Rai bergegas menyusul Yuriko, berusaha mensejajarkan langkah mereka. Pipinya mengembung melihat wajah Yuriko yang bagaikan kepiting rebus.
"Hei, kau kenapa? Santai saja, kadangkala hidup itu butuh pengakuan. Ya ... meskipun mengaku-ngaku yang bukan milik kita," celoteh Rai sambil terkekeh.
Yuriko menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Rai yang masih tertawa geli, langsung terdiam begitu melihat wajah geram gadis itu yang seakan hendak menelannya.
"Gomen, jika membuatmu marah. Aku benar-benar tidak bermaksud meledekmu. Aku justru memahamimu. Tokyo terlalu gemerlap untuk para pendatang sepertimu. Tuntutan gaya hidup di sini sangat tinggi. Jika kita tidak bisa seperti yang lain, maka kita akan disepelekan. Tapi, bukankah berteman dengan orang-orang seperti mereka membuatmu lelah? Kau harus memikirkan cara agar penampilanmu seperti mereka, juga agar kehidupanmu terlihat lebih baik dari mereka. Aku sudah pernah berada di posisimu, jadi aku sangat tahu," ucap Rai sambil tersenyum.
Rai berjalan meninggalkan Yuriko yang masih terpaku. Ia tersenyum tipis begitu mengetahui gadis itu berlari kecil menyusulnya. Ia malah sengaja menghentikan langkahnya hingga membuat Yuriko menabrak punggungnya. Tak pelak, ia pun langsung tertawa.
"Apa-apaan kau ini! Apa kau sengaja?!" sergah Yuriko kesal.
"Siapa suruh berjalan di belakangku? Kenapa tidak di sampingku saja? Karena kita tinggal di gedung yang sama, maka kita mungkin akan terbiasa pulang bersama-sama seperti ini."
Yuriko bergeming. Ia malah melengos. Saat melirik, ternyata lagi-lagi Rai berjalan meninggalkannya. Sunyinya jalanan menuju ke apartemen, membuatnya takut berjalan sendiri. Ia pun kembali berlari mengejar pria itu. Namun, nasib sial menimpanya kala salah satu hak sepatunya patah hingga membuatnya jatuh tersungkur.
"Arght!" jerit Yuriko, "Dasar sepatu sialan!" umpatnya begitu tahu hak sepatunya hampir copot.
Rai menoleh dan tersentak melihat Yuriko yang terduduk di jalanan. Dengan cepat, ia menghampiri gadis itu dan berjongkok tepat di hadapannya.
"Ah, ini sudah patah! Begini risikonya membeli barang tiruan," ucap Rai sambil menyempurnakan patahan hak sepatu itu hingga benar-benar terlepas. Sejenak, matanya teralihkan pada kaki Yuriko yang tampak lecet di bagian tumit.
Lagi-lagi wajah Yuriko memerah karena Rai mengetahui ia membeli sepatu tiruan dengan merek ternama. Ia terperanjat ketika Rai menarik paksa sebelah sepatunya yang masih dalam kondisi utuh, lalu turut mencopot haknya.
"Kau lebih cocok memakai jenis sepatu flat, kenapa harus memaksa diri memakai jenis high heels?" ucap Rai sambil memasang kembali sepasang sepatu di kaki Yuriko.
Untuk sekian kalinya Yuriko memilih diam. Namun, kali ini ia terus menatap wajah Rai. Lampu jalanan yang berpendar tepat di atas mereka, membuatnya bisa melihat wajah pria itu secara detail. Pria yang tinggal di sebelah apartemennya itu memiliki sepasang alis tebal dan tegas, hidung lancip bak sebuah pahatan, dan bibir yang terbentuk indah. Ketampanannya makin disempurnakan oleh bentuk wajah yang tirus dengan rahang tegas. Semakin ditatap, ia semakin menyadari jika pria itu benar-benar tampan dari segala sisi.
Apalagi Rai menunjukkan sisi manisnya dengan mau berjongkok hanya untuk memperbaiki sepatunya lalu memasangkan kembali di kakinya. Sebenarnya, ia terlalu malu berhadapan dengan pria itu. Bagaimana tidak, Rai seakan tahu sifat buruknya yang selalu memaksakan diri untuk terlihat elit di depan orang-orang.
Rai berdiri usai memasangkan sepatu. Ia mengulurkan tangan ke arah Yuriko, bermaksud membantunya berdiri.
"Aku bisa berdiri sendiri!" cetus gadis itu sambil bangkit.
Ketika berdiri, ia merasakan kenyamanan pada alas kakinya setelah Rai mencopot hak di sepasang sepatunya. Ia pun kembali berjalan di belakang pria itu. Jujur, dia merasa heran karena dari awal bertemu, Rai seperti mengetahui merek-merek terkenal yang harganya mahal. Pria itu juga bersikap santai meski mendapati dirinya tengah mencopet dan menipu teman-temannya.
Begitu tiba di apartemen, Rai terkejut mendapati seorang pria berdiri menunggunya di depan pintu. Dia adalah Ryo, adik kandungnya dan satu-satunya keluarga yang ia miliki di Tokyo. Mereka tidak tinggal bersama. Rai beralasan dia ingin tinggal di tempat yang dekat dengan lokasi kerjanya, padahal alasan sebenarnya adalah apartemen yang disewakan Shohei untuknya itu, digunakan mereka untuk membuat strategi.
"Oniichan!"
Dari penampilan Ryo yang masih memakai setelan jas, tampaknya ia baru saja pulang kerja. Raut wajahnya berubah seketika, saat menoleh ke arah Yuriko yang berjalan tepat di belakang Rai.
"Apakah kehadiranku kurang tepat?" tanyanya kikuk, "sepertinya aku harus segera pulang," ucap Ryo terburu-buru sambil melangkah hendak pergi.
Rai langsung menahan lengan Ryo. "Sudah datang jauh-jauh kenapa langsung pulang!"
"E ... tidak apa-apa! Lagi pula aku tidak ingin mengganggu kalian." Tepat saat Ryo mengatakan itu, Yuriko langsung membuka pintu sebelah apartemen Rai dan masuk ke dalam. Hal itu membuat Ryo melongo bodoh. Pasalnya, ia berpikir Yuriko adalah kekasih baru kakaknya yang datang menginap di situ.
"Masih mau pulang?" tanya Rai seraya mengangkat bibir atasnya.
Ryo menggeleng pelan, lalu ikut masuk ke apartemen kakaknya.
"Oniichan, lihatlah aku membawa sup kepiting untukmu. Ini masih hangat!" ucap Ryo sambil berjalan ke dapur untuk menyalin makanan yang ia bawa.
"Atur saja. Aku mau mandi dulu!" Rai mengambil handuk lalu ke kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian Rai keluar dari kamar mandi sambil menggosok kepalanya yang basah. Ia tertegun mendapati Ryo yang berada di kamarnya sambil memegang jam tangan mahal yang merupakan hadiah dari Shohei saat ia pertama kali menjalankan misinya dengan baik.
"Oniichan, apa ini!" tanya Ryo menunjukkan jam tangan tersebut.
"Kau bisa lihat sendiri itu apa!" ketus Rai kembali mengeringkan rambutnya.
"Bukan! Maksudku ... bagaimana kau bisa membeli barang mewah ini," selidik Ryo sambil melempar tatapan curiga.
"Seseorang memberikannya padaku."
"Siapa? Jangan berbohong! Kau tidak kembali menipu orang, kan?" Ryo berjalan menghampiri Rai yang membelakanginya. Sebagai adik yang juga pernah tergabung dalam geng penipu yang dibentuk Rai, tentu Ryo tahu kemampuan manipulatif kakaknya yang tak pernah padam. Namun, ia benar-benar berharap kakaknya itu bisa meninggalkan dunia penipuan selepas keluar dari penjara.
Rai mengembuskan napas kasar. "Tentu saja tidak! Bukankah sudah kubilang aku tidak lagi menipu?!"
"Lalu bagaimana kau bisa mendapatkan jam Rolex ini!"
"Sudah kubilang aku dikasih seseorang."
"Siapa orang itu?" Pertanyaan Ryo malah beranak-pinak.
"Pacarku. Aku berpacaran dengan tante-tante kaya raya. Dia menghidupiku dan memberikan apa yang aku mau," jawab Rai asal-asalan sambil tertawa.
"Kalau begitu kau benar-benar masih menipu!"
"Apa maksudmu?!" Rai mulai kesal.
"Kau tidak mungkin serius dengan wanita lebih tua, kan? Kau pasti berpacaran hanya untuk memanfaatkannya. Itu sudah termasuk salah satu penipuan. Penipuan berkedok cinta!" cetus Ryo.
Tak tahan terus dicurigai adiknya, Rai pun berkata, "Oke-oke. Aku akan cerita sejujurnya padamu. Sebenarnya aku adalah Black Shadow yang viral itu! Dan barang-barang mewah yang kumiliki adalah hadiah atas keberhasilanku menangkap para koruptor. Kau puas?!"
Perkataan Rai tentu membuat Ryo tercengang. Sebaliknya, Rai baru menyadari ia tak sadar telah membocorkan rahasianya bersama Shohei yang tidak boleh diketahui oleh orang-orang.
Hening menyingsing tiba-tiba. Kedua orang itu tampak sama-sama dikuasai keterkejutan. Napas Rai tertahan saat Ryo memandanginya dengan tatapan penuh. Tak hanya itu, adiknya pun mendekat lalu menggenggam tangannya dengan erat.
"Oniichan, ayo kita ke psikiater! Kurasa mentalmu sedang tidak baik. Bicaramu mulai tidak jelas."
Mendengar perkataan Ryo membuat mata Rai membulat seketika diikuti hidung yang mengembang.
"A–apa maksudmu? Kau kira aku ini stress?"
Ryo buru-buru berkata, "Bukan begitu. Aku mengerti beberapa orang yang baru keluar dari penjara terkadang akan mengalami penurunan kesehatan mental. Dan mungkin ... itu yang sedang kau alami saat ini, sehingga kau mudah berhalusinasi yang tidak-tidak."
Rai menepis tangan Ryo dengan kesal dan langsung berbalik sambil mengusap rambutnya ke belakang.
Sialan! Kalau seperti ini aku menyesal sudah mengatakan padanya!
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
༄ⁱᵐ᭄✿ΛLєKƬΉΛ࿐🌴 🍉
yaa ampoon setelah tahan nafas sm reaksi ryo... malah terpingkal² setelah ryo buka mulut.. /Facepalm/
2024-09-23
0
🐥Yay
lebih baik dianggap stress lah, drpd Ryo tau🤣
2024-09-18
0
liesae
rai kaget sendiri krna keceplosan udah jujur,, untungnya ryo nggk percaya mlh ngira kka nya ada gangguan setres.... beruntunglah rai😅
2024-05-18
1