" Silahkan!" Kata pelayan sembari meletakkan piring terakhir yang berisi roti bakar coklat.
" Makasih!" Jawab Brian dan Arin hampir berbarengan.
" Yank, banyak banget pesennya? emang kamu laper ya?"
" Nggak!"
" Terus?"
" Bungkus aja kalau nggak habis, lumayan buat persediaan di kamar."
" Hahaha kamu tuh mau tidur aja bawa bekal dulu, kayak mau sekolah."
" Emang sekolah bawa bekal?"
" Iya, dulu waktu sekolah aku selalu dibawain bekal sama ibuku, hemat uang jajan katanya hahaha!"
" Sekarang tapi bersyukur kan, dengan begitu kamu terlatih hidup hemat?"
" Iya sih, didikan orang tua itu pasti yang terbaik buat kita."
" Kriiiiiiiinggggg...!!!" Obrolan mereka berhenti. Hp Arin tiba-tiba berbunyi, dia lalu melihat siapa yang menelfonnya.
" Suamiku vcall yank....kamu agak menjauh sebentar, pasti dia ingin mengecekku." Kata Arin. Brian kemudian menjauh dari Arin, dia khawatir, keberadaannya diketahui oleh suami Arin.
Brian sedikit jengkel, tapi apa mau dikata, sudah resikonya pacaran dengan wanita bersuami.
" Iya mas."
" Lagi dimana kamu?"
" Nih!" Kata Arin sambil menunjukkan suasana di sekitarnya."
" Kamu mau makan? tumben jam segini baru makan?"
" Nggak sih mas, bosan aja dari tadi di kamar. Cuma pesen minuman sih, sambil nyantai di sini."
" Sama siapa?"
" Sendirianlah, emang sama siapa?" Arin berbohong dan mencoba bersikap sewajar mungkin.
" Katanya mau ketemu temen-temenmu?"
" Besok aja mas, sekarang aku lagi pengen nostalgia sendirian di sini."
" Emang hotelmu deket dari situ?"
" Deketlah mas, cuma jalan sebentar." Yuda bahkan tidak tau persiapan Arin saat hendak berangkat kemarin. Yang penting saat Arin hendak pergi, dia memberikan sejumlah uang untuk istrinya, itu saja.
" Ya udah kalau gitu."
" Mas lagi dimana?"
" Aku lagi di rumah Ari." Menyebut nama salah satu pegawai kepercayaannya.
" Udah dulu aku mau lanjutin cek kerjaan dulu."
" Eh mas nggak...."
" Tuuuuttttt.....!!" Ternyata Brian langsung mematikan hpnya.
" Hehhhh....kebiasaan." Gerutu Arin sembari memasukkan kembali telfon genggamnya ke dalam tas.
" Yank!!" Panggil Arin. Brianpun mendekat.
" Udah?" Arin mengangguk.
" Suamimu nggak curiga?" Arin menggeleng.
" Hehhhh."
" Kok narik nafas?" Tanya Brian sambil menyorongkan gelas minuman pesanan Arin yang baru saja disediakan oleh pelayan.
" Seandainya saja kita bertemu dari dulu, mungkin kita nggak akan selingkuh kayak gini yank."
" Kamu nyesel?"
" Hati kecilku sebenernya nggak terima berbuat kayak gini, ini kesalahan fatal, tapi?"
" Tapi apa yank?"
" Tapi aku nggak bisa ngelupain kamu yank!" Jawab Arin sedikit emosi.
" Yank! Kita udah sering ngomongin itu, dan selalu berakhir dengan kesedihan. Sementara, kita lupain dulu ya? kita nikmatin aja pertemuan ini buat lebih mengenal pribadi satu sama lain. Oke?"
" Iya...maaf ya?"
" Ehhh cobain ini deh!!" Kata Brian sambil menyorongkan sendok berisi roti ke mulut Arin. Arin tersenyum, lalu membuka mulutnya.
" Enak kan?"
" Heem." Sambil sibuk mengunyah.
" Yank!"
" Iya?"
" Kemarin kamu ijin sama istrimu mau pergi kemana?"
" Ya mau ke sini yank."
" Dia nggak nanya-nanya gitu?"
" Ya iya, namanya juga suami mau pergi, pasti ditanyain dong."
" Deg!!" Tiba-tiba dada Arin serasa sakit dengar kalimat terakhir kekasihnya itu.
" Oh iya." Jawab Arin pelan. Brian melihat perubahan raut wajah Arin.
" Ehh yank maaf, maksudku..."
" Iya, ga papa. Wajarlah itu, akupun pasti nanya-nanya kalau suamiku mau pergi." Gantian Brian yang mengangguk-angguk mendengar kalimat Arin, sakit juga ternyata mendengar itu semua. Rasanya mereka berdua tidak terima dengan kata-kata yang menjelaskan status tersebut, namun itulah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Aira Taqin
bener2 cerita nya nyataaaa emang seperti itu
2022-12-11
0