Ch. 19 : Hati yang Seakan Terbakar

Rai dan Shohei duduk bersebelahan di meja makan, sedangkan Yuriko duduk di hadapan kedua pria itu. Yuriko menatap takjub pada menu makan malam mereka. Bagaimana tidak, itu adalah menu makanan kelas atas.

"Wow, apa benar ini daging Wagyu?" tanya Yuriko sambil memerhatikan daging itu dari segala sisi.

"Tentu saja," jawab Rai cepat.

"Pak Polisi kau sangat baik mau membawakan kami daging Wagyu dan anggur putih." Yuriko menyangka jika menu tersebut berasal dari Shohei.

"Bukan aku. Tapi daging ini buatan Rai," ucap Shohei.

"Benarkah?" Mata Yuriko membesar tak percaya.

"Heh, sudah kubilang dulunya aku ini orang kaya. Makanan seperti ini sudah biasa kumakan," ucap Rai menyombongkan diri.

Yuriko mengangkat bibir atasnya, memberi seringai lebar. "Paling juga kau menghabiskan seluruh gajimu untuk membeli ini semua," sangka Yuriko masih tak percaya.

"Ya, sudah, tidak usah berdebat. Mari kita makan saja," ajak Shohei.

"Itadakimasu," ucap mereka bertiga sambil menangkupkan tangan.

Ketika baru saja mengambil pisau dan garpu, Yuriko teringat jika ia sama sekali belum memperkenalkan diri pada polisi yang berada di depannya itu. Sontak, ia langsung memegang tangan kanan Shohei yang sontak membuat pria itu terhenyak.

"Namaku Aizawa Yuriko umurku dua puluh dua tahun, aku berasal dari desa Ine, di Kyoto," ucap Yuriko memperkenalkan dirinya di hadapan pria itu dengan penuh semangat.

"Hei, kita sedang tidak mengadakan wawancara melamar kerja!" ketus Rai.

Shohei yang terlonjak, hanya bisa mengulas senyum tipis sembari menatap tangan Yuriko yang menggenggam erat tangannya.

"So desu ne (oh, begitu?)," ucap Shohei memasang raut bingung.

Masih belum melepaskan tangan Shohei, Yuriko kembali berkata, "Ibuku seorang nelayan, dan ayahku mantan polisi."

Mata Shohei membulat seketika. "Mantan polisi?"

Sementara, Rai langsung tertawa kecil seraya membuang muka. "Benar-benar pendongeng handal!" gumamnya mencela.

"Iya aku tidak bohong, ayahku mantan polisi," pungkas Yuriko pada Rai. Ia kembali menatap Shohei. "Ayahku kecelakaan saat bertugas. Kedua kakinya diamputasi, jadi dia harus berhenti. Dan itu terjadi saat aku masih sangat kecil. Karena ayahku lumpuh, aku sering dirundung teman-teman sekolahku hingga membuatku tidak tahan. Aku bertekad meraih beasiswa untuk kuliah di Tokyo. Untungnya, aku termasuk siswa yang cerdas jadi aku mendapatkan beasiswa di Universitas Keio. Tinggal di Tokyo benar-benar membuatku senang, karena aku mempunyai banyak kawan tanpa takut mereka tahu latar belakang keluargaku," ucap Yuriko menggebu-gebu dengan pancaran mata yang berbinar dan senyum merekah. Meskipun tetap ada kesedihan yang sedang berusaha ia tutupi.

"Apa kau yakin benar-benar senang dengan kehidupanmu di Tokyo? Apakah kesenangan yang kau maksud itu mendapatkan banyak teman dengan cara berusaha mengikuti gaya hidup mereka dan memalsukan latar belakangmu?" Rai melempar sindiran pedas secara tiba-tiba.

"Apa maksudmu?!" Yuriko meninggikan nada suaranya karena tersinggung dengan ucapan pria itu.

Shohei yang masih bingung kenapa Yuriko tiba-tiba menceritakan segalanya padanya, lantas berkata, "Kau pasti sudah melewati banyak hal yang tak menyenangkan selama ini. Apa pun itu, mohon jangan membenci ayahmu dan profesinya dulu."

Suara lembut Shohei yang mengalun di telinganya, benar-benar membuat emosinya yang tersulut karena Rai menjadi meredam. "Tidak. Sama sekali tidak." Yuriko menggeleng, "aku justru selalu mengagumi polisi. Ketika aku melihat mereka, aku membayangkan suatu saat nanti bisa melihat ayahku memakai seragam itu lagi. Aku juga mengagumimu, aku sangat kagum padamu sejak kita pertama kali bertemu."

Kalimat terakhir yang diucapkan Yuriko membuat Shohei makin bingung dan menjadi salah tingkah. "Arigatou. Hajimemashite, aku Yamazaki Shohei."

"Yamazaki-san, panggil aku Yuriko atau Yuri," pinta Yuriko penuh antusias.

Shohei tergemap, "Hah?" Pria itu tertawa kecil lalu berkata, "Baiklah, Yuriko-san."

Yuriko menggeleng cepat. "Aku lebih suka jika kau memanggilku Yuriko-chan."

Shohei kembali tertawa kecil. "Yuriko-chan, panggil aku Shohei. Karena kau adalah temannya Rai, maka kau juga menjadi temanku."

"Benarkah?" Mata Yuriko makin berbinar-binar. Sepanjang menyantap hidangan, ia terus berbicara dengan pria berkacamata itu. Bahkan tak segan menanyakan hobi dan makanan favoritnya.

Sementara, Rai yang hanya diam sedari tadi, kini meletakkan garpu dan pisau makannya di atas meja. Ia menepi dan memilih duduk di pinggir jendela. Menyaksikan salju yang turun lebat, dengan sebatang rokok yang terapit di mulutnya. Sesekali, matanya menoleh ke arah Yuriko dan Shohei terus mengobrol. Aneh, hanya melihat mereka akrab hatinya seakan terbakar.

Entah apa yang membuatnya kesal. Apakah karena mereka cepat akrab? Ia diabaikan? Atau karena Yuriko berterus terang tentang kehidupannya yang sebenarnya pada Shohei yang bahkan ia pun tak pernah tahu? Entahlah ... yang pasti telinga Rai makin memanas mendengar suara tawa gadis itu di sela-sela obrolan mereka.

"Sebenarnya dulu aku masuk polisi atas permintaan ayahku. Aku benar-benar tidak siap, karena saat bersekolah dulu aku termasuk siswa yang lemah secara fisik. Lagi pula aku merasa ini seperti profesi turun temurun di keluargaku. Tapi, begitu seragam itu terpasang pertama kali di badanku, aku jadi sangat mencintai profesiku dan segala yang berbau penyelidikan," jelas Shohei menceritakan pengalamannya masuk polisi.

"Sugoi! Seandainya kau tak jadi polisi, kira-kira kau ingin jadi apa?" tanya Yuriko.

"Sebenarnya aku ingin mengambil jurusan Sains dan Teknologi. Dulu aku sering mengikuti olimpiade fisika, jadi kupikir itu akan sesuai dengan dasar saat aku masih bersekolah," tutur Shohei.

"Kenapa kita bisa sama? Aku juga kuliah di jurusan Sains dan Teknologi. Kalau begitu kau pasti menguasai rumus-rumus fisika yang sukar. Kapan-kapan aku boleh bertanya padamu, ya?" Yuriko kembali memegang kedua tangan Shohei hingga membuat pria itu gelagapan.

Rai yang masih memantau di sudut ruangan, semakin menunjukkan raut wajah kesal. Bibirnya secara tak sadar mempersendakan apa yang sedang diucapkan Yuriko diikuti mata yang mendelik ke atas. Meski begitu, ia menampik jika menyebut dirinya sedang cemburu.

"Oh, iya, Yuriko-chan. Apa di kampusmu ada mahasiswa yang sangat mencolok?" Shohei mengubah topik pembicaraan secara mendadak.

"Maksudmu?" Yuriko mengernyitkan dahi.

"Maksudku ... apa ada sekelompok mahasiswa yang terlihat berkuasa di kampus?" selidik Shohei.

Yuriko memalingkan pandangan seraya berpikir. "Ah, aku ingat. Ada satu orang yang selalu menunjukkan kekuatannya di kampus. Dia selalu merundung mahasiswa baru dan juga terlibat perkelahian dengan beberapa dosen. Tapi anehnya rektor tak berani melakukan tindakan apa pun. Aku tidak mengenalnya, tapi kata orang-orang dia anak Wakil Ketua Senat."

Mata Shohei memicing tajam seketika. Ia menoleh ke arah Rai yang juga menatapnya. Kedua pria itu tersenyum sembari melempar tatapan penuh arti.

Tak terasa, waktu telah menunjukkan pukul dua belas malam. Shohei pamit pulang setelah salju berhenti turun. Rai dan Yuriko mengantar kepergian Shohei hingga di depan pintu. Mata Yuriko tak lepas memandang punggung Shohei, bahkan ketika siluet pria itu telah menghilang.

"Oh, Pak Polisi yang ramah. Mohon tangkap hatiku," ucap Yuriko dengan sebelah tangan yang memegang dada.

"Hoooeekk." Rai memperagakan gaya orang muntah saat mendengar perkataan Yuriko.

Yuriko menoleh ke samping, menatap bibir Rai yang mengembung. "Hei, ada apa dengan mukamu itu?" tanya gadis itu sambil mengangkat bibir atasnya.

Rai langsung melebarkan senyumnya seraya berkata, "Oh, tidak apa-apa. Omong-omong, aku sudah memperkenalkan kau pada Shohei, apa tak ada sesuatu yang ingin kau berikan padaku sebagai ucapan terima kasih?" Rai mendekatkan tubuhnya ke arah Yuriko. Ia juga menyandarkan sebelah tangannya di pintu apartemen gadis itu. "Kau dengar sendiri, kan, apa yang dikatakan Shohei tadi. Karena kau adalah temannya Rai, maka kau juga menjadi temanku," sambungnya sambil menirukan gaya bicara Shohei.

"Ah, benar juga, ya? Memangnya kau mau apa dariku?" tanya Yuriko yang mendadak ramah pada Rai.

Kali ini Rai turut mendekatkan wajahnya. "Aku tidak keberatan jika kau mau mengucapkan terima kasih lewat ciuman," ucap Rai sambil meletakkan jari telunjuk di bibirnya yang sensual.

"Oh, kalau itu sudah pasti aku mau!" Yuriko melebarkan senyum hingga sepasang matanya menyipit.

"Benarkah?" Rai mendadak bersemangat, "Kalau begitu kita mulai saja," ucap Rai seraya memiringkan kepala diikuti dengan wajah yang mulai maju ke arah gadis itu. Namun, tepat saat ia memejamkan mata, telapak tangan Yuriko justru memenuhi wajahnya dan mendorong kepalanya ke belakang.

"Maksudku tadi adalah sudah pasti aku mau meludahmu!" ucap Yuriko seraya melototkan mata seperti burung hantu. Ia langsung masuk ke apartemennya sambil membanting pintu hingga membuat Rai terkejut.

"Ayahmu pasti akan merasa kecewa saat tahu anaknya sering mencopet dan mengaku sebagai orang kaya demi mendapat pengakuan orang banyak," teriak Rai kesal.

Yuriko terdiam dari balik pintu. Jujur, ucapan Rai sungguh menohoknya.

.

.

.

bagaimana aksi Black Shadow selanjutnya? nantikan next chapter 😉

Terpopuler

Comments

liesae

liesae

yuriko yang sedikit urakan shohei yg kalem ,,cocok kyaknya😅

2024-08-28

1

sakura🇵🇸

sakura🇵🇸

ini lagi winter rai...harusnya kau membeku bukan kevanasaaan🤣🤣🤣🤣

panas dalam ya🫢

2023-03-15

0

ₕₒₜ cₕₒcₒₗₐₜₑ

ₕₒₜ cₕₒcₒₗₐₜₑ

gak tau komen ini bakal dibaca pa gak ma kak yu,tapi tanganq gatal pingin komen🤭
baca part ini,q jadi inget ma ken,yu dan yuri,saat yuri mengejar2 yu sementara ken ngejar2 yuri.persis seperti yuriko yang ngejar2 sohei,sementara rai mulai menyukai yuriko.bedanya rai terlalu gengsi untuk mengakui perasaannya ke yuriko bahkan pada diri sendiri,sementara ken gak gengsi sama sekali buat nyatai perasaan sukanya ke yuri meski berkali2 ditolak.
q selalu suka karyamu kak yu ....❤️❤️

2022-11-26

0

lihat semua
Episodes
1 Ch. 1 : Mr. White and Black Shadow
2 Ch. 2 : Kencan Buta
3 Ch. 3 : Akan Bertunangan?
4 Ch. 4 : Gadis Pencopet
5 Ch. 5 : Pendongeng Handal
6 Ch. 6 : Terus Dicurigai
7 Ch. 7 : Terbawa Suasana
8 Ch. 8 : Black Shadow Comeback
9 Ch. 9 : Pencarian Harta Karun
10 Ch. 10 : Dokter Menakutkan
11 Ch. 11 : Penguntit
12 Ch. 12 : Tak Takut Jatuh Hati
13 Ch. 13 : Tak Dipercaya
14 Ch. 14 : Terus Disangka Pembual
15 Ch. 15 : Melancarkan Serangan
16 Ch. 16 : Beruntung Memilikinya
17 Ch. 17 : Hukum Tebang Pilih
18 Ch. 18 : Cara Memanggil yang Tepat
19 Ch. 19 : Hati yang Seakan Terbakar
20 Ch. 20 : Di Puncak Gedung
21 Ch. 21 : Aksi Kali Ini, Berhasilkah?
22 Ch. 22 : The Phantom of Love
23 Ch. 23 : Berganti Selera
24 Ch. 24 : Salah Paham Berkelanjutan
25 Ch. 25 : Siap Bertunangan
26 Ch. 26 : Kasus di Balik Kasus
27 Ch. 27 : Dihantui Rasa Bersalah
28 Ch. 28 : Tak Ingin Bersaing Dengannya
29 Ch. 29 : Perempuan di Kehidupan Mereka
30 Ch. 30 : Mencintai dan Dicintai
31 Ch. 31 : Camelia Berdarah
32 Ch. 32 : Shohei Kritis?
33 Ch. 33 : Black Shadow Tanpa Mr. White?
34 Ch. 34 : Lawan yang Kuat
35 Ch. 35 : Konfrontasi
36 Ch. 36 : Black Shadow disekap?
37 Ch. 37 : Kilas Balik
38 Ch. 38 : Menjebak dengan Cara yang Menyenangkan
39 Ch. 39 : Tak Kuasa Menahan Geliat Hati
40 Ch. 40 : Unpredictable Kiss
41 Ch. 41 : Saling Memendam
42 Ch. 42 : Nama yang Tak Terdeteksi
43 Ch. 43 : Makanan Kemasan
44 Ch. 44 : Polisi Pindahan
45 Ch. 45 : Mencicipi Makanan
46 Ch. 46 : Suara yang Tak Asing
47 Ch. 47 : Target Selanjutnya
48 Ch. 48 : Pertemuan Rai dan Seina
49 Ch. 49 : Apa yang Dilihat Kei?
50 Ch. 50 : Aksi Kejar-kejaran
51 Ch. 51 : Belajar Teknik Berciuman
52 Ch. 52 : Nasib Shohei di Tangan Kei?
53 Ch. 53 : Apa Tujuan Kei?
54 Ch. 54 : Menonton Bersama
55 Ch. 55 : Terjebak Dalam Kamar
56 Ch. 56 : Rai Tergoda?
57 Ch. 57 : Regu Penembak Jitu
58 Ch. 58 : Siapa Musuh Sebenarnya?
59 Ch. 59 : Siapa Target Kesepuluh?
60 Ch. 60 : Pria Perusak Jantung
61 Ch. 61 : Membatalkan Pertunangan?
62 Ch. 62 : Peringatan dari Kei
63 Ch. 63 : Memastikan Perasaan
64 Ch. 64 : Black Shadow adalah Bayangan Shohei
65 Ch. 65 : Pergi Membawa Rasa Bersalah
66 Ch. 66 : Gagal Romantis
67 Ch. 67 : Misteri Sarung Tangan
68 Ch. 68 : Sulit Untuk Dimaafkan
69 Ch. 69 : Tujuan Hidup
70 Ch. 70 : Reaksi Tuan Matsumoto
71 Ch. 71 : Masih Tanda Tanya
72 Ch. 72 : Target Kesembilan
73 Ch. 73 : Pemandu Kencan
74 Ch. 74 : Pemandu Kencan part 2
75 Ch. 75 : Tak Sesuai Skenario
76 Ch. 76 : Ingin Lebih Lama Bersama
77 Ch. 77 : Pandanganku Hanya Tertuju Padamu
78 Ch. 78 : Tangisan Pilu Untuk Pria Lain
79 Ch. 79 : Kasus yang Tak Terungkap
80 Ch. 80 : Apakah Menteri Kehakiman Terlibat?
81 Ch. 81 : Siapa Pembunuh Gadis Perawat?
82 Ch. 82 : Memikirkan Strategi
83 Ch. 83 : Teka-Teki Black Shadow
84 Ch. 84 : Black Shadow Terluka
85 Ch. 85 : Cecaran Kei
86 Ch. 86 : Topeng
87 Ch. 87 : Jawaban Atas Teka-Teki
88 Ch. 88 : Menanti Black Shadow
89 Ch. 89 : Konflik Sesungguhnya akan Dimulai
90 Ch. 90 : Arti Keadilan
91 Ch. 91 : Mr. White Terendus?
92 Ch. 92 : Terungkap, Black Shadow adalah Rai?
93 Ch. 93 : Apa yang Sebenarnya Terjadi?
94 Ch. 94 : Konspirasi!
95 Ch. 95 : Kepolisian Bertindak
96 Ch. 96 : Pencarian Tuan Matsumoto
97 Ch. 97 : Rai Pergi
98 Ch. 98 : Black Shadow vs Black Shadow Palsu
99 Ch. 99 : Tangisan Seina
100 Ch. 100 : Ke mana Rai?
101 Ch. 101 : Menambah Kekuatan
102 Ch. 102 : Kejujuran Rai
103 Ch. 103 : Megumi Jun
104 Ch. 104 : Terungkap!
105 Ch. 105 : Membentuk Tim
106 Ch. 106 : Sepakat Bergabung
107 Ch. 107 : Bagaimana Nasib Yuta?
108 Ch. 108 : Membuka Tabir Misteri
109 Ch. 109 : Dihadapkan Sebuah Pilihan
110 Ch. 110 : Setangkai Camelia Kering
111 Ch. 111 : Dari Balik Jendela
112 Ch. 112 : Mr. White dan Black Shadow Bubar?
113 Ch. 113 : Dikhianati Kemudian Mengkhianati
114 Ch. 114 : Menjadi Obat Penawar Luka
115 Ch. 115 : Menenangkan Hati
116 Ch. 116 : Kembali Menjadi Rai yang Dulu?
117 Ch. 117 : Love, be Loved. Leave, be Left
118 Ch. 118 : Siapakah Target Tim Rai?
119 Ch. 119 : Belajarlah dari Kerang!
120 PENGUMUMAN
121 ch. 120 : Aku Sudah Terbiasa
122 Ch. 121 : Secret File
123 Ch. 122 : Kubu Shohei vs Kubu Rai
124 Ch. 123 : Pelaku yang Sama?
125 Ch. 124 : Tokyo Kacau!
126 Ch. 125 : Apa yang Terjadi di Safe Room?
127 Ch. 126 : Kilas Balik
128 Ch. 127 : Situasi yang Terbaca
129 Ch. 128 : Kembalinya Black Shadow
130 Ch. 129 : Tumbal Politik?
131 Ch. 130 : Serangan Balik dari Kazuya Toda
132 Ch. 131 : Negosiasi
133 Ch. 132 : Keputusan Shohei
134 Ch. 133 : Untuk Sebentar Saja ....
135 Ch. 134 : Apa Peran Ai Otaka?
136 Intermezzo Karakter Tokoh
137 Ch. 135 : Mengungkap Misteri
138 Ch. 136 : Meninggal Dunia
139 Ch. 137 : Saksi Kunci Terakhir
140 Ch. 138 : Yuta Menyadari
141 Ch. 139 : Aishiteru
142 Ch. 140 : Aku Akan Kembali
143 ch. 141: Suki Desu
144 ch. 142 : Tertembak
145 Ch. 143: Laptop dan Flashdisk
146 Ch. 144 : Apa isi flashdisk?
147 Ch. 145 : Kejadian Sebenarnya
148 ch. 146 : Saatnya Bangkit
149 Ch. 147 : Perjuangan Terakhir. Berhasilkah?
150 Ch. 148 : Reaksi Publik
151 Ch. 149 : Menilik Aksi di Belakang Layar
152 Ch. 150 : Ketika Kehancuran Datang
153 Ch. 151 : Bagaimana Nasib Rai dan Shohei Setelah ini?
154 Ch. 152 : Akan Ada Masanya
155 Ch. 153 : Senja di Musim Gugur
156 Ch. 154 : Memulai dari Awal
157 Ch 155 : Tak Seperti Bunga Camelia
158 Sayonara!
159 Kei Ayano : Sang Jurnalis part 1
160 Kei Ayano : Sang Jurnalis Part 2
161 Kei Ayano : Sang Jurnalis part 3
162 Kei Ayano : Sang Jurnalis Part 4
163 Pengumuman novel
Episodes

Updated 163 Episodes

1
Ch. 1 : Mr. White and Black Shadow
2
Ch. 2 : Kencan Buta
3
Ch. 3 : Akan Bertunangan?
4
Ch. 4 : Gadis Pencopet
5
Ch. 5 : Pendongeng Handal
6
Ch. 6 : Terus Dicurigai
7
Ch. 7 : Terbawa Suasana
8
Ch. 8 : Black Shadow Comeback
9
Ch. 9 : Pencarian Harta Karun
10
Ch. 10 : Dokter Menakutkan
11
Ch. 11 : Penguntit
12
Ch. 12 : Tak Takut Jatuh Hati
13
Ch. 13 : Tak Dipercaya
14
Ch. 14 : Terus Disangka Pembual
15
Ch. 15 : Melancarkan Serangan
16
Ch. 16 : Beruntung Memilikinya
17
Ch. 17 : Hukum Tebang Pilih
18
Ch. 18 : Cara Memanggil yang Tepat
19
Ch. 19 : Hati yang Seakan Terbakar
20
Ch. 20 : Di Puncak Gedung
21
Ch. 21 : Aksi Kali Ini, Berhasilkah?
22
Ch. 22 : The Phantom of Love
23
Ch. 23 : Berganti Selera
24
Ch. 24 : Salah Paham Berkelanjutan
25
Ch. 25 : Siap Bertunangan
26
Ch. 26 : Kasus di Balik Kasus
27
Ch. 27 : Dihantui Rasa Bersalah
28
Ch. 28 : Tak Ingin Bersaing Dengannya
29
Ch. 29 : Perempuan di Kehidupan Mereka
30
Ch. 30 : Mencintai dan Dicintai
31
Ch. 31 : Camelia Berdarah
32
Ch. 32 : Shohei Kritis?
33
Ch. 33 : Black Shadow Tanpa Mr. White?
34
Ch. 34 : Lawan yang Kuat
35
Ch. 35 : Konfrontasi
36
Ch. 36 : Black Shadow disekap?
37
Ch. 37 : Kilas Balik
38
Ch. 38 : Menjebak dengan Cara yang Menyenangkan
39
Ch. 39 : Tak Kuasa Menahan Geliat Hati
40
Ch. 40 : Unpredictable Kiss
41
Ch. 41 : Saling Memendam
42
Ch. 42 : Nama yang Tak Terdeteksi
43
Ch. 43 : Makanan Kemasan
44
Ch. 44 : Polisi Pindahan
45
Ch. 45 : Mencicipi Makanan
46
Ch. 46 : Suara yang Tak Asing
47
Ch. 47 : Target Selanjutnya
48
Ch. 48 : Pertemuan Rai dan Seina
49
Ch. 49 : Apa yang Dilihat Kei?
50
Ch. 50 : Aksi Kejar-kejaran
51
Ch. 51 : Belajar Teknik Berciuman
52
Ch. 52 : Nasib Shohei di Tangan Kei?
53
Ch. 53 : Apa Tujuan Kei?
54
Ch. 54 : Menonton Bersama
55
Ch. 55 : Terjebak Dalam Kamar
56
Ch. 56 : Rai Tergoda?
57
Ch. 57 : Regu Penembak Jitu
58
Ch. 58 : Siapa Musuh Sebenarnya?
59
Ch. 59 : Siapa Target Kesepuluh?
60
Ch. 60 : Pria Perusak Jantung
61
Ch. 61 : Membatalkan Pertunangan?
62
Ch. 62 : Peringatan dari Kei
63
Ch. 63 : Memastikan Perasaan
64
Ch. 64 : Black Shadow adalah Bayangan Shohei
65
Ch. 65 : Pergi Membawa Rasa Bersalah
66
Ch. 66 : Gagal Romantis
67
Ch. 67 : Misteri Sarung Tangan
68
Ch. 68 : Sulit Untuk Dimaafkan
69
Ch. 69 : Tujuan Hidup
70
Ch. 70 : Reaksi Tuan Matsumoto
71
Ch. 71 : Masih Tanda Tanya
72
Ch. 72 : Target Kesembilan
73
Ch. 73 : Pemandu Kencan
74
Ch. 74 : Pemandu Kencan part 2
75
Ch. 75 : Tak Sesuai Skenario
76
Ch. 76 : Ingin Lebih Lama Bersama
77
Ch. 77 : Pandanganku Hanya Tertuju Padamu
78
Ch. 78 : Tangisan Pilu Untuk Pria Lain
79
Ch. 79 : Kasus yang Tak Terungkap
80
Ch. 80 : Apakah Menteri Kehakiman Terlibat?
81
Ch. 81 : Siapa Pembunuh Gadis Perawat?
82
Ch. 82 : Memikirkan Strategi
83
Ch. 83 : Teka-Teki Black Shadow
84
Ch. 84 : Black Shadow Terluka
85
Ch. 85 : Cecaran Kei
86
Ch. 86 : Topeng
87
Ch. 87 : Jawaban Atas Teka-Teki
88
Ch. 88 : Menanti Black Shadow
89
Ch. 89 : Konflik Sesungguhnya akan Dimulai
90
Ch. 90 : Arti Keadilan
91
Ch. 91 : Mr. White Terendus?
92
Ch. 92 : Terungkap, Black Shadow adalah Rai?
93
Ch. 93 : Apa yang Sebenarnya Terjadi?
94
Ch. 94 : Konspirasi!
95
Ch. 95 : Kepolisian Bertindak
96
Ch. 96 : Pencarian Tuan Matsumoto
97
Ch. 97 : Rai Pergi
98
Ch. 98 : Black Shadow vs Black Shadow Palsu
99
Ch. 99 : Tangisan Seina
100
Ch. 100 : Ke mana Rai?
101
Ch. 101 : Menambah Kekuatan
102
Ch. 102 : Kejujuran Rai
103
Ch. 103 : Megumi Jun
104
Ch. 104 : Terungkap!
105
Ch. 105 : Membentuk Tim
106
Ch. 106 : Sepakat Bergabung
107
Ch. 107 : Bagaimana Nasib Yuta?
108
Ch. 108 : Membuka Tabir Misteri
109
Ch. 109 : Dihadapkan Sebuah Pilihan
110
Ch. 110 : Setangkai Camelia Kering
111
Ch. 111 : Dari Balik Jendela
112
Ch. 112 : Mr. White dan Black Shadow Bubar?
113
Ch. 113 : Dikhianati Kemudian Mengkhianati
114
Ch. 114 : Menjadi Obat Penawar Luka
115
Ch. 115 : Menenangkan Hati
116
Ch. 116 : Kembali Menjadi Rai yang Dulu?
117
Ch. 117 : Love, be Loved. Leave, be Left
118
Ch. 118 : Siapakah Target Tim Rai?
119
Ch. 119 : Belajarlah dari Kerang!
120
PENGUMUMAN
121
ch. 120 : Aku Sudah Terbiasa
122
Ch. 121 : Secret File
123
Ch. 122 : Kubu Shohei vs Kubu Rai
124
Ch. 123 : Pelaku yang Sama?
125
Ch. 124 : Tokyo Kacau!
126
Ch. 125 : Apa yang Terjadi di Safe Room?
127
Ch. 126 : Kilas Balik
128
Ch. 127 : Situasi yang Terbaca
129
Ch. 128 : Kembalinya Black Shadow
130
Ch. 129 : Tumbal Politik?
131
Ch. 130 : Serangan Balik dari Kazuya Toda
132
Ch. 131 : Negosiasi
133
Ch. 132 : Keputusan Shohei
134
Ch. 133 : Untuk Sebentar Saja ....
135
Ch. 134 : Apa Peran Ai Otaka?
136
Intermezzo Karakter Tokoh
137
Ch. 135 : Mengungkap Misteri
138
Ch. 136 : Meninggal Dunia
139
Ch. 137 : Saksi Kunci Terakhir
140
Ch. 138 : Yuta Menyadari
141
Ch. 139 : Aishiteru
142
Ch. 140 : Aku Akan Kembali
143
ch. 141: Suki Desu
144
ch. 142 : Tertembak
145
Ch. 143: Laptop dan Flashdisk
146
Ch. 144 : Apa isi flashdisk?
147
Ch. 145 : Kejadian Sebenarnya
148
ch. 146 : Saatnya Bangkit
149
Ch. 147 : Perjuangan Terakhir. Berhasilkah?
150
Ch. 148 : Reaksi Publik
151
Ch. 149 : Menilik Aksi di Belakang Layar
152
Ch. 150 : Ketika Kehancuran Datang
153
Ch. 151 : Bagaimana Nasib Rai dan Shohei Setelah ini?
154
Ch. 152 : Akan Ada Masanya
155
Ch. 153 : Senja di Musim Gugur
156
Ch. 154 : Memulai dari Awal
157
Ch 155 : Tak Seperti Bunga Camelia
158
Sayonara!
159
Kei Ayano : Sang Jurnalis part 1
160
Kei Ayano : Sang Jurnalis Part 2
161
Kei Ayano : Sang Jurnalis part 3
162
Kei Ayano : Sang Jurnalis Part 4
163
Pengumuman novel

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!