"Hei, kalian saling kenal, ya?"
Pertanyaan Rai membuat Shohei dan Yuri sontak menoleh.
"Hum." Shohei mengangguk. "Kemarin saat membeli bunga, dompetku tiba-tiba hilang. Untungnya Nona ini menemukannya," tuturnya menjelaskan.
"Mwo?" Mulut Rai membentuk huruf O. "Dia menemukan dompetmu?" tanyanya tak percaya.
Shohei mengangguk.
"Dan dia mengembalikannya padamu?"
Shohei kembali mengangguk.
"Apa uangmu utuh saat dia mengembalikannya?"
Alis Shohei nyaris tersambung karena bingung dengan pertanyaan Rai.
"Apa-apaan, apa kau pikir aku mengambil uangnya?!" Yuriko yang dari tadi menahan napas, kini tak terima dengan kecurigaan Rai.
Rai tak membalas, justru melempar senyum mengejek padanya. Ia lalu memalingkan wajah ke arah Shohei. "Aku sudah menunggumu dari tadi. Ayo masuk, aku sudah tidak sabar!"
"Aku membawakan suplemen agar kau bisa menjaga stamina selama musim dingin." Shohei mengangkat bag paper yang dibawanya. Ia menoleh sebentar pada Yuriko hanya untuk melempar senyum seraya menunduk sopan, sebelum akhirnya masuk ke apartemen Rai.
Kini, hanya ada Yuriko yang berdiri bodoh di depan pintu. Ia terdiam selama beberapa detik dan menyadari sesuatu yang aneh.
"Ayo masuk, aku sudah tidak sabar!"
Ucapan Rai barusan kembali menggaung di telinga Yuriko. Tak hanya itu, balasan Shohei yang menunjukkan sebuah perhatian tak biasa terhadap sesama kaum lelaki seakan menggiringnya untuk berpikiran negatif.
Tunggu! Mereka berdua saling kenal? Tidak! Tidak! Kurasa bukan hanya saling kenal. Mereka mungkin sangat dekat.
Yuriko kembali menatap pintu apartemen Rai. Matanya yang bulat, semakin membulat. Ia mengangkat jari telunjuk kirinya perlahan, lalu diikuti dengan mengangkat jari telunjuk kanan. Mengibaratkan kedua telunjuk itu adalah Rai dan Shohei.
Dua orang pria dewasa berada dalam satu ruangan sepagi ini?
Yuriko menggeleng-gelengkan kepalanya diikuti wajah yang menahan ngeri. Tak mau berpikir yang tidak-tidak, ia pun buru-buru masuk ke apartemennya. Ternyata yang ia lakukan adalah menempelkan telinga di dinding pembatas ruangan yang bersebelahan langsung dengan apartemen Rai. Gadis itu bagaikan seekor cicak yang merayap di dinding, demi untuk menguping apa yang tengah dibicarakan kedua lelaki itu di dalam sana.
Kenapa tidak ada suara? Tidak mungkin apartemen ini kedap suara.
Yuriko sungguh penasaran. Namun, tiba-tiba ia teringat tentang yang hendak Rai lakukan kepadanya semalam. Ia pun bersandar di dinding seraya bernapas lega.
Kurasa aku terlalu berlebihan. Mana mungkin mereka bermain 'pedang-pedangan' di dalam sana.
Entah kenapa, tiba-tiba wajah Shohei yang tersenyum lembut kembali muncul di benaknya. Dia benar-benar terpesona dengan pria itu sampai-sampai wajahnya terus bergerilya di pikirannya.
Oh, pak polisi yang tampan, ramah dan kaya!
Tersadar jika ini sebuah kesempatan untuk mengenal pria itu lebih jauh, Yuriko pun bergegas menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Ia sibuk memilih baju yang cocok untuknya. Ia bahkan sampai melepaskan plester yang merekat di pipi. Ternyata bekas luka cakaran masih terlihat jelas. Hal itu tentu membuatnya kesal.
"Mungkin jika aku mengoleskan alas bedak lukanya akan tersamarkan." Yuriko mulai mengaplikasikan foundation dan beberapa alat makeup lainnya di wajahnya. Ia juga membentuk rambutnya agar sedikit bergelombang. Semua yang ia lakukan tentu untuk membuat pria berprofesi polisi itu tertarik padanya.
Sementara di dalam apartemen Rai, kedua pria itu tengah merencanakan misi selanjutnya untuk menjebak anggota senator dan juga wakil kepala Departemen Inspeksi Biro Perpajakan Nasional Tokyo. Pasalnya, dari hasil penemuan data yang pernah diretas Rai, Shohei menemukan adanya dugaan pelanggaran undang-undang pajak penghasilan yang dilakukan salah satu anggota senator atas perusahaannya.
"Lakukan malam ini!" ucap Shohei sambil memberi sebuah alamat. Usai membuat strategi, ia pun memutuskan untuk pulang.
Rai mengantar kepergian Shohei sampai di depan pintu. Baru saja hendak masuk untuk melanjutkan tidurnya, ia malah tertegun melihat Yuriko yang tiba-tiba keluar dengan penampilan berbeda dari sebelumnya. Sebaliknya, melihat Rai berdiri sambil bersandar di tiang pintu, membuat Yuriko terhenyak.
"Masih pagi begini mau ke mana?" tanya Rai seraya menatap penuh ke arah gadis itu.
"Ma–mana pak polisi?" Yuriko mencoba menengok ke dalam apartemen Rai.
"Dia baru saja pulang."
"Apa?!" Yuriko terlonjak seketika.
"Kenapa?"
Yuriko terdiam seketika. Ia menyeret langkahnya sedikit demi sedikit ke arah Rai sambil memasang wajah manis bak anak kecil yang mencari perhatian.
"Hei, ada hubungan apa antara kau dan polisi itu?" tanya Yuriko setengah berbisik.
"Kenapa mau mencari tahu?" ketus Rai sambil bersedekap dan menaikkan dagunya ke atas.
Bibir Yuriko membentuk senyuman lebar hingga sepasang matanya menyipit. "Jika kalian sangat dekat, tolong kenalkan aku padanya!" bujuk gadis itu masih memasang wajah manis.
"Kau menyukainya?" tanya Rai datar.
Yuriko mengangguk cepat. "Dia sangat tampan, dan juga terlihat baik hati."
Tak mau kalah, Rai justru berkata, "Kurasa aku lebih tampan darinya!"
"Berhubung kau miskin, jadi kau kurang tampan di mataku."
Pernyataan jujur Yuriko membuat Rai termegap-megap. Sambil mengeronyotkan bibir, ia lantas berkata, "Aku dulu juga lebih kaya darinya. Bahkan aku memiliki rumah di kawasan Azabu."
"Ah, sudah ... sudah! Berhenti mendongeng." Yuriko mengibaskan sebelah tangannya ke arah Rai, menyuruhnya untuk berhenti bersuara. "Jadi bagaimana? Kau mau dekatkan kami berdua, 'kan?"
"Ti-dak!" tolak Rai penuh penekanan. Ia malah langsung masuk ke apartemennya.
Yuriko turut mengikuti Rai masuk. Ia tak menyerah untuk membujuk pria itu.
"Ayolah! Dia benar-benar sesuai dengan kriteria pria idamanku selama ini. Andaikan saja dia menjadi kekasihku ...." Yuriko menangkup kedua tangannya seraya kembali membayangkan wajah Shohei.
"Bagaimana kalau kau bayangkan saja aku yang jadi kekasihmu," ujar Rai sambil mengangkat alisnya. Ia mengelus dagu sambil kembali berkata, "Kurasa aku jauh lebih tampan darinya jika disuruh memakai seragam polisi."
"Berhenti mempromosikan dirimu sendiri!" ketus Yuriko kesal.
Bukannya diam, Rai justru kembali berkata, "Benar kau tidak menyukaiku? Aku ini pemain hebat dan tahan lama loh!" Kali ini Rai memasang ekspresi nakal sambil mengangkat sedikit kausnya, sengaja memperlihatkan pahatan indah di perutnya.
Hal itu tentu membuat Yuriko melempar tatapan kesal. "Satu hal yang tidak kusuka darimu adalah tingkat percaya dirimu yang tinggi, wajahmu yang genit, dan sikapmu yang pemaksa!"
"Katanya hanya satu hal, tapi kenapa banyak sekali," imbuh Rai diiringi dengusan napas kasar.
"Karena begitulah penilaianku tentangmu!"
Rai berjalan mendekat ke arah Yuriko hingga membuat gadis itu sedikit memundurkan badannya ke belakang. Rai malah membungkuk untuk mensejajarkan tinggi badan mereka. Yuriko hanya mampu menunduk ketika pria itu mulai mendekatkan wajahnya.
"Apa yang ingin kau lakukan! Cepat menjauh!"
"Aku cuma ingin bertanya, kapan kau akan kembali ke apartemenmu?"
Yuriko terhenyak seketika. Matanya refleks berkeliling menatap sekitar ruangan. Sungguh ia baru menyadari jika sedang berada di apartemen pria itu.
"Aku akan kembali sekarang!" ketusnya seraya mendorong tubuh Rai dan bergegas keluar dari apartemen pria itu.
Rai tersenyum kecil sambil mengusap bibirnya. "Tak tertarik padaku? Mana boleh seperti itu," gumamnya sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.
Malam pekat yang dingin pun tiba, Seina bersama kawan-kawannya sedang asyik berkumpul di sebuah kafe yang menawarkan hidangan udon khas musim dingin. Seina menceritakan tentang hubungan yang baru ia jalani bersama seorang detektif ternama dari Kepolisian Metropolitan.
"Ini pertama kalinya aku menjalin hubungan dengan pria matang. Dia sangat berwibawa dan cerdas. Kurasa aku perlu bersikap dewasa untuk mengimbanginya," ucap Seina sambil menyantap mie udon.
"Kau salah Seina. Pria matang justru menyukai gadis muda seperti kita karena mereka ingin kita bermanja-manja di depan mereka," seru salah satu temannya.
"Benarkah seperti itu?" Seina meragukan saran temannya.
"Benar. Percayalah jika kau bersikap dewasa itu membuatnya berpikir kalau kalian seumuran. Jadi, sebaiknya bermanja-manjalah dengannya. Sikap kita yang seperti itu juga bisa membuatnya melepas kepenatan di kala sibuk bekerja," sambung teman lainnya.
Di saat mereka semakin larut dalam obrolan. Salah satu teman Seina yang sibuk memegang ponselnya tiba-tiba berseru, "Black Shadow comeback! Dia kembali beraksi!"
Wanita itu menunjukkan ponselnya di mana sebuah video streaming akan menampilkan channel khusus Black Shadow. Siaran televisi di kafe itu juga tiba-tiba teracak, menandakan jika seluruh saluran televisi sebentar lagi akan dikuasai oleh Black Shadow. Ya, seperti diketahui, Black Shadow selalu menayangkan aksinya secara langsung. Ia akan meretas seluruh stasiun televisi, videotron, dan layanan streaming di beberapa aplikasi online sehingga seluruh publik bisa melihatnya.
Meskipun begitu, aksinya selalu menjadi tontonan yang ditunggu-tunggu seluruh lapisan masyarakat. Para pejalan kaki serempak menengok ke arah videotron. Orang-orang yang berada di kafe langsung berhenti makan dan fokus menunggu saluran khusus Black Shadow. Para pekerja yang sibuk, lantas berhenti sejenak lalu mengambil ponsel mereka masing-masing bersiap untuk menonton pria yang kerap memakai pakaian serba hitam itu.
Di sebuah ruangan tertutup, Mr. White duduk santai sembari memantau siaran yang sedang berlangsung di laptopnya. Pria berkacamata itu memasang earpiece di telinganya, lalu berkata, "Silakan dimulai, Black!"
Seina mendadak berdiri ketika sesosok pria bertopeng yang pernah mencuri ciumannya, muncul di layar televisi menyapa seluruh penonton layaknya seorang reporter.
Sambil memegang mic, Black Shadow mengumandangkan semboyannya dengan penuh semangat. "Mina-san (semuanya), Black Shadow hadir kembali untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi dalam kegelapan. Mari kita perjelas, sejelas hitam dan putih!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
༄ⁱᵐ᭄✿ΛLєKƬΉΛ࿐🌴 🍉
ahahaahaaaa... iya ya.. mereka mau main pedang²an itu kan isi otakmu yuri... /Facepalm//Facepalm/
2024-09-23
0
🐥Yay
wkwkwk waduh
2024-09-18
0
ᏉᎨᎾᏁᎯ
auto illfeel.. disangka merekaaa.... 🤭🤣🤣🤣
2023-09-24
0