"Itadakimasu." Rai dan Yuriko kompak menangkup tangan di depan sajian dua mangkok ramen panas. Tak hanya memesan ramen, Rai juga memesan sake untuk menghangatkan tubuh. Mereka mengambil sumpit dan mulai melahap sajian ramen.
"Hei, mana pak polisinya? Kenapa belum datang juga?" tanya Yuriko setelah matanya lelah memantau setiap orang yang masuk di kedai itu.
"Sabar saja. Mungkin dia masih di perjalanan," jawab Rai santai sambil terus menyeruput mie. Ia menatap mangkok Yuriko yang belum tersentuh, lalu berkata, "Cepat makan ramenmu selagi hangat!"
Yuriko mulai menyantap ramen. Namun, sedetik kemudian pandangannya kembali teralihkan ke pintu masuk. Badannya merosot ketika lagi-lagi yang datang bukanlah pria berprofesi polisi yang ia sukai. Melihat ekspresi gadis itu, membuat Rai kembali berpura-pura membaca pesan.
"Astaga, ternyata dia tidak jadi ke sini. Dia ditugaskan menangkap penjahat malam ini juga!" ujar Rai dengan mata yang tertuju di layar ponsel.
"Hah? Dia tidak jadi makan mie ramen bersama kita?" tanya Yuriko menunjukkan raut kekecewaan.
Rai mengangguk sambil menyeruput kuah ramen langsung dari mangkoknya. Yuriko meletakkan sumpitnya dan langsung berdiri.
"Hei, kau mau ke mana?" tanya Rai cepat
"Pulang!" ketusnya.
"Habiskan dulu ramenmu."
"Aku masih kenyang."
"Kalau begitu temani aku makan!"
"Aku ikut kau ke sini karena berharap bisa berjumpa dengan pak polisi lagi," ucap Yuriko terang-terangan sambil hendak beranjak. Namun, Rai malah menarik lengannya dan memaksanya untuk kembali duduk.
"Aku kurang suka makan sendiri. Jadi, tolong temani aku makan!" pinta Rai tanpa melepaskan tangannya di pergelangan tangan gadis itu.
Yuriko terdiam. Ia melepaskan tangan Rai dari pergelangan tangannya lalu kembali mengambil sumpit.
"Lain kali carilah wanita yang bisa menemanimu makan," ucap Yuriko yang kembali menghabiskan ramennya.
"Di masa lalu aku tidak perlu mencari wanita. Karena mereka sendiri yang akan datang mendekat padaku."
"Jangan-jangan ... dulu kau punya banyak utang, ya?"
Rai mengangkat bibirnya ke atas. "Enak saja! Kalau saja kita berkenalan setahun yang lalu, aku pastikan kau lebih tertarik padaku dari pada temanku."
"Oh, ya? Coba jelaskan padaku kenapa aku harus tertarik padamu jika aku mengenalmu setahun lalu!" tantang Yuriko seraya mengedikkan dagu.
"Pertama, aku kaya raya. Kedua, ketampananku lebih terlihat jelas karena ditunjang barang-barang mewah. Tapi, meskipun sekarang aku sudah tidak kaya lagi, setidaknya aku masih punya wajah yang tampan dan otak yang cerdas. Begini-begini aku ini alumni Universitas Todai." Rai menatap Yuriko seraya mengangkat sepasang alisnya sebanyak dua kali.
Yuriko yang tengah minum langsung menyembur seketika mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan pria itu. "Universitas Todai?" ulangnya dengan mata melotot.
Rai meluruskan badannya seraya bersedekap. "Kenapa? Kaget, ya? Aku hebat, 'kan?"
Yuriko termegap-megap sambil menahan tawa. "Aku bisa memaklumi kalau kau mengaku-ngaku pernah kaya karena kurasa semua orang pasti pernah seperti itu termasuk aku sendiri. Tapi, mengaku sebagai lulusan Todai sementara pekerjaanmu saja tidak jelas. Itu benar-benar mengada-ada! Tidak ada lulusan Todai yang tinggal di apartemen sederhana." celotehnya dengan gelak tawa yang pecah.
Bibir Rai mengerucut berkumpul menjadi satu diikuti hidung yang mengembang. Bagaimana tidak, tak ada satu pun ucapannya yang dipercaya gadis itu. Alih-alih ingin membanggakan diri, yang ada dia malah dianggap mengada-ada.
Dulu sangat mudah meyakinkan wanita-wanita yang kutemui meskipun semua itu bohong. Tapi kenapa gadis ini sama sekali tak percaya apa yang kukatakan!
Di sisi lain, Shohei dan Seina masih dalam perjalanan menuju tempat liburan mereka. Jalanan sudah mulai sepi karena mulai larut malam. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan rata-rata agar cepat sampai. Namun, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan bunyi klakson mobil secara beruntun. Tampaknya ada sebuah mobil putih yang melaju ugal-ugalan di belakang mereka.
Melihat hal itu, Shohei sengaja membuat mobilnya masuk ke marka jalan agar mobil di belakangnya dapat mengendalikan laju berkendaraan. Namun, pengemudi mobil tersebut malah terus memberi klakson beruntun agar Shohei membuka jalan untuknya.
"Kenapa mobil itu berisik sekali!" protes Seina sambil menutup kupingnya.
"Dia keras kepala!" gumam Shohei menatap mobil di belakangnya dari kaca spion.
Mobil itu makin menjadi dan berani menyenggol belakang mobil Shohei. Bahkan menyambar mobil Shohei dari sisi kiri.
"Ini sebuah pelanggaran!" Shohei mengambil lampu strobo kepolisian lalu membuka jendela mobilnya untuk meletakkan lampu itu di sudut atas mobil dan membunyikan sirene. Ia menginjak pedal gas kuat-kuat, lalu melalu kencang segera mengejar kendaraan di depannya.
Pria itu menyalakan pengeras suara dan memberi ultimatum pada mobil putih tersebut. "Mobil putih dengan plat nomor 52-99 mohon perlambat laju Anda. Kami dari Kepolisian Metropolitan. Anda telah melakukan pelanggaran lalu lintas."
Bukannya berhenti, mobil putih itu malah makin tak terkendali hingga menyenggol pengguna motor. Shohei semakin dibuat geram oleh pengendara itu. Ia mengambil ponselnya lalu menghubungi kantor departemen kepolisian Sumida.
"Ini Yamazaki Shohei dari kantor pusat Metropolitan," ucap Shohei yang sedang menelepon kantor di daerah setempat.
"Ya, silakan, Ketua Penyidik Yamazaki-san!"
"Terjadi pelanggaran lalu lintas dari mobil berplat 52-99 di jalan utama Sumida. Satu pengendara motor tertabrak. Mohon segera ke sini dan kirimkan ambulans."
"Siap, laksanakan!"
Shohei kembali menginjak pedal gas kuat-kuat untuk mengejar mobil yang telah melakukan tabrak lari itu. Seina tampak sangat ketakutan karena kekasihnya mengendarai mobil di atas kecepatan rata-rata. Serasa terbang di atas aspal sampai-sampai dia harus berpegangan kuat di sandaran tangan mobil. Kepala dan rambutnya berayun-ayun bak penyanyi rock yang sedang pentas di atas panggung. Mobil kekasihnya kini telah berubah menjadi mobil patroli polisi. Bahkan, tujuan mereka yang hendak pergi liburan kini malah beralih ke aksi kejar-kejaran dengan pelanggar lalu lintas.
Shohei terus mengejar mobil di depannya. Ia seperti lupa jika Seina sedang berada di sampingnya. Raut wajahnya begitu serius, tetap fokus menatap lurus ke depan. Seina berteriak sambil memejamkan mata saat mobil Shohei berputar secara mendadak untuk menyalip dan menghadang jalan mobil putih tersebut.
Shohei turun dari mobilnya lalu bergegas menghampiri mobil tersebut.
"Buka pintunya!" Shohei mengetuk-ngetuk pintu mobil putih itu.
"Apa yang kau lakukan, Brengsekk!" teriak pengemudi tersebut sambil membuka kaca mobil. Tampaknya, dia sedang mabuk.
"Cepat turun! Kau tidak hanya melanggar lalu lintas, tapi juga menabrak orang!"
"Siapa kau? Mau jadi pahlawan?" umpat pengemudi itu.
"Aku polisi."
"Hah?" Mulut pengemudi itu terbuka lebar sebesar bola kasti. Detik berikutnya dia tertawa terbahak-bahak. "Kalau kau polisi maka aku Perdana Menteri. Kau pasti polisi palsu yang berniat memeras, kan?" kata pria itu tak percaya.
"Kalau begitu kau akan menyesal karena tidak percaya." Shohei menunjukkan kartu identitas kepolisian miliknya.
.
.
.
catatan author ✍️✍️
FYI, polisi merupakan salah satu profesi yang bergaji tinggi di Jepang. Pendapatan mereka per tahun kalo dirupiahkan sekitar 800 jutalah. itu di luar tunjangan dan fasilitas. dan emang penegak hukum di sana tuh gajinya tinggi-tinggi, alasannya sih biar ga tertarik lagi buat korupsi atau disuap.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
Juli Ana
gaji nya uda sebukit, tapi Masih korupsi lagi
2024-01-05
0
ㅤㅤㅤㅤ😻Kᵝ⃟ᴸ⸙ᵍᵏ نَيْ ㊍㊍🍒⃞⃟🦅😻
ketidak pedulian Yuri malah bikin Rai kesal,rasain🤣🤣👻
por seina sesaat di cuekin Shohei gegara ngejar pengemudi ugal²an🤣
2023-11-21
0
sakura🇵🇸
yuri membuat rai makin tertantang😄😄
tp ya gimana...emang kenyataan klo sekarang hidupmu terlalu standar untuk jadi player🙈
2023-03-14
0