Rai dan Shohei duduk bersebelahan di meja makan, sedangkan Yuriko duduk di hadapan kedua pria itu. Yuriko menatap takjub pada menu makan malam mereka. Bagaimana tidak, itu adalah menu makanan kelas atas.
"Wow, apa benar ini daging Wagyu?" tanya Yuriko sambil memerhatikan daging itu dari segala sisi.
"Tentu saja," jawab Rai cepat.
"Pak Polisi kau sangat baik mau membawakan kami daging Wagyu dan anggur putih." Yuriko menyangka jika menu tersebut berasal dari Shohei.
"Bukan aku. Tapi daging ini buatan Rai," ucap Shohei.
"Benarkah?" Mata Yuriko membesar tak percaya.
"Heh, sudah kubilang dulunya aku ini orang kaya. Makanan seperti ini sudah biasa kumakan," ucap Rai menyombongkan diri.
Yuriko mengangkat bibir atasnya, memberi seringai lebar. "Paling juga kau menghabiskan seluruh gajimu untuk membeli ini semua," sangka Yuriko masih tak percaya.
"Ya, sudah, tidak usah berdebat. Mari kita makan saja," ajak Shohei.
"Itadakimasu," ucap mereka bertiga sambil menangkupkan tangan.
Ketika baru saja mengambil pisau dan garpu, Yuriko teringat jika ia sama sekali belum memperkenalkan diri pada polisi yang berada di depannya itu. Sontak, ia langsung memegang tangan kanan Shohei yang sontak membuat pria itu terhenyak.
"Namaku Aizawa Yuriko umurku dua puluh dua tahun, aku berasal dari desa Ine, di Kyoto," ucap Yuriko memperkenalkan dirinya di hadapan pria itu dengan penuh semangat.
"Hei, kita sedang tidak mengadakan wawancara melamar kerja!" ketus Rai.
Shohei yang terlonjak, hanya bisa mengulas senyum tipis sembari menatap tangan Yuriko yang menggenggam erat tangannya.
"So desu ne (oh, begitu?)," ucap Shohei memasang raut bingung.
Masih belum melepaskan tangan Shohei, Yuriko kembali berkata, "Ibuku seorang nelayan, dan ayahku mantan polisi."
Mata Shohei membulat seketika. "Mantan polisi?"
Sementara, Rai langsung tertawa kecil seraya membuang muka. "Benar-benar pendongeng handal!" gumamnya mencela.
"Iya aku tidak bohong, ayahku mantan polisi," pungkas Yuriko pada Rai. Ia kembali menatap Shohei. "Ayahku kecelakaan saat bertugas. Kedua kakinya diamputasi, jadi dia harus berhenti. Dan itu terjadi saat aku masih sangat kecil. Karena ayahku lumpuh, aku sering dirundung teman-teman sekolahku hingga membuatku tidak tahan. Aku bertekad meraih beasiswa untuk kuliah di Tokyo. Untungnya, aku termasuk siswa yang cerdas jadi aku mendapatkan beasiswa di Universitas Keio. Tinggal di Tokyo benar-benar membuatku senang, karena aku mempunyai banyak kawan tanpa takut mereka tahu latar belakang keluargaku," ucap Yuriko menggebu-gebu dengan pancaran mata yang berbinar dan senyum merekah. Meskipun tetap ada kesedihan yang sedang berusaha ia tutupi.
"Apa kau yakin benar-benar senang dengan kehidupanmu di Tokyo? Apakah kesenangan yang kau maksud itu mendapatkan banyak teman dengan cara berusaha mengikuti gaya hidup mereka dan memalsukan latar belakangmu?" Rai melempar sindiran pedas secara tiba-tiba.
"Apa maksudmu?!" Yuriko meninggikan nada suaranya karena tersinggung dengan ucapan pria itu.
Shohei yang masih bingung kenapa Yuriko tiba-tiba menceritakan segalanya padanya, lantas berkata, "Kau pasti sudah melewati banyak hal yang tak menyenangkan selama ini. Apa pun itu, mohon jangan membenci ayahmu dan profesinya dulu."
Suara lembut Shohei yang mengalun di telinganya, benar-benar membuat emosinya yang tersulut karena Rai menjadi meredam. "Tidak. Sama sekali tidak." Yuriko menggeleng, "aku justru selalu mengagumi polisi. Ketika aku melihat mereka, aku membayangkan suatu saat nanti bisa melihat ayahku memakai seragam itu lagi. Aku juga mengagumimu, aku sangat kagum padamu sejak kita pertama kali bertemu."
Kalimat terakhir yang diucapkan Yuriko membuat Shohei makin bingung dan menjadi salah tingkah. "Arigatou. Hajimemashite, aku Yamazaki Shohei."
"Yamazaki-san, panggil aku Yuriko atau Yuri," pinta Yuriko penuh antusias.
Shohei tergemap, "Hah?" Pria itu tertawa kecil lalu berkata, "Baiklah, Yuriko-san."
Yuriko menggeleng cepat. "Aku lebih suka jika kau memanggilku Yuriko-chan."
Shohei kembali tertawa kecil. "Yuriko-chan, panggil aku Shohei. Karena kau adalah temannya Rai, maka kau juga menjadi temanku."
"Benarkah?" Mata Yuriko makin berbinar-binar. Sepanjang menyantap hidangan, ia terus berbicara dengan pria berkacamata itu. Bahkan tak segan menanyakan hobi dan makanan favoritnya.
Sementara, Rai yang hanya diam sedari tadi, kini meletakkan garpu dan pisau makannya di atas meja. Ia menepi dan memilih duduk di pinggir jendela. Menyaksikan salju yang turun lebat, dengan sebatang rokok yang terapit di mulutnya. Sesekali, matanya menoleh ke arah Yuriko dan Shohei terus mengobrol. Aneh, hanya melihat mereka akrab hatinya seakan terbakar.
Entah apa yang membuatnya kesal. Apakah karena mereka cepat akrab? Ia diabaikan? Atau karena Yuriko berterus terang tentang kehidupannya yang sebenarnya pada Shohei yang bahkan ia pun tak pernah tahu? Entahlah ... yang pasti telinga Rai makin memanas mendengar suara tawa gadis itu di sela-sela obrolan mereka.
"Sebenarnya dulu aku masuk polisi atas permintaan ayahku. Aku benar-benar tidak siap, karena saat bersekolah dulu aku termasuk siswa yang lemah secara fisik. Lagi pula aku merasa ini seperti profesi turun temurun di keluargaku. Tapi, begitu seragam itu terpasang pertama kali di badanku, aku jadi sangat mencintai profesiku dan segala yang berbau penyelidikan," jelas Shohei menceritakan pengalamannya masuk polisi.
"Sugoi! Seandainya kau tak jadi polisi, kira-kira kau ingin jadi apa?" tanya Yuriko.
"Sebenarnya aku ingin mengambil jurusan Sains dan Teknologi. Dulu aku sering mengikuti olimpiade fisika, jadi kupikir itu akan sesuai dengan dasar saat aku masih bersekolah," tutur Shohei.
"Kenapa kita bisa sama? Aku juga kuliah di jurusan Sains dan Teknologi. Kalau begitu kau pasti menguasai rumus-rumus fisika yang sukar. Kapan-kapan aku boleh bertanya padamu, ya?" Yuriko kembali memegang kedua tangan Shohei hingga membuat pria itu gelagapan.
Rai yang masih memantau di sudut ruangan, semakin menunjukkan raut wajah kesal. Bibirnya secara tak sadar mempersendakan apa yang sedang diucapkan Yuriko diikuti mata yang mendelik ke atas. Meski begitu, ia menampik jika menyebut dirinya sedang cemburu.
"Oh, iya, Yuriko-chan. Apa di kampusmu ada mahasiswa yang sangat mencolok?" Shohei mengubah topik pembicaraan secara mendadak.
"Maksudmu?" Yuriko mengernyitkan dahi.
"Maksudku ... apa ada sekelompok mahasiswa yang terlihat berkuasa di kampus?" selidik Shohei.
Yuriko memalingkan pandangan seraya berpikir. "Ah, aku ingat. Ada satu orang yang selalu menunjukkan kekuatannya di kampus. Dia selalu merundung mahasiswa baru dan juga terlibat perkelahian dengan beberapa dosen. Tapi anehnya rektor tak berani melakukan tindakan apa pun. Aku tidak mengenalnya, tapi kata orang-orang dia anak Wakil Ketua Senat."
Mata Shohei memicing tajam seketika. Ia menoleh ke arah Rai yang juga menatapnya. Kedua pria itu tersenyum sembari melempar tatapan penuh arti.
Tak terasa, waktu telah menunjukkan pukul dua belas malam. Shohei pamit pulang setelah salju berhenti turun. Rai dan Yuriko mengantar kepergian Shohei hingga di depan pintu. Mata Yuriko tak lepas memandang punggung Shohei, bahkan ketika siluet pria itu telah menghilang.
"Oh, Pak Polisi yang ramah. Mohon tangkap hatiku," ucap Yuriko dengan sebelah tangan yang memegang dada.
"Hoooeekk." Rai memperagakan gaya orang muntah saat mendengar perkataan Yuriko.
Yuriko menoleh ke samping, menatap bibir Rai yang mengembung. "Hei, ada apa dengan mukamu itu?" tanya gadis itu sambil mengangkat bibir atasnya.
Rai langsung melebarkan senyumnya seraya berkata, "Oh, tidak apa-apa. Omong-omong, aku sudah memperkenalkan kau pada Shohei, apa tak ada sesuatu yang ingin kau berikan padaku sebagai ucapan terima kasih?" Rai mendekatkan tubuhnya ke arah Yuriko. Ia juga menyandarkan sebelah tangannya di pintu apartemen gadis itu. "Kau dengar sendiri, kan, apa yang dikatakan Shohei tadi. Karena kau adalah temannya Rai, maka kau juga menjadi temanku," sambungnya sambil menirukan gaya bicara Shohei.
"Ah, benar juga, ya? Memangnya kau mau apa dariku?" tanya Yuriko yang mendadak ramah pada Rai.
Kali ini Rai turut mendekatkan wajahnya. "Aku tidak keberatan jika kau mau mengucapkan terima kasih lewat ciuman," ucap Rai sambil meletakkan jari telunjuk di bibirnya yang sensual.
"Oh, kalau itu sudah pasti aku mau!" Yuriko melebarkan senyum hingga sepasang matanya menyipit.
"Benarkah?" Rai mendadak bersemangat, "Kalau begitu kita mulai saja," ucap Rai seraya memiringkan kepala diikuti dengan wajah yang mulai maju ke arah gadis itu. Namun, tepat saat ia memejamkan mata, telapak tangan Yuriko justru memenuhi wajahnya dan mendorong kepalanya ke belakang.
"Maksudku tadi adalah sudah pasti aku mau meludahmu!" ucap Yuriko seraya melototkan mata seperti burung hantu. Ia langsung masuk ke apartemennya sambil membanting pintu hingga membuat Rai terkejut.
"Ayahmu pasti akan merasa kecewa saat tahu anaknya sering mencopet dan mengaku sebagai orang kaya demi mendapat pengakuan orang banyak," teriak Rai kesal.
Yuriko terdiam dari balik pintu. Jujur, ucapan Rai sungguh menohoknya.
.
.
.
bagaimana aksi Black Shadow selanjutnya? nantikan next chapter 😉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
liesae
yuriko yang sedikit urakan shohei yg kalem ,,cocok kyaknya😅
2024-08-28
1
sakura🇵🇸
ini lagi winter rai...harusnya kau membeku bukan kevanasaaan🤣🤣🤣🤣
panas dalam ya🫢
2023-03-15
0
ₕₒₜ cₕₒcₒₗₐₜₑ
gak tau komen ini bakal dibaca pa gak ma kak yu,tapi tanganq gatal pingin komen🤭
baca part ini,q jadi inget ma ken,yu dan yuri,saat yuri mengejar2 yu sementara ken ngejar2 yuri.persis seperti yuriko yang ngejar2 sohei,sementara rai mulai menyukai yuriko.bedanya rai terlalu gengsi untuk mengakui perasaannya ke yuriko bahkan pada diri sendiri,sementara ken gak gengsi sama sekali buat nyatai perasaan sukanya ke yuri meski berkali2 ditolak.
q selalu suka karyamu kak yu ....❤️❤️
2022-11-26
0