Shohei mengeluarkan koper milik Seina dari bagasi mobil setelah sampai di kediaman kekasihnya itu.
"Apa kau tidak mau masuk."
"Gomen, aku sudah membuat janji dengan seseorang setelah ini," tolak Shohei dengan raut sungkan.
"Oh, begitu." Seina mengangguk pelan dengan pipi yang sengaja dibuat mengembung.
Melihat ekspresi kekasihnya, Shohei buru-buru bertanya, "Apa tidak masalah?"
"Tentu saja tidak," jawab Seina sambil tersenyum, "Kalau begitu aku menunggu waktumu untukku di hari Minggu."
Shohei terhenyak dengan wajah yang kaku. "A ... e ... kencan pertama, ya?" Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, "Kalau begitu ... Seina-chan mau pergi ke mana?"
"Hmm ...." Seina tampak berpikir sejenak. Bola Mata gadis itu menyamping diikuti bibir yang mengerucut sehingga membuatnya terlihat imut. "Untuk kencan pertama kita kuserahkan padamu. Kuharap kita bisa membuat kencan pertama yang indah," ucapnya kembali tersenyum.
Melihat senyum yang terus mengembang di bibir Seina, membuat rasa gugup yang melanda pria itu seakan terusir seketika. Dia pun turut tersenyum, lalu berkata, "Kalau begitu, sampai jumpa."
Seina masih berdiri dengan sepasang mata yang tak lepas mengawal kepergian Shohei. Bertepatan dengan itu, seorang pria yang mengendarai motor besar berhenti tepat di hadapannya. Seina terkejut ketika pria itu membuka helm-nya.
"Kei-niichan!" sebut Seina.
Rupanya, pria itu adalah kakak sepupu Seina yang merupakan seorang jurnalis dan aktivis media sosial. Ia terkenal kritis dalam menyuarakan dan mengungkap isu yang terjadi di masyarakat. Ia bahkan memiliki program acara televisi yang mengundang narasumber-narasumber ternama dari berbagai kalangan.
"Ne, Seina-chan, bukankah pria tadi itu Yamazaki Shohei dari Kepolisian Metropolitan?" tanya pria bernama Kei memandang mobil Shohei yang baru saja keluar dari halaman rumah Seina.
"Iya. Kei-niichan mengenalnya?"
"Tentu saja, dia detektif kepolisian yang terkenal setelah Megumi Jun! Minggu lalu aku mengundangnya sebagai narasumber untuk program acaraku yang mengulik fenomena Black Shadow, tapi dia menolaknya."
"Black Shadow?" Seina mengernyit tak paham.
Kei menatap Seina. "Jangan bilang kau tidak mengenalnya! Saat ini dia menjadi perbincangan di mana-mana. Aku pun terus memburunya sebagai bahan berita!"
"Aku sibuk menyusun skripsiku. Jadi, aku sama sekali tidak mengikuti perkembangan berita terhangat," ujar Seina membela diri dari cemoohan kakak sepupunya.
Di dalam rumah, Kei menunjukkan salah satu rekaman yang menampilkan aksi Black Shadow saat menjebak salah seorang pejabat koruptor. Pupil mata Seina sontak melebar, tatkala melihat sosok pria bertopeng itu. Pasalnya, tampilan pria itu mirip dengan sosok misterius yang tiba-tiba masuk ke kamarnya semalam.
"Tak ada satu pun orang yang mengetahui identitas aslinya. Dia hanya meninggalkan kelopak bunga camelia sebagai petunjuk. Lebih dari itu, kita tidak bisa menduga siapa sosok di balik pria bertopeng itu. Aku hampir saja bertemu dengannya semalam. Sayang sekali dia malah melarikan diri, padahal aku hanya ingin mewawancara dirinya secara eksklusif."
"Di mana semalam kau melihatnya?" tanya Seina cepat.
"Di gedung RCH dekat Tokyo Skytree."
Seina menutup mulutnya yang terbuka secara refleks.
"Ada apa?" tanya Kei yang heran dengan raut wajah Seina.
Seina menggeleng pelan. Masih melekat di ingatannya bagaimana pria yang disebut sebagai Black Shadow itu mendorong tubuhnya ke dinding dan mencium paksa bibirnya. Bahkan sekuat apa pun ia berjuang untuk melepaskan diri, lelaki itu justru semakin buas memagut bibirnya.
"Seina-chan, karena kau telah berpacaran dengan Yamazaki Shohei, tolong bujuk dia agar mau menjadi narasumberku terkait isu Black Shadow ini. Biar bagaimanapun sekarang orang-orang menganggapnya pahlawan, dan kehadirannya seakan menggeser kepercayaan publik pada penegak hukum kita. Aku ingin mengetahui pendapat Yamazaki Shohei tentang ini!" ujar Kei kembali.
Seina tak menggubris permintaan Kei. Ia justru segera beranjak lalu menapaki anak tangga dengan tergesa-gesa. Begitu masuk ke kamarnya, ia langsung membuka dompetnya. Rupanya, gadis itu masih menyimpan kelopak bunga camelia yang dijatuhkan Black Shadow semalam. Ia bahkan memberikan silica gel agar kelopak bunga tersebut tetap awet dan tidak membusuk.
"Apanya yang pahlawan? Dasar mesum!" umpat Seina sambil melihat kelopak bunga camelia itu.
Setelah mengantar Seina pulang, Shohei menemui Rai yang telah menunggu di gedung olahraga untuk mementorinya melakukan latihan fisik. Kedua pria itu telah mengganti pakaian mereka dengan pakaian olahraga, kemudian ke area climbing wall bersiap untuk latihan panjat tebing. Setelah memasang pengaman di tubuh mereka, kedua pria itu pun berdiri di papan tebing berbeda.
"Ichi (satu), ni (dua), san (tiga)." Pada hitungan ketiga, Shohei menekan tombol waktu yang terletak di antara mereka.
Kedua pria itu berlomba untuk mencapai puncak dalam waktu tercepat. Shohei telah berada di puncak papan tebing dengan perolehan waktu 8,99 detik mengalahkan Rai yang tertinggal sedikit. Sebagai polisi, teknik ketahanan tubuh seperti berlari cepat, memanjat tebing, dan bela diri tentu dikuasainya dengan baik. Berbeda dengan Rai yang memang baru berlatih setelah menjalankan misi sebagai Black Shadow.
"Hanya tinggal sedikit saja selisih kita, Rai!" seru Shohei menyemangati sambil meluncur ke bawah. Setidaknya, Rai telah menunjukkan kemajuan besar.
Mereka sama-sama melepas pengaman yang melekat di tubuh. Ketika Rai berbalik ke belakang, secara tiba-tiba Shohei menyerangnya dengan sebuah pukulannya. Untungnya, ia bisa menangkis serangan pria itu dengan cepat.
Tak berhenti, Shohei kembali menyerangnya dengan pukulan-pukulan yang membabi buta. Namun, serangan itu dapat terus dihindari oleh Rai. Ia mengelak, membungkuk, melompat, hingga bersalto.
"Kenapa kau segesit itu!" protes Rai yang mulai kewalahan.
"Lawan yang akan kita hadapi ke depan semakin rumit dan berbahaya. Keselamatanmu bahkan bisa menjadi taruhan. Oleh karena itu, kau harus terus berlatih teknik perlindungan diri dari serangan lawan," ucap Shohei sambil terus menyerang Rai dari berbagai arah.
Pada serangan berikutnya, Rai berhasil memblokir pergerakan kedua tangan Shohei. Rai tersenyum miring, tetapi detik berikutnya ia tersentak ketika Shohei melayangkan tendangan memutar ke wajahnya. Untungnya, ia segera menghalau serangan itu dengan menyampingkan badannya meski sempat kelabakan.
"Ingat, selama menjalankan misi. Kau tidak boleh memakai kekerasan pada mereka, meski mereka melakukannya," ucap Shohei menyudahi segala serangan.
Mereka bersama-sama terkapar di lantai sambil mengatur napas yang terengah-engah. Peluh terlihat jelas keluar dari pori-pori kulit wajah mereka.
"Bagaimana dengan gadis yang dijodohkan denganmu?" tanya Rai tiba-tiba.
"Kami telah berpacaran. Dia mahasiswa hukum dan ingin menjadi pengacara. Usia kami selisih sepuluh tahun."
"Wow. Kau adalah polisi, ayahmu seorang pensiunan jendral. Dia calon pengacara dan ayahnya menteri kehakiman. Benar-benar sepadan!"
Shohei menghela napas. "Meskipun begitu ... aku takut jatuh cinta padanya."
"Eh?" Rai menoleh ke arah Shohei yang menatap langit-langit gedung.
"Aku sangat payah dalam hal percintaan. Entah kenapa, aku sangat sulit menepis rasa gugup jika berhadapan dengan gadis yang kusukai. Aku takut karena sifatku ini, dia tiba-tiba merasa bosan denganku."
Rai terkekeh. "Aku harus berikan saran apa, ya ...." Rai berpikir sejenak, "kupikir, kau harus sering bertemu dengannya agar terbiasa."
"Minggu ini kami akan berkencan. Kira-kira apa yang harus kulakukan agar membuatnya senang?"
Rai kembali berpikir. "Kalau aku jadi kau, aku akan mengajaknya bermalam di hotel dan melakukan hal-hal yang menyenangkan di atas ranjang."
Mendengar saran dari Rai, Shohei langsung terduduk. "Apa-apaan kau ini!" omelnya seraya menyeringai.
Rai tertawa geli dan segera berdiri. "Kau salah jika bertanya tentang cinta dan hubungan dengan lawan jenis padaku. Karena aku tidak lagi memercayai dua hal itu."
"Apa karena kau dikhianati dan dijebak sahabat dan mantan kekasihmu?"
Rai terdiam sesaat. "Karena aku menyukai hubungan yang bebas. Bebas memilih wanita manapun yang kusukai, bersenang-senang dengan mereka tanpa terikat," tampiknya kemudian.
"Dasar Playboy!" Shohei menggeleng-gelengkan kepalanya.
Rai berbalik kembali. "Ya, mau bagaimana lagi. Aku tampan dan perkasa. Sayang sekali kalau hanya dimiliki satu wanita. Ibaratnya nasi putih, butuh beberapa lauk dan sayuran untuk melengkapinya. Kalau lauk dan sayurnya tidak pernah diganti, akan terasa bosan juga, kan? Seperti itulah diriku," candanya dengan santai sambil terkekeh.
Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. Udara terasa membeku di saat Rai berjalan pulang ke apartemennya. Untung saja dia membawa syal dan kaus tangan. Masih berjalan, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tak jauh darinya, tepatnya di depan rumah mewah yang besar. Langkah Rai terhenti ketika melihat gadis yang turun dari mobil itu adalah Yuriko. Penampilan gadis itu terlihat berbeda malam ini. Lebih berkelas dan feminin.
"Yuri-chan rumahmu besar sekali, lebih besar dari punyaku. Apa kami boleh singgah sebentar di rumahmu?" tanya beberapa gadis yang berada di dalam mobil.
"Hhmm ... sepertinya orangtuaku sudah tidur. Itu akan mengganggu mereka. Soalnya besok mereka akan berangkat ke London untuk urusan bisnis," ucap Yuriko sambil memandang ke arah rumah besar yang pagarnya tertutup rapat.
"Apa kau tidak ikut ke sana?" tanya salah satu temannya.
"Aku sudah sangat bosan ke luar negeri," jawab Yuriko santai.
"Wah, beruntungnya! Aku saja baru bisa pergi ke Hawaii," sanjung temannya. "ya, sudah kalau begitu kami pergi dulu, ya," ucap teman-teman Yuriko.
Rai menoleh ke arah rumah yang baru saja diakui Yuriko sebagai rumahnya. Ia lantas mengernyitkan dahi lantaran mendengar percakapan mereka.
"Dasar pendongeng handal!" gumam Rai sambil tertawa geli.
Ketika mobil itu telah melaju cukup jauh, Yuriko pun langsung mengembuskan napas lega. Baru saja berbalik hendak pergi, ia terkesiap melihat Rai yang berdiri tak jauh darinya.
"Su–sudah berapa lama kau di situ?" tanya Yuriko gugup.
"Rumahmu besar sekali!" sindir Rai mengulang perkataan teman-teman Yuriko barusan.
Wajah Yuriko merah padam seketika. Rasanya ia ingin menenggelamkan diri. Bagaimana tidak, kemarin ketahuan mencopet, dan sekarang Rai pun tahu ia menipu teman-temannya. Dengan menahan malu, ia bergegas melangkah melewati pria itu.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
🐥Yay
perumpamaan macam apa ini😌
2024-09-18
0
ㅤㅤㅤㅤ😻Kᵝ⃟ᴸ⸙ᵍᵏ نَيْ ㊍㊍🍒⃞⃟🦅😻
jangan bilang benci jadi cinta
sampe disimpen tuh kelopak bunga bahkan sampai di pinil biar gak layu
2023-11-19
1
ㅤㅤㅤㅤ😻Kᵝ⃟ᴸ⸙ᵍᵏ نَيْ ㊍㊍🍒⃞⃟🦅😻
ternyata bang kei yang ngejar bang Rai didalam hotel itu🤣🤭
2023-11-19
0