Semenjak kenal dengan Brian, hari-hari Arin begitu indah. Mungkin jika tidak ada batasan, rasanya ingin setiap hari Arin menelfon Brian. Namun tentu saja itu tidak mungkin dilakukannya. Arin dan Brian lebih memilih menahan rindu, daripada nantinya ketahuan oleh pasangan mereka, dan mereka tidak bisa berkomunikasi lagi.
" Bu, tolong dibungkus 3 ya." Suara Brian terdengar memanggil penjual mie. Arin tertegun sesaat. Ada rasa sakit yang tiba-tiba menjalar dan meringsek masuk ke dalam hatinya. Mimik wajah Arin berubah, Brian melihat perubahan itu, dan baru menyadari jika Arin pasti cemburu.
" Yank, maaf ya. Tadi istriku pesan mie ayam juga." Brian sedikit tidak enak hati.
" Iya nggak papa yank. Namanya juga keluarga, kalau suami makan enak, istri sama anak juga harus dibawain dong." Jawab Arin pelan. Padahal hatinya sangat teriris, namun ini sudah menjadi bagian resiko hubungan terlarang mereka berdua. Pada dasarnya Arin adalah tipe wanita yang sangat pencemburu, namun cintanya yang benar-benar buta telah mengabaikan rasa sakitnya saat mendengar dan melihat perhatian Brian pada istrinya.
Arin tiba-tiba ingat Yuda. Suaminya itu paling malas jika dititipi sesuatu. Jangankan untuk meminta macam-macam, saat bepergian bersama saja, jika Arin bilang ingin membeli sesuatu sebentar saja, sudah pasti Yuda bakalan mengomel panjang lebar. Dia lebih rela membiarkan Arin kembali lagi ke toko itu sendirian, dibandingkan dengan menunggui Arin membelinya.
Suasana jadi sedikit kaku. Walaupun Arin berusaha keras bersikap sewajarnya, namun matanya tidak bisa berbohong, ada kesedihan disana. Arin membayangkan, begitu bahagianya jika yang ada di posisi istri Brian sekarang adalah dia. Brian adalah laki-laki yang amat mencintai dirinya dan sangat dicintainya. Dia yakin, Brian adalah tipe suami yang sangat pengertian, dan bisa menempatkan diri selayaknya seorang suami yang seharusnya bisa melindungi dan menjaga seorang istri.
" Yank?"
" Ehhh iya?" Arin sedikit terkejut.
" Yank, kita udah janji untuk saling memahami satu sama lain kan? kamu paham posisiku, aku juga paham posisi kamu. Aku juga cemburu yank kalau kamu bareng sama suamimu, bahkan aku nggak berani membayangkan, karena takut sakit."
" Ehh kenapa tiba-tiba kamu ngomong kayak gitu?"
" Karena aku lihat raut wajah kamu berubah saat dengar aku pesan mie buat istriku."
Sesaat Brian melirik Arin yang terus diam.
" Posisi kita sama. Memang kita yang salah. Apa boleh buat? sesakit apapun harus kita telan." Brian melanjutkan kalimatnya.
" Maafin aku ya." Jawab Arin.
" Yank, kuat ya demi hubungan kita?" Brian sebenarnya begitu sedih secara tidak langsung menyakiti hati Arin, namun di sisi lain dia tidak tega mengecewakan Mirna di rumah dengan tidak membelikan titipannya.
" Iya sayang, semoga aku bisa bertahan."
" Hehhh...hubungan gila apa sih ini yang sedang aku jalani? kenapa aku nggak bisa sedikitpun berpaling dari kamu Brian? kenapa?" Jerit hati kecil Arin. Bathinnya tidak terima diperlakukan seperti ini, namun dia tidak ingin meninggalkan Brian sama sekali.
" Ini mas mienya."
" Oh iya." Brian menyodorkan sejumlah uang, dan pedagang langsung memberikan kembaliannya.
" Makasih ya mbak?"
" Sama-sama mas."
" Kita jalan lagi ya yank?" Bisik Brian pada Arin
" Iya."
Brian melangkah keluar menuju kendaraannya, lalu meletakkan hp di atas dashboard kembali.
" Yank...kok ngeliatin terus kenapa?" Tanya Brian sambil melirik Arin.
" Kalau habis telfonan lama kayak gini, pasti sampe rumah aku baper deh. Nggak enak rasanya."
" Ehhh gimana kalau telfonnya nggak usah dimatiin?" Canda Arin.
" Hahaha bisa-bisa kita nggak berhubungan lagi yank, hpku bakal dibakar istriku."
" Cuma hpnya kan yang dibakar, bukan orangnya?"
" Lahhh serem amat!!"
" Hahaha...makanya jangan selingkuh!!"
" Terus kamu nggak?"
" Nggak....aku cuma lagi telfonan, nggak lagi selingguh."
" Hemmm....pinter ya ngelesnya!!"
" Eh yank udah nyampe belum?"
" Sebentar lagi sayang, kenapa mau ikut turun?"
" Hemmm nantangin ya?"
" Hahaha...ampun deh!!!"
" Yeeeee...dasar. Mau dimatiin sekarang apa nanti?"
" Nanti aja, bentaaaarrr lagi." Brian rasanya enggan untuk menutup telfonnya. Dia ingin selalu bersama Arin. Menurutnya wanita itu telah memberinya kebahagiaan yang tidak dia dapatkan dari sosok istrinya. Arin yang selalu bisa membuatnya ceria, dan tak pernah bosan berlama-lama mengobrol dengan.
" Ya udah ga usah dimatiin ya?" canda Arin.
" Beneran siap nih nggak bisa komunikasi sama aku lagi?"
" Emang kamu bisa sehari aja ga denger kabarku?"
" Mbohh pikir aja sendiri!!" Sahut Brian sambil cemberut.
" Hihihi..kalau kayak gitu tambah ganteng lho yank." Arin menggoda Brian kembali.
" Hemmm...kumat gilanya."
" Hahaha...kalau aku bawaannya serius tar kamu ga cinta lagi sama aku."
" Hahaha...iya juga sih...kekonyolan kamu tuh yang bikin aku kangen."
" Itu aja?"
" Ya nggaklah yank, pokoknya aku itu mencintai kamu, dan aku nggak punya alasan kenapa aku mencintai kamu."
" Yank?"
" Iya."
" Sebenernya aku tau sepenting apa posisiku buat kamu."
" Maksudmu?"
" Ya aku sadar banget, seandainya suatu hari nanti hubungan kita ketahuan istrimu, aku yakin 100% bahkan 1000% kamu bakalan pilih dia, walaupun sekarang kamu bilang kamu sangat mencintai aku. Iya kan?" Brian diam saja, dia bingung harus menjawab apa, karena benar apa yang dikatakan Arin, tidak mungkin dia mengorbankan kebahagiaan anak-anaknya sendiri.
" Eh ehm tapi bagaimanapun caranya aku tetep akan berusaha mencari cara untuk menghubungi kamu yank." Brian mencoba meyakinkan Arin akan kesungguhannya.
" Yahhh...hanya sebatas itu yank. Hubungan kita hanya sebatas itu tidak lebih." Jawab Arin lagi, wajahnya berubah kecewa. Rasanya sakit sekali, walaupun sebenarnya dia tau bakal seperti ini akhir dari semuanya. Tetapi sebenarnya jika kalimat ini dibalik, pasti Arin akan sulit menjawabnya juga.
" Yank?? kita kan udah janji untuk saling memahami satu sama lain kan?"
" Misalnya aku mau kamu poligami kamu nggak mau nikahin aku?"
" Ya maulah yang penting aku dapat restu dari istriku."
" Kalau istrimu nggak merestui?"
" Ya nggak mungkinlah aku menikahi kamu sayang." Jawab Brian pelan. Dia tau kata-katanya pasti sangat menyakiti Arin, namun dia tidak ingin menjanjikan hal yang indah-indah pada wanita yang sebenarnya amat dicintainya itu. Hanya saja dia tetap memikirkan dua orang anaknya, walaupun sebenarnya perasaan terhadap Mirna dari dulu hingga sekarang tetap sama, tidak ada getar cinta pada wanita yang telah dinikahinya itu, beda saat dia sedang bersama Arin.
Arin diam, ada setitik bening yang hampir jatuh di matanya, namun berusaha dengan kuat ditahannya agar tidak dilihat oleh Brian. Sudah sering sekali dia menangis di hadapan pria itu, dan hari ini dia tidak ingin terlihat menangis lagi. Namun Brian sangat tau sifat kekasihnya yang amat perasa dan gampang sekali terharu. Brian tau jika wanita itu sedang menahan rasa sakitnya sendiri.
" Yank udah dulu ya, kamu udah mau sampai rumah kan?"
" Belum sayang, masih agak jauh, kalau udah mau nyampe kan pasti aku bilang kayak biasanya."
Suasana yang tadinya ceria kembali tegang jika sudah membahas masalah status. Arin tidak pernah bisa mengontrol emosinya jika membicarakan hal itu. Dia pasti lebih memilih menghindar, dan buru-buru mematikan telfonnya.
" Udah dulu aja ya, aku pengen tidur nih ngantuk banget." Arin beralasan, padahal saat itu sudah pukul 15.20, waktu yang sangat nanggung untuk tidur. Brian menarik nafas, dia paham Arin kecewa.
" Ya udah nggak papa, tutup aja." Kata Brian.
" Ya udah sayang, assalamualaikum." Kemudian Arin menutupnya. Brian bengong, tidak ada ciuman mesra, tidak ada kata-kata cinta seperti biasa, hanya dengan salam saja Arin menutupnya.
" Waalaikum salam." Jawab Brian pelan.
" Maafin aku sayang, mungkin Tuhan belum memberi kesempatan kita berdua untuk bersama." Kata Brian lagi. Brian sebenarnya sama sakitnya dengan Arin. Pria mana yang tidak ingin hidup bersama dengan wanita yang dicintainya, namun keadaanlah yang membuatnya sulit untuk mengambil keputusan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments