Yuda

Entah kenapa bisa segila dan sejauh ini Arin berhubungan dengan pria itu. Sebenarnya hati kecilnya sangat tidak terima dengan keadaan ini dan merasa dikejar oleh dosa. Namun, rasa tenang akan kehadiran Brian menjadi oase dalam kehidupannya yang kering kerontang.

Begitupun dengan Brian, dia sangat mencintai Arin. Perhatian Arin yang begitu tulus padanya, bahkan bisa merubah dirinya menjadi pribadi yang lebih baik lagi daripada sebelumnya. Arin yang selalu mengingatkannya untuk beribadah, yang selalu memberikannya banyak nasehat dan masukan positif untuknya, sehingga membuat Brian merasa membutuhkan wanita itu dalam hidupnya. Brian yang memang berawal dari keluarga sederhana begitu ambisius juga gila kerja demi untuk menaikkan derajat keluarganya, hingga akhirnya berhasil seperti saat ini. Namun, semenjak mengenal Arin, pandangan hidupnya akan makna sebuah kesuksesan dunia berubah 180 %. Arin yang hidup bergelimang harta lebih memahami letak sebuah kebahagiaan bathin yang ternyata tidak sebanding dengan setumpuk permata. Hingga pada akhirnya, mereka berjanji untuk tidak saling meninggalkan, kecuali takdir yang memisahkan.

" Ariiiinnn......!!!" Teriakan Yuda terdengar menggelegar memenuhi seluruh ruangan. Arinpun tergopoh-gopoh keluar dari kamarnya.

" Kopi..!!" Perintahnya singkat, sambil melemparkan sebuah kantong plastik hitam yang berisi uang tanpa menengok sedikitpun.

lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa mahal produk luar negeri yang sengaja dipesan untuk melengkapi furniture ruang keluarganya. Sambil menyelonjorkan kaki di atas meja, diraihnya remote tv layar datar berukuran 65", dan ditekannya tombol on, tak lupa menyulut rokok lalu mengisapnya dalam-dalam.

Arin mengambil uang tersebut. Yuda terlihat seram dan sangat menakutkan, tidak ada sedikitpun senyum menghiasi wajahnya. Seperti itulah Yuda, hatinya tidak bisa ditebak. Jika sedang tidak mood atau lelah, siapa saja bisa menjadi sasaran kemarahannya, tidak terkecuali Arin.

Tanpa banyak kata, Arin langsung pergi ke dapur, memanaskan air, dan meracik kopi untuk suaminya. Sama-samar terdengar Yuda sedang marah-marah di telfon.

" Ya udah terserah kamu!! Kamu kan biasa yang kasih harga, kenapa masih tanya aku!!" Terdengar kalimat emosi Yuda di telfon pada pegawainya, Arin hanya menarik nafas panjang.

" Kenapa sih mas?" Kata Arin sambil meletakkan kopi di sebelah suaminya.

" Jualan udah lama, masih tanya terus sama aku!" Gerutu Yuda.

" Ya kan dia takut salah mas, mungkin kuota pembeliannya banyak, makanya ijin sama mas dulu. Kita beruntung mas, toko kita ada orang yang bisa dipercaya buat menghandlenya, dan mas tidak usah setiap hari menungguinya."

" Kamu tuh tau apa? Dia itu udah aku gaji besar, harusnya kemampuannya melebihi pegawai lain, kalau apa-apa masih tanya aku, buat apa aku mempekerjakannya??"

Arin lagi-lagi menarik nafas. Dia kasihan sama pegawai yang ada di toko besar milik suaminya. Setiap menanyakan sesuatu, pasti saja kena omelan, dan jika dia memutuskan sendiri, kemudian suaminya tidak sependapat, diapun kena omelan lagi. Padahal hidup mereka sudah sangatlah mudah. Semua usaha suaminya dipegang oleh orang-orang kepercayaan, seharusnya pikiran suaminya lebih santai dan relax. Namun sebaliknya, suaminya seperti lupa bahwa dulu mereka merintis usaha itu bersama-sama, bahkan Arin ikut pontang-panting melayani pembeli. Sekarang sedikit-sedikit suaminya marah, jika ada yang tidak pas di hatinya Arin selalu saja menjadi sasaran.

Arin segera beranjak dari duduknya, dia malas berada dekat-dekat suaminya, apalagi melihat muka masamnya itu, sungguh sangat tidak sedap dipandang mata, bisa-bisa dia jadi sasaran kemarahannya lagi.

" Kamu hitung uangnya semua, terus besok pagi transfer ke rekening biasanya." Suara suaminya kembali terdengar. Tidak ada satupun kalimat manis di telinganya, apalagi ucapan kata tolong sebagai bentuk penghargaan pada istrinya, karena telah membantunya. Yang dia rasakan saat itu yang ada di hadapannya adalah seorang bos besar yang sedang memberikan perintah pada pesuruhnya, yaitu Arin.

" Iya mas." Jawab Arin singkat, dan langsung masuk ke kamar, kemudian menghitung uang yang baru dibawa oleh suaminya.

################

" Makan mas." Kata Arin setelah dia selesai mengerjakan sholat isya'. Yuda diam saja, dan matanya masih asyik memperhatikan siaran televisi. Arin kembali menarik nafas. Sudah biasa kalimat Arin tidak digubris suaminya. Jika pertanyaannya tidak dijawab, itu artinya Yuda belum bersedia ditawari makanan oleh Arin.

" Menyebalkan!! Apa sih susahnya bilang nanti, atau besok, atau apalah?" Gerutu Arin dalam hati. Ditunggu hingga pukul 10 malam, Yuda belum juga memanggil Arin untuk mengambilkan makanan, hingga akhirnya Arin terlelap. Tiba-tiba ada suara yang membangunkannya, dan ternyata itu Yuda.

" Iya mas?" Tanya Arin sambil mengerjab-ngerjabkan matanya.

" Ambilkan aku makan!!"

" Oh iya mas." Arin bangun. Diliriknya jam yang ada di dinding, pukul 11 malam lebih. Dengan terkantuk-kantuk Arin mengambilkan sepiring nasi, juga lauk pauk dalam piring berbeda. Kemudian dibawa ke depan dan diletakkan di hadapan suaminya. Kebiasaan itu sudah terjadi sejak mereka pertamakali menikah, Arin selalu mengambilkan dan menemani suaminya makan. Namun keadaannya berbeda, dulu suaminya tidak berani membangunkan Arin jika Arin sudah terlelap, dia mau mengambil makanan sendiri. Tapi sekarang, hanya untuk membuat secangkir kopi saja, Yuda tega membangunkan Arin di tengah malam buta. Sepertinya Yuda ingin menjadikan Arin sebagai pelayan dirinya, mungkin itu lebih tepatnya sebutan yang diberikan untuk Arin.

Arin terus menunggui suaminya hingga suapan terakhir. Lalu segera membereskan kembali piring-piring sisa makan suaminya.

" Udah malam mas, nggak tidur?" Tanya Arin. Arin paling tidak suka jika suaminya begadang, karena pasti besok paginya suaminya akan sulit dibangunkan, dan jika bangunnya kesiangan mood suaminya selalu buruk, itu sudah bisa diprediksi Arin.

" Tidur gimana? makananku saja belum merosot dari tenggorokan." Jawaban suaminya sungguh tidak enak di telinga.

" Hiiihhh...sama-sama mengeluarkan kalimat, kenapa sih dia tidak bisa menjawab dengan bahasa yang enak didengar? Menyebalkan!!" Lagi-lagi Arin hanya bisa menggerutu dalam hati.

Arin langsung masuk kamar, dan membuka hpnya. Dilihatnya Brian sudah menelfonnya 3 kali. Arin lupa jika pria itu berjanji akan menghubunginya malam ini.

" Aduhhh...kenapa aku bisa lupa?"

Arin langsung menulis status dan berharap Brian masih terjaga. Benar saja, baru selesai membuat status, Brian langsung membukanya, dan mengirim pesan pada Arin.

" Sayaaanggg...kemana aja sih?"

" Aduhhh maaf sayang, aku ketiduran." Balas Arin.

" Aku vcall ya?" Balas Brian lagi.

" Iya." Arin tau, suaminya pasti akan terus terjaga hingga pagi, dan Arin bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk berkomunikasi dengan Brian. Kebetulan letak kamar Arin sedikit jauh dengan ruang santai dimana suaminya biasa menonton tv, dan jika hendak masuk kamar, Arin bisa mengetahui dari suara pintu ruang tengah yang digeser. Itu artinya Arin harus waspada jika sewaktu-waktu suaminya masuk.

Terpopuler

Comments

𝕸𝖆𝖘𝖎𝖙𝖆𝖍 𝕬𝖟𝖟𝖆𝖍𝖗𝖆

𝕸𝖆𝖘𝖎𝖙𝖆𝖍 𝕬𝖟𝖟𝖆𝖍𝖗𝖆

wih... aq ikut deg2an... kalau kepergok sama yudha gimana 🥺🥺🥺

2021-10-14

3

lihat semua
Episodes
1 PROLOG
2 STATUS WA
3 Yuda
4 MENELFON BRIAN
5 PERSIAPAN YUDA PERGI
6 SESAAT SETELAH YUDA PERGI
7 MENEMANI BRIAN
8 MENEMANI BRIAN
9 TIBA DI RUMAH
10 PERINTAH YUDA
11 KEPERGIAN BRIAN
12 RENCANA PERTEMUAN ARIN DAN BRIAN
13 TELFON BRIAN
14 ARIN KECEWA
15 SURPRISE
16 MAKAN BERSAMA
17 MENGOBROL BERDUA
18 KEBERSAMAAN
19 BANGUN TIDUR
20 SEBELUM PERGI
21 PERGI BERSAMA TEMAN-TEMAN
22 DI PANTAI
23 KHILAF
24 BAJU BARU
25 SELESAI MAKAN
26 BELANJA
27 SURPRISE UNTUK BRIAN
28 MALAM TERAKHIR BERSAMA
29 PERSIAPAN PULANG
30 MENUJU BANDARA
31 DI BANDARA
32 PERPISAHAN
33 TURUN DARI PESAWAT
34 TIBA DI RUMAH
35 PERTENGKARAN
36 PERTENGKARAN
37 PERTENGKARAN 2
38 PERTENGKARAN 3
39 MENGOBROL DENGAN SUAMI SISI
40 MENGOBROL DENGAN SUAMI SISI 2
41 MENGOBROL DENGAN SUSMI SISI 3
42 YUDA PULANG
43 YUDA PULANG 2
44 MENGOBROL DENGAN ART
45 SEPENINGGAL YUDA
46 MENGOBROL BERSAMA BRIAN DI TELFON
47 TELFON BRIAN
48 BERSAMA DIKA
49 BERSAMA DIKA 2
50 BERSAMA DIKA 3
51 BERSAMA DIKA 4
52 PERTENGKARAN
53 MENELFON MAYA
54 BERSAMA MAYA
55 BERTEMU ORANG TUA MAYA
56 PERJALANAN MAKAN MALAM
57 DI CAFE
58 PULANG
59 PULANG DARI CAFE
60 MENINJAU LOKASI
61 PAGI YANG SIAL
62 TElFON MERTUA ARIN
63 MENJEMPUT MERTUA
64 KEDATANGAN YUDA
65 DI MEJA MAKAN
66 ROKOK
67 SUSAH TIDUR
68 CALL BRIAN
69 BANGUN TIDUR
70 MENYAMAR JADI MAYA
71 SARAPAN
72 MERTUA ARIN PULANG
73 DI RUMAH BRIAN
74 KE CAFE
75 TIBA DI CAFE
76 MENUNGGU MAYA
77 PERJALANAN KE KANTOR
78 ASISTEN
79 SELESAI RAPAT
80 KETAHUAN
81 MAYA VS YUDA
82 JENNY NGAMBEG
83 MENAWARKAN KERJASAMA
84 IJIN
85 MENGAJAK MAKAN SIANG
86 DI BUTIK MAYA
87 Menelfon Arin
88 OTW MAKAN SIANG
89 BERTENGKAR LAGI
90 TIBA DI KANTOR
91 MEMBERITAHU YUDA
92 ARIN MEMINTA IJIN
93 HSMPIR KETAHUAN
94 PERTEMUAN
95 PERTEMUAN DENGAN WARGA
96 MERINDU
97 MERINDUKAN YUDA YANG DULU
98 MARAH
99 TELFON SURYA
100 KEBAHAGIAAN YUDA
101 PERJALAN MENEMUI SURYA
102 NEGOSIASI
103 NEGOSIASI 2
104 NEGOSIASI 3
105 BERSAMA SISI
106 MENEGUR YUDA
Episodes

Updated 106 Episodes

1
PROLOG
2
STATUS WA
3
Yuda
4
MENELFON BRIAN
5
PERSIAPAN YUDA PERGI
6
SESAAT SETELAH YUDA PERGI
7
MENEMANI BRIAN
8
MENEMANI BRIAN
9
TIBA DI RUMAH
10
PERINTAH YUDA
11
KEPERGIAN BRIAN
12
RENCANA PERTEMUAN ARIN DAN BRIAN
13
TELFON BRIAN
14
ARIN KECEWA
15
SURPRISE
16
MAKAN BERSAMA
17
MENGOBROL BERDUA
18
KEBERSAMAAN
19
BANGUN TIDUR
20
SEBELUM PERGI
21
PERGI BERSAMA TEMAN-TEMAN
22
DI PANTAI
23
KHILAF
24
BAJU BARU
25
SELESAI MAKAN
26
BELANJA
27
SURPRISE UNTUK BRIAN
28
MALAM TERAKHIR BERSAMA
29
PERSIAPAN PULANG
30
MENUJU BANDARA
31
DI BANDARA
32
PERPISAHAN
33
TURUN DARI PESAWAT
34
TIBA DI RUMAH
35
PERTENGKARAN
36
PERTENGKARAN
37
PERTENGKARAN 2
38
PERTENGKARAN 3
39
MENGOBROL DENGAN SUAMI SISI
40
MENGOBROL DENGAN SUAMI SISI 2
41
MENGOBROL DENGAN SUSMI SISI 3
42
YUDA PULANG
43
YUDA PULANG 2
44
MENGOBROL DENGAN ART
45
SEPENINGGAL YUDA
46
MENGOBROL BERSAMA BRIAN DI TELFON
47
TELFON BRIAN
48
BERSAMA DIKA
49
BERSAMA DIKA 2
50
BERSAMA DIKA 3
51
BERSAMA DIKA 4
52
PERTENGKARAN
53
MENELFON MAYA
54
BERSAMA MAYA
55
BERTEMU ORANG TUA MAYA
56
PERJALANAN MAKAN MALAM
57
DI CAFE
58
PULANG
59
PULANG DARI CAFE
60
MENINJAU LOKASI
61
PAGI YANG SIAL
62
TElFON MERTUA ARIN
63
MENJEMPUT MERTUA
64
KEDATANGAN YUDA
65
DI MEJA MAKAN
66
ROKOK
67
SUSAH TIDUR
68
CALL BRIAN
69
BANGUN TIDUR
70
MENYAMAR JADI MAYA
71
SARAPAN
72
MERTUA ARIN PULANG
73
DI RUMAH BRIAN
74
KE CAFE
75
TIBA DI CAFE
76
MENUNGGU MAYA
77
PERJALANAN KE KANTOR
78
ASISTEN
79
SELESAI RAPAT
80
KETAHUAN
81
MAYA VS YUDA
82
JENNY NGAMBEG
83
MENAWARKAN KERJASAMA
84
IJIN
85
MENGAJAK MAKAN SIANG
86
DI BUTIK MAYA
87
Menelfon Arin
88
OTW MAKAN SIANG
89
BERTENGKAR LAGI
90
TIBA DI KANTOR
91
MEMBERITAHU YUDA
92
ARIN MEMINTA IJIN
93
HSMPIR KETAHUAN
94
PERTEMUAN
95
PERTEMUAN DENGAN WARGA
96
MERINDU
97
MERINDUKAN YUDA YANG DULU
98
MARAH
99
TELFON SURYA
100
KEBAHAGIAAN YUDA
101
PERJALAN MENEMUI SURYA
102
NEGOSIASI
103
NEGOSIASI 2
104
NEGOSIASI 3
105
BERSAMA SISI
106
MENEGUR YUDA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!