"Kalau begitu mari saya antarkan!" ucap pelayan sambil mengarahkan Shohei dan Seina menuju ruang VIP yang telah di-booking untuk mereka. Tampaknya suasana canggung membelenggu kedua orang itu. Terbukti mereka berusaha mengalihkan pandangan meski sedang berjalan beriringan.
"Ini ruangannya." Pelayan itu membungkuk sopan seraya menunjuk tempat yang telah di-booking ayah Seina.
Masih canggung satu sama lain, Shohei dan Seina kembali saling melirik.
"Silakan Nona masuk lebih dulu!" ucap Shohei dengan senyum yang kaku.
Seina lalu membuka pintu ruangan itu. Keduanya sama-sama terkejut karena ternyata ayah mereka sedang asyik mengobrol di dalam sana.
"Oh, mereka datang bersamaan!" ucap Tuan Matsumoto, ayah Seina yang menjabat sebagai Menteri Kehakiman. "Apakah kalian sudah saling mengenal sebelumnya?" tanyanya tampak senang.
"Kami bertemu di lift secara kebetulan," jawab Seina sambil duduk di samping ayahnya.
Shohei pun turut duduk di samping ayahnya yang merupakan seorang pensiunan jenderal dan pernah menjabat sebagai Kepala Kepolisian Nasional.
"Ottousan, kenapa kau juga ada di sini?" bisik Shohei.
"Aku harus memastikan kau datang!" jawab Tuan Yamazaki.
"Yamazaki-san, kenalkan ini anakku satu-satunya, dia kuliah di jurusan hukum. Usianya juga baru dua puluh dua tahun. Kuharap kau bisa menjaganya. Aku sudah terlalu tua, maka dari itu aku ingin memastikan dia menemukan pria yang tepat."
Mata Shohei refleks membesar ketika Menteri Kehakiman memintanya untuk menjaga putrinya.
"Matsumoto Seina," ucap gadis di hadapannya sambil menunduk sebagai salam perkenalan.
"Yamazaki Shohei," balas Shohei sambil ikut menunduk.
"Yamazaki-san adalah ketua penyidik Kepolisan Metropolitan lulusan Universitas Oxford. Dia sangat cerdas dan berprestasi," tutur Menteri Kehakiman pada anaknya.
"Anda terlalu memuji, Tuan." Shohei buru-buru berkata sambil menunjukkan wajah malu-malu.
"Apa pendapatmu tentang Yamazaki-san, Seina-chan?" tanya Menteri Kehakiman pada putrinya.
"Dia ...." Seina memberanikan diri menatap Shohei yang duduk di hadapannya. "Dia pria dewasa yang berwibawa, baik, ramah dan sopan," ucap Seina dengan rona merah di pipinya.
"Sudah kubilang anakku pasti akan menyukai anakmu," ucap Menteri Kehakiman pada ayah Shohei sambil tertawa senang. "Kau sendiri bagaimana? Apa pendapatmu tentang putriku?" Menteri Kehakiman melempar pertanyaan pada Shohei.
Shohei menatap Seina yang menunduk malu-malu seraya mengulum bibir sendiri seakan tak sabar menanti jawabannya.
"Menurut saya, Matsumoto-san gadis yang cantik. Untuk yang lainnya, saya belum bisa menilai karena kami baru bertemu di sini," ucap Shohei secara gamblang.
"Ini yang kusuka darimu!" tunjuk Menteri Kehakiman sambil terkekeh, "kau selalu memiliki penilaian yang jujur dan tidak suka menerka-nerka!" Tampaknya Menteri Kehakiman begitu terkesan dengan kepribadian Shohei.
"Shohei mengabdikan waktunya untuk mengusut setiap kasus yang membuatnya penasaran. Aku sempat khawatir karena dia tak pernah membawa seorang wanita. Tapi begitu mendengar jawabannya tadi, hatiku sedikit lega setidaknya dia masih tahu gadis cantik," imbuh Tuan Yamazaki yang ikut tertawa.
Kedua pria tua itu kembali tenggelam dalam perbincangan dunia politik. Mereka membahas mengenai Menteri Kehakiman yang akan segera pensiun dan rumor yang berembus jika posisinya akan digantikan oleh Megumi Jun, senior Shohei yang sekarang sedang mengambil studi lanjutan di Harvard.
Di tengah obrolan kedua ayah itu, Shohei dan Seina justru hanya saling bertatap-tatapan tanpa berkata apa pun. Hanya segaris senyum malu-malu yang terulas dari bibir mereka. Tampaknya, mereka saling tertarik satu sama lain.
"Apa kita sudah bisa menetapkan tanggal pertunangan kalian? Karena aku tahu Yamazaki-san sangat sibuk, jadi lebih baik kuserahkan padamu untuk memilih waktu yang tepat. Jika kalian sudah bertunangan, aku tidak keberatan jika kau ingin membawa Seina tinggal bersamamu," ucap Menteri Kehakiman secara tiba-tiba.
Hal itu tentu membuat Shohei terkesiap. Raut wajahnya berubah seketika, seakan menolak usulan pertunangan yang hendak dilaksanakan secara mendadak.
Shohei memperbaiki posisi duduknya, lalu berkata, "Ano ...."
"Papa, Akan lebih baik jika pertunangan dilaksanakan setelah kami sudah saling mengenal lebih jauh." Seina langsung mengemukakan pendapatnya di saat Shohei baru saja hendak bersuara, lalu menoleh ke arah pria itu lalu berkata, "bukankah begitu, Yamazaki-san?"
Shohei buru-buru menjawab. "Saya setuju dengan saran dari Matsumoto-san," ucapnya menunduk.
Seina menatap Shohei yang tampak bernapas lega. Sebenarnya, ia menolak usul ayahnya karena melihat ekspresi ketidaksetujuan yang ditunjukkan pria itu.
"Ya, sudah. Biarkan mereka saling mengenal lebih dekat. Tidak perlu buru-buru," ucap ayah Shohei sambil menuang anggur putih di gelas bertangkai.
Usai makan malam bersama, Shohei pun mengantarkan Seina ke kamar hotel. Seina menginap di hotel itu karena besok akan ada acara seminar kampus yang diselenggarakan di gedung itu. Begitu sampai di depan pintu kamar, Seina membungkuk di hadapan Shohei.
"Arigatou gozaimasu, telah mengantarku sampai di sini."
"Tidak masalah," balas Shohei. Sempat terdiam beberapa detik, ia pun pamit kepada Seina, "Kalau begitu ... sampai jumpa kembali."
Ketika Shohei hendak pergi, Seina langsung berkata, "apa kau tidak ingin bertukar nomor kontak denganku?"
Shohei tersentak, lalu merogoh saku dan mengambil ponselnya dengan cepat. "Jika ... Matsumoto-san memperbolehkan."
"Seina. Mohon panggil nama depanku!" pinta Seina seraya menunduk sopan.
Mata Shohei membulat diikuti detakan jantung yang tak normal.
"S-seina-chan ...," panggilnya dengan nada gugup.
"Ya, Shohei-kun." Seina mengulas senyum manis yang membuat pria itu salah tingkah.
Shohei memegang cuping hidung lalu berpindah cepat ke cuping telinganya. "Seina-chan, begini ... aku ini sedikit aneh. Kuharap kau tidak salah paham denganku. Aku ... sangat kaku dan gugup jika berhadapan dengan wanita yang kusukai. Aku tidak pandai berkata-kata ... semacam merayu atau bersikap romantis. Jadi, mungkin ini bisa menjadi bahan pertimbanganmu jika ingin menjalin hubungan denganku," ucapnya terbata-bata.
"Syukurlah!" ucap Seina sambil melebarkan senyumnya.
"Eh?" Shohei mengernyit heran.
"Kaku dan gugup di hadapan wanita yang kau sukai." Seina mengulang ucapan Shohei, "itu artinya ... kau menyukaiku, kan?" tebaknya dengan wajah senang.
Shohei mengangguk kecil sebagai balasan atas pertanyaan Seina.
"Tadinya, kupikir kau tidak tertarik padaku. Ternyata seperti itu. Jadi, aku bisa bernapas lega," lanjut Seina yang masih belum bisa menyembunyikan senyumnya. Ia tak bisa menampik jika dirinya langsung tertarik dengan pria yang direkomendasikan ayahnya itu. Apalagi Shohei memiliki karir yang bagus dan juga latar belakang keluarga terpandang. Sebagai gadis yang menjadi primadona kampus, ia pun kerap memilih-milih pria yang ingin dekat dengannya.
Shohei bergeming dengan tatapan berbinar. Ia benar-benar tak menyangka menerima jawaban itu dari Seina. "Dan satu hal lagi ... aku hanya memiliki satu hari untukmu selama seminggu. Kuharap kau bisa mengerti dengan pekerjaanku. Tapi, akan kuusahakan menemuimu jika memiliki waktu senggang."
Seina mengangguk. "Tidak apa-apa. Aku akan berusaha mengerti kesibukanmu."
Seina masuk ke kamar setelah kepergian Shohei. Pandangannya tiba-tiba teralihkan pada sebuah kelopak bunga camelia berwarna merah yang tercecer di lantai. Ia mengambil kelopak bunga itu, dan kembali mengingat sosok pria misterius yang telah mencuri ciumannya beberapa jam lalu di kamar itu.
Di sisi lain, Rai memutuskan pulang dengan menaiki kereta setelah menyelesaikan misi sebagai Black Shadow. Ia tersenyum simpul saat mendengar sekelompok orang yang heboh membicarakan sosok Black Shadow. Mereka memuji aksinya yang lebih cepat dan tangkas dari penegak hukum.
Kereta yang ditumpanginya malam ini sungguh sesak karena telah memasuki jam pulang para pegawai kantoran. Ia pun hanya berdiri karena semua tempat duduk telah terisi penuh. Sejak keluar dari penjara, segalanya menjadi berubah. Sudah tak ada lagi pakaian bermerek, jam tangan mahal, mobil mewah berkelas dan rumah bak istana seperti dulu. Ia benar-benar memulai kehidupan dari nol. Bahkan ia menolak ajakan adiknya untuk tinggal bersama di apartemen yang lebih bagus.
Di antara penumpang yang saling berhimpitan, ada sesosok gadis muda bertopi kasual yang menarik perhatiannya. Pasalnya, ia dapat melihat jelas gadis itu mengambil dompet pria di depannya secara diam-diam.
Radio kereta berbunyi mengabarkan sebuah pemberhentian. Orang-orang ramai berdesakan keluar, tak terkecuali Rai dan gadis bertopi kasual. Gadis itu berjalan cepat meninggalkan stasiun seraya memeriksa isi dompet yang ia curi di kereta tadi.
"Hah, cuma ini? Sial, kupikir isinya banyak. Kalau begini mana cukup membeli gaun pesta untuk besok!" keluh gadis itu sambil melempar dompet yang telah kosong ke dalam tempat sampah.
"Hei, Pencuri!"
Suara bariton yang datang dari arah belakang, mengejutkan gadis itu secara tiba-tiba. Ia berbalik pelan sambil menahan napas. Manik cokelatnya menangkap sosok pria bertubuh tinggi yang berdiri tak jauh darinya.
"Gomen, siapa yang kau panggil pencuri?" tanya gadis itu pada Rai dengan tatapan tajam.
"Apa ada orang lain di sini selain kita?" Rai malah balik melempar pertanyaan.
Gadis itu mendengus. "Gomen, tapi aku tidak mengenalmu dan tidak punya urusan denganmu!" tekan gadis itu sinis lalu kembali berjalan.
Beberapa menit terlewati, gadis yang menyembunyikan rambutnya di dalam topi itu kembali berhenti tatkala menyadari Rai terus mengikutinya dari belakang.
"Hei, kenapa kau terus mengikutiku?" sergahnya kesal.
"Siapa yang mengikutimu? Ini memang arah rumahku!" jawab Rai santai sambil terus berjalan melewati gadis itu.
Tak mau kalah, gadis itu melebarkan langkahnya agar bisa mendahului Rai.
Rai tersenyum, lalu mencoba menyeimbangkan gerak langkah gadis itu. "Lain kali kalau mau mencuri lihat dulu targetnya. Menurut terawanganku, pria yang berdiri di sampingmu itu lebih cocok dijadikan target. Dia memakai setelan jas mahal dan jam tangan keluaran terbaru," ucap Rai yang sukses membuat gadis itu berhenti melangkah.
Ia menoleh ke samping, melempar senyum paksa ke arah Rai, lalu berkata, "Terima kasih atas sarannya. Akan kucoba lain kali."
Lagi-lagi, gadis itu berjalan cepat meninggalkan Rai. Sebenarnya, ia heran dengan reaksi Rai yang terlihat santai meskipun mengetahui dirinya baru saja mencopet dompet di kereta.
Malam makin larut, hanya ada mereka berdua yang melintas di jalanan kecil itu, di mana udara musim dingin makin membekukan tubuh. Kini, gadis itu telah memasuki sebuah gedung apartemen kelas menengah. Ia bergegas masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai tempat tinggalnya.
Ketika hampir tertutup, sebuah tangan kekar menahan pintu tersebut sehingga lift kembali terbuka. Mata gadis itu membesar saat pria yang menahan pintu lift itu adalah Rai.
"Ke–kenapa kau ada di sini juga?!"
"Memangnya hanya kau saja yang boleh tinggal di sini?" jawab Rai seraya menyandarkan punggungnya.
Gadis itu terhenyak saat menyadari Rai juga penghuni apartemen itu. Pintu lift terbuka, gadis itu buru-buru keluar dan berharap tak akan menemui Rai lagi. Ia sangat malu karena pria itu melihatnya mencopet di kereta. Sayangnya, harapannya tak terwujud karena Rai pun turut keluar dari lift itu.
Gadis itu menarik napas dalam-dalam lalu memutar badannya ke arah Rai. Namun, baru saja hendak berkata, Rai langsung menunjuk pintu kamar 328 yang berada tepat di samping gadis itu.
"Ini apartemenku!"
Mata gadis itu membeliak seketika tatkala mengetahui hunian mereka berada di lantai yang sama. Ia buru-buru mengambil kunci apartemennya dan melihat nomor kamar 327 yang tertulis di sana. Sungguh tak dapat dipercaya! Tak hanya satu lantai, hunian mereka bahkan bersebelahan.
.
.
.
Bantu like dan komeng ya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
Rαι ɱαƚʂυι
Shohei idamam banget😍
2024-08-27
1
gyu_rin
cie tetanggan , cinta bersemi krn ketauan nyopet 🤣 kalo tetangga nya cakep kek rai ya pepet aja gk sih 😁
2024-01-20
0
gyu_rin
malah suka yg begini , gk caper sama cewe kayak cowo cabe2 an . shohei hidup nya lurus banget ya
2024-01-20
0