Setelah berkata, Mr. White langsung mengendarai mobilnya menuju Tokyo Skytree, di mana ia dan Black Shadow selalu bertemu di puncak gedung itu usai menyelesaikan misi. Di waktu yang bersamaan, Kei melajukan motornya menuju Rumah Sakit untuk mengejar Black Shadow.
Keadaan Rumah Sakit tempat Tomomi Fujimura dirawat mendadak dipenuhi wartawan. Terlihat, polisi membawa anggota senator itu keluar dari gedung setelah kebohongannya dibongkar oleh Black Shadow. Kei berlari ke sana-kemari menyusuri koridor Rumah Sakit. Ia lebih tertarik untuk memburu Black Shadow dibanding kasus pembohongan publik yang dilakukan Tomomi Fujimura. Sayangnya, lagi-lagi ia kehilangan jejak pria bertopeng itu.
Di sebuah ruangan besar dengan cahaya lampu yang remang, seorang pria paruh baya duduk tenang di kursi kebesarannya sambil menonton siaran jemput paksa yang dilakukan pihak kejaksaan terhadap Tomomi Fujimura. Sudut-sudut bibir pria itu tampak bergetar, dan giginya menggertak geram. Bagaimana tidak, untuk kesekian kalinya Black Shadow berhasil menjadikan para pejabat korupsi sebagai tontonan yang memalukan laksana badut di hadapan publik.
"Apakah kau sudah mencari tahu identitas Black Shadow?" tanyanya pada seseorang yang berdiri tegap di samping mejanya.
"Maafkan saya, Tuan. Sangat sulit untuk mengetahui identitas pria itu. Dia sangat misterius. Kemunculannya tak dapat diprediksi. Apalagi dia tak memiliki ciri khas menonjol seperti tato atau tahi lalat yang memudahkan kita mengidentifikasi. Bahkan dia tidak meninggalkan sidik jari di setiap aksi. Satu-satunya yang menjadi ciri khasnya adalah tebaran kelopak bunga camelia di tempat yang ia tinggalkan," tutur pria itu.
Dengan mata yang seperti serigala dan kedua tangan yang mengepal kuat, pria tua itu berkata, "Siapapun dia ... akan menjadi ancaman bagi kita."
Di sisi lain, Seina baru saja turun dari taksi yang mengantarnya ke Tokyo Skytree, sesuai isi pesan Shohei yang memintanya menunggu di sana. Saat memasuki menara pemancar sinyal mandiri nomor satu di dunia itu, matanya lantas berkeliling memerhatikan suasana gedung yang tak seramai biasanya. Bahkan cenderung sunyi.
Seina mengambil ponsel bermaksud untuk mengabari Shohei jika dia telah berada di tempat itu. Namun, sesosok pria yang melintas tepat di hadapannya mendadak mengalihkan perhatiannya. Pupil matanya membesar tatkala perasaan familiar muncul dalam dirinya. Ia seperti mengenal kostum pria yang berjalan lurus membelakanginya itu.
Berpikir sejenak sembari menatap ke sembarang arah, ingatannya malah terkilas pada sosok pria asing yang pernah menciumnya di gedung dekat menara ini. Ya, pria yang memakai kostum serba hitam lengkap dengan topeng di wajahnya. Dia yang disebut-sebut sebagai Black Shadow!
Mata Seina yang bulat, makin membulat saat menyadari ada persamaan antara Black Shadow dengan pria yang sekarang berjalan tak jauh darinya itu. Pasalnya, meskipun tak melihat wajah Black Shadow secara utuh, tetapi ia masih mengingat betul bentuk tubuhnya, tinggi badannya, pakaian yang digunakan, hingga aroma bunga camelia yang melekat kuat di tubuh pria itu. Apalagi, kejadian saat pria bertopeng itu melepaskan ciumannya, lalu menebarkan kelopak bunga camelia diiringi senyum yang mematikan masih begitu membekas di benaknya. Dan sekarang, seseorang dengan postur tubuh dan kostum yang sama sedang berada di gedung ini.
Mungkinkah dia Black Shadow?
Seina menoleh cepat ke arah pria yang baru saja masuk ke dalam lift. Tanpa berpikir lagi, ia pun mengejar pria itu dengan menaiki lift yang berada di sebelahnya. Sayangnya, ia tak tahu lantai tujuan pria itu. Untung saja lift di menara itu didesain transparan untuk setiap sisinya sehingga memudahkan ia menebak lantai tujuan pria itu.
Dari lift yang berbeda, mata Seina tak lepas memandang pria yang diduganya sebagai Black Shadow. Ia makin penasaran karena pria itu tak kunjung berbalik ataupun menoleh dan itu membuat wajahnya tak terlihat.
Seina terus menebak arah tujuan pria itu. Apakah ke ruang observotarium? Ataukah ke tembo galleria? Ia hanya bisa menduga dua tempat itu karena sering dikunjungi orang-orang.
Saat mendongak ke atas, ia tersentak melihat pria itu sudah keluar dari lift. Ia pun bergegas keluar di lantai yang sama dengan pemberhentian pria itu, yaitu ruang observotarium sesuai dugaannya.
Seina mulai mengendap-endap dan mengitari ruangan yang berada di ketinggian 350 meter itu. Sunyi. Hanya terdengar suara langkah kakinya sendiri. Hingga hampir seluruh seluk-beluk ruangan itu dijelajahinya, ia belum menemukan tanda-tanda sosok pria itu ada di sana.
Seina masih berjalan. Pelan. Mengabaikan rasa takut di ruangan yang besar dan sepi itu. Ia berbalik cepat ketika merasa bayangan hitam melintas di belakangnya. Sayangnya, tak ada siapapun di belakangnya. Baru saja hendak melangkah, tiba-tiba ia merasakan seseorang kembali melintas tepat di sampingnya. Ia memalingkan tubuhnya dengan segera dan kembali menyapukan pandangan. Kosong. Masih tak ada siapapun. Aneh, bukannya berhenti, ia malah tak menyerah untuk mencari keberadaannya.
Pria itu seperti hantu. Namun, itu membuatnya makin yakin jika dia adalah Black Shadow, si pencuri ciumannya.
Seina berbalik tiba-tiba. Ia tersentak melihat pria itu masuk kembali ke dalam lift. Seperti paparazi yang tak bosan menguntit idola, ia pun turut masuk di lift yang berbeda untuk mengejarnya.
"Ke mana lantai tujuannya?" gumam Seina yang bingung menekan tombol tujuan. Ia menengok ke atas, memantau pemberhentian pria itu. Tampaknya pria itu berhenti di Tembo Galleria yang berada di ketinggian 450 meter.
Masih membuntutinya, kini Seina berjalan di koridor spiral berlapis kaca yang memiliki kemiringan. Keindahan salju yang terpantul dari kaca koridor seakan tak menarik baginya. Ia terus mencari jejak keberadaan pria itu, hanya untuk memuaskan rasa penasarannya. Namun, sepertinya lagi-lagi ia kehilangan jejaknya.
Tiba-tiba Seina berhenti melangkah ketika tersadar akan sesuatu. Bukankah ia ke sini untuk menunggu Shohei? Bagaimana kalau kekasihnya itu ternyata sudah datang dan sedang mencarinya?
Baru saja berbalik pergi, seseorang menariknya dengan kuat hingga membuatnya memekik pelan. Tak hanya menarik paksa, tubuhnya juga disandarkan ke dinding kaca.
Sepasang mata Seina menatap tak berkedip saat sesosok pria bertopeng berdiri tepat di hadapannya. Aroma bunga camelia yang menempel di tubuh pria itu langsung memenuhi rongga penciumannya. Jarak mereka yang begitu dekat, membuat Napas hangatnya turut menghujam.
"Kenapa kau membuntutiku?" tanya pria itu dengan nada suara dingin, sedingin salju yang membeku.
Seina masih tak mengerjap. Ia benar-benar kembali bertemu pria yang menamakan dirinya sebagai Black Shadow itu. Entah kenapa tiba-tiba ia menjadi sangat gugup. Seluruh tubuhnya gemetar. Padahal, tak pernah seperti ini sebelumnya.
"Apa kau mengingatku?" tanya gadis itu dengan pelan dan ragu.
Black shadow terdiam dengan kepala yang sedikit dimiringkan.
Melihat ekspresi pria itu, Seina kembali berkata, "Kita bertemu di gedung RCH. Kau tiba-tiba masuk ke kamarku dan ...."
"Oh, jadi karena itu kau membuntutiku?" potong Black Shadow yang terdengar remeh. Ia lalu berbisik tepat di telinga gadis itu, "Apa durasi saat kita berciuman terlalu singkat? Kau mau mengulangnya lebih lama lagi, 'kan?"
Ucapan Black Shadow membuat Seina terlonjak. Dengan wajah memerah dan mata yang berkibar, ia langsung melayangkan tamparan. Sayangnya, Black Shadow langsung menangkap pergelangan tangannya dan menghimpit tubuhnya.
Di detik yang sama, bibir dingin pria itu menyusup masuk ke celah bibirnya. Memagutnya penuh gairah, menggebu, dan menuntut. Membuat manik mata gadis itu melebar seketika karena dipenuhi rasa keterkejutan.
Seina mencoba memberontak dan melepaskan diri. Namun, kekuatannya tak sebanding dengan pria itu. Semakin ia berusaha melepaskan diri, pria itu semakin bersemangat menguasai mulutnya. Membuat bibir mereka saling menempel dan bergesekan kasar. Hingga tercipta suara peraduan dua daging tak bertulang itu.
Ciuman yang dipimpin Black Shadow terlalu kuat, gila, dan haus. Terus mengunci bibir gadis itu dengan pagutan-pagutan yang tak berjeda. Jelas, ia sangat ahli melakukan ini. Dia adalah penakluk setiap gadis manapun yang diinginkannya.
Perjuangan Seina untuk melepaskan diri dari Black Shadow kian menipis. Namun, di waktu yang sama pria itu malah melepaskan ciumannya. Jari-jari ramping Black Shadow bergerak pelan ke wajah gadis itu, lalu mengusap lembut di bibirnya yang basah.
"Ciuman pertama hukuman karena kau sangat berisik. Ciuman kedua hukuman karena kau berani menguntitku. Jika kita dipertemukan kembali, aku akan melakukannya lagi atau mungkin lebih dari ini. Jadi, sebaiknya jangan sampai bertemu denganku lagi!" Perkataan itu meloncat keluar dari bibirnya yang seksi. Ia menebarkan kelopak bunga camelia di hadapan gadis itu, sebelum akhirnya menghilang dari pandangannya.
.
.
.
Sumber gambar: thegate12.com
kalian dukung couple siapa, gays?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
liesae
gimana kalo sosok black shadow n mister white ini ada di indonesia ya,, pasti keren sat set membrantas kejahatan2 tingkt tinggi ...
2024-06-18
2
ㅤㅤㅤㅤ😻Kᵝ⃟ᴸ⸙ᵍᵏ نَيْ ㊍㊍🍒⃞⃟🦅😻
gimana ya kalau Shohei menyaksikannya?
2023-11-20
1
sakura🇵🇸
woy...itu pacar bosmu🤪 kasihan sekali shohei...astaga nagaaa
dapet bekasan bayangannya sendiri,gimana ceritanya🤭
2023-03-14
1