Brian memacu mobilnya agar segera sampai di rumah, padahal sedari tadi dia berjalan lambat agar bisa berlama-lama mengobrol dengan Arin. Setelah Arin menutup telfonnya, hatinya begitu kosong, dan rasanya amat menyebalkan berkendara sendirian.
Sampai di rumah, Mirna menyambutnya dengan penampilan seperti biasanya. Tidak ada polesan lipstik di bibir, rambut yang hanya terikat ekor kuda, bahkan sudah terlihat sedikit acak-acakan, juga menggunakan daster kebesarannya itu. Sedari dulu Mirna memang seperti itu. Brian sebenarnya sudah sering mengingatkan istrinya jauh sebelum mengenal Arin, agar bisa sedikit tampil rapi, tapi wanita itu tidak pernah mengindahkannya, dan mengatakan bahwa itu sudah menjadi kebiasaannya. Brian hanya merasa tidak enak hati jika orang-orang melihat, dipikirnya Brian tidak memberi uang istrinya itu untuk bersolek ataupun membeli pakaian baru.
Bukannya langsung turun dari mobil, Brian malah bengong dan pikirannya melayang membayangkan sosok Arin yang sangat jauh berbeda dengan Mirna. Arin cantik, namun tidak pernah menggunakan make up berlebihan. Walaupun tanps make up, wanita itu tetap terlihat anggun dengan jilbabnya jika sedang vcall dengan Brian. Padahal terkadang mereka vcall malam hari menjelang tidur, dan di saat itu juga Arin tetap terlihat rapi.
Brian melihat lagi ke istrinya. Dia sangat menginginkan sang istri memakai jilbab, tapi wanita itu tetap kekeuh mengatakan belum siap, gerah, dan masih banyak alasan lain. Padahal Brian itu justru lebih senang melihat wanita yang memakai pakaian layaknya wanita muslim, bukannya seperti istrinya yang jika bepergian kemana-mana menggunakan celana jeans.
Bukannya ingin mencari kesalahan sang istri karena kenal dengan Arin, namun Brian sudah berulangkali menasehati istrinya itu agar merubah penampilannya, tetapi istrinya tidak memperdulikannya.
Sebenarnya banyak hal yang tidak cocok dirasakan Brian terhadap istrinya. Namun kesalahannya dulu adalah, dia menikahi wanita itu karena emosi, dan hanya untuk sebuah pelarian. Dia pikir cinta bisa tumbuh dengan sendirinya jika mereka sudah bersama, namun ternyata hati tidak bisa dibohongi, hingga detik ini Brian tidak bisa mencintai istrinya seperti dia mencintai Arin. Apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur, mereka sudah memiliki dua orang anak. Namun sekarang Brian justru menemukan wanita yang benar-benar sesuai dengan kriterianya. Arin, wanita yang cara bicaranya selalu lembut dan sopan kepadanya, dan selalu nyambung jika diajak bertukar pikiran, bahkan sering bertingkah konyol saat di telfon hingga Brian terbahak. Wanita itu tidak pernah membuatnya bosan walaupun menelfonnya hingga berjam-jam.
" Mas kok nggak turun? kenapa?" Brian terkejut, tiba-tiba Mirna sudah berdiri di sebelah kaca pintu mobilnya yang tidak tertutup.
" Ehhhh...itu aku lagi nginget-nginget sesuatu." Jawab Brian gugub.
" Ada yang lupa lagi? Mas ini kebiasaan!! kan udah ada catatan? kenapa bisa lupa lagi?" Sifat bawel istrinya mulai keluar. Jika sudah begitu Brian cari aman, pergi dan tidak mau banyak bicara.
" Deden suruh nurunin barangnya, aku capek!" Jawab Brian, menyebut nama salah seorang karyawannya, sembari turun dari mobil dan meninggalkan istrinya yang masih sedikit dongkol. Padahal tidak ada satupun barang yang terlupa, namun karena asal bicara tadi, Mirna jadi jengkel dibuatnya.
" Kenapa sih dia nggak pernah bisa berubah? harusnya dia tau aku capek, bukannya diambilin minum malah diomeli!!" Gerutu Brian dalam hati.
Brian langsung masuk ke dalam, dan duduk di sofa sembari menjulurkan kakinya. Kepalanya mendongak menatap langit-langit rumahnya. Setiap kali selesai telfon dengan Arin, Brian merasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya jika telfon itu ditutup. Brian merasa seperti kesepian, hatinya serasa kosong.
" Ahhh lagi ngapain ya dia?" Sembari membolak balik handphonenya, namun tidak berani mengirimkan pesan pada Arin, karena dia takut Mirna mengetahui perselingkuhannya.
" Kenapa aku harus bertemu sama kamu sekarang Arin? dan bukan dulu saat kita sama-sama sendiri?" Brian berteriak dalam hati hingga tidak terasa dia menghentakkan kedua kakinya hingga menyenggol meja di depannya. Diapun meringis kesakitan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments