Ch. 15 : Melancarkan Serangan

Apa ini? Kenapa ranjangnya hanya satu? Apakah itu artinya ... aku dan Seina akan tidur seranjang?

Shohei bergumam dalam hati sambil membelakangi pintu. Jantungnya mulai berdetak tak karuan. Bola matanya bergerak ke sana-kemari tak tentu arah. Bahkan, napasnya tertahan seakan sedang berada dalam air.

"Ada apa?" Suara Seina yang datang dari arah samping membuat bahu pria itu bergidik.

Kenapa Seina santai begitu, ya? Apa dia sudah siap tidur seranjang denganku?

"Aku ... aku mau ke kamar mandi dulu," ucap Shohei terbata-bata sambil menyeret langkahnya ke samping, seolah hendak kabur dari sisi Seina.

"Kenapa ke toilet umum? Di kamar kita kan ada toilet juga."

"O ... a ... em ... iya, ya?" Shohei memegang tengkuk lehernya sambil mengangguk-angguk bodoh. "Kalau begitu ... aku mau ke kamar mandi dulu," ucapnya sambil menunjuk toilet yang berada dalam kamar dan berjalan dengan tergesa-gesa.

Di kamar mandi, Shohei malah berjalan ke sana-kemari. Jujur, dia seorang pria dewasa yang tidak punya pengalaman apa pun terhadap sebuah hubungan lawan jenis. Hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk pekerjaan. Sekarang, apa yang harus dia lakukan bersama kekasihnya?

"Tenanglah! Tenanglah! Tidur sekamar bukan berarti harus melakukan itu, kan? Lagi pula ini sudah larut, pasti Seina sangat kelelahan dan langsung tidur," gumam Shohei di depan cermin sambil tersenyum. Ia menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskan dengan kasar.

Baru saja hendak membuka pintu toilet, napas Shohei kembali tertahan diikuti mata yang hendak meloncat keluar. Pasalnya, gadis itu telah berganti busana dengan memakai piyama satin berwarna peach yang panjangnya di atas lutut. Tak pelak, ia lantas kembali menutup pintu dan berbalik.

Ke–ke–kenapa Seina memakai baju tidur seperti itu di musim dingin?

"Shohei-kun ...."

Shohei tersentak ketika suara lembut memanggilnya di luar sana. Tangannya secara refleks membuka pintu dan keluar dari kamar mandi.

"Ya, Seina-chan!" balasnya cepat. Namun, ia kembali terhenyak ketika gadis itu berdiri di hadapannya sambil memasang wajah yang manis.

"Kawaii ne (imutnya)," ucap Shohei dalam hati sambil memegang dada yang sedari tadi berdentam hebat. Pria itu seakan bisa mendengar detakan jantungnya sendiri.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Seina yang melihat wajah kekasihnya memucat.

Shohei mengangguk cepat. "Seina-chan, sebaiknya kau duluan tidur. Ini sudah larut malam—"

"Aku belum mau tidur. Lagi pula ini kan liburan, kenapa harus secepat itu tidurnya? Oh, iya, coba tebak apa yang kubawa dari rumah!" ucap Seina dengan semangat sambil menyembunyikan sesuatu di belakang badannya.

"Selimut?"

Seina menggeleng-gelengkan kepalanya.

"E ... boneka?"

Seina masih menggelengkan kepalanya sambil mengerutkan dahi. Sementara, Shohei tampak berpikir keras sambil mencoba menebak benda apa yang akan dibawa perempuan ketika sedang bepergian.

Jangan-jangan Seina sedang ....

Tiba-tiba otaknya membersit sesuatu yang membuatnya tersenyum.

"Pembalut?"

"Hah?" Wajah Seina memberengut seketika.

"Bukan juga, ya?" Shohei menggaruk-garuk kepalanya.

Seina mengeluarkan sebuah botol dari balik badannya. "Taraaa ... aku membawa anggur putih dari rumahku."

Mata Shohei membeliak seketika. "Anggur putih?"

"Iya, kupikir cocok menemani kita berdua malam ini!" ucap Seina dengan wajah merona cerah.

Bukannya merespon, Shohei malah memutar badannya membelakangi Seina dengan mata yang masih melotot.

Apa ini? Kenapa dia malah mengajakku minum-minum di waktu begini? Bagaimana jika aku mabuk berat dan membocorkan rahasia negara padanya! Atau ... bagaimana jika aku mengatakan sesuatu tentang Black Shadow.

"Shohei-kun!" panggil Seina kembali.

Saat menoleh ke samping, Shohei tersentak karena gadis itu telah berada di sampingnya.

"Seina-chan, entah kenapa perutku tiba-tiba mulas. Jadi, aku ingin balik ke kamar mandi lagi." Tanpa melihat gadis itu, Shohei langsung beringsut kembali ke toilet.

Seina mengernyit bingung melihat gelagat aneh kekasihnya itu. "Dia bilang perutnya mulas, tapi kenapa dia memegang dadanya," gumam gadis itu sambil mencebikkan bibir.

Di toilet, Shohei berdiri di depan cermin wastafel sambil memukul-mukul kedua pipinya.

Ada apa dengan diriku? Aku sering menginterogasi wanita, menangkap pembunuh berantai, berlawanan langsung dengan Yakuza, bahkan pernah dihadapkan dengan mata pistol yang berada tepat di kepalaku, tapi tidak pernah segemetar ini.

Tiba-tiba ia teringat Rai. Ya, hanya Rai yang bisa membantunya saat ini. Sebab, pria itu sangat berpengalaman terhadap wanita. Ia bahkan pernah bercerita telah menghadapi segala macam tipe-tipe wanita.

Tak mau buang waktu, ia bergegas mengambil ponsel yang tersimpan di dalam saku lalu menelepon Rai.

"Moshi-moshi ...."

"Rai, ini aku."

"Ada apa malam-malam begini meneleponku," ucap Rai diiringi suara menguap.

"Sekarang, aku dan pacarku sudah sampai di tempat liburan."

"Oh, kalau begitu selamat bersenang-senang!"

"Ett ... tunggu dulu! Sekarang aku dan dia sedang berada di kamar yang sama," ucap Shohei berbisik-bisik.

"Lalu, masalahnya di mana?"

"Dia memakai baju tidur—"

"Tidur memang harus memakai baju tidur, kan? Memangnya pernah ada yang memakai baju renang?" imbuh Rai memotong pembicaraan Shohei.

"Bukan! Bukan! Yang ini bajunya sedikit terbuka."

"Apa itu sejenis lingerie?" Rai mendadak terdengar bersemangat.

"Mungkin. Aku tidak mengerti dengan istilah fashion wanita."

"Hhmm ... aku bisa menerawang."

"Menerawang apa?"

"Menerawang isinya."

"Hush! Jangan berpikiran liar terhadap kekasihku!"

"Aku tidak berpikiran mesum. Maksudku, aku bisa menerawang isi pikiran kekasihmu saat ini."

"Begitukah? Oh, iya, dia ngajakku minum-minum sekarang!"

"Ah, sudah sangat jelas, ini sebuah kode!"

"Kode? Apa maksudmu?"

"Itu artinya dia menginginkan kalian bertempur malam ini."

"Apa?! Bertempur?" Mata Shohei terbelalak.

"Iya, tunggu apa lagi. Cepat serang dia sekarang juga. Buat dia lumpuh dan tak berkutik!" seru Rai penuh semangat.

"Tapi, aku tidak membawa senjata!"

"Bukan bertempur seperti itu, Baka! Kau cukup menggunakan senjata yang ada di pangkal pahamu."

"Iya, iya, aku mengerti. Maksudku, aku tidak membawa alat pelindung."

Rai menghela napas. "Tidak bawa atau memang tidak pernah punya?" terka pria itu diiringi nada mengejek.

"Itu masalahnya! Aku belum pernah melakukannya dengan wanita manapun," ucap Shohei menutup mata dalam-dalam karena malu.

"Ckckck ... kasihan sekali! Ya, sudah. Tidak pakai pelindung juga tidak apa-apa. Bukankah kalian juga akan bertunangan dan menikah?"

"Ta–tapi, bukankah ini terlalu cepat?"

"Apanya yang terlalu cepat? Apa kau mau ada lelaki lain yang lebih dulu menyentuhnya?"

"Tentu saja tidak!" jawab Shohei cepat.

Di sisi lain, Seina justru semangat menyiapkan dua buah gelas kristal bertangkai bersama sebotol anggur putih di atas meja. Ia juga mematikan lampu kamar dan menghidupkan lilin-lilin aroma terapi untuk menciptakan suasana romantis di kamar itu. Dia bahkan menyemprotkan wewangian di tubuhnya.

Sebenarnya, semua ini merupakan ide dan saran yang ia dapatkan dari teman-temannya. Sebab, ia sudah lama menginginkan kencan romantis dan indah yang tak terlupakan. Beruntungnya, pria yang menjadi kekasihnya memang sesuai kriterianya selama ini.

"Apakah Shohei-kun akan menyukai semua ini?" gumam Seina sambil duduk bersila di depan meja kecil. Ia meremas ujung bajunya karena sedikit gugup. Untungnya, ia bisa menyembunyikan rasa gugup itu di hadapan Shohei.

Sejenak, Seina melirik ke arah botol anggur di hadapannya. Ia menuang anggur tersebut ke dalam gelasnya lalu menyesap dengan perlahan.

"Oishi!" ucap Seina begitu anggur itu mengalir di tenggorokannya.

Tak lama kemudian, Shohei pun keluar dari toilet. Pria itu mengendap-endap berjalan ke arah Seina.

"Seina-chan, bisakah kau menunggu sebentar saja? Aku ingin berganti pakaian," ucap Shohei sambil mengambil setelan pajamas tidur dari tas travel yang dibawanya.

Seina mengangguk sambil mengangkat gelas berisi anggur. "Ya, lakukan saja."

Shohei bergegas kembali ke toilet untuk yang ke sekian kalinya. Kali ini ia masuk bukan melarikan diri dari rasa gugup lagi, tapi karena ingin melakukan persiapan untuk lebih intim bersama Seina. Ia bergegas berganti pakaian dengan pajamas tidurnya yang berwarna abu-abu. Ia juga menyemprotkan parfum andalannya ke seluruh tubuh dan menyisir rambut.

"Apa napasku masih segar?" gumamnya sambil meniupkan uap mulutnya di depan telapak tangan. Merasa kurang yakin, ia buru-buru mengambil obat kumur dan memakainya.

Di luar, Seina menyilangkan tangannya di depan dada saat hawa dingin mulai mengusiknya. Mendadak ia teringat kejadian beberapa jam lalu, tepatnya saat bertemu dengan sosok pria bertopeng yang kembali menciumnya. Tanpa sadar, ia kembali memegang bibirnya seiring adegan ciuman itu terekam kembali di otaknya bagaikan sebuah potongan film.

Seina langsung menutup mata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kenapa dia harus memikirkan hal itu di saat sedang kencan romantis dengan kekasihnya? Bukankah itu hanya kejadian yang tak disangka? Bukankah ciuman itu terjadi karena sebuah paksaan?

Rasa bersalah tiba-tiba membelenggu dirinya seiring ingatan itu terus menusuk-nusuk pikirannya. Ia kembali mengambil anggur putih dan menenggak langsung dari botolnya.

Lima belas menit kemudian, Shohei masih berdiri di depan wastafel sambil berkali-kali mengambil napas. Jika keseluruhan waktu digabungkan, maka dia telah berada di dalam toilet selama hampir satu jam.

"Yosh! Aku pasti bisa," ucapnya meyakinkan diri di depan cermin.

Setelah benar-benar siap, akhirnya ia memutuskan keluar dari toilet. Tatapannya langsung tertuju pada Seina yang duduk membelakanginya.

Tenang, pelan-pelan saja!

Shohei mendekat, memosisikan duduk di samping kekasihnya.

"Ehem ... dingin, ya?" ucap Shohei dengan tatapan lurus ke depan. Tubuhnya bergeser sedikit demi sedikit agar lebih dekat dengan gadis itu. Saat ujung jari mereka bersentuhan, pria itu merasakan tubuhnya seperti tersengat aliran listrik.

Tenang ... jangan gugup!

Shohei memiringkan sedikit kepala sambil kembali berkata, "Seina-chan, bagusnya kita mulai dari mana, ya?"

Tanpa berkata, Seina langsung menjatuhkan kepalanya di pundak Shohei.

Apakah ini sebuah kode kalau dia ingin aku segera menyerangnya?

Shohei memberanikan diri menggenggam tangan Seina yang dingin. Ia menarik napas sejenak, lalu mengembuskan secara perlahan.

Aku pasti bisa melancarkan serangan! Ganbatte!

Baru saja ia memiringkan kepala, kelopak matanya langsung terbuka lebar kala melihat kekasihnya itu telah tertidur dengan botol anggur yang telah kosong di tangannya.

.

.

.

Shohei yang dulu

Shohei yang sekarang

Terpopuler

Comments

Nadya

Nadya

kata Shohei, Alhamdulillah saya selamat

2024-09-19

1

Nadya

Nadya

Wkwkw kasihan babang sholehku yg polos

2024-09-19

0

ㅤㅤㅤㅤ😻Kᵝ⃟ᴸ⸙ᵍᵏ نَيْ ㊍㊍🍒⃞⃟🦅😻

ㅤㅤㅤㅤ😻Kᵝ⃟ᴸ⸙ᵍᵏ نَيْ ㊍㊍🍒⃞⃟🦅😻

jantungnya gak aman gegara dirimu seina🤣

2023-11-21

1

lihat semua
Episodes
1 Ch. 1 : Mr. White and Black Shadow
2 Ch. 2 : Kencan Buta
3 Ch. 3 : Akan Bertunangan?
4 Ch. 4 : Gadis Pencopet
5 Ch. 5 : Pendongeng Handal
6 Ch. 6 : Terus Dicurigai
7 Ch. 7 : Terbawa Suasana
8 Ch. 8 : Black Shadow Comeback
9 Ch. 9 : Pencarian Harta Karun
10 Ch. 10 : Dokter Menakutkan
11 Ch. 11 : Penguntit
12 Ch. 12 : Tak Takut Jatuh Hati
13 Ch. 13 : Tak Dipercaya
14 Ch. 14 : Terus Disangka Pembual
15 Ch. 15 : Melancarkan Serangan
16 Ch. 16 : Beruntung Memilikinya
17 Ch. 17 : Hukum Tebang Pilih
18 Ch. 18 : Cara Memanggil yang Tepat
19 Ch. 19 : Hati yang Seakan Terbakar
20 Ch. 20 : Di Puncak Gedung
21 Ch. 21 : Aksi Kali Ini, Berhasilkah?
22 Ch. 22 : The Phantom of Love
23 Ch. 23 : Berganti Selera
24 Ch. 24 : Salah Paham Berkelanjutan
25 Ch. 25 : Siap Bertunangan
26 Ch. 26 : Kasus di Balik Kasus
27 Ch. 27 : Dihantui Rasa Bersalah
28 Ch. 28 : Tak Ingin Bersaing Dengannya
29 Ch. 29 : Perempuan di Kehidupan Mereka
30 Ch. 30 : Mencintai dan Dicintai
31 Ch. 31 : Camelia Berdarah
32 Ch. 32 : Shohei Kritis?
33 Ch. 33 : Black Shadow Tanpa Mr. White?
34 Ch. 34 : Lawan yang Kuat
35 Ch. 35 : Konfrontasi
36 Ch. 36 : Black Shadow disekap?
37 Ch. 37 : Kilas Balik
38 Ch. 38 : Menjebak dengan Cara yang Menyenangkan
39 Ch. 39 : Tak Kuasa Menahan Geliat Hati
40 Ch. 40 : Unpredictable Kiss
41 Ch. 41 : Saling Memendam
42 Ch. 42 : Nama yang Tak Terdeteksi
43 Ch. 43 : Makanan Kemasan
44 Ch. 44 : Polisi Pindahan
45 Ch. 45 : Mencicipi Makanan
46 Ch. 46 : Suara yang Tak Asing
47 Ch. 47 : Target Selanjutnya
48 Ch. 48 : Pertemuan Rai dan Seina
49 Ch. 49 : Apa yang Dilihat Kei?
50 Ch. 50 : Aksi Kejar-kejaran
51 Ch. 51 : Belajar Teknik Berciuman
52 Ch. 52 : Nasib Shohei di Tangan Kei?
53 Ch. 53 : Apa Tujuan Kei?
54 Ch. 54 : Menonton Bersama
55 Ch. 55 : Terjebak Dalam Kamar
56 Ch. 56 : Rai Tergoda?
57 Ch. 57 : Regu Penembak Jitu
58 Ch. 58 : Siapa Musuh Sebenarnya?
59 Ch. 59 : Siapa Target Kesepuluh?
60 Ch. 60 : Pria Perusak Jantung
61 Ch. 61 : Membatalkan Pertunangan?
62 Ch. 62 : Peringatan dari Kei
63 Ch. 63 : Memastikan Perasaan
64 Ch. 64 : Black Shadow adalah Bayangan Shohei
65 Ch. 65 : Pergi Membawa Rasa Bersalah
66 Ch. 66 : Gagal Romantis
67 Ch. 67 : Misteri Sarung Tangan
68 Ch. 68 : Sulit Untuk Dimaafkan
69 Ch. 69 : Tujuan Hidup
70 Ch. 70 : Reaksi Tuan Matsumoto
71 Ch. 71 : Masih Tanda Tanya
72 Ch. 72 : Target Kesembilan
73 Ch. 73 : Pemandu Kencan
74 Ch. 74 : Pemandu Kencan part 2
75 Ch. 75 : Tak Sesuai Skenario
76 Ch. 76 : Ingin Lebih Lama Bersama
77 Ch. 77 : Pandanganku Hanya Tertuju Padamu
78 Ch. 78 : Tangisan Pilu Untuk Pria Lain
79 Ch. 79 : Kasus yang Tak Terungkap
80 Ch. 80 : Apakah Menteri Kehakiman Terlibat?
81 Ch. 81 : Siapa Pembunuh Gadis Perawat?
82 Ch. 82 : Memikirkan Strategi
83 Ch. 83 : Teka-Teki Black Shadow
84 Ch. 84 : Black Shadow Terluka
85 Ch. 85 : Cecaran Kei
86 Ch. 86 : Topeng
87 Ch. 87 : Jawaban Atas Teka-Teki
88 Ch. 88 : Menanti Black Shadow
89 Ch. 89 : Konflik Sesungguhnya akan Dimulai
90 Ch. 90 : Arti Keadilan
91 Ch. 91 : Mr. White Terendus?
92 Ch. 92 : Terungkap, Black Shadow adalah Rai?
93 Ch. 93 : Apa yang Sebenarnya Terjadi?
94 Ch. 94 : Konspirasi!
95 Ch. 95 : Kepolisian Bertindak
96 Ch. 96 : Pencarian Tuan Matsumoto
97 Ch. 97 : Rai Pergi
98 Ch. 98 : Black Shadow vs Black Shadow Palsu
99 Ch. 99 : Tangisan Seina
100 Ch. 100 : Ke mana Rai?
101 Ch. 101 : Menambah Kekuatan
102 Ch. 102 : Kejujuran Rai
103 Ch. 103 : Megumi Jun
104 Ch. 104 : Terungkap!
105 Ch. 105 : Membentuk Tim
106 Ch. 106 : Sepakat Bergabung
107 Ch. 107 : Bagaimana Nasib Yuta?
108 Ch. 108 : Membuka Tabir Misteri
109 Ch. 109 : Dihadapkan Sebuah Pilihan
110 Ch. 110 : Setangkai Camelia Kering
111 Ch. 111 : Dari Balik Jendela
112 Ch. 112 : Mr. White dan Black Shadow Bubar?
113 Ch. 113 : Dikhianati Kemudian Mengkhianati
114 Ch. 114 : Menjadi Obat Penawar Luka
115 Ch. 115 : Menenangkan Hati
116 Ch. 116 : Kembali Menjadi Rai yang Dulu?
117 Ch. 117 : Love, be Loved. Leave, be Left
118 Ch. 118 : Siapakah Target Tim Rai?
119 Ch. 119 : Belajarlah dari Kerang!
120 PENGUMUMAN
121 ch. 120 : Aku Sudah Terbiasa
122 Ch. 121 : Secret File
123 Ch. 122 : Kubu Shohei vs Kubu Rai
124 Ch. 123 : Pelaku yang Sama?
125 Ch. 124 : Tokyo Kacau!
126 Ch. 125 : Apa yang Terjadi di Safe Room?
127 Ch. 126 : Kilas Balik
128 Ch. 127 : Situasi yang Terbaca
129 Ch. 128 : Kembalinya Black Shadow
130 Ch. 129 : Tumbal Politik?
131 Ch. 130 : Serangan Balik dari Kazuya Toda
132 Ch. 131 : Negosiasi
133 Ch. 132 : Keputusan Shohei
134 Ch. 133 : Untuk Sebentar Saja ....
135 Ch. 134 : Apa Peran Ai Otaka?
136 Intermezzo Karakter Tokoh
137 Ch. 135 : Mengungkap Misteri
138 Ch. 136 : Meninggal Dunia
139 Ch. 137 : Saksi Kunci Terakhir
140 Ch. 138 : Yuta Menyadari
141 Ch. 139 : Aishiteru
142 Ch. 140 : Aku Akan Kembali
143 ch. 141: Suki Desu
144 ch. 142 : Tertembak
145 Ch. 143: Laptop dan Flashdisk
146 Ch. 144 : Apa isi flashdisk?
147 Ch. 145 : Kejadian Sebenarnya
148 ch. 146 : Saatnya Bangkit
149 Ch. 147 : Perjuangan Terakhir. Berhasilkah?
150 Ch. 148 : Reaksi Publik
151 Ch. 149 : Menilik Aksi di Belakang Layar
152 Ch. 150 : Ketika Kehancuran Datang
153 Ch. 151 : Bagaimana Nasib Rai dan Shohei Setelah ini?
154 Ch. 152 : Akan Ada Masanya
155 Ch. 153 : Senja di Musim Gugur
156 Ch. 154 : Memulai dari Awal
157 Ch 155 : Tak Seperti Bunga Camelia
158 Sayonara!
159 Kei Ayano : Sang Jurnalis part 1
160 Kei Ayano : Sang Jurnalis Part 2
161 Kei Ayano : Sang Jurnalis part 3
162 Kei Ayano : Sang Jurnalis Part 4
163 Pengumuman novel
Episodes

Updated 163 Episodes

1
Ch. 1 : Mr. White and Black Shadow
2
Ch. 2 : Kencan Buta
3
Ch. 3 : Akan Bertunangan?
4
Ch. 4 : Gadis Pencopet
5
Ch. 5 : Pendongeng Handal
6
Ch. 6 : Terus Dicurigai
7
Ch. 7 : Terbawa Suasana
8
Ch. 8 : Black Shadow Comeback
9
Ch. 9 : Pencarian Harta Karun
10
Ch. 10 : Dokter Menakutkan
11
Ch. 11 : Penguntit
12
Ch. 12 : Tak Takut Jatuh Hati
13
Ch. 13 : Tak Dipercaya
14
Ch. 14 : Terus Disangka Pembual
15
Ch. 15 : Melancarkan Serangan
16
Ch. 16 : Beruntung Memilikinya
17
Ch. 17 : Hukum Tebang Pilih
18
Ch. 18 : Cara Memanggil yang Tepat
19
Ch. 19 : Hati yang Seakan Terbakar
20
Ch. 20 : Di Puncak Gedung
21
Ch. 21 : Aksi Kali Ini, Berhasilkah?
22
Ch. 22 : The Phantom of Love
23
Ch. 23 : Berganti Selera
24
Ch. 24 : Salah Paham Berkelanjutan
25
Ch. 25 : Siap Bertunangan
26
Ch. 26 : Kasus di Balik Kasus
27
Ch. 27 : Dihantui Rasa Bersalah
28
Ch. 28 : Tak Ingin Bersaing Dengannya
29
Ch. 29 : Perempuan di Kehidupan Mereka
30
Ch. 30 : Mencintai dan Dicintai
31
Ch. 31 : Camelia Berdarah
32
Ch. 32 : Shohei Kritis?
33
Ch. 33 : Black Shadow Tanpa Mr. White?
34
Ch. 34 : Lawan yang Kuat
35
Ch. 35 : Konfrontasi
36
Ch. 36 : Black Shadow disekap?
37
Ch. 37 : Kilas Balik
38
Ch. 38 : Menjebak dengan Cara yang Menyenangkan
39
Ch. 39 : Tak Kuasa Menahan Geliat Hati
40
Ch. 40 : Unpredictable Kiss
41
Ch. 41 : Saling Memendam
42
Ch. 42 : Nama yang Tak Terdeteksi
43
Ch. 43 : Makanan Kemasan
44
Ch. 44 : Polisi Pindahan
45
Ch. 45 : Mencicipi Makanan
46
Ch. 46 : Suara yang Tak Asing
47
Ch. 47 : Target Selanjutnya
48
Ch. 48 : Pertemuan Rai dan Seina
49
Ch. 49 : Apa yang Dilihat Kei?
50
Ch. 50 : Aksi Kejar-kejaran
51
Ch. 51 : Belajar Teknik Berciuman
52
Ch. 52 : Nasib Shohei di Tangan Kei?
53
Ch. 53 : Apa Tujuan Kei?
54
Ch. 54 : Menonton Bersama
55
Ch. 55 : Terjebak Dalam Kamar
56
Ch. 56 : Rai Tergoda?
57
Ch. 57 : Regu Penembak Jitu
58
Ch. 58 : Siapa Musuh Sebenarnya?
59
Ch. 59 : Siapa Target Kesepuluh?
60
Ch. 60 : Pria Perusak Jantung
61
Ch. 61 : Membatalkan Pertunangan?
62
Ch. 62 : Peringatan dari Kei
63
Ch. 63 : Memastikan Perasaan
64
Ch. 64 : Black Shadow adalah Bayangan Shohei
65
Ch. 65 : Pergi Membawa Rasa Bersalah
66
Ch. 66 : Gagal Romantis
67
Ch. 67 : Misteri Sarung Tangan
68
Ch. 68 : Sulit Untuk Dimaafkan
69
Ch. 69 : Tujuan Hidup
70
Ch. 70 : Reaksi Tuan Matsumoto
71
Ch. 71 : Masih Tanda Tanya
72
Ch. 72 : Target Kesembilan
73
Ch. 73 : Pemandu Kencan
74
Ch. 74 : Pemandu Kencan part 2
75
Ch. 75 : Tak Sesuai Skenario
76
Ch. 76 : Ingin Lebih Lama Bersama
77
Ch. 77 : Pandanganku Hanya Tertuju Padamu
78
Ch. 78 : Tangisan Pilu Untuk Pria Lain
79
Ch. 79 : Kasus yang Tak Terungkap
80
Ch. 80 : Apakah Menteri Kehakiman Terlibat?
81
Ch. 81 : Siapa Pembunuh Gadis Perawat?
82
Ch. 82 : Memikirkan Strategi
83
Ch. 83 : Teka-Teki Black Shadow
84
Ch. 84 : Black Shadow Terluka
85
Ch. 85 : Cecaran Kei
86
Ch. 86 : Topeng
87
Ch. 87 : Jawaban Atas Teka-Teki
88
Ch. 88 : Menanti Black Shadow
89
Ch. 89 : Konflik Sesungguhnya akan Dimulai
90
Ch. 90 : Arti Keadilan
91
Ch. 91 : Mr. White Terendus?
92
Ch. 92 : Terungkap, Black Shadow adalah Rai?
93
Ch. 93 : Apa yang Sebenarnya Terjadi?
94
Ch. 94 : Konspirasi!
95
Ch. 95 : Kepolisian Bertindak
96
Ch. 96 : Pencarian Tuan Matsumoto
97
Ch. 97 : Rai Pergi
98
Ch. 98 : Black Shadow vs Black Shadow Palsu
99
Ch. 99 : Tangisan Seina
100
Ch. 100 : Ke mana Rai?
101
Ch. 101 : Menambah Kekuatan
102
Ch. 102 : Kejujuran Rai
103
Ch. 103 : Megumi Jun
104
Ch. 104 : Terungkap!
105
Ch. 105 : Membentuk Tim
106
Ch. 106 : Sepakat Bergabung
107
Ch. 107 : Bagaimana Nasib Yuta?
108
Ch. 108 : Membuka Tabir Misteri
109
Ch. 109 : Dihadapkan Sebuah Pilihan
110
Ch. 110 : Setangkai Camelia Kering
111
Ch. 111 : Dari Balik Jendela
112
Ch. 112 : Mr. White dan Black Shadow Bubar?
113
Ch. 113 : Dikhianati Kemudian Mengkhianati
114
Ch. 114 : Menjadi Obat Penawar Luka
115
Ch. 115 : Menenangkan Hati
116
Ch. 116 : Kembali Menjadi Rai yang Dulu?
117
Ch. 117 : Love, be Loved. Leave, be Left
118
Ch. 118 : Siapakah Target Tim Rai?
119
Ch. 119 : Belajarlah dari Kerang!
120
PENGUMUMAN
121
ch. 120 : Aku Sudah Terbiasa
122
Ch. 121 : Secret File
123
Ch. 122 : Kubu Shohei vs Kubu Rai
124
Ch. 123 : Pelaku yang Sama?
125
Ch. 124 : Tokyo Kacau!
126
Ch. 125 : Apa yang Terjadi di Safe Room?
127
Ch. 126 : Kilas Balik
128
Ch. 127 : Situasi yang Terbaca
129
Ch. 128 : Kembalinya Black Shadow
130
Ch. 129 : Tumbal Politik?
131
Ch. 130 : Serangan Balik dari Kazuya Toda
132
Ch. 131 : Negosiasi
133
Ch. 132 : Keputusan Shohei
134
Ch. 133 : Untuk Sebentar Saja ....
135
Ch. 134 : Apa Peran Ai Otaka?
136
Intermezzo Karakter Tokoh
137
Ch. 135 : Mengungkap Misteri
138
Ch. 136 : Meninggal Dunia
139
Ch. 137 : Saksi Kunci Terakhir
140
Ch. 138 : Yuta Menyadari
141
Ch. 139 : Aishiteru
142
Ch. 140 : Aku Akan Kembali
143
ch. 141: Suki Desu
144
ch. 142 : Tertembak
145
Ch. 143: Laptop dan Flashdisk
146
Ch. 144 : Apa isi flashdisk?
147
Ch. 145 : Kejadian Sebenarnya
148
ch. 146 : Saatnya Bangkit
149
Ch. 147 : Perjuangan Terakhir. Berhasilkah?
150
Ch. 148 : Reaksi Publik
151
Ch. 149 : Menilik Aksi di Belakang Layar
152
Ch. 150 : Ketika Kehancuran Datang
153
Ch. 151 : Bagaimana Nasib Rai dan Shohei Setelah ini?
154
Ch. 152 : Akan Ada Masanya
155
Ch. 153 : Senja di Musim Gugur
156
Ch. 154 : Memulai dari Awal
157
Ch 155 : Tak Seperti Bunga Camelia
158
Sayonara!
159
Kei Ayano : Sang Jurnalis part 1
160
Kei Ayano : Sang Jurnalis Part 2
161
Kei Ayano : Sang Jurnalis part 3
162
Kei Ayano : Sang Jurnalis Part 4
163
Pengumuman novel

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!