Setelah mengantar Seina pulang, Shohei singgah ke kantor Departemen Kepolisian Sumida untuk menanyakan kabar kelanjutan kasus tabrak lari semalam.
Shohei tergemap ketika salah satu polisi di Departemen Sumida itu mengatakan bahwa Kepala Kepolisian Nasional sendiri yang meminta mereka agar membebaskan si penabrak lari itu dan menutup kasus. Sebab, pelaku adalah anak dari wakil ketua Parlemen yang sangat dekat dengan Perdana Menteri dan juga berada di partai yang sama.
Mendengar hal itu, membuat kedua tangan Shohei mengepal kuat. Pelaku melakukan pelanggaran dengan kebut-kebutan di jalanan, mabuk saat berkendara, dan menabrak pengendara lainnya hingga tewas, tetapi dibebaskan begitu saja oleh petinggi kepolisian dengan alasan karena dia adalah anak dari wakil ketua Parlemen. Lebih parahnya lagi, kejadian tabrakan itu dilaporkan sebagai kecelakaan tunggal sehingga keluarga korban tidak mendapatkan uang pertanggung jawaban dari pelaku.
Bagaimana bisa seorang pimpinan kepolisian menerapkan hukum tebang pilih?
Keesokan harinya, Shohei memeriksa dashboard di mobilnya di mana tersimpan jejak rekaman pengemudi mobil putih saat sedang ugal-ugalan di jalan raya hingga menabrak pengendara motor. Ia menghentikan rekaman itu, untuk mengambil nomor plat mobil tersebut. Dari hasil lacakan, ternyata pengemudi itu bernama Fukamu Masae. Seorang mahasiswa di universitas Keio, dan anak dari Fukamu Hiromi—wakil ketua Parlemen.
Jadi, dia kuliah di kampus yang sama dengan Seina?
Sepasang mata Shohei tak mengerjap membaca deretan artikel yang membahas profil keluarga Fukamu Hiromi. Pria yang menjabat sebagai wakil ketua Parlemen itu memang tidak ada dalam daftar pejabat korupsi. Meski begitu, Shohei tampak memikirkan sesuatu. Jari telunjuk kanannya mengetuk-ngetuk meja dengan perlahan, sementara tangan kirinya digunakan untuk mengelus dagunya yang licin.
Di tengah pikirannya yang sedang terpusat, tiba-tiba ia dikagetkan dengan suara dering telepon yang berasal dari Inspektur Heiji.
"Ada apa?"
"Cepatlah ke sini, Kepala Kepolisian Nasional mengadakan pertemuan pada seluruh detektif Metropolitan."
Mata Shohei terbuka lebar mendengar hal itu. Tak biasanya Kazuya Toda—Kepala Kepolisian Nasional—mengadakan rapat bersama para detektif. Apakah karena ada sebuah kasus besar? Berbicara tentang Kepala Kepolisian Nasional, Shohei baru saja geram sekaligus tak respek padanya setelah mengetahui pria itu memberi perintah kepada kepolisian Sumida agar membebaskan Fukamu Masae.
Shohei keluar dari ruangannya kemudian bertemu dengan Seto Tanaka dan beberapa detektif muda yang juga menuju ke ruangan pertemuan. Sebagai detektif senior yang telah memecahkan ratusan kasus per tahun, ia tentu dihormati dan dikagumi para detektif junior.
Shohei dan para detektif muda itu bersama-sama menuju ruang pertemuan. Setibanya di ruangan, terlihat beberapa pejabat tinggi Kepolisian duduk di depan sana.
"Kepolisian Metropolitan memiliki puluhan detektif elit terbaik, tetapi bagaimana bisa akhir-akhir ini kalian kalah cepat menangani kasus dari Black Shadow?" ucap Kazuya Toda dengan geram di sela-sela pidatonya.
Tampaknya, kasus penggelapan pajak dan pembohongan publik yang dilakukan Tomomi Fujimura, membuat malu dirinya. Bagaimana tidak, bukan hanya publik saja yang terkecoh atas kecelakaan palsu itu, tapi juga Kepolisian dan Kejaksaan. Dan lagi-lagi, Black Shadow berhasil mengungkap belang para pejabat hingga menjadikan pria bertopeng itu lebih unggul dan dipercaya masyarakat dibanding Kepolisian sendiri.
"Apa yang kalian lakukan selama ini? Kalian ada banyak jumlahnya dengan berbagai keahlian dan prestasi, kenapa bisa kalah dengan satu orang?! Black Shadow telah merusak citra Kepolisian Jepang sebagai polisi yang dikenal cepat dan tangkas. Kita tidak boleh membiarkan dia terus merebut hati masyarakat. Kita tidak boleh membiarkan kepercayaan masyarakat terhadap polisi menurun karena sosok misterius itu!" lanjutnya dengan menggebu-gebu.
Tiba-tiba, Shohei menggebrak meja hingga membuat semua mata tertuju padanya. Dia berdiri di tengah ratusan detektif kepolisian dengan berbagai jabatan. Wajahnya yang berang tercetak jelas tanpa berusaha ia tutupi.
"Maaf, menurutku bukan Black Shadow yang menurunkan citra Kepolisian Jepang, tapi polisi itu sendirilah yang telah merusak kepercayaan publik. Apa kita tidak berkaca, sudahkah kita benar-benar menegakkan hukum tanpa tebang pilih?" ucap Shohei dengan lantang.
Hal itu tentu membuat suasana rapat yang tadinya tenang menjadi sedikit bergemuruh. Kepala Kepolisian Metropolitan yang duduk di samping Kazuya Toda, tampak panik dengan pernyataan lugas yang dilontarkan Shohei. Ia berusaha memberi kode agar pria itu duduk dan berhenti bicara. Sementara para detektif lainnya saling berbisik dengan pandangan yang tertuju padanya.
"Hebat sekali! Dia berani membantah Kepala Kepolisian Nasional demi membela kita semua!" puji Inspektur Heiji sang kepala divisi kriminal dan investigasi yang duduk di samping detektif Shu.
"Tentu saja dia bisa selancang itu karena semua juga tahu dia anak Jendral Yamazaki yang begitu disegani," imbuh detektif Shu yang duduk bersedekap.
"Apa maksudmu dengan hukum tebang pilih?" tanya Kazuya Toda pada Shohei dengan wajah yang terlihat serius.
Shohei bergeming. Pasalnya, ia baru sadar atas tindakannya saat ini. Ia terlalu terbawa emosi atas kasus tabrak lari yang ditutup begitu saja tanpa keadilan. Menatap ke sekeliling ruangan yang menghening, Shohei pun membungkuk penuh.
"Mohon maafkan saya, maksud saya kenapa kita harus merasa tersaingi dengan keberadaan Black Shadow? Bukankah sejak ada dia, kita semua sedikit terbantu? Jika ingin merebut hati masyarakat, maka seharusnya polisi melakukan tugasnya dengan baik dan tidak diintervensi pihak manapun," ucap Shohei lalu duduk kembali.
Setelah rapat selesai, beberapa detektif muda tampak bergosip tentang ucapan Shohei tadi.
"Aku sangat mengidolakan Yamazaki-san, dia detektif panutanku dan aku banyak belajar darinya. Tapi ... aku juga sedikit setuju dengan apa yang dikatakan Kepala Kepolisian Nasional. Terus membiarkan Black Shadow eksis akan mengurangi citra Kepolisian," ucap Seto Tanaka. Ya, dia sedikit kesal karena kasus kecelakaan Tomomi Fujimura yang ditanganinya, lebih dulu berhasil diungkap oleh Black Shadow.
"Tapi ... kalau dipikir-pikir selama ini sasaran Black Shadow hanyalah kasus yang berhubungan dengan pejabat pemerintahan yang mungkin kita sendiri tak bisa melakukannya!" ucap salah satu polisi.
Tampaknya tak ada yang menyadari jika obrolan mereka didengar Shohei. Pria itu tersenyum masam, lalu berbalik dan berjalan lurus meninggalkan gedung.
Itulah yang kuinginkan, kalian terpacu untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.
Begitu berada di halaman gedung, ia berbalik pelan sambil menatap bangunan gedung kepolisian yang besar dan megah itu.
Meskipun sebenarnya, aku juga tak berani mengungkapnya sendiri, dan butuh orang lain melakukannya.
Untuk kesekian kalinya, ada hal yang masih abu-abu dan tak bisa ia ungkap secara langsung. Untuk itu, tentu saja ia butuh Black Shadow sebagai bayangannya yang akan memperjelas semuanya tanpa perlu ditutupi di depan publik.
Tak terasa, langit Tokyo telah menggelap. Rai membuka pintu ketika bel apartemennya terus berbunyi. Rupanya, Ryo datang mengunjunginya selepas pulang dari kantor. Dia memang sering mengunjungi kakaknya jika sedang tidak lembur.
"Oniichan, lihatlah yang kubawa!" Ryo menunjukkan kantongan plastik yang dibawanya. "Daging Wagyu segar dan anggur putih untuk makan malam kita!" serunya ceria seperti biasa.
Mendengar itu, Rai pun langsung bersorak, "Woah benarkah?" Ia merampas bawaan adiknya itu untuk mengecek secara langsung, "tapi ... tidakkah kau terlalu boros?"
"Tenang saja! Yamada Grup sangat menyejahterakan pegawainya. Gajiku naik lagi, jadi anggap saja ini perayaan atas kenaikan gajiku," jawab Ryo penuh semangat, "Bukankah kau sering bilang rindu makan daging Wagyu dan anggur putih?"
Rai menatap Ryo penuh haru. Pasalnya, sejak keluar dari penjara dan berhenti menipu, ia tak pernah lagi menyantap hidangan kelas atas seperti dulu.
"Kau membuatku ingin menangis."
"Kalau begitu menangislah di pelukanku!" ucap Ryo sambil membentangkan tangannya.
"Tidak mau. Kau bau keringat. Lagi pula menangis membuat ketampananku luntur!" celetuk Rai sambil menuju dapur. Ia menyiapkan pan lalu menyalakan kompor. "Baiklah, sekarang kita akan membuat steak Wagyu," ucap Rai sambil memasang apron di badannya.
"Tunggu, memangnya Oniichan bisa memasak?" tanya Ryo sambil ikut memasang apron dan memegang pan. Seingatnya, dulu Rai sering menyewa chef hotel di rumah mereka.
"Kau tidak tahu, ya? Sejak keluar dari penjara aku jadi pandai memasak. Lagi pula tidak ada yang sulit memasak daging Wagyu, hanya menambahkan garam dan lada saja." jawabnya sambil mulai memasak.
Lima belas menit kemudian, Rai membawa steak daging Wagyu ke meja makan. Sementara Ryo sibuk membuka botol anggur dan turut menyajikan di atas meja.
"Hhmm ... aku sudah tidak sabar menyantap daging Wagyu buatanmu." Ryo menghirup aroma steak sembari menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.
"Tunggu, aku baca pesan dulu!" Rai mengambil ponselnya yang membunyikan pemberitahuan pesan masuk. Matanya terbelalak kaget saat membaca pesan dari Shohei yang mengatakan sedang berada di lantai bawah dan akan menuju ke apartemennya. Ia yang sudah paham tujuan kedatangan Shohei, tentu saja mendadak panik karena Ryo ada di sini.
Gawat! Ryo tidak boleh tahu tentang apa yang akan kubahas dengan Shohei! Dia pasti juga akan curiga jika aku berhubungan dengan polisi.
"Ryo-chan, e ... sebaiknya kau pulang sekarang! Pacarku sedang menuju ke sini," ucap Rai yang tampak gelagapan.
"Hah? Kenapa aku harus pulang? Aku adikmu, bukankah tidak masalah jika aku kenalan dengan pacar barumu? Kita bisa makan malam bersama," balas Ryo yang menolak disuruh pulang.
Rai menggaruk-garuk kepalanya karena bingung memberi alasan pada Ryo agar dia mau pergi sekarang.
"Gomen, tapi ... kekasih baruku ini sangat pemalu. Dia juga alergi orang baru. Dan lagi ... kami akan bercinta malam ini. Aku tidak mau kehadiranmu di sini, membuatnya batal memberiku jatah." Kata-kata itu menyembul secara tiba-tiba dari mulut Rai. Ia lalu mengangkat lengan adiknya seraya menyuruhnya untuk segera keluar.
"Ta–tapi setidaknya aku mau mencicipi masakanmu dulu! Aku ingin tahu rasanya," ucap Ryo sambil berusaha kembali ke meja makan.
"Tenang saja, nanti akan kuceritakan rasanya," balas Rai sambil mendorong Ryo agar segera pulang.
"Lalu, setelah kau ceritakan rasanya apa itu bisa membuatku kenyang?"
Terus menggiring adiknya menuju pintu keluar, Rai kembali berkata, "Kau kan baru saja naik gaji, jadi belilah makanan enak di restoran. Oke? Jaa mata (sampai jumpa)."
Rai menutup pintu apartemennya seraya bernapas lega. Sementara Ryo hanya bisa mengernyit dengan ekspresi berlebihan kakaknya. Ia pun melangkah pergi meninggalkan apartemen Rai.
Selang lima menit kemudian, Shohei tiba di lantai apartemen Rai. Ia mengetuk pintu, dan Rai langsung menyambut kedatangannya.
"Apa aku mengganggumu?"
"Tentu saja tidak."
"Ada orang?" tanya Shohei seraya mengintip ke dalam ruangan.
"Tadi ada adikku tapi dia sudah pulang. Masuklah!"
Begitu Shohei masuk, Rai bergegas menutup pintu. Namun sebelumnya, ia sempat menengok ke kiri dan kanan koridor apartemen untuk memastikan adiknya telah benar-benar pulang.
Tepat saat pintu apartemen itu tertutup, Ryo yang ternyata sedang bersembunyi di balik dinding, hanya bisa terdiam kaku dengan mata melotot yang tak berkedip. Sejenak, ia teringat kembali ucapan Rai yang mengatakan pacarnya akan datang dan bercinta dengannya malam ini.
"Pa–pacarnya seorang pria? Se–sejak kapan Oniichan mengubah seleranya?" gumamnya dengan wajah menahan ngeri seakan sedang menonton film horor.
.
.
.
.
.
para detektif kece yang akan eksis di chapter-chapter mendatang
Inspektur Heiji.
ada yang masih ingat ga momen pas Shohei dan Heiji rebutan teropong di GA 🤣🤣
detektif Shu yang terkenal songong masih ingat, gak?
Megumi Jun.
di chapter awal udah dijelasin ya dia lagi ngambil gelar profesor hukum jadi lagi cuti kerja gays.
Detektif Seto Tanaka.
ada yang kenal visualnya, gak 🤣
.
.
.
Jejak kaki 🦶🦶🦶
Daging Wagyu itu daging sapi Jepang yang memiliki kualitas tinggi dari segi rasa dan gizi. ini daging sapi termahal di dunia gays dan hanya ada di Jepang.
Jangan lupa tunjukkan cinta kalian pada karya ini, jika mau karya ini terus di NT hingga akhir 😎
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
༄ⁱᵐ᭄✿ΛLєKƬΉΛ࿐🌴 🍉
Profesor bknnya itu gelar akademisi yak? BUKAN gelar dr jenjang pendidikan? setau ku sih... jenjang pendidikan hanya sampe S3 dg gelar DR (doktor). Gelar Profesor di berikan utk org yg sering mengisi pembahasan ilmiah...
maaf kalo salah..
2024-09-25
1
Nadya
bisa-bisanya 😂
2024-09-19
0
ulala ❤️❤️
jd salah sangka ya Rio 🤣
2024-05-09
0