Usai kembali mencuri ciuman perempuan yang tak dikenalinya, Rai tiba di puncak menara tempat Shohei menunggu. Ia sempat membersihkan sisa-sisa lipstik yang masih menempel di bibirnya. Untuk pria seperti dia, berciuman bukan hal spesial yang terikat emosi. Dia bisa melakukan kapanpun, di manapun, dengan siapapun perempuan yang diinginkannya tanpa ada perasaan apa pun. Itulah dia yang sebenarnya.
Tiba di puncak gedung, terlihat Shohei berdiri di ujung pembatas menara sambil menunjukkan sebotol sampanye yang merupakan minuman alkohol favorit Rai.
Rai mengambil botol itu, lalu duduk berjongkok seperti biasa. "Maaf terlambat. Ada sedikit gangguan tadi. Tapi aku sudah mengatasinya," ucap pria itu seraya mengangkat sebelah alisnya.
"Apakah ada yang mengikutimu lagi?"
Rai meluruskan kakinya sambil meletakkan kedua tangannya di belakang badan. "Ya, begitulah. Tapi kali ini seorang perempuan."
"Black Shadow benar-benar terkenal. Kostummu mulai dilirik produsen pakaian lalu diperjual-belikan, buket bunga camelia juga menjadi yang paling diburu pasangan. Aku jadi kesulitan mencarinya untuk kekasihku."
"Kaulah di balik kehebatan Black Shadow yang sesungguhnya. Aku hanya bayangan yang menjalankan tugas darimu. Mungkin, mereka akan tercengang jika tahu latar belakang Black Shadow yang merupakan seorang mantan narapidana," ucap Rai sambil menenggak sampanye.
"Tapi kau dipenjara karena dijebak, pengadilan telah memvonis kau tak bersalah. Lagi pula, latar pendidikanmu juga bagus."
"Aku tidak sehebat dan sebaik dirimu," balas Rai sambil tersenyum ringkih. Sebenarnya, Shohei hanya mengetahui masa lalu Rai yang menjadi salah satu alumni terbaik Universitas Todai dan pernah bekerja di salah satu perusahaan ternama. Namun, Shohei sama sekali tak mengetahui jika Rai juga pernah menjadi penipu ulung dengan target minimal 100 juta. Itu karena selama menipu, kebanyakan sasaran targetnya adalah orang-orang yang kerap melanggar hukum, sehingga mereka yang tertipu tak akan berani melapor ke polisi.
"Tidak ada manusia yang sempurna. Bahkan aku sangat payah dalam urusan percintaan," balas Shohei sambil menepuk pundak Rai. "Ya, sudah kalau begitu aku pergi dulu!" Shohei berdiri lalu melilitkan syalnya yang sempat dibelai angin malam.
"Eh? Cepat sekali? Kupikir kau akan mentraktirku mie ramen." Rai terkejut karena tak biasanya mereka hanya sebentar di sana.
"Kekasihku sedang menunggu di bawah. Kami akan menghabiskan weekend di tempat liburan. Jadi, kami memutuskan berangkat malam ini."
"Woah ... itu artinya hubungan kalian ada kemajuan."
"Entahlah! Jantungku dari tadi serasa ingin lepas." Shohei memegang jantungnya sendiri seraya mengembuskan napas kasar. "Kata orang jika jantung kita berdetak lebih kencang dari biasanya, artinya kita benar-benar menyukai gadis itu. Awalnya aku memang ragu untuk memulai hubungan dengannya, tapi sekarang kurasa aku sudah benar-benar jatuh cinta padanya. Aku akan bertunangan dengannya setelah misi kita selesai."
Rai mengepalkan tangannya ke atas, memberi semangat pada Shohei, "Ganbatte ne! Ingat, jika kau terus gugup berhadapan dengannya, maka akan ada pria lain yang berani memegang tangannya, atau mungkin menciumnya."
Shohei berlari mundur sambil berteriak, "Itu tidak akan terjadi. Kali ini aku akan benar-benar berjuang!"
Rai tertawa hampa melihat semangat yang berkobar dalam diri Shohei. Ia mendongakkan kepala sambil memejamkan mata. Membiarkan butiran-butiran salju yang seperti kapas menerpa wajahnya.
Ini adalah musim dingin. Musim yang tak disukai Rai. Sebab, musim yang selalu datang di penghujung tahun itu identik dengan kebekuan. Derasnya salju yang turun tidak akan menimbulkan suara seperti hujan sehingga kesepian akan terlihat jelas. Pertemuan pun akan terasa lebih singkat. Namun yang pasti, orang-orang akan mencari kehangatan.
Seina masih belum beranjak dari posisi sebelumnya. Lagi dan lagi dia seperti ini. Terdiam membeku setelah seseorang dengan seenaknya datang dan mencium paksa dirinya. Hatinya seakan hendak berteriak, mengumpat dan mengutuk kejadian beberapa menit lalu. Rasa sesal pun datang menghampirinya. Andaikan ia tak menguntit pria itu pasti ciuman itu tak akan terjadi.
Di tengah rasa syok yang masih melanda, tiba-tiba terdengar deru ponsel yang bergetar di saku mantelnya. Tanpa melihat nama pemanggil, ia langsung menerima telepon itu.
"Seina-chan, kau di mana?" Suara Shohei datang dari saluran telepon.
"Aku ada di ruang Tembo Galeria. Aku akan segera turun."
"Tidak usah! Biar aku yang ke sana. Tunggulah!" Nada suara Shohei terdengar tergesa-gesa. Bisa ditebak jika pria itu tengah berlari.
Seina masih mematung dengan tangan yang memegang ponsel.
Apa yang harus kukatakan padanya? Apakah aku harus bilang baru saja dicium pria lain?
Seina berpaling pelan saat suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Matanya menyambut pria bersyal merah yang tersenyum sambil berjalan ke arahnya. Butuh sekitar sepuluh menit untuk Shohei tiba di koridor berlapis kaca itu.
"Gomennasai, sudah membuatmu menunggu." Shohei membungkuk.
Seina buru-buru mengangkat lengan Shohei. "Tidak ... akulah yang seharusnya minta maaf."
"Heh?" Shohei mengernyit heran melihat ekspresi gundah di wajah kekasihnya. "Apa yang terjadi?" tanyanya. Sebagai seorang penyidik, ia menguasai bahasa tubuh dan memiliki kemampuan menafsir mimik setiap orang.
"A ... em ...." Sempat kikuk, Seina tertawa lepas, lalu berkata, "aku jadi gugup karena ini kencan pertama kita. Meskipun aku sudah pernah pacaran dengan pria lain, tapi aku tidak pernah berkencan jauh apalagi menginap berduaan. Aku sangat senang akhirnya papa memberiku kebebasan untuk berkencan seperti pasangan kekasih pada umumnya. Itu pasti karena papa sangat percaya padamu. Jadi, ini akan menjadi pengalaman pertama untukku. Mohon bantuannya."
Shohei terpana mendengar pengakuan Seina. Dengan pipi yang bersemu, ia berkata, "Sebenarnya aku juga tidak berpengalaman dan sangat payah dalam menjalin hubungan. Tapi, aku akan berusaha membuatmu bahagia."
Shohei mengajak Seina agar bergegas turun ke lantai dasar. Sepanjang berada di lift, hati perempuan itu terus berbicara, seolah sedang menenangkan dirinya sendiri.
Seina ... tenanglah! Ini bukan perselingkuhan jadi kau tak perlu merasa bersalah. Selama hatimu tidak berpindah, semua akan baik-baik saja.
Saat keluar gedung, sepasang kekasih itu langsung disambut oleh titik-titik salju yang mulai lebat. Hal itu membuat Seina menunduk kedinginan. Shohei langsung membuka syal yang melingkar di lehernya lalu memindahkannya ke leher gadis itu. Tak cukup hanya melingkarkan syal, pria itu rela membuka mantelnya untuk dipasangkan ke punggung kekasihnya.
"Arigatou," ucap Seina tersenyum.
"iie ..." (gak papa)
Shohei memberanikan diri menatap sepasang mata jernih gadis itu seraya melempar senyum lembut. Tampaknya, pria itu sudah bisa menepis rasa gugupnya ketika berhadapan dengan kekasihnya.
Aku tidak akan ragu lagi menjatuhkan hatiku padanya. Karena aku yakin kita akan tenggelam dalam pusaran cinta yang sama, kemudian berenang bersama untuk meraih kebahagiaan.
Sepulang dari menyelesaikan misinya, Rai berjalan pulang di tengah salju yang terus menerpanya. Hawa dingin membuat perutnya terus bernyanyi. Sayangnya, ia tak berselera jika makan di kedai seorang diri.
Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti beberapa meter dari tempatnya berpijak. Yuriko keluar dari mobil tersebut sambil melambaikan tangan pada teman-temannya. Rai tersenyum tipis, kemudian mempercepat langkahnya untuk menyusul gadis itu.
"Jam begini kau baru pulang kampus?" tegur Rai.
Yuriko menoleh malas ke arahnya. Hanya sebentar. Kemudian kembali berjalan seakan tak memedulikan keberadaan pria itu.
"Yuri-Yuri!" panggil Rai dengan lembut. Sayangnya, gadis itu tetap tak meresponnya. Alih-alih melihatnya, Yuriko malah terus menjejakkan sepatu di atas tumpukan salju tebal yang menghampar jalanan.
Kesal diabaikan, Rai mengambil ponselnya, berpura-pura membaca pesan kemudian berkata dengan nada suara yang sengaja dibesarkan. "Ah, aku diajak temanku makan mie ramen. Apa kau mau ikut dengan kami? Kau mau kenal dekat dengannya, 'kan?"
Yuriko langsung berbalik cepat bahkan menghampiri Rai. "Maksudmu ... pak polisi ramah itu? Kau dan dia akan makan mie ramen?"
Rai mengangguk santai meski bola matanya terlihat yang tak menetap.
Yuriko langsung memegang tangan Rai. "Biarkan aku ikut bersama kalian!" pintanya dengan mata yang berbinar.
Rai menahan tawa karena gadis itu masuk dalam perangkap tipuan kecilnya. Mereka pun pergi ke kedai mie ramen terdekat di mana Rai mengatakan jika Shohei juga akan makan di sana.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
🐥Yay
Dan pria itu saya,🤣
2024-09-19
0
ㅤㅤㅤㅤ😻Kᵝ⃟ᴸ⸙ᵍᵏ نَيْ ㊍㊍🍒⃞⃟🦅😻
dan pria itu adalah kau Rai 👻🤣
2023-11-21
1
Erinda Dwi Wulandari
aq juga mo masak mie ahh.... tengah mlm kebangun nerusin Rai dulu lahh dikit 😅
2023-10-26
1