"Seina-chan! Seina-chan!" Shohei menepuk-nepuk lembut pipi kekasihnya. Ia juga mengambil botol anggur dari tangan Seina, kemudian membalikkan botol itu untuk memastikan isinya. Ternyata benar-benar habis tak tersisa setetes pun!
Badan Shohei merosot seketika diikuti helaan napas lega. Namun, detik berikutnya ia menoleh ke arah Seina yang masih berbaring di pundaknya. Wajah mungil dengan bentuk hidung dan bibir yang menyerupai boneka itu tampak menyejukkan pelupuk matanya. Seina benar-benar terlihat seperti peri tanpa sayap.
Perlahan, ia memiringkan sedikit kepala seiring wajahnya semakin maju menghampiri wajah Seina yang terlelap. Kian dekat. Hingga napas gadis itu seakan menyapa wajahnya. Sepasang mata Shohei menutup perlahan ketika wajah mereka hanya menyisakan jarak beberapa inci.
Tunggu!
Mata Shohei terbuka seketika bersamaan dengan ia menjauhkan wajahnya.
Tunggu! Tunggu! Apakah mencium seseorang tanpa sepengetahuannya termasuk tindak kriminal? Ya, meskipun dia kekasihku, tapi harus ada kesepakatan bersama untuk melakukan hal itu!
Shohei kembali menatap Seina yang terlelap. Ia pun segera menggendongnya dan membaringkan di atas ranjang. Ia juga menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuh kekasihnya.
Tak terasa pagi telah menyingsing. Sisa-sisa salju semalam masih membekas di jalanan dan ranting pohon. Penginapan yang mereka tinggali mengusung perpaduan antara tradisional dan modern, sehingga model kamar pun bukan bergaya Washitsu¹. Meskipun begitu, nuansa klasik masih terasa kental.
Kelopak mata Seina masih tertutup rapat. Seolah enggan memberi izin kedua bola matanya untuk menikmati terangnya pagi. Namun, suara ketukan jendela kaca yang membising di telinganya secara beruntun, membuat sepasang matanya refleks terbuka.
Seina beranjak dari tempat tidur dan berjalan malas menuju jendela kamar. Ketika membuka jendela, boneka salju berukuran setengah badan manusia terpampang di hadapannya.
"Kirei (indah)!" seru Seina sambil tersenyum.
"Ohayou!" Shohei menyapa dari balik boneka tersebut.
"Ohayou gozaimasu. Kau sudah bangun? Gomen ne, sepertinya aku ketiduran semalam," ucap Seina berusaha mengumpulkan sisa-sisa ingatannya.
"Daejoubu (tidak apa-apa), lagi pula aku juga langsung tidur," balas Shohei memaksa tersenyum.
"Oh, iya? Yokatta (syukurlah)!"
Masih memasang senyum paksa, Shohei mengangguk cepat dengan kening yang berkerut. Bagaimana tidak, sebenarnya semalaman dia tidak bisa tidur.
"Mau mencari sarapan?" ajak Shohei.
"Boleh juga."
Setelah berjalan-jalan sambil menikmati panorama di daerah itu, mereka pun menemukan sebuah kedai mie udon. Aroma rebusan mie langsung menyapa penciuman mereka saat masuk di kedai yang ternyata dimiliki seorang nenek tua.
"Summimasen, kami pesan mie udon dua mangkok," ucap Shohei pada nenek itu sambil duduk di depan meja yang berhadapan langsung dengan penyajian menu.
Nenek tua itu malah menatap Shohei dan Seina secara bergantian. "Apakah kalian bersaudara?"
Shohei dan Seina saling melirik dengan wajah terkejut. Seina pun buru-buru menjawab, "Kami pasangan kekasih."
"Pasangan kekasih?" Nenek tua itu tersenyum lebar lalu menatap Shohei, "tampaknya pacarmu masih sangat muda, ya?" ucapnya terkekeh.
Mendengar ucapan nenek itu, raut wajah Shohei berubah seketika. Ia tampak mengancing rahangnya.
Apa dia bermaksud mengatakan aku tua dan tidak cocok dengan Seina?
"Kalian pasangan yang sangat serasi," ucap nenek itu kembali sambil menyiapkan sajian mie udon.
"Arigatou gozaimasu." Shohei dan Seina kompak bersuara.
Shohei membuka ponsel pintarnya untuk mengecek berita terhangat pagi ini. Ya, itu sudah menjadi rutinitasnya setiap pagi saat sedang sarapan. Ketika membaca beberapa judul berita, ia merasa heran karena peristiwa kecelakaan di daerah Sumida yang terjadi semalam tidak diberitakan di media manapun pagi ini. Padahal, kecelakaan itu terjadi di jalan utama Sumida dan terbilang fatal karena menelan korban jiwa.
Sejenak, Shohei teringat ucapan pengemudi mobil putih yang mengatakan jika apa yang dilakukannya hanyalah sia-sia. Di tengah pikiran yang sedang berkelana, ia dikejutkan saat nenek pemilik kedai itu memberikan semangkok mie udon hangat.
"Arigatou."
Shohei menghirup aroma bau wijen yang kuat saat semangkok udon itu tersaji di hadapannya dengan kuah kental yang seperti kare. Sementara, Seina langsung mengambil gawainya untuk mengabadikan mie udon khas musim dingin itu.
"Oishi!" Seina bergumam dengan mata yang tertutup saat hidangan yang terbuat dari tepung gandum itu menggoyang lidahnya.
"Benarkah?" Nenek itu tampak senang melihat ekspresi Seina ketika menyantap menu buatannya.
"Iya, ini benar-benar enak! Bahkan aku belum pernah makan mie udon seenak ini di Tokyo," sambung Shohei yang begitu antusias melahap mie itu.
"Kalau begitu kalian tidak perlu membayar mie itu. Ini kugratiskan untuk kalian berdua," ucap nenek itu sambil tersenyum hangat.
Mata Seina membulat seketika. "Benarkah? Tapi—"
"Gomennasai, saya seorang pegawai pemerintahan. Jadi, saya tidak bisa menerima ini, Nek." tolak Shohei secara halus sambil menunduk.
"Oh, jadi kau ini PNS? Tidak apa-apa aku ikhlas memberinya. Anggap saja ini jamuanku untuk kalian berdua," ucap nenek itu sambil tersenyum.
"Gomennasai, tapi sebagai PNS saya tidak bisa menerima hadiah atau keistimewaan dari orang lain. Tapi, Arigatou gozaimasu telah berniat menggratiskan makanan kami," ucap Shohei sambil membungkuk.
Nenek itu langsung menatap Seina yang berdiri di samping Shohei. "Tadinya kupikir pria ini sangat beruntung berpacaran dengan kau yang sangat cantik dan masih muda. Ternyata, kaulah yang paling beruntung berpacaran dengan pria ini, dia memiliki kejujuran yang sulit dicari pada setiap orang!" ucap nenek itu melempar pujian pada Shohei di depan Seina.
"Ah, Nenek! Anda terlalu berlebihan. Itulah yang harus kami lakukan sebagai pegawai pemerintahan." Shohei tersipu malu mendapat sanjungan dari nenek itu.
Sementara Seina turut mengiyakan apa yang diucapkan nenek tersebut. "Benar, Nek. Bisa dibilang aku sangat beruntung bertemu dengan pria sepertinya."
Wajah Shohei mendadak memerah. Ia memegang tengkuk lehernya sambil melirik malu-malu ke arah Seina.
Aku ... lebih beruntung bisa dipertemukan dengan gadis sepertimu, Seina.
Usai menyantap hidangan udon, Shohei dan Seina pun berjalan-jalan menyusuri kawasan sekitar gunung Takao. Objek wisata itu dikenal memiliki 300 spesies pohon dan tanaman. Sayangnya, mereka pergi saat musim dingin yang mana seluruh pohon diselimuti salju. Tampaknya, masing-masing dari mereka sudah mulai saling beradaptasi. Terbukti sudah tak ada lagi obrolan kaku di antara mereka, bahkan keduanya sudah tak malu lagi untuk berpegangan tangan.
Setelah puas mengunjungi objek wisata di daerah itu, mereka pun pulang ke Tokyo saat hari memasuki petang. Tak terasa perjalanan pulang yang memakan waktu hampir satu jam itu telah membawa mereka tepat di halaman kediaman Tuan Matsumoto, ayah Seina.
"Arigatou gozaimasu, atas kencan yang menyenangkan," ucap Seina yang terlihat ceria seperti biasa. Saat hendak membuka mobil, tiba-tiba ia tersentak saat Shohei menahannya dengan memegang pergelangan tangannya. Ia pun menoleh pelan ke arah pria berusia tiga puluh dua tahun itu.
"Seina-chan, Suki desu (Seina, aku mencintaimu)," ucap Shohei dengan pandangan yang tertancap di kedua manik kecokelatan milik Seina. Tak ada kegugupan, apalagi keraguan dari nada suaranya. Kali ini ia benar-benar menunjukkan sisi kelaki-lakiannya di hadapan gadis itu.
Seina terperanjat seketika. Tatapannya melembut dengan sudut bibir yang tertarik segaris.
"Shohei-kun, Suki desu (Shohei, aku mencintaimu)," balas Seina dengan semburat merah yang merebak di pipinya.
Mata mereka bersirobok dalam keheningan. Tangan Shohei yang berada di pergelangan tangan Seina, turun pelan masuk menyisip di sela-sela jari gadis itu. Membuat sebuah tautan genggaman yang lembut dan hangat.
Terus mempertahankan kontak mata dengan gadis itu, Shohei memberanikan diri mendekatkan wajahnya secara perlahan. Mata Seina terkulai pelan ketika napas hangat Shohei mulai menerpa wajahnya.
Ketika mata Seina terpejam penuh, ingatan tentang ciuman yang terjadi antara ia dan pria bertopeng mendadak kembali terlintas dibenaknya. Sontak, gadis itu langsung memalingkan wajahnya tepat saat Shohei hendak mendaratkan ciuman.
"Gomennasai, gomen," ucap Seina dengan wajah yang terlihat bingung. Bagaimana tidak, pria yang dijuluki sebagai Black Shadow itu tiba-tiba menguasai pikirannya.
Shohei mengulas senyum. Tampaknya mereka mendadak jadi salah tingkah. Seina pun masih menatap lurus ke depan dengan bola mata yang bergerak kacau.
Ada apa dengan diriku?
"Istirahatlah! Kau pasti sangat lelah." Ucapan itu melompat keluar dari mulut Shohei usai suasana ambigu mendera keduanya.
"Hum." Seina mengangguk. "Jaa mata (sampai jumpa)." Seina segera membuka pintu mobil, membungkuk di hadapan Shohei sebelum akhirnya masuk ke rumahnya.
Meskipun hanya seperti ini, tapi sudah cukup bagiku. Arigatou telah hadir di hidupku, Seina-chan.
Shohei mengepalkan tangannya ke atas berkali-kali karena mulai mengatasi rasa gugupnya di depan gadis yang dicintainya. Sedangkan Seina buru-buru masuk ke kamar, dan langsung menyandarkan tubuhnya di balik pintu yang tertutup.
Kenapa aku tidak bisa melupakan kejadian itu? Bahkan aku masih bisa merasakan sensasi ciuman yang menggelitik perasaanku.
.
.
.
sumber gambar: megiswell.com
jejak kaki 🦶🦶
Whasitsu : bangunan khas tradisional Jepang yang memakai pintu geser dan jendela lebar berkotak-kotak yang terbuat dari kertas.
pasal tentang gratifikasi di Jepang pernah gua bahas di Gomen, Aishiteru ya....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
hyunity
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2025-03-26
0
sakura🇵🇸
woowwww standing applause buat shohei😍 siapa yg akan beruntung dia akhir?seina atau yuri😁
2023-03-14
2
sakura🇵🇸
hadeeeeeh mau nyium doank udah kayak mau melakukan kejahatan besar🤣🤣🤣 gimana si rai yg udah cium 2x bossss
mungkin perlu bikin surat pernyataan diatas materai biar nanti g dituntut habis ciuman😄
2023-03-14
1