Melihat bukti identitas kepolisian yang Shohei tunjukkan, tidak membuat pengemudi itu takut tapi justru menantangnya dengan lantang.
"Kalau kau benar-benar polisi, lantas kau mau apa, hah?" teriaknya dengan sepasang mata melotot seolah hendak menerkam.
"Aku mau kau turun sekarang dan ke kantor polisi untuk bertanggung jawab atas tindakanmu. Apa kau tidak sadar telah menabrak pengendara motor?"
"Itu salahnya sendiri yang tidak cepat menghindar. Sekalipun dia mati juga bukan salahku, itu sudah takdirnya!"
Ucapan pria itu membuat Shohei geram. Perdebatan sengit antara Shohei dan si pengemudi pun terus berlanjut. Tak lama kemudian kepolisian departemen Sumida datang dan langsung mengamankan pemilik mobil putih tersebut.
"Bagaimana dengan pengendara motor itu?" tanya Shohei khawatir.
"Dia telah meninggal dunia saat tim regu penyelamat ambulans datang. Sepertinya korban mengalami pendarahan yang sangat parah," jawab salah satu polisi menunduk penuh penyesalan.
Shohei terlonjak hebat. Ia menatap tajam ke arah pengemudi itu. "Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu yang telah menghilangkan nyawa!"
Pengemudi laki-laki itu berusaha berontak dan melawan saat hendak diamankan. Dia bahkan balik menantang Shohei.
"Hei, kau akan menyesal karena berani berurusan denganku! Lihat saja, kau akan sadar karena melakukan hal yang sia-sia. Dasar tidak berguna!" umpatnya sambil meludah meski tangannya telah terborgol.
Shohei hanya bisa mengernyit mendengar ucapan bernada ancaman itu. Matanya terus mengawasi kepergian mobil polisi yang membawa pengemudi itu. Tiba-tiba dia teringat dengan Seina yang menunggunya di mobil. Ia pun bergegas kembali ke mobilnya.
"Gomennasai, aku tidak bisa membiarkan kejahatan lewat di depan mataku. Tapi, lupa jika sedang bersamamu. Hontouni gomennasai, telah merusak kencan pertama kita," ucap Shohei sambil menunduk dalam begitu duduk kembali di kursi pengemudi. Ia bahkan tidak berani untuk mengangkat kepalanya sebelum Seina memaafkannya. Sebab, ia tahu gadis itu pasti menggerutu. Jika tidak terjadi aksi kejar-kejaran tadi, mungkin saat ini mereka telah sampai dan beristirahat.
Terdiam sebentar, Seina akhirnya berkata pelan, "Yang tadi itu sungguh hebat!"
"Eh?" Shohei mengangkat kepalanya.
"Shohei-kun sangat hebat! Aku bisa melihat sisi berbeda darimu ketika sedang bertugas. Pantas saja papa sangat ingin menjadikan kau sebagai menantunya," puji Seina yang tak bisa menahan rasa kekaguman.
Respon Seina membuat Shohei lega seketika. Bibirnya turut menciptakan lengkungan senyum. Sekali lagi, gadis itu membuktikan sikap pengertian terhadap profesinya. Tak hanya itu, di usianya yang terbilang muda, Seina bisa mengimbangi Shohei dalam segala hal. Ini tentu membuat pria itu makin mantap menerima usulan pertunangan yang dicetuskan Menteri Kehakiman.
"Aku ... pasti akan selalu melindungi Seina-chan apa pun yang terjadi," ucap Shohei sungguh-sungguh.
Sebelum melanjutkan perjalanan, Shohei meminta izin ke Seina untuk kembali ke tempat terjadinya kecelakaan yang menelan korban pengendara motor. Berdiri sendiri sambil menatap aspal yang berlumuran darah, ia menaburkan kelopak bunga camelia di tempat itu sebagai sebuah penghormatan pada korban yang telah terenggut nyawa.
Di waktu yang sama, Rai dan Yuriko akhirnya berjalan pulang ke apartemen setelah makan di kedai ramen terdekat. Pria itu terus meyakinkan pada Yuriko bahwa apa yang dia katakan benar adanya, tidak membual. Ia tidak ingin Yuriko berpikir semua yang dikatakan olehnya adalah omong kosong belaka. Entah kenapa, ia ingin terlihat lebih dari Shohei di mata gadis itu.
"Kau tahu idola Chiba Yamada, 'kan? Aku pernah bekerja sebagai interpreter-nya. Begini-begini aku menguasai banyak bahasa asing."
Yuriko hanya menggeleng-gelengkan kepalanya karena merasa muak mendengar pengakuan Rai yang tak masuk akal.
"Ah, bahkan aku pernah berpacaran dengan istri Chiba Yamada! Ya, walaupun kami tidak sempat melakukan hal yang enak-enak, tapi dia cukup spesial bagiku," ucap Rai berjalan santai sambil tersenyum.
"Kenapa tidak sekalian kau akui mantan presiden Amerika John Kennedy sebagai nenek buyutmu, presiden Korea Utara Kim Jong Un sebagai ayahmu, Ryusei Yokohama sebagai kembaranmu, dan Black Shadow yang sedang viral itu adalah dirimu," cela Yuriko sambil menyeringai.
"Kau pikir semua yang kukatakan itu bohong?" Sepasang mata Rai membulat karena tak terima dengan ledekan Yuriko. Namun, sesaat kemudian, dia tersenyum sambil berkata, "Omong-omong, apa pendapatmu tentang Black Shadow? Bukankah dia terlihat keren?"
Saat mengatakan itu, secara tak sadar Rai membusungkan dada seraya menaikkan kerah mantelnya ke atas, berlagak sombong.
Yuriko memasang jari telunjuknya di bawah bibir sambil berpikir. "Hmm ... menurutku Black Shadow itu hanya pria kurang kerjaan yang terobsesi menjadi pahlawan. Mungkin masa kecilnya terlalu banyak menonton serial super hero seperti: super Sentai, Kamen rider, dan Ultraman."
Lagi-lagi, respon Yuriko membuat Rai tercungap-cungap. "Kurasa hanya kau saja yang berpikiran seperti itu!"
"Terserah. Yang penting aku lebih mengidolakan pak polisi itu dibanding Black Shadow atau sejenis lainnya. Senyuman polisi itu selalu membuatku hanyut," ucap Yuriko menutup mata sambil kembali membayangkan saat Shohei memberinya buket bunga camelia.
Rai tersenyum kecil. Sebenarnya, dia ingin mengatakan pada Yuriko kalau Shohei telah memiliki kekasih dan akan segera bertunangan. Namun, melihat gadis itu menjadi dekat dengannya karena Shohei, ia pun mengurungkan niat untuk mengatakan hal itu. Pikirnya, mungkin saja Yuriko hanya sekadar tertarik pada Shohei, tidak lebih.
Saat berjalan melewati tempat karaoke, tiba-tiba Rai mengajaknya, "Bagaimana kalau kita habiskan malam ini untuk bernyanyi bersama? Sepertinya asyik!"
Yuriko menoleh malas ke arah tempat karaoke yang dipenuhi lampu warna-warni. Terlihat, beberapa pasangan dan kelompok muda-mudi yang keluar masuk tempat hiburan itu.
"Memangnya kau bisa bernyanyi?"
"Jangan salah! Aku ini fasih menyanyi lagu western." Rai berdeham sejenak untuk menetralkan nada suaranya, lalu mencoba menyanyikan salah satu lagu Justin Bieber yang sedang populer saat ini. Ia bahkan mengambil nada tinggi dan bernyanyi penuh percaya diri di hadapan gadis itu.
Yuriko menutup kupingnya rapat-rapat seraya menyuruh Rai berhenti bernyanyi.
"Berhentilah membuat sakit kupingku. Ternyata Tuhan memang adil. Dia menciptakan keindahan di wajahmu. Tapi tidak untuk suaramu!"
"Eh, akhirnya kau mengakui juga kalau aku ini tampan. Iya, kan? Apa kau tidak merasa bangga jika memiliki kekasih yang tampan begini." Rai menyisir rambut ke belakang dengan jari-jarinya.
"Sayangnya, kau tidak menarik di mataku!"
Wajah Rai memberengut seketika. Dia menghela napas, melipat kedua tangannya di belakang kepala sambil berkata, "Ah, aku benar-benar rindu masa-masa saat sering ke kelab malam, berjudi tanpa melihat batas uang, dan menikmati anggur putih termahal."
Yuriko langsung melengos dengan bola mata yang mendelik sambil bergumam kecil, "Mulai lagi dia mengarang cerita."
"Apa yang kukatakan padamu itu memang benar ...."
Yuriko langsung memotong. "Oke, oke, katakanlah semua itu benar. Lalu, kenapa sekarang keadaanmu seperti ini?"
Rai terdiam. Hanya membasahi bibirnya seraya memalingkan pandangan.
Yuriko tertawa ringkih. "Sudah kuduga semua hanya karangan saja," ucapnya sambil lanjut berjalan meninggalkan Rai yang terdiam.
"Aku dikhianati!" ungkap Rai secara tiba-tiba.
Yuriko berbalik pelan. Menatap Rai yang berdiri membatu di bawah pohon sakura yang kering dan bersalju.
"Mereka berkhianat dan juga menjebakku hingga aku seperti ini," ucap Rai pelan.
Yuriko mengernyit sambil memiringkan sedikit kepala. "Me–mereka siapa?"
"Orang-orang yang sangat kusayangi. Tapi, sebenarnya aku sendiri yang bodoh dan terlalu percaya pada mereka. Lagi pula, aku menyukai diriku yang sekarang. Kurasa aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa kepura-puraan. Jadi, aku tidak terlalu menyalahkan mereka," ucap Rai tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Ya, boleh dikatakan salah satu kebaikan yang pria itu miliki adalah ia tak menyimpan dendam sama sekali pada orang-orang yang berkhianat padanya. Tidak untuk adiknya, tidak untuk sahabatnya, ataupun mantan kekasihnya. Bahkan ketika Shohei membuat surat perintah deportasi terhadap sahabat dan kekasihnya demi sebuah kesaksian dan pertanggung jawaban atas laporan palsu, ia memilih untuk tak menuntut mereka. Ia juga tetap berhubungan baik dengan adiknya.
Kini, giliran Yuriko yang terdiam membeku sambil menatap Rai. Meskipun begitu ia masih tak percaya dengan segala pengakuan Rai. Baginya, pria itu seperti dirinya yang selalu membuat cerita mengada-ada pada orang lain, hanya untuk memuaskan diri sendiri dan mendapat pengakuan orang banyak. Mendadak, ia terhenyak ketika Rai kembali berjalan sambil menarik tangannya.
"Sepertinya salju makin lebat. Kita harus segera pulang."
"Apa-apaan kau ini." Yuriko berusaha melepas genggaman tangan Rai.
Bukannya melepas, Rai justru menautkan jari-jemari mereka lebih erat. "Kau tidak memakai sarung tangan. Lihat, tanganmu sampai dingin begini," ucapnya sambil terus berjalan.
Di sisi lain, Shohei dan Seina baru saja tiba di tempat liburan mereka yang berlokasi di gunung Takao dengan jarak lima puluh menit dari stasiun Shinjuku, Tokyo. Rumah-rumah yang beratapkan salju serta pohon-pohon kering yang dililit lampu warna-warni menjadi pemandangan indah yang menyapu pandangan mereka setiba di tempat itu. Karena ini sudah sangat larut, mereka pun memutuskan untuk segera ke penginapan yang terhitung dalam paket liburan.
"Ini kunci kamarnya," ucap pelayan yang berpakaian kimono.
"Arigatou gozaimasu." Shohei membuka pintu kamar tersebut, dan matanya membesar seketika ketika melihat kamar itu hanya terdapat satu tempat tidur berukuran besar. Ia pun berbalik cepat dengan napas yang tertahan.
.
.
.
sumber foto : Shutter shock
suka Yuriko yang agak tomboi, atau Seina yang feminin?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
Mayyuzira
hahahaha,yg berhubungan dgn ray,gakda yg bagus Dimata Yuriko😂😂😂
2024-11-27
0
Nadya
tolong aku ngakak 😂
2024-09-19
0
liesae
suka semua yuriko sm seina,, yuriko nggk mempan sm perkataan rai yah, tidak gmpang percaya orangnya ,ini mah kebalikannya mayu ichihara yg polos
2024-06-18
1