Dengan menunjukkan wajah tercengang, gadis itu berkata, "Bagaimana bisa kau menjadi penghuni samping apartemenku?"
Rai tersenyum seraya menyandarkan sebelah tangan di tiang pintu. "Seharusnya aku yang bertanya padamu. Bagaimana bisa kau menjadi penghuni apartemen itu? Setahuku apartemen itu dihuni wanita pekerja kantoran."
"Apartemen ini punya kakak sepupuku, tapi sekarang telah pindah ke apartemen yang lebih bagus. Karena dia terlanjur membayar sewa selama setahun, jadi dia menyuruhku tinggal di sini sampai batas sewa berakhir," ucap gadis itu dengan cepat.
Rai memajukan wajahnya ke arah gadis itu. "Benarkah?"
"Terserah kau mau percaya atau tidak!" Gadis itu melepas topi di kepalanya hingga membuat rambut panjangnya tergerai bebas dan membelai lembut wajah Rai.
Baru saja hendak masuk ke apartemennya, gadis itu tersentak ketika Rai mengulurkan tangan tepat di hadapannya.
"Matsui Rai," ucap pria itu memperkenalkan dirinya.
Gadis itu bergeming. Hanya menatap dingin tangan Rai yang terulur ke arahnya.
Tak direspon, Rai menarik tangannya kembali. "Kita adalah tetangga. Kau bisa meminta bantuanku kapan saja. Tapi, jika kau tidak suka bersosialisasi, ya sudah!" ucapnya sambil membuka pintu apartemennya.
"Aizawa Yuriko," ucap gadis itu tiba-tiba dengan tatapan lurus ke depan.
Rai menoleh. "Hajimemashite (salam kenal), Yuri-chan!" ucap pria itu tersenyum manis seraya masuk ke dalam apartemennya, "Oyasumi (selamat tidur)," ucapnya kembali. Ia mengedipkan sebelah mata ke arah gadis itu, sebelum menutup pintunya.
Gadis yang bernama Yuriko itu menyeringai kesal sembari menatap pintu apartemen Rai. Sebenarnya, ini hari pertama ia tinggal di tempat itu.
Perputaran waktu sungguh cepat, hingga tak terasa malam telah tergelincir. Pagi yang dingin, di mana matahari tidak meluncur di cakrawala. Suhu kota Tokyo hari ini mencapai 10 derajat. Orang-orang pun beraktivitas dengan menggunakan mantel tebal.
Berita utama pagi ini adalah tertangkapnya anggota parlemen Kensei Abe, dan Jaksa Akimoto saat melakukan pemufakatan jahat untuk memanipulasi kasus korupsi dan penggelapan dana yang dilakukan salah satu staf Kensei Abe. Penangkapan mereka tentu tak lepas dari peran Black Shadow yang disiarkan secara langsung tadi malam. Hal ini membuat publik mulai bertanya-tanya, siapakah sosok di balik pria bertopeng itu? Bahkan, Black Shadow kerap menjadi perbincangan hangat orang-orang saat sedang bersantai di kafe, di sekolah dan kampus, maupun di tempat kerja. Bagi mereka, Black Shadow seperti tokoh komik yang berada di dunia nyata.
Di ruangannya, Shohei tengah menonton siaran berita televisi yang menuturkan aksi heroik Black Shadow selama dua bulan terakhir. Ia tersenyum dingin seraya menyatukan jari-jarinya di atas meja saat mendengar pembawa berita itu mempertanyakan bagaimana bisa Black Shadow mengetahui para pejabat yang terlibat kasus korupsi.
Shohei mematikan siaran televisi lalu melepas kacamatanya dan mengambil berkas yang disimpan rapi dalam laci meja kerjanya. Ia memegang sebuah kertas berisi nama-nama 10 pejabat yang masuk dalam daftar hitam karena terbukti melakukan tindak pidana korupsi, pencucian uang, penggelapan pajak, dan suap di negara itu.
Dari sepuluh nama yang tertulis, lima nama telah tercoret karena berhasil disergap oleh Black Shadow. Di mana semuanya ada dalam satu partai yang berkuasa di negara itu. Artinya, masih ada lima nama lagi yang belum tersentuh dan tinggal menunggu waktu. Namun, ada satu nama yang tak terdeteksi dan belum diketahui oleh Shohei. Dia yang mungkin menjadi otak dari keseluruhan kasus korupsi berantai ini. Dia yang mungkin memiliki jabatan tertinggi, atau mungkin malah mengincar jabatan tertinggi di negara itu.
Di sisi lain, seorang pria paruh baya duduk di kursi kebesarannya dengan sepasang mata elang yang tertancap di layar televisi. Ia meremas kertas dengan geram saat berita tersebut membahas fenomena pria misterius yang menamakan dirinya sebagai Black Shadow.
"Cari tahu pemuda itu sampai ke akar-akarnya!" ucap pria itu dengan mata yang memerah dan kedua tangan yang mengepal keras.
"Siap, Pak!" ucap seseorang yang berdiri di belakangnya. Ia melangkah mundur, sebelum akhirnya keluar dari ruangan besar tersebut. Tampaknya, itu adalah salah satu ruang kerja pejabat tinggi pemerintahan pusat.
Mata pria paruh baya yang duduk di kursi pemerintahan itu menyorot dalam dengan sudut-sudut bibir yang tampak bergetar.
"Black Shadow, aku ingin tahu sampai di mana keberanianmu? Bisakah kau menangkapku seperti orang-orang bodoh yang berhasil kau permalukan di depan umum?" gumamnya dengan senyum jahat yang berkibar di bibirnya.
Hari telah memasuki petang. Yuriko baru saja keluar dari beberapa butik yang terletak di kawasan Ginza. Ia menghela napas kasar karena uangnya tak cukup membeli sebuah gaun bahkan untuk yang termurah sekalipun. Padahal acara pesta tinggal beberapa jam lagi.
Ia berdiri di pinggir jalan sembari menunggu rambu-rambu yang memperbolehkan pejalan kaki menyeberang jalan. Ketika lampu tanda pejalan kaki menyala, Yuriko bersama pejalan kaki lainnya bergegas menyeberang. Padatnya orang-orang yang melintasi zebra cross, membuat gadis yang senang memakai topi itu nekad melancarkan aksi copet. Tampaknya ia telah mahir melakukan hal ini, buktinya para korbannya selama ini tak menyadari dengan tindakannya itu.
Di lokasi yang sama, Shohei singgah di sebuah toko Florist yang menjual aneka macam rangkaian bunga. Sore ini, ia berinisiatif mengantar Seina pulang setelah mengikuti seminar. Namun sebelumnya, ia ingin membawakan buket bunga untuk gadis yang telah menjadi kekasihnya itu.
Seorang penjaga toko bunga mendekat padanya. "Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
Shohei menunjuk sebuah rangkaian bunga camelia berwarna merah. "Aku mau yang ini. Tolong dibentuk buket!"
"Baik. Mari ikut."
Shohei masuk ke toko tersebut sambil menunggu bunganya dibentuk menjadi sebuah buket. Begitu selesai, ia langsung merogoh dompet di kantong celananya. Tunggu, dompetnya tidak ada!
Napas pria itu tertahan seketika saat menyadari dompetnya hilang. Tangannya masih berusaha merogoh saku celana dan jaket untuk memastikan keberadaan dompetnya. Kepalanya bahkan menunduk ke bawah dengan mata yang menelisik ke sekitar lantai.
"Maaf, tunggu sebentar!" ujar Shohei pada penjaga toko sambil buru-buru keluar dari toko tersebut. Pikirnya, mungkin saja dompet itu jatuh di tempat lain.
Di waktu yang sama, Yuriko yang berjalan santai di jajaran pertokoan itu kini mengeluarkan dompet yang baru saja dicurinya saat menyeberang tadi. Ketika membuka dompet, matanya membeliak kaget begitu melihat sebuah kartu identitas lengkap dengan foto seorang polisi terpampang di dalamnya. Tak ayal, tangannya pun refleks melempar dompet tersebut tanpa mengambil uang di dalamnya.
"Apa-apaan ini? Aku mencopet dompet polisi?" gumamnya panik sambil menatap kembali dompet yang telah tergeletak di jalan. Meskipun butuh uang, ia tak mau mengambil risiko berurusan dengan seorang polisi. Saking takutnya, ia sampai menengok ke kiri dan kanan untuk memastikan apakah ada CCTV yang mengarah padanya.
Ketika hendak beranjak, tatapannya tertuju pada pria berjaket putih yang terlihat menunduk dan sibuk mencari-cari sesuatu di jalan. Yuriko kembali melihat dompet yang baru saja ia buang. Ia pun mengambil kembali, kemudian mencocokkan wajah pria itu dengan foto polisi yang ada di dompet.
Shohei masih sibuk mencari-cari dompetnya. Ia mengusap rambutnya ke belakang sambil memandang jauh ke seberang jalan di mana tempat mobilnya terparkir.
"Apa mungkin dompetnya jatuh di sekitar situ?" pikirnya dalam hati.
"Summimasen (permisi)."
Shohei terkesiap saat suara lembut wanita menyapa pendengarannya. Ia berbalik cepat dan melihat seorang gadis bertopi kasual berdiri tepat di hadapannya.
"Apakah kau sedang kehilangan dompet? Kebetulan aku menemukan dompet ini terjatuh di jalan dan ketika aku melihatmu, wajahmu terlihat mirip dengan foto yang ada di kartu identitas," ucap Yuriko sedikit gugup.
"Yokatta! (Syukurlah)" Shohei memegang kedua tangan gadis itu dengan erat, "Domo arigatou gozaimasu," ucap pria itu sambil memamerkan senyum khasnya.
Yuriko mengangguk pelan dengan mata yang terpaku di wajah pria itu. Bahkan di saat pria yang berprofesi sebagai polisi itu telah pergi, matanya masih mengawal punggung pria itu.
Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Yuriko pun tersadar. Ia tersenyum tipis lalu berbalik pelan dan kembali berjalan.
"Nona! Nona!"
Yuriko memalingkan badannya tatkala mendengar teriakan seorang pria. Matanya membesar melihat Shohei berjalan cepat ke arahnya sambil memegang buket bunga.
"Apa yang harus kulakukan sebagai ucapan terima kasihku padamu?" tanya Shohei setelah baru saja keluar dari toko Florist untuk membayar buket bunga pilihannya.
"Eh?" Yuriko ternanap. Pandangannya teralihkan pada buket bunga yang dipegang Shohei. "Aku mau itu!" tunjuknya tanpa sungkan.
Shohei menatap buket bunga camelia yang akan ia berikan pada Seina.
Melihat Shohei terdiam, Yuriko lantas berkata sambil mengibaskan tangannya, "Aku cuma bercanda. Jangan dipikirkan!"
Tepat saat ia hendak memutar badannya, Shohei justru menyodorkan buket bunga camelia itu.
"Ini untukmu!"
Pupil mata Yuriko melebar seketika. "Benarkah untukku?"
"Hum." Shohei mengangguk sambil tersenyum lembut.
Yuriko bergegas mengambil bunga tersebut dari tangan Shohei. Ia berbalik seraya melangkahkan kaki secepatnya meninggalkan Shohei yang masih berdiri di belakangnya. Senyum indah tersemat di bibirnya, seindah matahari sore yang akan tenggelam.
.
.
.
Sumber gambar : kokoroimages.com, livejapan.com
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
🐥Yay
Yuri kah yg tersenyum
2024-09-18
0
gyu_rin
ini big bos nya kah ?? apakah bakal adu strategi abis ini ??
2024-08-29
1
ㅤㅤㅤㅤ😻Kᵝ⃟ᴸ⸙ᵍᵏ نَيْ ㊍㊍🍒⃞⃟🦅😻
bukannya minta dibeliin gaun pesta eh malah minta buket bunga/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2023-11-19
0