Ch. 3 : Akan Bertunangan?

"Kalau begitu mari saya antarkan!" ucap pelayan sambil mengarahkan Shohei dan Seina menuju ruang VIP yang telah di-booking untuk mereka. Tampaknya suasana canggung membelenggu kedua orang itu. Terbukti mereka berusaha mengalihkan pandangan meski sedang berjalan beriringan.

"Ini ruangannya." Pelayan itu membungkuk sopan seraya menunjuk tempat yang telah di-booking ayah Seina.

Masih canggung satu sama lain, Shohei dan Seina kembali saling melirik.

"Silakan Nona masuk lebih dulu!" ucap Shohei dengan senyum yang kaku.

Seina lalu membuka pintu ruangan itu. Keduanya sama-sama terkejut karena ternyata ayah mereka sedang asyik mengobrol di dalam sana.

"Oh, mereka datang bersamaan!" ucap Tuan Matsumoto, ayah Seina yang menjabat sebagai Menteri Kehakiman. "Apakah kalian sudah saling mengenal sebelumnya?" tanyanya tampak senang.

"Kami bertemu di lift secara kebetulan," jawab Seina sambil duduk di samping ayahnya.

Shohei pun turut duduk di samping ayahnya yang merupakan seorang pensiunan jenderal dan pernah menjabat sebagai Kepala Kepolisian Nasional.

"Ottousan, kenapa kau juga ada di sini?" bisik Shohei.

"Aku harus memastikan kau datang!" jawab Tuan Yamazaki.

"Yamazaki-san, kenalkan ini anakku satu-satunya, dia kuliah di jurusan hukum. Usianya juga baru dua puluh dua tahun. Kuharap kau bisa menjaganya. Aku sudah terlalu tua, maka dari itu aku ingin memastikan dia menemukan pria yang tepat."

Mata Shohei refleks membesar ketika Menteri Kehakiman memintanya untuk menjaga putrinya.

"Matsumoto Seina," ucap gadis di hadapannya sambil menunduk sebagai salam perkenalan.

"Yamazaki Shohei," balas Shohei sambil ikut menunduk.

"Yamazaki-san adalah ketua penyidik Kepolisan Metropolitan lulusan Universitas Oxford. Dia sangat cerdas dan berprestasi," tutur Menteri Kehakiman pada anaknya.

"Anda terlalu memuji, Tuan." Shohei buru-buru berkata sambil menunjukkan wajah malu-malu.

"Apa pendapatmu tentang Yamazaki-san, Seina-chan?" tanya Menteri Kehakiman pada putrinya.

"Dia ...." Seina memberanikan diri menatap Shohei yang duduk di hadapannya. "Dia pria dewasa yang berwibawa, baik, ramah dan sopan," ucap Seina dengan rona merah di pipinya.

"Sudah kubilang anakku pasti akan menyukai anakmu," ucap Menteri Kehakiman pada ayah Shohei sambil tertawa senang. "Kau sendiri bagaimana? Apa pendapatmu tentang putriku?" Menteri Kehakiman melempar pertanyaan pada Shohei.

Shohei menatap Seina yang menunduk malu-malu seraya mengulum bibir sendiri seakan tak sabar menanti jawabannya.

"Menurut saya, Matsumoto-san gadis yang cantik. Untuk yang lainnya, saya belum bisa menilai karena kami baru bertemu di sini," ucap Shohei secara gamblang.

"Ini yang kusuka darimu!" tunjuk Menteri Kehakiman sambil terkekeh, "kau selalu memiliki penilaian yang jujur dan tidak suka menerka-nerka!" Tampaknya Menteri Kehakiman begitu terkesan dengan kepribadian Shohei.

"Shohei mengabdikan waktunya untuk mengusut setiap kasus yang membuatnya penasaran. Aku sempat khawatir karena dia tak pernah membawa seorang wanita. Tapi begitu mendengar jawabannya tadi, hatiku sedikit lega setidaknya dia masih tahu gadis cantik," imbuh Tuan Yamazaki yang ikut tertawa.

Kedua pria tua itu kembali tenggelam dalam perbincangan dunia politik. Mereka membahas mengenai Menteri Kehakiman yang akan segera pensiun dan rumor yang berembus jika posisinya akan digantikan oleh Megumi Jun, senior Shohei yang sekarang sedang mengambil studi lanjutan di Harvard.

Di tengah obrolan kedua ayah itu, Shohei dan Seina justru hanya saling bertatap-tatapan tanpa berkata apa pun. Hanya segaris senyum malu-malu yang terulas dari bibir mereka. Tampaknya, mereka saling tertarik satu sama lain.

"Apa kita sudah bisa menetapkan tanggal pertunangan kalian? Karena aku tahu Yamazaki-san sangat sibuk, jadi lebih baik kuserahkan padamu untuk memilih waktu yang tepat. Jika kalian sudah bertunangan, aku tidak keberatan jika kau ingin membawa Seina tinggal bersamamu," ucap Menteri Kehakiman secara tiba-tiba.

Hal itu tentu membuat Shohei terkesiap. Raut wajahnya berubah seketika, seakan menolak usulan pertunangan yang hendak dilaksanakan secara mendadak.

Shohei memperbaiki posisi duduknya, lalu berkata, "Ano ...."

"Papa, Akan lebih baik jika pertunangan dilaksanakan setelah kami sudah saling mengenal lebih jauh." Seina langsung mengemukakan pendapatnya di saat Shohei baru saja hendak bersuara, lalu menoleh ke arah pria itu lalu berkata, "bukankah begitu, Yamazaki-san?"

Shohei buru-buru menjawab. "Saya setuju dengan saran dari Matsumoto-san," ucapnya menunduk.

Seina menatap Shohei yang tampak bernapas lega. Sebenarnya, ia menolak usul ayahnya karena melihat ekspresi ketidaksetujuan yang ditunjukkan pria itu.

"Ya, sudah. Biarkan mereka saling mengenal lebih dekat. Tidak perlu buru-buru," ucap ayah Shohei sambil menuang anggur putih di gelas bertangkai.

Usai makan malam bersama, Shohei pun mengantarkan Seina ke kamar hotel. Seina menginap di hotel itu karena besok akan ada acara seminar kampus yang diselenggarakan di gedung itu. Begitu sampai di depan pintu kamar, Seina membungkuk di hadapan Shohei.

"Arigatou gozaimasu, telah mengantarku sampai di sini."

"Tidak masalah," balas Shohei. Sempat terdiam beberapa detik, ia pun pamit kepada Seina, "Kalau begitu ... sampai jumpa kembali."

Ketika Shohei hendak pergi, Seina langsung berkata, "apa kau tidak ingin bertukar nomor kontak denganku?"

Shohei tersentak, lalu merogoh saku dan mengambil ponselnya dengan cepat. "Jika ... Matsumoto-san memperbolehkan."

"Seina. Mohon panggil nama depanku!" pinta Seina seraya menunduk sopan.

Mata Shohei membulat diikuti detakan jantung yang tak normal.

"S-seina-chan ...," panggilnya dengan nada gugup.

"Ya, Shohei-kun." Seina mengulas senyum manis yang membuat pria itu salah tingkah.

Shohei memegang cuping hidung lalu berpindah cepat ke cuping telinganya. "Seina-chan, begini ... aku ini sedikit aneh. Kuharap kau tidak salah paham denganku. Aku ... sangat kaku dan gugup jika berhadapan dengan wanita yang kusukai. Aku tidak pandai berkata-kata ... semacam merayu atau bersikap romantis. Jadi, mungkin ini bisa menjadi bahan pertimbanganmu jika ingin menjalin hubungan denganku," ucapnya terbata-bata.

"Syukurlah!" ucap Seina sambil melebarkan senyumnya.

"Eh?" Shohei mengernyit heran.

"Kaku dan gugup di hadapan wanita yang kau sukai." Seina mengulang ucapan Shohei, "itu artinya ... kau menyukaiku, kan?" tebaknya dengan wajah senang.

Shohei mengangguk kecil sebagai balasan atas pertanyaan Seina.

"Tadinya, kupikir kau tidak tertarik padaku. Ternyata seperti itu. Jadi, aku bisa bernapas lega," lanjut Seina yang masih belum bisa menyembunyikan senyumnya. Ia tak bisa menampik jika dirinya langsung tertarik dengan pria yang direkomendasikan ayahnya itu. Apalagi Shohei memiliki karir yang bagus dan juga latar belakang keluarga terpandang. Sebagai gadis yang menjadi primadona kampus, ia pun kerap memilih-milih pria yang ingin dekat dengannya.

Shohei bergeming dengan tatapan berbinar. Ia benar-benar tak menyangka menerima jawaban itu dari Seina. "Dan satu hal lagi ... aku hanya memiliki satu hari untukmu selama seminggu. Kuharap kau bisa mengerti dengan pekerjaanku. Tapi, akan kuusahakan menemuimu jika memiliki waktu senggang."

Seina mengangguk. "Tidak apa-apa. Aku akan berusaha mengerti kesibukanmu."

Seina masuk ke kamar setelah kepergian Shohei. Pandangannya tiba-tiba teralihkan pada sebuah kelopak bunga camelia berwarna merah yang tercecer di lantai. Ia mengambil kelopak bunga itu, dan kembali mengingat sosok pria misterius yang telah mencuri ciumannya beberapa jam lalu di kamar itu.

Di sisi lain, Rai memutuskan pulang dengan menaiki kereta setelah menyelesaikan misi sebagai Black Shadow. Ia tersenyum simpul saat mendengar sekelompok orang yang heboh membicarakan sosok Black Shadow. Mereka memuji aksinya yang lebih cepat dan tangkas dari penegak hukum.

Kereta yang ditumpanginya malam ini sungguh sesak karena telah memasuki jam pulang para pegawai kantoran. Ia pun hanya berdiri karena semua tempat duduk telah terisi penuh. Sejak keluar dari penjara, segalanya menjadi berubah. Sudah tak ada lagi pakaian bermerek, jam tangan mahal, mobil mewah berkelas dan rumah bak istana seperti dulu. Ia benar-benar memulai kehidupan dari nol. Bahkan ia menolak ajakan adiknya untuk tinggal bersama di apartemen yang lebih bagus.

Di antara penumpang yang saling berhimpitan, ada sesosok gadis muda bertopi kasual yang menarik perhatiannya. Pasalnya, ia dapat melihat jelas gadis itu mengambil dompet pria di depannya secara diam-diam.

Radio kereta berbunyi mengabarkan sebuah pemberhentian. Orang-orang ramai berdesakan keluar, tak terkecuali Rai dan gadis bertopi kasual. Gadis itu berjalan cepat meninggalkan stasiun seraya memeriksa isi dompet yang ia curi di kereta tadi.

"Hah, cuma ini? Sial, kupikir isinya banyak. Kalau begini mana cukup membeli gaun pesta untuk besok!" keluh gadis itu sambil melempar dompet yang telah kosong ke dalam tempat sampah.

"Hei, Pencuri!"

Suara bariton yang datang dari arah belakang, mengejutkan gadis itu secara tiba-tiba. Ia berbalik pelan sambil menahan napas. Manik cokelatnya menangkap sosok pria bertubuh tinggi yang berdiri tak jauh darinya.

"Gomen, siapa yang kau panggil pencuri?" tanya gadis itu pada Rai dengan tatapan tajam.

"Apa ada orang lain di sini selain kita?" Rai malah balik melempar pertanyaan.

Gadis itu mendengus. "Gomen, tapi aku tidak mengenalmu dan tidak punya urusan denganmu!" tekan gadis itu sinis lalu kembali berjalan.

Beberapa menit terlewati, gadis yang menyembunyikan rambutnya di dalam topi itu kembali berhenti tatkala menyadari Rai terus mengikutinya dari belakang.

"Hei, kenapa kau terus mengikutiku?" sergahnya kesal.

"Siapa yang mengikutimu? Ini memang arah rumahku!" jawab Rai santai sambil terus berjalan melewati gadis itu.

Tak mau kalah, gadis itu melebarkan langkahnya agar bisa mendahului Rai.

Rai tersenyum, lalu mencoba menyeimbangkan gerak langkah gadis itu. "Lain kali kalau mau mencuri lihat dulu targetnya. Menurut terawanganku, pria yang berdiri di sampingmu itu lebih cocok dijadikan target. Dia memakai setelan jas mahal dan jam tangan keluaran terbaru," ucap Rai yang sukses membuat gadis itu berhenti melangkah.

Ia menoleh ke samping, melempar senyum paksa ke arah Rai, lalu berkata, "Terima kasih atas sarannya. Akan kucoba lain kali."

Lagi-lagi, gadis itu berjalan cepat meninggalkan Rai. Sebenarnya, ia heran dengan reaksi Rai yang terlihat santai meskipun mengetahui dirinya baru saja mencopet dompet di kereta.

Malam makin larut, hanya ada mereka berdua yang melintas di jalanan kecil itu, di mana udara musim dingin makin membekukan tubuh. Kini, gadis itu telah memasuki sebuah gedung apartemen kelas menengah. Ia bergegas masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai tempat tinggalnya.

Ketika hampir tertutup, sebuah tangan kekar menahan pintu tersebut sehingga lift kembali terbuka. Mata gadis itu membesar saat pria yang menahan pintu lift itu adalah Rai.

"Ke–kenapa kau ada di sini juga?!"

"Memangnya hanya kau saja yang boleh tinggal di sini?" jawab Rai seraya menyandarkan punggungnya.

Gadis itu terhenyak saat menyadari Rai juga penghuni apartemen itu. Pintu lift terbuka, gadis itu buru-buru keluar dan berharap tak akan menemui Rai lagi. Ia sangat malu karena pria itu melihatnya mencopet di kereta. Sayangnya, harapannya tak terwujud karena Rai pun turut keluar dari lift itu.

Gadis itu menarik napas dalam-dalam lalu memutar badannya ke arah Rai. Namun, baru saja hendak berkata, Rai langsung menunjuk pintu kamar 328 yang berada tepat di samping gadis itu.

"Ini apartemenku!"

Mata gadis itu membeliak seketika tatkala mengetahui hunian mereka berada di lantai yang sama. Ia buru-buru mengambil kunci apartemennya dan melihat nomor kamar 327 yang tertulis di sana. Sungguh tak dapat dipercaya! Tak hanya satu lantai, hunian mereka bahkan bersebelahan.

.

.

.

Bantu like dan komeng ya

Terpopuler

Comments

Rαι ɱαƚʂυι

Rαι ɱαƚʂυι

Shohei idamam banget😍

2024-08-27

1

gyu_rin

gyu_rin

cie tetanggan , cinta bersemi krn ketauan nyopet 🤣 kalo tetangga nya cakep kek rai ya pepet aja gk sih 😁

2024-01-20

0

gyu_rin

gyu_rin

malah suka yg begini , gk caper sama cewe kayak cowo cabe2 an . shohei hidup nya lurus banget ya

2024-01-20

0

lihat semua
Episodes
1 Ch. 1 : Mr. White and Black Shadow
2 Ch. 2 : Kencan Buta
3 Ch. 3 : Akan Bertunangan?
4 Ch. 4 : Gadis Pencopet
5 Ch. 5 : Pendongeng Handal
6 Ch. 6 : Terus Dicurigai
7 Ch. 7 : Terbawa Suasana
8 Ch. 8 : Black Shadow Comeback
9 Ch. 9 : Pencarian Harta Karun
10 Ch. 10 : Dokter Menakutkan
11 Ch. 11 : Penguntit
12 Ch. 12 : Tak Takut Jatuh Hati
13 Ch. 13 : Tak Dipercaya
14 Ch. 14 : Terus Disangka Pembual
15 Ch. 15 : Melancarkan Serangan
16 Ch. 16 : Beruntung Memilikinya
17 Ch. 17 : Hukum Tebang Pilih
18 Ch. 18 : Cara Memanggil yang Tepat
19 Ch. 19 : Hati yang Seakan Terbakar
20 Ch. 20 : Di Puncak Gedung
21 Ch. 21 : Aksi Kali Ini, Berhasilkah?
22 Ch. 22 : The Phantom of Love
23 Ch. 23 : Berganti Selera
24 Ch. 24 : Salah Paham Berkelanjutan
25 Ch. 25 : Siap Bertunangan
26 Ch. 26 : Kasus di Balik Kasus
27 Ch. 27 : Dihantui Rasa Bersalah
28 Ch. 28 : Tak Ingin Bersaing Dengannya
29 Ch. 29 : Perempuan di Kehidupan Mereka
30 Ch. 30 : Mencintai dan Dicintai
31 Ch. 31 : Camelia Berdarah
32 Ch. 32 : Shohei Kritis?
33 Ch. 33 : Black Shadow Tanpa Mr. White?
34 Ch. 34 : Lawan yang Kuat
35 Ch. 35 : Konfrontasi
36 Ch. 36 : Black Shadow disekap?
37 Ch. 37 : Kilas Balik
38 Ch. 38 : Menjebak dengan Cara yang Menyenangkan
39 Ch. 39 : Tak Kuasa Menahan Geliat Hati
40 Ch. 40 : Unpredictable Kiss
41 Ch. 41 : Saling Memendam
42 Ch. 42 : Nama yang Tak Terdeteksi
43 Ch. 43 : Makanan Kemasan
44 Ch. 44 : Polisi Pindahan
45 Ch. 45 : Mencicipi Makanan
46 Ch. 46 : Suara yang Tak Asing
47 Ch. 47 : Target Selanjutnya
48 Ch. 48 : Pertemuan Rai dan Seina
49 Ch. 49 : Apa yang Dilihat Kei?
50 Ch. 50 : Aksi Kejar-kejaran
51 Ch. 51 : Belajar Teknik Berciuman
52 Ch. 52 : Nasib Shohei di Tangan Kei?
53 Ch. 53 : Apa Tujuan Kei?
54 Ch. 54 : Menonton Bersama
55 Ch. 55 : Terjebak Dalam Kamar
56 Ch. 56 : Rai Tergoda?
57 Ch. 57 : Regu Penembak Jitu
58 Ch. 58 : Siapa Musuh Sebenarnya?
59 Ch. 59 : Siapa Target Kesepuluh?
60 Ch. 60 : Pria Perusak Jantung
61 Ch. 61 : Membatalkan Pertunangan?
62 Ch. 62 : Peringatan dari Kei
63 Ch. 63 : Memastikan Perasaan
64 Ch. 64 : Black Shadow adalah Bayangan Shohei
65 Ch. 65 : Pergi Membawa Rasa Bersalah
66 Ch. 66 : Gagal Romantis
67 Ch. 67 : Misteri Sarung Tangan
68 Ch. 68 : Sulit Untuk Dimaafkan
69 Ch. 69 : Tujuan Hidup
70 Ch. 70 : Reaksi Tuan Matsumoto
71 Ch. 71 : Masih Tanda Tanya
72 Ch. 72 : Target Kesembilan
73 Ch. 73 : Pemandu Kencan
74 Ch. 74 : Pemandu Kencan part 2
75 Ch. 75 : Tak Sesuai Skenario
76 Ch. 76 : Ingin Lebih Lama Bersama
77 Ch. 77 : Pandanganku Hanya Tertuju Padamu
78 Ch. 78 : Tangisan Pilu Untuk Pria Lain
79 Ch. 79 : Kasus yang Tak Terungkap
80 Ch. 80 : Apakah Menteri Kehakiman Terlibat?
81 Ch. 81 : Siapa Pembunuh Gadis Perawat?
82 Ch. 82 : Memikirkan Strategi
83 Ch. 83 : Teka-Teki Black Shadow
84 Ch. 84 : Black Shadow Terluka
85 Ch. 85 : Cecaran Kei
86 Ch. 86 : Topeng
87 Ch. 87 : Jawaban Atas Teka-Teki
88 Ch. 88 : Menanti Black Shadow
89 Ch. 89 : Konflik Sesungguhnya akan Dimulai
90 Ch. 90 : Arti Keadilan
91 Ch. 91 : Mr. White Terendus?
92 Ch. 92 : Terungkap, Black Shadow adalah Rai?
93 Ch. 93 : Apa yang Sebenarnya Terjadi?
94 Ch. 94 : Konspirasi!
95 Ch. 95 : Kepolisian Bertindak
96 Ch. 96 : Pencarian Tuan Matsumoto
97 Ch. 97 : Rai Pergi
98 Ch. 98 : Black Shadow vs Black Shadow Palsu
99 Ch. 99 : Tangisan Seina
100 Ch. 100 : Ke mana Rai?
101 Ch. 101 : Menambah Kekuatan
102 Ch. 102 : Kejujuran Rai
103 Ch. 103 : Megumi Jun
104 Ch. 104 : Terungkap!
105 Ch. 105 : Membentuk Tim
106 Ch. 106 : Sepakat Bergabung
107 Ch. 107 : Bagaimana Nasib Yuta?
108 Ch. 108 : Membuka Tabir Misteri
109 Ch. 109 : Dihadapkan Sebuah Pilihan
110 Ch. 110 : Setangkai Camelia Kering
111 Ch. 111 : Dari Balik Jendela
112 Ch. 112 : Mr. White dan Black Shadow Bubar?
113 Ch. 113 : Dikhianati Kemudian Mengkhianati
114 Ch. 114 : Menjadi Obat Penawar Luka
115 Ch. 115 : Menenangkan Hati
116 Ch. 116 : Kembali Menjadi Rai yang Dulu?
117 Ch. 117 : Love, be Loved. Leave, be Left
118 Ch. 118 : Siapakah Target Tim Rai?
119 Ch. 119 : Belajarlah dari Kerang!
120 PENGUMUMAN
121 ch. 120 : Aku Sudah Terbiasa
122 Ch. 121 : Secret File
123 Ch. 122 : Kubu Shohei vs Kubu Rai
124 Ch. 123 : Pelaku yang Sama?
125 Ch. 124 : Tokyo Kacau!
126 Ch. 125 : Apa yang Terjadi di Safe Room?
127 Ch. 126 : Kilas Balik
128 Ch. 127 : Situasi yang Terbaca
129 Ch. 128 : Kembalinya Black Shadow
130 Ch. 129 : Tumbal Politik?
131 Ch. 130 : Serangan Balik dari Kazuya Toda
132 Ch. 131 : Negosiasi
133 Ch. 132 : Keputusan Shohei
134 Ch. 133 : Untuk Sebentar Saja ....
135 Ch. 134 : Apa Peran Ai Otaka?
136 Intermezzo Karakter Tokoh
137 Ch. 135 : Mengungkap Misteri
138 Ch. 136 : Meninggal Dunia
139 Ch. 137 : Saksi Kunci Terakhir
140 Ch. 138 : Yuta Menyadari
141 Ch. 139 : Aishiteru
142 Ch. 140 : Aku Akan Kembali
143 ch. 141: Suki Desu
144 ch. 142 : Tertembak
145 Ch. 143: Laptop dan Flashdisk
146 Ch. 144 : Apa isi flashdisk?
147 Ch. 145 : Kejadian Sebenarnya
148 ch. 146 : Saatnya Bangkit
149 Ch. 147 : Perjuangan Terakhir. Berhasilkah?
150 Ch. 148 : Reaksi Publik
151 Ch. 149 : Menilik Aksi di Belakang Layar
152 Ch. 150 : Ketika Kehancuran Datang
153 Ch. 151 : Bagaimana Nasib Rai dan Shohei Setelah ini?
154 Ch. 152 : Akan Ada Masanya
155 Ch. 153 : Senja di Musim Gugur
156 Ch. 154 : Memulai dari Awal
157 Ch 155 : Tak Seperti Bunga Camelia
158 Sayonara!
159 Kei Ayano : Sang Jurnalis part 1
160 Kei Ayano : Sang Jurnalis Part 2
161 Kei Ayano : Sang Jurnalis part 3
162 Kei Ayano : Sang Jurnalis Part 4
163 Pengumuman novel
Episodes

Updated 163 Episodes

1
Ch. 1 : Mr. White and Black Shadow
2
Ch. 2 : Kencan Buta
3
Ch. 3 : Akan Bertunangan?
4
Ch. 4 : Gadis Pencopet
5
Ch. 5 : Pendongeng Handal
6
Ch. 6 : Terus Dicurigai
7
Ch. 7 : Terbawa Suasana
8
Ch. 8 : Black Shadow Comeback
9
Ch. 9 : Pencarian Harta Karun
10
Ch. 10 : Dokter Menakutkan
11
Ch. 11 : Penguntit
12
Ch. 12 : Tak Takut Jatuh Hati
13
Ch. 13 : Tak Dipercaya
14
Ch. 14 : Terus Disangka Pembual
15
Ch. 15 : Melancarkan Serangan
16
Ch. 16 : Beruntung Memilikinya
17
Ch. 17 : Hukum Tebang Pilih
18
Ch. 18 : Cara Memanggil yang Tepat
19
Ch. 19 : Hati yang Seakan Terbakar
20
Ch. 20 : Di Puncak Gedung
21
Ch. 21 : Aksi Kali Ini, Berhasilkah?
22
Ch. 22 : The Phantom of Love
23
Ch. 23 : Berganti Selera
24
Ch. 24 : Salah Paham Berkelanjutan
25
Ch. 25 : Siap Bertunangan
26
Ch. 26 : Kasus di Balik Kasus
27
Ch. 27 : Dihantui Rasa Bersalah
28
Ch. 28 : Tak Ingin Bersaing Dengannya
29
Ch. 29 : Perempuan di Kehidupan Mereka
30
Ch. 30 : Mencintai dan Dicintai
31
Ch. 31 : Camelia Berdarah
32
Ch. 32 : Shohei Kritis?
33
Ch. 33 : Black Shadow Tanpa Mr. White?
34
Ch. 34 : Lawan yang Kuat
35
Ch. 35 : Konfrontasi
36
Ch. 36 : Black Shadow disekap?
37
Ch. 37 : Kilas Balik
38
Ch. 38 : Menjebak dengan Cara yang Menyenangkan
39
Ch. 39 : Tak Kuasa Menahan Geliat Hati
40
Ch. 40 : Unpredictable Kiss
41
Ch. 41 : Saling Memendam
42
Ch. 42 : Nama yang Tak Terdeteksi
43
Ch. 43 : Makanan Kemasan
44
Ch. 44 : Polisi Pindahan
45
Ch. 45 : Mencicipi Makanan
46
Ch. 46 : Suara yang Tak Asing
47
Ch. 47 : Target Selanjutnya
48
Ch. 48 : Pertemuan Rai dan Seina
49
Ch. 49 : Apa yang Dilihat Kei?
50
Ch. 50 : Aksi Kejar-kejaran
51
Ch. 51 : Belajar Teknik Berciuman
52
Ch. 52 : Nasib Shohei di Tangan Kei?
53
Ch. 53 : Apa Tujuan Kei?
54
Ch. 54 : Menonton Bersama
55
Ch. 55 : Terjebak Dalam Kamar
56
Ch. 56 : Rai Tergoda?
57
Ch. 57 : Regu Penembak Jitu
58
Ch. 58 : Siapa Musuh Sebenarnya?
59
Ch. 59 : Siapa Target Kesepuluh?
60
Ch. 60 : Pria Perusak Jantung
61
Ch. 61 : Membatalkan Pertunangan?
62
Ch. 62 : Peringatan dari Kei
63
Ch. 63 : Memastikan Perasaan
64
Ch. 64 : Black Shadow adalah Bayangan Shohei
65
Ch. 65 : Pergi Membawa Rasa Bersalah
66
Ch. 66 : Gagal Romantis
67
Ch. 67 : Misteri Sarung Tangan
68
Ch. 68 : Sulit Untuk Dimaafkan
69
Ch. 69 : Tujuan Hidup
70
Ch. 70 : Reaksi Tuan Matsumoto
71
Ch. 71 : Masih Tanda Tanya
72
Ch. 72 : Target Kesembilan
73
Ch. 73 : Pemandu Kencan
74
Ch. 74 : Pemandu Kencan part 2
75
Ch. 75 : Tak Sesuai Skenario
76
Ch. 76 : Ingin Lebih Lama Bersama
77
Ch. 77 : Pandanganku Hanya Tertuju Padamu
78
Ch. 78 : Tangisan Pilu Untuk Pria Lain
79
Ch. 79 : Kasus yang Tak Terungkap
80
Ch. 80 : Apakah Menteri Kehakiman Terlibat?
81
Ch. 81 : Siapa Pembunuh Gadis Perawat?
82
Ch. 82 : Memikirkan Strategi
83
Ch. 83 : Teka-Teki Black Shadow
84
Ch. 84 : Black Shadow Terluka
85
Ch. 85 : Cecaran Kei
86
Ch. 86 : Topeng
87
Ch. 87 : Jawaban Atas Teka-Teki
88
Ch. 88 : Menanti Black Shadow
89
Ch. 89 : Konflik Sesungguhnya akan Dimulai
90
Ch. 90 : Arti Keadilan
91
Ch. 91 : Mr. White Terendus?
92
Ch. 92 : Terungkap, Black Shadow adalah Rai?
93
Ch. 93 : Apa yang Sebenarnya Terjadi?
94
Ch. 94 : Konspirasi!
95
Ch. 95 : Kepolisian Bertindak
96
Ch. 96 : Pencarian Tuan Matsumoto
97
Ch. 97 : Rai Pergi
98
Ch. 98 : Black Shadow vs Black Shadow Palsu
99
Ch. 99 : Tangisan Seina
100
Ch. 100 : Ke mana Rai?
101
Ch. 101 : Menambah Kekuatan
102
Ch. 102 : Kejujuran Rai
103
Ch. 103 : Megumi Jun
104
Ch. 104 : Terungkap!
105
Ch. 105 : Membentuk Tim
106
Ch. 106 : Sepakat Bergabung
107
Ch. 107 : Bagaimana Nasib Yuta?
108
Ch. 108 : Membuka Tabir Misteri
109
Ch. 109 : Dihadapkan Sebuah Pilihan
110
Ch. 110 : Setangkai Camelia Kering
111
Ch. 111 : Dari Balik Jendela
112
Ch. 112 : Mr. White dan Black Shadow Bubar?
113
Ch. 113 : Dikhianati Kemudian Mengkhianati
114
Ch. 114 : Menjadi Obat Penawar Luka
115
Ch. 115 : Menenangkan Hati
116
Ch. 116 : Kembali Menjadi Rai yang Dulu?
117
Ch. 117 : Love, be Loved. Leave, be Left
118
Ch. 118 : Siapakah Target Tim Rai?
119
Ch. 119 : Belajarlah dari Kerang!
120
PENGUMUMAN
121
ch. 120 : Aku Sudah Terbiasa
122
Ch. 121 : Secret File
123
Ch. 122 : Kubu Shohei vs Kubu Rai
124
Ch. 123 : Pelaku yang Sama?
125
Ch. 124 : Tokyo Kacau!
126
Ch. 125 : Apa yang Terjadi di Safe Room?
127
Ch. 126 : Kilas Balik
128
Ch. 127 : Situasi yang Terbaca
129
Ch. 128 : Kembalinya Black Shadow
130
Ch. 129 : Tumbal Politik?
131
Ch. 130 : Serangan Balik dari Kazuya Toda
132
Ch. 131 : Negosiasi
133
Ch. 132 : Keputusan Shohei
134
Ch. 133 : Untuk Sebentar Saja ....
135
Ch. 134 : Apa Peran Ai Otaka?
136
Intermezzo Karakter Tokoh
137
Ch. 135 : Mengungkap Misteri
138
Ch. 136 : Meninggal Dunia
139
Ch. 137 : Saksi Kunci Terakhir
140
Ch. 138 : Yuta Menyadari
141
Ch. 139 : Aishiteru
142
Ch. 140 : Aku Akan Kembali
143
ch. 141: Suki Desu
144
ch. 142 : Tertembak
145
Ch. 143: Laptop dan Flashdisk
146
Ch. 144 : Apa isi flashdisk?
147
Ch. 145 : Kejadian Sebenarnya
148
ch. 146 : Saatnya Bangkit
149
Ch. 147 : Perjuangan Terakhir. Berhasilkah?
150
Ch. 148 : Reaksi Publik
151
Ch. 149 : Menilik Aksi di Belakang Layar
152
Ch. 150 : Ketika Kehancuran Datang
153
Ch. 151 : Bagaimana Nasib Rai dan Shohei Setelah ini?
154
Ch. 152 : Akan Ada Masanya
155
Ch. 153 : Senja di Musim Gugur
156
Ch. 154 : Memulai dari Awal
157
Ch 155 : Tak Seperti Bunga Camelia
158
Sayonara!
159
Kei Ayano : Sang Jurnalis part 1
160
Kei Ayano : Sang Jurnalis Part 2
161
Kei Ayano : Sang Jurnalis part 3
162
Kei Ayano : Sang Jurnalis Part 4
163
Pengumuman novel

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!