Membayangkan kakaknya berduaan dengan pria lain di dalam apartemen, membuat Ryo terhuyung hingga hampir jatuh ke tangga. Untungnya, punggungnya segera ditahan oleh Yuriko yang kebetulan sedang menaiki tangga.
"Kau baik-baik saja?"
Ryo menoleh pelan dengan kepala yang serasa berputar-putar. "Aku ... tidak baik-baik saja," ucap pria itu sambil menuruni anak tangga dengan langkah gontai dan wajah yang kaku. Namun, baru tiga langkah, ia kembali naik dan memilih untuk menggunakan lift.
Tampaknya, apa yang baru saja ia lihat benar-benar membuatnya syok. Jujur, ini pertama kalinya ia melihat pria asing datang ke apartemen kakaknya di jam larut seperti ini. Setahunya, Rai tidak pernah menunjukkan kedekatan intens terhadap sesama jenis. Bahkan dengan Yuta sekalipun yang telah mengenalnya selama tujuh tahun. Kakaknya adalah pria yang senang bermain perempuan dan sering bergonta-ganti pasangan tidur. Mana mungkin tiba-tiba tertarik dengan pria, bukan?
Sementara, Yuriko masih memerhatikan tingkah Ryo yang aneh. Pria itu memencet tombol tetapi hanya berdiri membatu di garis pintu lift. Yuriko menahan tawa ketika lift itu menjepit tubuh Ryo hingga membuat pria itu terhenyak bagaikan mendapat serangan halilintar.
Yuriko mengernyit seraya mengingat-ingat sesuatu. Ah, dia baru menyadari jika Ryo adalah adik Rai yang pernah datang ke apartemen itu sebelumnya.
"Dasar, kakak dan adik sama-sama stress!" gumam Yuriko sambil masuk ke apartemennya.
Di dalam apartemen, Shohei menjelaskan jika target mereka selanjutnya bukan dari kalangan pejabat pemerintahan, melainkan seorang mahasiswa yang bersekolah di Universitas Keio. Mendengar hal itu, Rai sedikit terkesiap. Sebab Yuriko juga kuliah di universitas yang sama dengan targetnya kali ini.
"Sebenarnya aku menyimpan bukti kejahatannya dari rekaman dashboard di mobilku pada saat malam kejadian. Tapi, memakai itu sebagai alat bukti akan membuat orang lain mencurigaiku. Jadi, yang harus kau lakukan adalah membuat dia mengakui kejahatannya di depan seluruh publik," ucap Shohei dengan nada serius setelah menceritakan perkara yang akan mereka ungkap.
Rai menatap sosok pria yang berada di dalam laptop Shohei. "Ini hal yang sangat mudah!"
"Ingat, jangan melakukan tindakan yang berbahaya."
"Oke-oke, percayakan padaku!" Rai menepuk dadanya.
Tiba-tiba, Rai teringat dengan steak yang ia masak bersama adiknya. "Oh, iya, aku baru saja selesai memasak steak Wagyu. Apa kau mau makan bersamaku?" tawar Rai seraya berjalan ke meja makan.
Shohei mengekor Rai dari belakang. Matanya tertuju pada sebotol anggur putih yang persis dengan Seina bawa malam itu. Bibirnya refleks mengulas senyum tipis mengingat kembali kencan pertama antara ia dan kekasihnya itu.
"Bagaimana kencan kalian?" tanya Rai sambil duduk bersila.
Shohei turut duduk di hadapan Rai. "Kami cocok satu sama lain," jawab Shohei sambil senyam-senyum.
"Sugoi! Jadi, berapa kali kalian melakukannya saat liburan? Apakah seperti resep dokter yang tiga kali sehari? Ataukah seperti bermain judi alias sulit berhenti?" tanya Rai bersemangat.
"Hei, kau terlalu maju!" tegur Shohei saat wajah mereka nyaris menyatu.
Rai langsung memundurkan wajahnya. "Gomen, aku jadi bersemangat kalau membicarakan tentang hubungan ranjang. Apalagi sejak keluar dari penjara aku belum pernah berhubungan dengan wanita manapun," ucapnya dengan tawa menggelitik.
"Kalau soal itu ... kami belum melakukannya. Dia tertidur pulas sepanjang malam."
"Apa?! Sudah sekamar tapi tidak melakukan apa pun?" teriak Rai hingga membuat bahu Shohei terangkat.
"Reaksimu terlalu berlebihan," cela Shohei, "menurutku, menjalin hubungan sebelum berkomitmen bukan untuk menyalurkan nafsuu biologis saja. Tetapi agar bisa saling belajar memahami satu sama lain."
"Em ... kau pasti tipe pria yang selalu berusaha membahagiakan pasanganmu," ucap Rai sambil menuangkan anggur di gelas Shohei.
"Tidak. Dibanding membuat pasanganku merasa bahagia, aku lebih memilih dia merasa nyaman ketika bersamaku. Karena aku yakin untuk perempuan seperti dirinya, sangat mudah meraih kebahagiaan. Oleh karena itu, aku ingin berusaha membuatnya merasa nyaman. Agar jika suatu saat nanti dia menemukan pria yang bisa membuatnya bahagia, aku masih menjadi bahan pertimbangannya karena rasa nyaman yang ia miliki ketika bersamaku."
Rai menepuk tangannya. "Sugoi! Kau benar-benar pria idaman di mata perempuan baik-baik," puji Rai.
Rai mengangkat gelasnya yang berisi anggur putih, kemudian mengajak Shohei bersulang. Sejenak, ia teringat dengan Yuriko yang begitu mengagumi Shohei. Dan sebenarnya ia punya utang janji untuk mengenalkannya pada Shohei.
"Oh, iya, apa aku boleh mengajak tetangga sebelah untuk gabung bersama kita? Kebetulan aku masih punya satu steak," ucap Rai tiba-tiba.
"Maksudmu ... nona bertopi yang menemukan dompetku?"
Terkekeh sebentar, Rai pun mengangguk. "Dia berkuliah di tempat yang sama dengan target kita. Dia hanya tinggal sendiri. Mungkin saja belum makan malam. Jika kau tak keberatan aku akan mengajaknya makan di sini."
"Silakan saja!"
Rai lekas berdiri, tetapi tidak langsung pergi. Ia malah menuju dapur dan mencari-cari sesuatu.
"Nah, ini dia!" ucap Rai begitu menemukan dua tutup panci berdiameter dua puluh lima senti.
"Hei, bukankah kau mau memanggil tetanggamu? tegur Shohei yang heran melihat Rai malah ke dapur dan mengorek-ngorek isi lemari.
"Ya, ini adalah caraku memanggilnya. Memanggil gadis itu tidak bisa dengan cara biasa, harus dengan ini," jawab Rai sambil menunjukkan dua tutup panci.
"Hah? Benarkah?" Shohei tampak penasaran.
"Kalau tidak percaya ikut aku!" ajak Rai.
Shohei kemudian berdiri dan ikut bersama Rai ke apartemen Yuriko. Begitu berada di depan pintu, Rai memanggil-manggil gadis itu seraya mengetuk pintu apartemennya.
"Yuri-chan, ini aku!" panggil Rai berkali-kali. Sayangnya, tak ada respon apa pun dari dalam apartemen. "Yuri-yuri, buka pintunya!" Kali ini Rai meninggikan nada suara bahkan berteriak memanggil nama Yuriko berulang kali. Namun, pintu itu masih terus tertutup, bahkan tak ada jawaban sama sekali.
Shohei yang turut berdiri di samping Rai, lantas berkata, "Sudahlah, mungkin saja dia tidak ada di rumah."
"Aku tahu jam begini dia pasti sudah pulang. Baiklah, kalau begitu kita pakai cara kedua." Rai memukul-mukul dua tutup panci layaknya sedang bertepuk tangan. Suara panci yang berdentang nyaring menimbulkan kebisingan sehingga membuat Shohei menutup telinganya rapat-rapat.
Rai terus memukul dua tutup panci itu dengan penuh semangat. Tak lama kemudian, pintu apartemen gadis itu terbuka. Namun, bertepatan dengan itu sebuah bantal turut melayang ke arah Rai. Untungnya, pria itu bergegas bersembunyi di belakang Shohei. Sialnya, benda itu malah menghantam wajah pria berkacamata itu.
Di waktu yang sama, Yuriko yang sedang memakai masker muncul dengan mata yang berapi. Bagaimana tidak, ini bukan yang pertama kali Rai mengganggunya. Pria itu sering mencari perhatian dengan cara-cara yang menjengkelkan.
"Sudah kubilang jangan terus memanggilku setiap ma—"
Yuriko tak meneruskan kalimatnya saat melihat Shohei berdiri tepat di hadapannya. Mata gadis itu membulat sempurna diikuti dengan mulut yang sedikit terbuka.
"Konbanwa (selamat malam)," sapa Shohei sambil menunduk sopan.
"Kon–ban–wa," balasnya terputus-putus diikuti ekspresi penuh keterkejutan. Masker di wajahnya tampak retak-retak seperti tanah yang dilanda gempa.
"Hei, kami mengajakmu makan bersama di apartemenku. Kau mau tidak?" tanya Rai yang muncul dari belakang badan Shohei.
"Tentu saja aku mau!" jawab Yuriko spontan dengan tatapan terpaku di wajah Shohei.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
Mayyuzira
asli muncrat ketawa ku,pasangan gokil ini,cucok Kabeh hahahahaha
2024-11-27
0
ㅤㅤㅤㅤ😻Kᵝ⃟ᴸ⸙ᵍᵏ نَيْ ㊍㊍🍒⃞⃟🦅😻
langsung tekicep liat Shohei didepan pintu
2023-11-22
0
ㅤㅤㅤㅤ😻Kᵝ⃟ᴸ⸙ᵍᵏ نَيْ ㊍㊍🍒⃞⃟🦅😻
lah bengeek bayanginnya
2023-11-22
0