Apa ini? Kenapa ranjangnya hanya satu? Apakah itu artinya ... aku dan Seina akan tidur seranjang?
Shohei bergumam dalam hati sambil membelakangi pintu. Jantungnya mulai berdetak tak karuan. Bola matanya bergerak ke sana-kemari tak tentu arah. Bahkan, napasnya tertahan seakan sedang berada dalam air.
"Ada apa?" Suara Seina yang datang dari arah samping membuat bahu pria itu bergidik.
Kenapa Seina santai begitu, ya? Apa dia sudah siap tidur seranjang denganku?
"Aku ... aku mau ke kamar mandi dulu," ucap Shohei terbata-bata sambil menyeret langkahnya ke samping, seolah hendak kabur dari sisi Seina.
"Kenapa ke toilet umum? Di kamar kita kan ada toilet juga."
"O ... a ... em ... iya, ya?" Shohei memegang tengkuk lehernya sambil mengangguk-angguk bodoh. "Kalau begitu ... aku mau ke kamar mandi dulu," ucapnya sambil menunjuk toilet yang berada dalam kamar dan berjalan dengan tergesa-gesa.
Di kamar mandi, Shohei malah berjalan ke sana-kemari. Jujur, dia seorang pria dewasa yang tidak punya pengalaman apa pun terhadap sebuah hubungan lawan jenis. Hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk pekerjaan. Sekarang, apa yang harus dia lakukan bersama kekasihnya?
"Tenanglah! Tenanglah! Tidur sekamar bukan berarti harus melakukan itu, kan? Lagi pula ini sudah larut, pasti Seina sangat kelelahan dan langsung tidur," gumam Shohei di depan cermin sambil tersenyum. Ia menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskan dengan kasar.
Baru saja hendak membuka pintu toilet, napas Shohei kembali tertahan diikuti mata yang hendak meloncat keluar. Pasalnya, gadis itu telah berganti busana dengan memakai piyama satin berwarna peach yang panjangnya di atas lutut. Tak pelak, ia lantas kembali menutup pintu dan berbalik.
Ke–ke–kenapa Seina memakai baju tidur seperti itu di musim dingin?
"Shohei-kun ...."
Shohei tersentak ketika suara lembut memanggilnya di luar sana. Tangannya secara refleks membuka pintu dan keluar dari kamar mandi.
"Ya, Seina-chan!" balasnya cepat. Namun, ia kembali terhenyak ketika gadis itu berdiri di hadapannya sambil memasang wajah yang manis.
"Kawaii ne (imutnya)," ucap Shohei dalam hati sambil memegang dada yang sedari tadi berdentam hebat. Pria itu seakan bisa mendengar detakan jantungnya sendiri.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Seina yang melihat wajah kekasihnya memucat.
Shohei mengangguk cepat. "Seina-chan, sebaiknya kau duluan tidur. Ini sudah larut malam—"
"Aku belum mau tidur. Lagi pula ini kan liburan, kenapa harus secepat itu tidurnya? Oh, iya, coba tebak apa yang kubawa dari rumah!" ucap Seina dengan semangat sambil menyembunyikan sesuatu di belakang badannya.
"Selimut?"
Seina menggeleng-gelengkan kepalanya.
"E ... boneka?"
Seina masih menggelengkan kepalanya sambil mengerutkan dahi. Sementara, Shohei tampak berpikir keras sambil mencoba menebak benda apa yang akan dibawa perempuan ketika sedang bepergian.
Jangan-jangan Seina sedang ....
Tiba-tiba otaknya membersit sesuatu yang membuatnya tersenyum.
"Pembalut?"
"Hah?" Wajah Seina memberengut seketika.
"Bukan juga, ya?" Shohei menggaruk-garuk kepalanya.
Seina mengeluarkan sebuah botol dari balik badannya. "Taraaa ... aku membawa anggur putih dari rumahku."
Mata Shohei membeliak seketika. "Anggur putih?"
"Iya, kupikir cocok menemani kita berdua malam ini!" ucap Seina dengan wajah merona cerah.
Bukannya merespon, Shohei malah memutar badannya membelakangi Seina dengan mata yang masih melotot.
Apa ini? Kenapa dia malah mengajakku minum-minum di waktu begini? Bagaimana jika aku mabuk berat dan membocorkan rahasia negara padanya! Atau ... bagaimana jika aku mengatakan sesuatu tentang Black Shadow.
"Shohei-kun!" panggil Seina kembali.
Saat menoleh ke samping, Shohei tersentak karena gadis itu telah berada di sampingnya.
"Seina-chan, entah kenapa perutku tiba-tiba mulas. Jadi, aku ingin balik ke kamar mandi lagi." Tanpa melihat gadis itu, Shohei langsung beringsut kembali ke toilet.
Seina mengernyit bingung melihat gelagat aneh kekasihnya itu. "Dia bilang perutnya mulas, tapi kenapa dia memegang dadanya," gumam gadis itu sambil mencebikkan bibir.
Di toilet, Shohei berdiri di depan cermin wastafel sambil memukul-mukul kedua pipinya.
Ada apa dengan diriku? Aku sering menginterogasi wanita, menangkap pembunuh berantai, berlawanan langsung dengan Yakuza, bahkan pernah dihadapkan dengan mata pistol yang berada tepat di kepalaku, tapi tidak pernah segemetar ini.
Tiba-tiba ia teringat Rai. Ya, hanya Rai yang bisa membantunya saat ini. Sebab, pria itu sangat berpengalaman terhadap wanita. Ia bahkan pernah bercerita telah menghadapi segala macam tipe-tipe wanita.
Tak mau buang waktu, ia bergegas mengambil ponsel yang tersimpan di dalam saku lalu menelepon Rai.
"Moshi-moshi ...."
"Rai, ini aku."
"Ada apa malam-malam begini meneleponku," ucap Rai diiringi suara menguap.
"Sekarang, aku dan pacarku sudah sampai di tempat liburan."
"Oh, kalau begitu selamat bersenang-senang!"
"Ett ... tunggu dulu! Sekarang aku dan dia sedang berada di kamar yang sama," ucap Shohei berbisik-bisik.
"Lalu, masalahnya di mana?"
"Dia memakai baju tidur—"
"Tidur memang harus memakai baju tidur, kan? Memangnya pernah ada yang memakai baju renang?" imbuh Rai memotong pembicaraan Shohei.
"Bukan! Bukan! Yang ini bajunya sedikit terbuka."
"Apa itu sejenis lingerie?" Rai mendadak terdengar bersemangat.
"Mungkin. Aku tidak mengerti dengan istilah fashion wanita."
"Hhmm ... aku bisa menerawang."
"Menerawang apa?"
"Menerawang isinya."
"Hush! Jangan berpikiran liar terhadap kekasihku!"
"Aku tidak berpikiran mesum. Maksudku, aku bisa menerawang isi pikiran kekasihmu saat ini."
"Begitukah? Oh, iya, dia ngajakku minum-minum sekarang!"
"Ah, sudah sangat jelas, ini sebuah kode!"
"Kode? Apa maksudmu?"
"Itu artinya dia menginginkan kalian bertempur malam ini."
"Apa?! Bertempur?" Mata Shohei terbelalak.
"Iya, tunggu apa lagi. Cepat serang dia sekarang juga. Buat dia lumpuh dan tak berkutik!" seru Rai penuh semangat.
"Tapi, aku tidak membawa senjata!"
"Bukan bertempur seperti itu, Baka! Kau cukup menggunakan senjata yang ada di pangkal pahamu."
"Iya, iya, aku mengerti. Maksudku, aku tidak membawa alat pelindung."
Rai menghela napas. "Tidak bawa atau memang tidak pernah punya?" terka pria itu diiringi nada mengejek.
"Itu masalahnya! Aku belum pernah melakukannya dengan wanita manapun," ucap Shohei menutup mata dalam-dalam karena malu.
"Ckckck ... kasihan sekali! Ya, sudah. Tidak pakai pelindung juga tidak apa-apa. Bukankah kalian juga akan bertunangan dan menikah?"
"Ta–tapi, bukankah ini terlalu cepat?"
"Apanya yang terlalu cepat? Apa kau mau ada lelaki lain yang lebih dulu menyentuhnya?"
"Tentu saja tidak!" jawab Shohei cepat.
Di sisi lain, Seina justru semangat menyiapkan dua buah gelas kristal bertangkai bersama sebotol anggur putih di atas meja. Ia juga mematikan lampu kamar dan menghidupkan lilin-lilin aroma terapi untuk menciptakan suasana romantis di kamar itu. Dia bahkan menyemprotkan wewangian di tubuhnya.
Sebenarnya, semua ini merupakan ide dan saran yang ia dapatkan dari teman-temannya. Sebab, ia sudah lama menginginkan kencan romantis dan indah yang tak terlupakan. Beruntungnya, pria yang menjadi kekasihnya memang sesuai kriterianya selama ini.
"Apakah Shohei-kun akan menyukai semua ini?" gumam Seina sambil duduk bersila di depan meja kecil. Ia meremas ujung bajunya karena sedikit gugup. Untungnya, ia bisa menyembunyikan rasa gugup itu di hadapan Shohei.
Sejenak, Seina melirik ke arah botol anggur di hadapannya. Ia menuang anggur tersebut ke dalam gelasnya lalu menyesap dengan perlahan.
"Oishi!" ucap Seina begitu anggur itu mengalir di tenggorokannya.
Tak lama kemudian, Shohei pun keluar dari toilet. Pria itu mengendap-endap berjalan ke arah Seina.
"Seina-chan, bisakah kau menunggu sebentar saja? Aku ingin berganti pakaian," ucap Shohei sambil mengambil setelan pajamas tidur dari tas travel yang dibawanya.
Seina mengangguk sambil mengangkat gelas berisi anggur. "Ya, lakukan saja."
Shohei bergegas kembali ke toilet untuk yang ke sekian kalinya. Kali ini ia masuk bukan melarikan diri dari rasa gugup lagi, tapi karena ingin melakukan persiapan untuk lebih intim bersama Seina. Ia bergegas berganti pakaian dengan pajamas tidurnya yang berwarna abu-abu. Ia juga menyemprotkan parfum andalannya ke seluruh tubuh dan menyisir rambut.
"Apa napasku masih segar?" gumamnya sambil meniupkan uap mulutnya di depan telapak tangan. Merasa kurang yakin, ia buru-buru mengambil obat kumur dan memakainya.
Di luar, Seina menyilangkan tangannya di depan dada saat hawa dingin mulai mengusiknya. Mendadak ia teringat kejadian beberapa jam lalu, tepatnya saat bertemu dengan sosok pria bertopeng yang kembali menciumnya. Tanpa sadar, ia kembali memegang bibirnya seiring adegan ciuman itu terekam kembali di otaknya bagaikan sebuah potongan film.
Seina langsung menutup mata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kenapa dia harus memikirkan hal itu di saat sedang kencan romantis dengan kekasihnya? Bukankah itu hanya kejadian yang tak disangka? Bukankah ciuman itu terjadi karena sebuah paksaan?
Rasa bersalah tiba-tiba membelenggu dirinya seiring ingatan itu terus menusuk-nusuk pikirannya. Ia kembali mengambil anggur putih dan menenggak langsung dari botolnya.
Lima belas menit kemudian, Shohei masih berdiri di depan wastafel sambil berkali-kali mengambil napas. Jika keseluruhan waktu digabungkan, maka dia telah berada di dalam toilet selama hampir satu jam.
"Yosh! Aku pasti bisa," ucapnya meyakinkan diri di depan cermin.
Setelah benar-benar siap, akhirnya ia memutuskan keluar dari toilet. Tatapannya langsung tertuju pada Seina yang duduk membelakanginya.
Tenang, pelan-pelan saja!
Shohei mendekat, memosisikan duduk di samping kekasihnya.
"Ehem ... dingin, ya?" ucap Shohei dengan tatapan lurus ke depan. Tubuhnya bergeser sedikit demi sedikit agar lebih dekat dengan gadis itu. Saat ujung jari mereka bersentuhan, pria itu merasakan tubuhnya seperti tersengat aliran listrik.
Tenang ... jangan gugup!
Shohei memiringkan sedikit kepala sambil kembali berkata, "Seina-chan, bagusnya kita mulai dari mana, ya?"
Tanpa berkata, Seina langsung menjatuhkan kepalanya di pundak Shohei.
Apakah ini sebuah kode kalau dia ingin aku segera menyerangnya?
Shohei memberanikan diri menggenggam tangan Seina yang dingin. Ia menarik napas sejenak, lalu mengembuskan secara perlahan.
Aku pasti bisa melancarkan serangan! Ganbatte!
Baru saja ia memiringkan kepala, kelopak matanya langsung terbuka lebar kala melihat kekasihnya itu telah tertidur dengan botol anggur yang telah kosong di tangannya.
.
.
.
Shohei yang dulu
Shohei yang sekarang
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
Nadya
kata Shohei, Alhamdulillah saya selamat
2024-09-19
1
Nadya
Wkwkw kasihan babang sholehku yg polos
2024-09-19
0
ㅤㅤㅤㅤ😻Kᵝ⃟ᴸ⸙ᵍᵏ نَيْ ㊍㊍🍒⃞⃟🦅😻
jantungnya gak aman gegara dirimu seina🤣
2023-11-21
1