Ch. 5 : Pendongeng Handal

Shohei mengeluarkan koper milik Seina dari bagasi mobil setelah sampai di kediaman kekasihnya itu.

"Apa kau tidak mau masuk."

"Gomen, aku sudah membuat janji dengan seseorang setelah ini," tolak Shohei dengan raut sungkan.

"Oh, begitu." Seina mengangguk pelan dengan pipi yang sengaja dibuat mengembung.

Melihat ekspresi kekasihnya, Shohei buru-buru bertanya, "Apa tidak masalah?"

"Tentu saja tidak," jawab Seina sambil tersenyum, "Kalau begitu aku menunggu waktumu untukku di hari Minggu."

Shohei terhenyak dengan wajah yang kaku. "A ... e ... kencan pertama, ya?" Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, "Kalau begitu ... Seina-chan mau pergi ke mana?"

"Hmm ...." Seina tampak berpikir sejenak. Bola Mata gadis itu menyamping diikuti bibir yang mengerucut sehingga membuatnya terlihat imut. "Untuk kencan pertama kita kuserahkan padamu. Kuharap kita bisa membuat kencan pertama yang indah," ucapnya kembali tersenyum.

Melihat senyum yang terus mengembang di bibir Seina, membuat rasa gugup yang melanda pria itu seakan terusir seketika. Dia pun turut tersenyum, lalu berkata, "Kalau begitu, sampai jumpa."

Seina masih berdiri dengan sepasang mata yang tak lepas mengawal kepergian Shohei. Bertepatan dengan itu, seorang pria yang mengendarai motor besar berhenti tepat di hadapannya. Seina terkejut ketika pria itu membuka helm-nya.

"Kei-niichan!" sebut Seina.

Rupanya, pria itu adalah kakak sepupu Seina yang merupakan seorang jurnalis dan aktivis media sosial. Ia terkenal kritis dalam menyuarakan dan mengungkap isu yang terjadi di masyarakat. Ia bahkan memiliki program acara televisi yang mengundang narasumber-narasumber ternama dari berbagai kalangan.

"Ne, Seina-chan, bukankah pria tadi itu Yamazaki Shohei dari Kepolisian Metropolitan?" tanya pria bernama Kei memandang mobil Shohei yang baru saja keluar dari halaman rumah Seina.

"Iya. Kei-niichan mengenalnya?"

"Tentu saja, dia detektif kepolisian yang terkenal setelah Megumi Jun! Minggu lalu aku mengundangnya sebagai narasumber untuk program acaraku yang mengulik fenomena Black Shadow, tapi dia menolaknya."

"Black Shadow?" Seina mengernyit tak paham.

Kei menatap Seina. "Jangan bilang kau tidak mengenalnya! Saat ini dia menjadi perbincangan di mana-mana. Aku pun terus memburunya sebagai bahan berita!"

"Aku sibuk menyusun skripsiku. Jadi, aku sama sekali tidak mengikuti perkembangan berita terhangat," ujar Seina membela diri dari cemoohan kakak sepupunya.

Di dalam rumah, Kei menunjukkan salah satu rekaman yang menampilkan aksi Black Shadow saat menjebak salah seorang pejabat koruptor. Pupil mata Seina sontak melebar, tatkala melihat sosok pria bertopeng itu. Pasalnya, tampilan pria itu mirip dengan sosok misterius yang tiba-tiba masuk ke kamarnya semalam.

"Tak ada satu pun orang yang mengetahui identitas aslinya. Dia hanya meninggalkan kelopak bunga camelia sebagai petunjuk. Lebih dari itu, kita tidak bisa menduga siapa sosok di balik pria bertopeng itu. Aku hampir saja bertemu dengannya semalam. Sayang sekali dia malah melarikan diri, padahal aku hanya ingin mewawancara dirinya secara eksklusif."

"Di mana semalam kau melihatnya?" tanya Seina cepat.

"Di gedung RCH dekat Tokyo Skytree."

Seina menutup mulutnya yang terbuka secara refleks.

"Ada apa?" tanya Kei yang heran dengan raut wajah Seina.

Seina menggeleng pelan. Masih melekat di ingatannya bagaimana pria yang disebut sebagai Black Shadow itu mendorong tubuhnya ke dinding dan mencium paksa bibirnya. Bahkan sekuat apa pun ia berjuang untuk melepaskan diri, lelaki itu justru semakin buas memagut bibirnya.

"Seina-chan, karena kau telah berpacaran dengan Yamazaki Shohei, tolong bujuk dia agar mau menjadi narasumberku terkait isu Black Shadow ini. Biar bagaimanapun sekarang orang-orang menganggapnya pahlawan, dan kehadirannya seakan menggeser kepercayaan publik pada penegak hukum kita. Aku ingin mengetahui pendapat Yamazaki Shohei tentang ini!" ujar Kei kembali.

Seina tak menggubris permintaan Kei. Ia justru segera beranjak lalu menapaki anak tangga dengan tergesa-gesa. Begitu masuk ke kamarnya, ia langsung membuka dompetnya. Rupanya, gadis itu masih menyimpan kelopak bunga camelia yang dijatuhkan Black Shadow semalam. Ia bahkan memberikan silica gel agar kelopak bunga tersebut tetap awet dan tidak membusuk.

"Apanya yang pahlawan? Dasar mesum!" umpat Seina sambil melihat kelopak bunga camelia itu.

Setelah mengantar Seina pulang, Shohei menemui Rai yang telah menunggu di gedung olahraga untuk mementorinya melakukan latihan fisik. Kedua pria itu telah mengganti pakaian mereka dengan pakaian olahraga, kemudian ke area climbing wall bersiap untuk latihan panjat tebing. Setelah memasang pengaman di tubuh mereka, kedua pria itu pun berdiri di papan tebing berbeda.

"Ichi (satu), ni (dua), san (tiga)." Pada hitungan ketiga, Shohei menekan tombol waktu yang terletak di antara mereka.

Kedua pria itu berlomba untuk mencapai puncak dalam waktu tercepat. Shohei telah berada di puncak papan tebing dengan perolehan waktu 8,99 detik mengalahkan Rai yang tertinggal sedikit. Sebagai polisi, teknik ketahanan tubuh seperti berlari cepat, memanjat tebing, dan bela diri tentu dikuasainya dengan baik. Berbeda dengan Rai yang memang baru berlatih setelah menjalankan misi sebagai Black Shadow.

"Hanya tinggal sedikit saja selisih kita, Rai!" seru Shohei menyemangati sambil meluncur ke bawah. Setidaknya, Rai telah menunjukkan kemajuan besar.

Mereka sama-sama melepas pengaman yang melekat di tubuh. Ketika Rai berbalik ke belakang, secara tiba-tiba Shohei menyerangnya dengan sebuah pukulannya. Untungnya, ia bisa menangkis serangan pria itu dengan cepat.

Tak berhenti, Shohei kembali menyerangnya dengan pukulan-pukulan yang membabi buta. Namun, serangan itu dapat terus dihindari oleh Rai. Ia mengelak, membungkuk, melompat, hingga bersalto.

"Kenapa kau segesit itu!" protes Rai yang mulai kewalahan.

"Lawan yang akan kita hadapi ke depan semakin rumit dan berbahaya. Keselamatanmu bahkan bisa menjadi taruhan. Oleh karena itu, kau harus terus berlatih teknik perlindungan diri dari serangan lawan," ucap Shohei sambil terus menyerang Rai dari berbagai arah.

Pada serangan berikutnya, Rai berhasil memblokir pergerakan kedua tangan Shohei. Rai tersenyum miring, tetapi detik berikutnya ia tersentak ketika Shohei melayangkan tendangan memutar ke wajahnya. Untungnya, ia segera menghalau serangan itu dengan menyampingkan badannya meski sempat kelabakan.

"Ingat, selama menjalankan misi. Kau tidak boleh memakai kekerasan pada mereka, meski mereka melakukannya," ucap Shohei menyudahi segala serangan.

Mereka bersama-sama terkapar di lantai sambil mengatur napas yang terengah-engah. Peluh terlihat jelas keluar dari pori-pori kulit wajah mereka.

"Bagaimana dengan gadis yang dijodohkan denganmu?" tanya Rai tiba-tiba.

"Kami telah berpacaran. Dia mahasiswa hukum dan ingin menjadi pengacara. Usia kami selisih sepuluh tahun."

"Wow. Kau adalah polisi, ayahmu seorang pensiunan jendral. Dia calon pengacara dan ayahnya menteri kehakiman. Benar-benar sepadan!"

Shohei menghela napas. "Meskipun begitu ... aku takut jatuh cinta padanya."

"Eh?" Rai menoleh ke arah Shohei yang menatap langit-langit gedung.

"Aku sangat payah dalam hal percintaan. Entah kenapa, aku sangat sulit menepis rasa gugup jika berhadapan dengan gadis yang kusukai. Aku takut karena sifatku ini, dia tiba-tiba merasa bosan denganku."

Rai terkekeh. "Aku harus berikan saran apa, ya ...." Rai berpikir sejenak, "kupikir, kau harus sering bertemu dengannya agar terbiasa."

"Minggu ini kami akan berkencan. Kira-kira apa yang harus kulakukan agar membuatnya senang?"

Rai kembali berpikir. "Kalau aku jadi kau, aku akan mengajaknya bermalam di hotel dan melakukan hal-hal yang menyenangkan di atas ranjang."

Mendengar saran dari Rai, Shohei langsung terduduk. "Apa-apaan kau ini!" omelnya seraya menyeringai.

Rai tertawa geli dan segera berdiri. "Kau salah jika bertanya tentang cinta dan hubungan dengan lawan jenis padaku. Karena aku tidak lagi memercayai dua hal itu."

"Apa karena kau dikhianati dan dijebak sahabat dan mantan kekasihmu?"

Rai terdiam sesaat. "Karena aku menyukai hubungan yang bebas. Bebas memilih wanita manapun yang kusukai, bersenang-senang dengan mereka tanpa terikat," tampiknya kemudian.

"Dasar Playboy!" Shohei menggeleng-gelengkan kepalanya.

Rai berbalik kembali. "Ya, mau bagaimana lagi. Aku tampan dan perkasa. Sayang sekali kalau hanya dimiliki satu wanita. Ibaratnya nasi putih, butuh beberapa lauk dan sayuran untuk melengkapinya. Kalau lauk dan sayurnya tidak pernah diganti, akan terasa bosan juga, kan? Seperti itulah diriku," candanya dengan santai sambil terkekeh.

Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. Udara terasa membeku di saat Rai berjalan pulang ke apartemennya. Untung saja dia membawa syal dan kaus tangan. Masih berjalan, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tak jauh darinya, tepatnya di depan rumah mewah yang besar. Langkah Rai terhenti ketika melihat gadis yang turun dari mobil itu adalah Yuriko. Penampilan gadis itu terlihat berbeda malam ini. Lebih berkelas dan feminin.

"Yuri-chan rumahmu besar sekali, lebih besar dari punyaku. Apa kami boleh singgah sebentar di rumahmu?" tanya beberapa gadis yang berada di dalam mobil.

"Hhmm ... sepertinya orangtuaku sudah tidur. Itu akan mengganggu mereka. Soalnya besok mereka akan berangkat ke London untuk urusan bisnis," ucap Yuriko sambil memandang ke arah rumah besar yang pagarnya tertutup rapat.

"Apa kau tidak ikut ke sana?" tanya salah satu temannya.

"Aku sudah sangat bosan ke luar negeri," jawab Yuriko santai.

"Wah, beruntungnya! Aku saja baru bisa pergi ke Hawaii," sanjung temannya. "ya, sudah kalau begitu kami pergi dulu, ya," ucap teman-teman Yuriko.

Rai menoleh ke arah rumah yang baru saja diakui Yuriko sebagai rumahnya. Ia lantas mengernyitkan dahi lantaran mendengar percakapan mereka.

"Dasar pendongeng handal!" gumam Rai sambil tertawa geli.

Ketika mobil itu telah melaju cukup jauh, Yuriko pun langsung mengembuskan napas lega. Baru saja berbalik hendak pergi, ia terkesiap melihat Rai yang berdiri tak jauh darinya.

"Su–sudah berapa lama kau di situ?" tanya Yuriko gugup.

"Rumahmu besar sekali!" sindir Rai mengulang perkataan teman-teman Yuriko barusan.

Wajah Yuriko merah padam seketika. Rasanya ia ingin menenggelamkan diri. Bagaimana tidak, kemarin ketahuan mencopet, dan sekarang Rai pun tahu ia menipu teman-temannya. Dengan menahan malu, ia bergegas melangkah melewati pria itu.

.

.

.

Terpopuler

Comments

🐥Yay

🐥Yay

perumpamaan macam apa ini😌

2024-09-18

0

ㅤㅤㅤㅤ😻Kᵝ⃟ᴸ⸙ᵍᵏ نَيْ ㊍㊍🍒⃞⃟🦅😻

ㅤㅤㅤㅤ😻Kᵝ⃟ᴸ⸙ᵍᵏ نَيْ ㊍㊍🍒⃞⃟🦅😻

jangan bilang benci jadi cinta
sampe disimpen tuh kelopak bunga bahkan sampai di pinil biar gak layu

2023-11-19

1

ㅤㅤㅤㅤ😻Kᵝ⃟ᴸ⸙ᵍᵏ نَيْ ㊍㊍🍒⃞⃟🦅😻

ㅤㅤㅤㅤ😻Kᵝ⃟ᴸ⸙ᵍᵏ نَيْ ㊍㊍🍒⃞⃟🦅😻

ternyata bang kei yang ngejar bang Rai didalam hotel itu🤣🤭

2023-11-19

0

lihat semua
Episodes
1 Ch. 1 : Mr. White and Black Shadow
2 Ch. 2 : Kencan Buta
3 Ch. 3 : Akan Bertunangan?
4 Ch. 4 : Gadis Pencopet
5 Ch. 5 : Pendongeng Handal
6 Ch. 6 : Terus Dicurigai
7 Ch. 7 : Terbawa Suasana
8 Ch. 8 : Black Shadow Comeback
9 Ch. 9 : Pencarian Harta Karun
10 Ch. 10 : Dokter Menakutkan
11 Ch. 11 : Penguntit
12 Ch. 12 : Tak Takut Jatuh Hati
13 Ch. 13 : Tak Dipercaya
14 Ch. 14 : Terus Disangka Pembual
15 Ch. 15 : Melancarkan Serangan
16 Ch. 16 : Beruntung Memilikinya
17 Ch. 17 : Hukum Tebang Pilih
18 Ch. 18 : Cara Memanggil yang Tepat
19 Ch. 19 : Hati yang Seakan Terbakar
20 Ch. 20 : Di Puncak Gedung
21 Ch. 21 : Aksi Kali Ini, Berhasilkah?
22 Ch. 22 : The Phantom of Love
23 Ch. 23 : Berganti Selera
24 Ch. 24 : Salah Paham Berkelanjutan
25 Ch. 25 : Siap Bertunangan
26 Ch. 26 : Kasus di Balik Kasus
27 Ch. 27 : Dihantui Rasa Bersalah
28 Ch. 28 : Tak Ingin Bersaing Dengannya
29 Ch. 29 : Perempuan di Kehidupan Mereka
30 Ch. 30 : Mencintai dan Dicintai
31 Ch. 31 : Camelia Berdarah
32 Ch. 32 : Shohei Kritis?
33 Ch. 33 : Black Shadow Tanpa Mr. White?
34 Ch. 34 : Lawan yang Kuat
35 Ch. 35 : Konfrontasi
36 Ch. 36 : Black Shadow disekap?
37 Ch. 37 : Kilas Balik
38 Ch. 38 : Menjebak dengan Cara yang Menyenangkan
39 Ch. 39 : Tak Kuasa Menahan Geliat Hati
40 Ch. 40 : Unpredictable Kiss
41 Ch. 41 : Saling Memendam
42 Ch. 42 : Nama yang Tak Terdeteksi
43 Ch. 43 : Makanan Kemasan
44 Ch. 44 : Polisi Pindahan
45 Ch. 45 : Mencicipi Makanan
46 Ch. 46 : Suara yang Tak Asing
47 Ch. 47 : Target Selanjutnya
48 Ch. 48 : Pertemuan Rai dan Seina
49 Ch. 49 : Apa yang Dilihat Kei?
50 Ch. 50 : Aksi Kejar-kejaran
51 Ch. 51 : Belajar Teknik Berciuman
52 Ch. 52 : Nasib Shohei di Tangan Kei?
53 Ch. 53 : Apa Tujuan Kei?
54 Ch. 54 : Menonton Bersama
55 Ch. 55 : Terjebak Dalam Kamar
56 Ch. 56 : Rai Tergoda?
57 Ch. 57 : Regu Penembak Jitu
58 Ch. 58 : Siapa Musuh Sebenarnya?
59 Ch. 59 : Siapa Target Kesepuluh?
60 Ch. 60 : Pria Perusak Jantung
61 Ch. 61 : Membatalkan Pertunangan?
62 Ch. 62 : Peringatan dari Kei
63 Ch. 63 : Memastikan Perasaan
64 Ch. 64 : Black Shadow adalah Bayangan Shohei
65 Ch. 65 : Pergi Membawa Rasa Bersalah
66 Ch. 66 : Gagal Romantis
67 Ch. 67 : Misteri Sarung Tangan
68 Ch. 68 : Sulit Untuk Dimaafkan
69 Ch. 69 : Tujuan Hidup
70 Ch. 70 : Reaksi Tuan Matsumoto
71 Ch. 71 : Masih Tanda Tanya
72 Ch. 72 : Target Kesembilan
73 Ch. 73 : Pemandu Kencan
74 Ch. 74 : Pemandu Kencan part 2
75 Ch. 75 : Tak Sesuai Skenario
76 Ch. 76 : Ingin Lebih Lama Bersama
77 Ch. 77 : Pandanganku Hanya Tertuju Padamu
78 Ch. 78 : Tangisan Pilu Untuk Pria Lain
79 Ch. 79 : Kasus yang Tak Terungkap
80 Ch. 80 : Apakah Menteri Kehakiman Terlibat?
81 Ch. 81 : Siapa Pembunuh Gadis Perawat?
82 Ch. 82 : Memikirkan Strategi
83 Ch. 83 : Teka-Teki Black Shadow
84 Ch. 84 : Black Shadow Terluka
85 Ch. 85 : Cecaran Kei
86 Ch. 86 : Topeng
87 Ch. 87 : Jawaban Atas Teka-Teki
88 Ch. 88 : Menanti Black Shadow
89 Ch. 89 : Konflik Sesungguhnya akan Dimulai
90 Ch. 90 : Arti Keadilan
91 Ch. 91 : Mr. White Terendus?
92 Ch. 92 : Terungkap, Black Shadow adalah Rai?
93 Ch. 93 : Apa yang Sebenarnya Terjadi?
94 Ch. 94 : Konspirasi!
95 Ch. 95 : Kepolisian Bertindak
96 Ch. 96 : Pencarian Tuan Matsumoto
97 Ch. 97 : Rai Pergi
98 Ch. 98 : Black Shadow vs Black Shadow Palsu
99 Ch. 99 : Tangisan Seina
100 Ch. 100 : Ke mana Rai?
101 Ch. 101 : Menambah Kekuatan
102 Ch. 102 : Kejujuran Rai
103 Ch. 103 : Megumi Jun
104 Ch. 104 : Terungkap!
105 Ch. 105 : Membentuk Tim
106 Ch. 106 : Sepakat Bergabung
107 Ch. 107 : Bagaimana Nasib Yuta?
108 Ch. 108 : Membuka Tabir Misteri
109 Ch. 109 : Dihadapkan Sebuah Pilihan
110 Ch. 110 : Setangkai Camelia Kering
111 Ch. 111 : Dari Balik Jendela
112 Ch. 112 : Mr. White dan Black Shadow Bubar?
113 Ch. 113 : Dikhianati Kemudian Mengkhianati
114 Ch. 114 : Menjadi Obat Penawar Luka
115 Ch. 115 : Menenangkan Hati
116 Ch. 116 : Kembali Menjadi Rai yang Dulu?
117 Ch. 117 : Love, be Loved. Leave, be Left
118 Ch. 118 : Siapakah Target Tim Rai?
119 Ch. 119 : Belajarlah dari Kerang!
120 PENGUMUMAN
121 ch. 120 : Aku Sudah Terbiasa
122 Ch. 121 : Secret File
123 Ch. 122 : Kubu Shohei vs Kubu Rai
124 Ch. 123 : Pelaku yang Sama?
125 Ch. 124 : Tokyo Kacau!
126 Ch. 125 : Apa yang Terjadi di Safe Room?
127 Ch. 126 : Kilas Balik
128 Ch. 127 : Situasi yang Terbaca
129 Ch. 128 : Kembalinya Black Shadow
130 Ch. 129 : Tumbal Politik?
131 Ch. 130 : Serangan Balik dari Kazuya Toda
132 Ch. 131 : Negosiasi
133 Ch. 132 : Keputusan Shohei
134 Ch. 133 : Untuk Sebentar Saja ....
135 Ch. 134 : Apa Peran Ai Otaka?
136 Intermezzo Karakter Tokoh
137 Ch. 135 : Mengungkap Misteri
138 Ch. 136 : Meninggal Dunia
139 Ch. 137 : Saksi Kunci Terakhir
140 Ch. 138 : Yuta Menyadari
141 Ch. 139 : Aishiteru
142 Ch. 140 : Aku Akan Kembali
143 ch. 141: Suki Desu
144 ch. 142 : Tertembak
145 Ch. 143: Laptop dan Flashdisk
146 Ch. 144 : Apa isi flashdisk?
147 Ch. 145 : Kejadian Sebenarnya
148 ch. 146 : Saatnya Bangkit
149 Ch. 147 : Perjuangan Terakhir. Berhasilkah?
150 Ch. 148 : Reaksi Publik
151 Ch. 149 : Menilik Aksi di Belakang Layar
152 Ch. 150 : Ketika Kehancuran Datang
153 Ch. 151 : Bagaimana Nasib Rai dan Shohei Setelah ini?
154 Ch. 152 : Akan Ada Masanya
155 Ch. 153 : Senja di Musim Gugur
156 Ch. 154 : Memulai dari Awal
157 Ch 155 : Tak Seperti Bunga Camelia
158 Sayonara!
159 Kei Ayano : Sang Jurnalis part 1
160 Kei Ayano : Sang Jurnalis Part 2
161 Kei Ayano : Sang Jurnalis part 3
162 Kei Ayano : Sang Jurnalis Part 4
163 Pengumuman novel
Episodes

Updated 163 Episodes

1
Ch. 1 : Mr. White and Black Shadow
2
Ch. 2 : Kencan Buta
3
Ch. 3 : Akan Bertunangan?
4
Ch. 4 : Gadis Pencopet
5
Ch. 5 : Pendongeng Handal
6
Ch. 6 : Terus Dicurigai
7
Ch. 7 : Terbawa Suasana
8
Ch. 8 : Black Shadow Comeback
9
Ch. 9 : Pencarian Harta Karun
10
Ch. 10 : Dokter Menakutkan
11
Ch. 11 : Penguntit
12
Ch. 12 : Tak Takut Jatuh Hati
13
Ch. 13 : Tak Dipercaya
14
Ch. 14 : Terus Disangka Pembual
15
Ch. 15 : Melancarkan Serangan
16
Ch. 16 : Beruntung Memilikinya
17
Ch. 17 : Hukum Tebang Pilih
18
Ch. 18 : Cara Memanggil yang Tepat
19
Ch. 19 : Hati yang Seakan Terbakar
20
Ch. 20 : Di Puncak Gedung
21
Ch. 21 : Aksi Kali Ini, Berhasilkah?
22
Ch. 22 : The Phantom of Love
23
Ch. 23 : Berganti Selera
24
Ch. 24 : Salah Paham Berkelanjutan
25
Ch. 25 : Siap Bertunangan
26
Ch. 26 : Kasus di Balik Kasus
27
Ch. 27 : Dihantui Rasa Bersalah
28
Ch. 28 : Tak Ingin Bersaing Dengannya
29
Ch. 29 : Perempuan di Kehidupan Mereka
30
Ch. 30 : Mencintai dan Dicintai
31
Ch. 31 : Camelia Berdarah
32
Ch. 32 : Shohei Kritis?
33
Ch. 33 : Black Shadow Tanpa Mr. White?
34
Ch. 34 : Lawan yang Kuat
35
Ch. 35 : Konfrontasi
36
Ch. 36 : Black Shadow disekap?
37
Ch. 37 : Kilas Balik
38
Ch. 38 : Menjebak dengan Cara yang Menyenangkan
39
Ch. 39 : Tak Kuasa Menahan Geliat Hati
40
Ch. 40 : Unpredictable Kiss
41
Ch. 41 : Saling Memendam
42
Ch. 42 : Nama yang Tak Terdeteksi
43
Ch. 43 : Makanan Kemasan
44
Ch. 44 : Polisi Pindahan
45
Ch. 45 : Mencicipi Makanan
46
Ch. 46 : Suara yang Tak Asing
47
Ch. 47 : Target Selanjutnya
48
Ch. 48 : Pertemuan Rai dan Seina
49
Ch. 49 : Apa yang Dilihat Kei?
50
Ch. 50 : Aksi Kejar-kejaran
51
Ch. 51 : Belajar Teknik Berciuman
52
Ch. 52 : Nasib Shohei di Tangan Kei?
53
Ch. 53 : Apa Tujuan Kei?
54
Ch. 54 : Menonton Bersama
55
Ch. 55 : Terjebak Dalam Kamar
56
Ch. 56 : Rai Tergoda?
57
Ch. 57 : Regu Penembak Jitu
58
Ch. 58 : Siapa Musuh Sebenarnya?
59
Ch. 59 : Siapa Target Kesepuluh?
60
Ch. 60 : Pria Perusak Jantung
61
Ch. 61 : Membatalkan Pertunangan?
62
Ch. 62 : Peringatan dari Kei
63
Ch. 63 : Memastikan Perasaan
64
Ch. 64 : Black Shadow adalah Bayangan Shohei
65
Ch. 65 : Pergi Membawa Rasa Bersalah
66
Ch. 66 : Gagal Romantis
67
Ch. 67 : Misteri Sarung Tangan
68
Ch. 68 : Sulit Untuk Dimaafkan
69
Ch. 69 : Tujuan Hidup
70
Ch. 70 : Reaksi Tuan Matsumoto
71
Ch. 71 : Masih Tanda Tanya
72
Ch. 72 : Target Kesembilan
73
Ch. 73 : Pemandu Kencan
74
Ch. 74 : Pemandu Kencan part 2
75
Ch. 75 : Tak Sesuai Skenario
76
Ch. 76 : Ingin Lebih Lama Bersama
77
Ch. 77 : Pandanganku Hanya Tertuju Padamu
78
Ch. 78 : Tangisan Pilu Untuk Pria Lain
79
Ch. 79 : Kasus yang Tak Terungkap
80
Ch. 80 : Apakah Menteri Kehakiman Terlibat?
81
Ch. 81 : Siapa Pembunuh Gadis Perawat?
82
Ch. 82 : Memikirkan Strategi
83
Ch. 83 : Teka-Teki Black Shadow
84
Ch. 84 : Black Shadow Terluka
85
Ch. 85 : Cecaran Kei
86
Ch. 86 : Topeng
87
Ch. 87 : Jawaban Atas Teka-Teki
88
Ch. 88 : Menanti Black Shadow
89
Ch. 89 : Konflik Sesungguhnya akan Dimulai
90
Ch. 90 : Arti Keadilan
91
Ch. 91 : Mr. White Terendus?
92
Ch. 92 : Terungkap, Black Shadow adalah Rai?
93
Ch. 93 : Apa yang Sebenarnya Terjadi?
94
Ch. 94 : Konspirasi!
95
Ch. 95 : Kepolisian Bertindak
96
Ch. 96 : Pencarian Tuan Matsumoto
97
Ch. 97 : Rai Pergi
98
Ch. 98 : Black Shadow vs Black Shadow Palsu
99
Ch. 99 : Tangisan Seina
100
Ch. 100 : Ke mana Rai?
101
Ch. 101 : Menambah Kekuatan
102
Ch. 102 : Kejujuran Rai
103
Ch. 103 : Megumi Jun
104
Ch. 104 : Terungkap!
105
Ch. 105 : Membentuk Tim
106
Ch. 106 : Sepakat Bergabung
107
Ch. 107 : Bagaimana Nasib Yuta?
108
Ch. 108 : Membuka Tabir Misteri
109
Ch. 109 : Dihadapkan Sebuah Pilihan
110
Ch. 110 : Setangkai Camelia Kering
111
Ch. 111 : Dari Balik Jendela
112
Ch. 112 : Mr. White dan Black Shadow Bubar?
113
Ch. 113 : Dikhianati Kemudian Mengkhianati
114
Ch. 114 : Menjadi Obat Penawar Luka
115
Ch. 115 : Menenangkan Hati
116
Ch. 116 : Kembali Menjadi Rai yang Dulu?
117
Ch. 117 : Love, be Loved. Leave, be Left
118
Ch. 118 : Siapakah Target Tim Rai?
119
Ch. 119 : Belajarlah dari Kerang!
120
PENGUMUMAN
121
ch. 120 : Aku Sudah Terbiasa
122
Ch. 121 : Secret File
123
Ch. 122 : Kubu Shohei vs Kubu Rai
124
Ch. 123 : Pelaku yang Sama?
125
Ch. 124 : Tokyo Kacau!
126
Ch. 125 : Apa yang Terjadi di Safe Room?
127
Ch. 126 : Kilas Balik
128
Ch. 127 : Situasi yang Terbaca
129
Ch. 128 : Kembalinya Black Shadow
130
Ch. 129 : Tumbal Politik?
131
Ch. 130 : Serangan Balik dari Kazuya Toda
132
Ch. 131 : Negosiasi
133
Ch. 132 : Keputusan Shohei
134
Ch. 133 : Untuk Sebentar Saja ....
135
Ch. 134 : Apa Peran Ai Otaka?
136
Intermezzo Karakter Tokoh
137
Ch. 135 : Mengungkap Misteri
138
Ch. 136 : Meninggal Dunia
139
Ch. 137 : Saksi Kunci Terakhir
140
Ch. 138 : Yuta Menyadari
141
Ch. 139 : Aishiteru
142
Ch. 140 : Aku Akan Kembali
143
ch. 141: Suki Desu
144
ch. 142 : Tertembak
145
Ch. 143: Laptop dan Flashdisk
146
Ch. 144 : Apa isi flashdisk?
147
Ch. 145 : Kejadian Sebenarnya
148
ch. 146 : Saatnya Bangkit
149
Ch. 147 : Perjuangan Terakhir. Berhasilkah?
150
Ch. 148 : Reaksi Publik
151
Ch. 149 : Menilik Aksi di Belakang Layar
152
Ch. 150 : Ketika Kehancuran Datang
153
Ch. 151 : Bagaimana Nasib Rai dan Shohei Setelah ini?
154
Ch. 152 : Akan Ada Masanya
155
Ch. 153 : Senja di Musim Gugur
156
Ch. 154 : Memulai dari Awal
157
Ch 155 : Tak Seperti Bunga Camelia
158
Sayonara!
159
Kei Ayano : Sang Jurnalis part 1
160
Kei Ayano : Sang Jurnalis Part 2
161
Kei Ayano : Sang Jurnalis part 3
162
Kei Ayano : Sang Jurnalis Part 4
163
Pengumuman novel

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!