi, dandan seadanya, dan wajahnyapun mungkin bisa dibilang biasa saja. Berbeda dengan Arin yang memiliki badan yang tinggi semampai, wajah terawat, dan penampilan yang selalu rapih, walaupun itu hanya di dalam rumah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
T!@n9α£it
Flora ya say knapa jadi Florin??🤣🤭
2021-10-02
0