Ch. 7 : Terbawa Suasana

Rai mengantar Ryo keluar dari gedung apartemen usai makan malam bersama. Saat balik kembali dan hendak menutup pintu, terdengar suara keributan dari sebelah apartemen, tepatnya di kediaman Yuriko. Bahkan terdengar juga gelagar gelas pecah dan barang-barang yang sengaja dibanting. Penasaran, ia pun bergegas menyambangi rumah gadis muda itu.

Benar, hal yang mencengangkan menyapu pandangannya saat masuk ke kediaman Yuriko. Pasalnya, sekelompok wanita tengah menyerang gadis itu. Ia dipukuli dan ditendang secara bergantian oleh empat wanita. Keadaan rumahnya karut-marut, beberapa barang hancur dan berserakan di lantai. Rambut dan tangannya ditarik ke sana-kemari.

Melihat hal itu, sontak membuat Rai segera melerai mereka. Pria itu pasang badan untuk melindungi Yuriko dari penganiayaan wanita-wanita yang penampilannya berkelas.

"Apa yang terjadi? Kenapa kalian melakukan ini padanya?!"

"Gadis liar ini selingkuhan suamiku!" teriak salah satu dari mereka.

Rai terlonjak. Ia menoleh ke arah Yuriko yang wajahnya telah dipenuhi luka cakaran. Bahkan salah satu lengan bajunya telah robek.

"Sudah kubilang aku tidak berpacaran dengan suamimu! Aku bahkan tidak mengenal suamimu!" Yuriko berusaha membela diri dari amukan salah satu wanita yang datang.

"Jangan mengelak! Aku menyewa detektif swasta. Dan dia mengatakan suamiku selalu bermalam di kamar ini. Dia memberiku bukti foto-foto suamiku yang baru saja keluar dari kamar ini," teriak salah satu wanita yang baru saja menyeret Yuriko.

Rai mendadak teringat ucapan Yuriko saat pertama kali bertemu dengannya. Gadis itu mengatakan jika dia tinggal di sini untuk menggantikan kakak sepupunya yang pindah ke apartemen lain. Setahunya, penghuni apartemen sebelumnya memang sering dikunjungi pria berusia yang berumur sekitar empat puluh tahun. Hanya saja, ia mengira pria itu adalah suaminya.

"Nyonya, sepertinya kau salah orang! Dia adalah kekasihku. Kami baru tinggal di sini selama dua hari setelah penghuni sebelumnya pindah. Jika kau tak percaya, kau bisa tanya pemilik gedung ini."

Perkataan Rai tentu membuat Yuriko dan wanita-wanita itu terperanjat. Bahkan keheningan mengisi selama beberapa detik.

"Be–benarkah?" tanya wanita itu dengan mimik meragu.

Rai memegang pergelangan tangan wanita itu. "Kau sudah menganiaya kekasihku dan mengacak-acak apartemen kami. Sekarang, ayo ikut aku ke kantor polisi!"

Wanita dan teman-temannya itu lantas gugup dengan ajakan Rai. "Ka–kantor polisi? Kurasa aku hanya salah paham," ucapnya sambil tersenyum paksa. Ia juga mendadak ramah.

"Pacarku sudah seperti ini dan kau dengan mudah mengatakan hanya salah paham?" Rai melengos seraya mengembuskan napas. "Salah pahammu telah membuat kerugian besar bagi kami!" lanjutnya dengan mata melotot.

"Em ... begini, bagaimana kalau aku memberikan uang ganti rugi pada kalian," tawar wanita itu.

"Satu juta Yen!" jawab Rai tanpa basa-basa hingga membuat Yuriko tersentak.

"Sa–satu juta Yen?" Wanita itu termegap-megap.

"Itu sangat murah untuk biaya ganti rugi, daripada kau harus berurusan dengan polisi. Apa kau bisa memastikan kekasihku tidak akan trauma setelah ini?" cetus Rai.

Wanita itu terdiam sebentar lalu menyodorkan ponselnya. "Isi nomor rekeningmu di sini. Akan kutransfer sekarang!"

Rai mengambil ponsel wanita itu lalu memberikannya kepada Yuriko. Gadis itu justru menatapnya dengan lemah tanpa bergerak.

"Sayang, ayo cepat tulis nomor rekeningmu. Jangan sungkan, kita berhak mendapatkan ganti rugi atas apa yang mereka lakukan. Jika tidak, akan kutulis nomor rekeningku sendiri," ujar Rai.

Yuriko mengambil ponsel itu dengan pelan lalu mulai menekan angka-angka. Dia menyerahkan kembali pada wanita itu setelahnya.

"Sudah kutransfer satu juta Yen!" Wanita itu menunjukkan bukti pemindahan dana. Saat ia hendak keluar dari apartemen itu, Rai malah kembali menahannya.

"Tunggu! Kau dan teman-temanmu belum minta maaf pada kekasihku!"

Wanita itu berbalik kaget. Meneguk ludah sesaat, mau tak mau ia dan teman-temannya pun meminta maaf dan membungkuk penuh di depan Yuriko sesuai yang diinginkan Rai.

Beberapa menit terlewati, kini hanya ada Rai dan Yuriko di ruangan yang berantakan itu.

"Satu juta Yen telah kau miliki. Masalah seperti ini serahkan padaku. Itu hal yang gampang!" ucap Rai sambil memetik jari. Ia lalu berjongkok untuk memunguti pecahan kaca yang berserakan, kemudian mengatur kembali barang-barang yang berjatuhan. Sejenak, pandangannya tertuju pada buket bunga camelia yang diletakkan di atas meja kecil.

"Jadi, itu alasannya tiba-tiba berbaik hati memintaku tinggal di tempat ini? Karena istri dari pacarnya telah mengetahui perselingkuhan mereka?" Yuriko bergumam sendiri sambil tertawa miris. Awalnya, ia merasa senang saat kakak sepupunya menawarkan tempat tinggal di sini. Tak disangka, ia justru harus menanggung akibat dari kelakuan kakak sepupunya yang menjadi simpanan suami orang. Wanita-wanita itu mengira dialah yang menjadi gadis simpanan.

Rai mendekat, lalu berjongkok tepat di hadapan Yuriko. "Hei, apa kau tidak mengucapkan terima kasih padaku?"

"Arigatou gozaimasu," ucap Yuriko menunduk dalam di hadapan Rai.

"Hanya itu? Setidaknya kau memberiku satu kecupan." Rai menutup mata seraya memajukan bibirnya. Di saat yang sama, Yuriko malah memukul kepalanya hingga membuatnya memekik kesakitan.

"Aku sedang kesal! Jangan menambah kekesalanku!" ketus Yuriko sambil berdiri.

"Hei, jangan galak-galak sama pacar sendiri!" ucap Rai sambil kembali membersihkan beberapa barang yang berantakan.

"Siapa yang mau jadi pacarmu!"

"Bukankah tadi kita mengaku sebagai pasangan kekasih?"

"Itu kau, bukan aku!"

"Tapi kau sama sekali tidak mengelaknya."

Yuriko tak merespon, justru melempar raut masam.

"Benar tidak mau jadi pacarku? Aku ini tampan loh!" Rai mengangkat sepasang alisnya, memberi serangan menggoda.

"Tampan tapi miskin untuk apa? Bahkan kau selalu pulang kerja tanpa memakai setelan jas."

Rai kembali berdiri. "Tidak tahu, ya? Dulu aku sangat kaya raya. Aku punya rumah, mobil, dan tabungan yang banyak."

Yuriko tergelak. "Hahaha ... kukira hanya aku saja yang pandai membual, ternyata kau juga!"

Rai mengerucutkan bibirnya ketika Yuriko berpikir ucapannya hanya mengada-ngada seperti yang kerap kali gadis itu lakukan. Sebenarnya sangat wajar kalau Yuriko tak memercayai ucapannya. Kenyataannya, hidupnya kini tak seperti dulu.

Terdiam cukup lama, pandangannya pun teralihkan pada Yuriko yang hendak memasang plester luka di wajahnya.

"Sini biar aku yang memasangnya!" Rai tiba-tiba merebut plester dari tangan Yuriko dan memasangkan ke pipinya di mana ada bekas cakaran yang cukup panjang.

Hening kembali menyapa. Hanya ada dua pasang mata yang bersirobok. Entah karena terbawa suasana, tiba-tiba kepala Rai seakan tertarik untuk mendekat. Semakin dekat, dekat, dan dekat. Hingga hidung mereka nyaris bertemu.

"Hei ...."

Teguran Yuriko membuat Rai tersentak.

"Kenapa?" tanya Rai tanpa menjauhkan wajahnya.

"Kapan kau kembali ke apartemenmu?"

"Apa kau mengusirku?" Sudut bibir Rai tertarik ke atas.

"Sebenarnya tidak. Tapi karena kau sudah lancang, jadi aku terpaksa ...." Yuriko tak melanjutkan kalimatnya. Ia justru melirik ke bawah, tepatnya menatap tangan Rai yang menyelip masuk ke dalam kausnya. Pada detik berikutnya, gadis itu langsung mengambil sapu yang terletak tepat di sampingnya, lalu memukulkan bagian gagang sapu ke badan Rai.

"Dasar mesum! Berani-beraninya mengambil kesempatan dalam kesempitan. Kau pikir karena telah menolongku, lalu aku mengizinkan kau melakukan itu!" Yuriko terus menghajar Rai dengan tongkat sapu sambil menggiring pria itu ke pintu keluar.

Rai yang hanya dapat menangkis serangan tongkat tersebut, lantas berkata, "Gomen, aku hanya terbawa suasana. Kalau tidak mau, ya sudah!"

Ya, sejujurnya Rai melakukan itu tanpa sadar. Sejak keluar dari penjara, ia tak pernah berinteraksi dengan wanita manapun seperti dulu. Berdekatan dengan Yuriko dalam suasana berduaan, tentu membuat naluri kejantanannya bangkit secara alami.

Deru pintu yang tertutup keras membuat bahunya refleks terangkat. Ia memandang pintu yang telah tertutup rapat sambil menyeringai kesal.

"Seumur hidupku baru kau saja yang tidak tertarik padaku! Aku jadi ingin tahu selera priamu seperti apa! Kalau tidak setampan diriku, maka aku akan tertawa terbahak-bahak di depanmu," teriak Rai sambil mendengus.

Terdiam sesaat sembari menenangkan diri yang masih kesal, Rai pun mengulas senyum tipis begitu mengingat saat ia memasangkan plester di wajah gadis itu.

"Oyasumi (selamat tidur)," ucap Rai pelan di depan pintu apartemen Yuriko. Sepertinya, ia benar-benar tertarik dengan gadis yang selalu tidak ramah padanya itu.

Tak terasa, pagi yang dingin telah menyambut. Sisa-sisa butiran salju semalam menghampar di beberapa titik jalanan. Rai masih bergelung dalam selimutnya. Ia tampak tertidur pulas, seolah tak memedulikan jika warna langit telah terang. Namun, itu tak bertahan lama ketika ponselnya terus berdering. Tangan pria itu merayap ke meja samping ranjang untuk meraih ponsel.

"Moshi-moshi ...." Suara Rai terdengar berat, tanda ia masih sangat mengantuk.

"Yo, kau masih tidur?"

Kelopak mata Rai terbuka lebar saat suara Shohei mengalun di pendengarannya.

"Aku sudah berada di gedung apartemen. Sebentar lagi tiba di depan kamarmu. Kita akan membicarakan misi selanjutnya," ucap Shohei sambil berjalan masuk ke lift.

Di sisi lain, Yuriko keluar dari kamar mandi usai menggosok gigi. Ia baru merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya akibat dari serangan para wanita yang tak dikenalinya semalam. Ia ke dapur untuk mengambil tempat sampah dan hendak membuangnya ke luar.

Ketika membuka pintu, pandangannya teralihkan pada sosok pria berkulit putih yang berdiri tepat di depan pintu apartemen Rai. Tentu ia hafal betul wajah pria itu. Dia adalah seorang polisi yang memberikan buket bunga camelia padanya saat berada di Ginza kemarin sore.

"Kau ...." Yuriko menunjuk ke arah pria yang memakai mantel hitam panjang itu. Matanya mengerjap berkali-kali seakan tak memercayai penglihatannya.

"Maaf, ada apa Nona?" Tampaknya pria itu tak mengingatnya. Pasalnya, penampilan Yuriko pagi ini sungguh buruk. Rambutnya terurai berantakan. Belum lagi, terdapat dua plester yang menghiasi wajahnya.

"Apa kau tidak ingat? Kita bertemu kemarin di kawasan Ginza," ucap Yuriko penuh antusias. Ia bahkan sempat merapikan rambutnya di hadapan pria itu.

Pria bergaris alis tebal itu tampak mencoba mengingat-ingat. Detik berikutnya, ia tersentak dengan mulut setengah terbuka. "Oh, iya, kau gadis yang bertopi itu, 'kan? Kau juga menemukan dompetku yang jatuh."

"Benar sekali!" Yuriko menyambut ucapan pria itu dengan senyum semringah.

Pintu apartemen Rai terbuka seketika. Pada saat ini, kening Rai tampak berkerut melihat Shohei dan Yuriko yang saling berhadapan dengan senyum lebar yang membingkai wajah masing-masing.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Mayyuzira

Mayyuzira

hahahaha,harga diri rai

2024-11-27

0

ulala ❤️❤️

ulala ❤️❤️

astaga raaiii /Grin/

2024-05-09

1

ㅤㅤㅤㅤ😻Kᵝ⃟ᴸ⸙ᵍᵏ نَيْ ㊍㊍🍒⃞⃟🦅😻

ㅤㅤㅤㅤ😻Kᵝ⃟ᴸ⸙ᵍᵏ نَيْ ㊍㊍🍒⃞⃟🦅😻

jreng jreng jreeeeng akhirnya mereka bertiga bertemu

2023-11-20

0

lihat semua
Episodes
1 Ch. 1 : Mr. White and Black Shadow
2 Ch. 2 : Kencan Buta
3 Ch. 3 : Akan Bertunangan?
4 Ch. 4 : Gadis Pencopet
5 Ch. 5 : Pendongeng Handal
6 Ch. 6 : Terus Dicurigai
7 Ch. 7 : Terbawa Suasana
8 Ch. 8 : Black Shadow Comeback
9 Ch. 9 : Pencarian Harta Karun
10 Ch. 10 : Dokter Menakutkan
11 Ch. 11 : Penguntit
12 Ch. 12 : Tak Takut Jatuh Hati
13 Ch. 13 : Tak Dipercaya
14 Ch. 14 : Terus Disangka Pembual
15 Ch. 15 : Melancarkan Serangan
16 Ch. 16 : Beruntung Memilikinya
17 Ch. 17 : Hukum Tebang Pilih
18 Ch. 18 : Cara Memanggil yang Tepat
19 Ch. 19 : Hati yang Seakan Terbakar
20 Ch. 20 : Di Puncak Gedung
21 Ch. 21 : Aksi Kali Ini, Berhasilkah?
22 Ch. 22 : The Phantom of Love
23 Ch. 23 : Berganti Selera
24 Ch. 24 : Salah Paham Berkelanjutan
25 Ch. 25 : Siap Bertunangan
26 Ch. 26 : Kasus di Balik Kasus
27 Ch. 27 : Dihantui Rasa Bersalah
28 Ch. 28 : Tak Ingin Bersaing Dengannya
29 Ch. 29 : Perempuan di Kehidupan Mereka
30 Ch. 30 : Mencintai dan Dicintai
31 Ch. 31 : Camelia Berdarah
32 Ch. 32 : Shohei Kritis?
33 Ch. 33 : Black Shadow Tanpa Mr. White?
34 Ch. 34 : Lawan yang Kuat
35 Ch. 35 : Konfrontasi
36 Ch. 36 : Black Shadow disekap?
37 Ch. 37 : Kilas Balik
38 Ch. 38 : Menjebak dengan Cara yang Menyenangkan
39 Ch. 39 : Tak Kuasa Menahan Geliat Hati
40 Ch. 40 : Unpredictable Kiss
41 Ch. 41 : Saling Memendam
42 Ch. 42 : Nama yang Tak Terdeteksi
43 Ch. 43 : Makanan Kemasan
44 Ch. 44 : Polisi Pindahan
45 Ch. 45 : Mencicipi Makanan
46 Ch. 46 : Suara yang Tak Asing
47 Ch. 47 : Target Selanjutnya
48 Ch. 48 : Pertemuan Rai dan Seina
49 Ch. 49 : Apa yang Dilihat Kei?
50 Ch. 50 : Aksi Kejar-kejaran
51 Ch. 51 : Belajar Teknik Berciuman
52 Ch. 52 : Nasib Shohei di Tangan Kei?
53 Ch. 53 : Apa Tujuan Kei?
54 Ch. 54 : Menonton Bersama
55 Ch. 55 : Terjebak Dalam Kamar
56 Ch. 56 : Rai Tergoda?
57 Ch. 57 : Regu Penembak Jitu
58 Ch. 58 : Siapa Musuh Sebenarnya?
59 Ch. 59 : Siapa Target Kesepuluh?
60 Ch. 60 : Pria Perusak Jantung
61 Ch. 61 : Membatalkan Pertunangan?
62 Ch. 62 : Peringatan dari Kei
63 Ch. 63 : Memastikan Perasaan
64 Ch. 64 : Black Shadow adalah Bayangan Shohei
65 Ch. 65 : Pergi Membawa Rasa Bersalah
66 Ch. 66 : Gagal Romantis
67 Ch. 67 : Misteri Sarung Tangan
68 Ch. 68 : Sulit Untuk Dimaafkan
69 Ch. 69 : Tujuan Hidup
70 Ch. 70 : Reaksi Tuan Matsumoto
71 Ch. 71 : Masih Tanda Tanya
72 Ch. 72 : Target Kesembilan
73 Ch. 73 : Pemandu Kencan
74 Ch. 74 : Pemandu Kencan part 2
75 Ch. 75 : Tak Sesuai Skenario
76 Ch. 76 : Ingin Lebih Lama Bersama
77 Ch. 77 : Pandanganku Hanya Tertuju Padamu
78 Ch. 78 : Tangisan Pilu Untuk Pria Lain
79 Ch. 79 : Kasus yang Tak Terungkap
80 Ch. 80 : Apakah Menteri Kehakiman Terlibat?
81 Ch. 81 : Siapa Pembunuh Gadis Perawat?
82 Ch. 82 : Memikirkan Strategi
83 Ch. 83 : Teka-Teki Black Shadow
84 Ch. 84 : Black Shadow Terluka
85 Ch. 85 : Cecaran Kei
86 Ch. 86 : Topeng
87 Ch. 87 : Jawaban Atas Teka-Teki
88 Ch. 88 : Menanti Black Shadow
89 Ch. 89 : Konflik Sesungguhnya akan Dimulai
90 Ch. 90 : Arti Keadilan
91 Ch. 91 : Mr. White Terendus?
92 Ch. 92 : Terungkap, Black Shadow adalah Rai?
93 Ch. 93 : Apa yang Sebenarnya Terjadi?
94 Ch. 94 : Konspirasi!
95 Ch. 95 : Kepolisian Bertindak
96 Ch. 96 : Pencarian Tuan Matsumoto
97 Ch. 97 : Rai Pergi
98 Ch. 98 : Black Shadow vs Black Shadow Palsu
99 Ch. 99 : Tangisan Seina
100 Ch. 100 : Ke mana Rai?
101 Ch. 101 : Menambah Kekuatan
102 Ch. 102 : Kejujuran Rai
103 Ch. 103 : Megumi Jun
104 Ch. 104 : Terungkap!
105 Ch. 105 : Membentuk Tim
106 Ch. 106 : Sepakat Bergabung
107 Ch. 107 : Bagaimana Nasib Yuta?
108 Ch. 108 : Membuka Tabir Misteri
109 Ch. 109 : Dihadapkan Sebuah Pilihan
110 Ch. 110 : Setangkai Camelia Kering
111 Ch. 111 : Dari Balik Jendela
112 Ch. 112 : Mr. White dan Black Shadow Bubar?
113 Ch. 113 : Dikhianati Kemudian Mengkhianati
114 Ch. 114 : Menjadi Obat Penawar Luka
115 Ch. 115 : Menenangkan Hati
116 Ch. 116 : Kembali Menjadi Rai yang Dulu?
117 Ch. 117 : Love, be Loved. Leave, be Left
118 Ch. 118 : Siapakah Target Tim Rai?
119 Ch. 119 : Belajarlah dari Kerang!
120 PENGUMUMAN
121 ch. 120 : Aku Sudah Terbiasa
122 Ch. 121 : Secret File
123 Ch. 122 : Kubu Shohei vs Kubu Rai
124 Ch. 123 : Pelaku yang Sama?
125 Ch. 124 : Tokyo Kacau!
126 Ch. 125 : Apa yang Terjadi di Safe Room?
127 Ch. 126 : Kilas Balik
128 Ch. 127 : Situasi yang Terbaca
129 Ch. 128 : Kembalinya Black Shadow
130 Ch. 129 : Tumbal Politik?
131 Ch. 130 : Serangan Balik dari Kazuya Toda
132 Ch. 131 : Negosiasi
133 Ch. 132 : Keputusan Shohei
134 Ch. 133 : Untuk Sebentar Saja ....
135 Ch. 134 : Apa Peran Ai Otaka?
136 Intermezzo Karakter Tokoh
137 Ch. 135 : Mengungkap Misteri
138 Ch. 136 : Meninggal Dunia
139 Ch. 137 : Saksi Kunci Terakhir
140 Ch. 138 : Yuta Menyadari
141 Ch. 139 : Aishiteru
142 Ch. 140 : Aku Akan Kembali
143 ch. 141: Suki Desu
144 ch. 142 : Tertembak
145 Ch. 143: Laptop dan Flashdisk
146 Ch. 144 : Apa isi flashdisk?
147 Ch. 145 : Kejadian Sebenarnya
148 ch. 146 : Saatnya Bangkit
149 Ch. 147 : Perjuangan Terakhir. Berhasilkah?
150 Ch. 148 : Reaksi Publik
151 Ch. 149 : Menilik Aksi di Belakang Layar
152 Ch. 150 : Ketika Kehancuran Datang
153 Ch. 151 : Bagaimana Nasib Rai dan Shohei Setelah ini?
154 Ch. 152 : Akan Ada Masanya
155 Ch. 153 : Senja di Musim Gugur
156 Ch. 154 : Memulai dari Awal
157 Ch 155 : Tak Seperti Bunga Camelia
158 Sayonara!
159 Kei Ayano : Sang Jurnalis part 1
160 Kei Ayano : Sang Jurnalis Part 2
161 Kei Ayano : Sang Jurnalis part 3
162 Kei Ayano : Sang Jurnalis Part 4
163 Pengumuman novel
Episodes

Updated 163 Episodes

1
Ch. 1 : Mr. White and Black Shadow
2
Ch. 2 : Kencan Buta
3
Ch. 3 : Akan Bertunangan?
4
Ch. 4 : Gadis Pencopet
5
Ch. 5 : Pendongeng Handal
6
Ch. 6 : Terus Dicurigai
7
Ch. 7 : Terbawa Suasana
8
Ch. 8 : Black Shadow Comeback
9
Ch. 9 : Pencarian Harta Karun
10
Ch. 10 : Dokter Menakutkan
11
Ch. 11 : Penguntit
12
Ch. 12 : Tak Takut Jatuh Hati
13
Ch. 13 : Tak Dipercaya
14
Ch. 14 : Terus Disangka Pembual
15
Ch. 15 : Melancarkan Serangan
16
Ch. 16 : Beruntung Memilikinya
17
Ch. 17 : Hukum Tebang Pilih
18
Ch. 18 : Cara Memanggil yang Tepat
19
Ch. 19 : Hati yang Seakan Terbakar
20
Ch. 20 : Di Puncak Gedung
21
Ch. 21 : Aksi Kali Ini, Berhasilkah?
22
Ch. 22 : The Phantom of Love
23
Ch. 23 : Berganti Selera
24
Ch. 24 : Salah Paham Berkelanjutan
25
Ch. 25 : Siap Bertunangan
26
Ch. 26 : Kasus di Balik Kasus
27
Ch. 27 : Dihantui Rasa Bersalah
28
Ch. 28 : Tak Ingin Bersaing Dengannya
29
Ch. 29 : Perempuan di Kehidupan Mereka
30
Ch. 30 : Mencintai dan Dicintai
31
Ch. 31 : Camelia Berdarah
32
Ch. 32 : Shohei Kritis?
33
Ch. 33 : Black Shadow Tanpa Mr. White?
34
Ch. 34 : Lawan yang Kuat
35
Ch. 35 : Konfrontasi
36
Ch. 36 : Black Shadow disekap?
37
Ch. 37 : Kilas Balik
38
Ch. 38 : Menjebak dengan Cara yang Menyenangkan
39
Ch. 39 : Tak Kuasa Menahan Geliat Hati
40
Ch. 40 : Unpredictable Kiss
41
Ch. 41 : Saling Memendam
42
Ch. 42 : Nama yang Tak Terdeteksi
43
Ch. 43 : Makanan Kemasan
44
Ch. 44 : Polisi Pindahan
45
Ch. 45 : Mencicipi Makanan
46
Ch. 46 : Suara yang Tak Asing
47
Ch. 47 : Target Selanjutnya
48
Ch. 48 : Pertemuan Rai dan Seina
49
Ch. 49 : Apa yang Dilihat Kei?
50
Ch. 50 : Aksi Kejar-kejaran
51
Ch. 51 : Belajar Teknik Berciuman
52
Ch. 52 : Nasib Shohei di Tangan Kei?
53
Ch. 53 : Apa Tujuan Kei?
54
Ch. 54 : Menonton Bersama
55
Ch. 55 : Terjebak Dalam Kamar
56
Ch. 56 : Rai Tergoda?
57
Ch. 57 : Regu Penembak Jitu
58
Ch. 58 : Siapa Musuh Sebenarnya?
59
Ch. 59 : Siapa Target Kesepuluh?
60
Ch. 60 : Pria Perusak Jantung
61
Ch. 61 : Membatalkan Pertunangan?
62
Ch. 62 : Peringatan dari Kei
63
Ch. 63 : Memastikan Perasaan
64
Ch. 64 : Black Shadow adalah Bayangan Shohei
65
Ch. 65 : Pergi Membawa Rasa Bersalah
66
Ch. 66 : Gagal Romantis
67
Ch. 67 : Misteri Sarung Tangan
68
Ch. 68 : Sulit Untuk Dimaafkan
69
Ch. 69 : Tujuan Hidup
70
Ch. 70 : Reaksi Tuan Matsumoto
71
Ch. 71 : Masih Tanda Tanya
72
Ch. 72 : Target Kesembilan
73
Ch. 73 : Pemandu Kencan
74
Ch. 74 : Pemandu Kencan part 2
75
Ch. 75 : Tak Sesuai Skenario
76
Ch. 76 : Ingin Lebih Lama Bersama
77
Ch. 77 : Pandanganku Hanya Tertuju Padamu
78
Ch. 78 : Tangisan Pilu Untuk Pria Lain
79
Ch. 79 : Kasus yang Tak Terungkap
80
Ch. 80 : Apakah Menteri Kehakiman Terlibat?
81
Ch. 81 : Siapa Pembunuh Gadis Perawat?
82
Ch. 82 : Memikirkan Strategi
83
Ch. 83 : Teka-Teki Black Shadow
84
Ch. 84 : Black Shadow Terluka
85
Ch. 85 : Cecaran Kei
86
Ch. 86 : Topeng
87
Ch. 87 : Jawaban Atas Teka-Teki
88
Ch. 88 : Menanti Black Shadow
89
Ch. 89 : Konflik Sesungguhnya akan Dimulai
90
Ch. 90 : Arti Keadilan
91
Ch. 91 : Mr. White Terendus?
92
Ch. 92 : Terungkap, Black Shadow adalah Rai?
93
Ch. 93 : Apa yang Sebenarnya Terjadi?
94
Ch. 94 : Konspirasi!
95
Ch. 95 : Kepolisian Bertindak
96
Ch. 96 : Pencarian Tuan Matsumoto
97
Ch. 97 : Rai Pergi
98
Ch. 98 : Black Shadow vs Black Shadow Palsu
99
Ch. 99 : Tangisan Seina
100
Ch. 100 : Ke mana Rai?
101
Ch. 101 : Menambah Kekuatan
102
Ch. 102 : Kejujuran Rai
103
Ch. 103 : Megumi Jun
104
Ch. 104 : Terungkap!
105
Ch. 105 : Membentuk Tim
106
Ch. 106 : Sepakat Bergabung
107
Ch. 107 : Bagaimana Nasib Yuta?
108
Ch. 108 : Membuka Tabir Misteri
109
Ch. 109 : Dihadapkan Sebuah Pilihan
110
Ch. 110 : Setangkai Camelia Kering
111
Ch. 111 : Dari Balik Jendela
112
Ch. 112 : Mr. White dan Black Shadow Bubar?
113
Ch. 113 : Dikhianati Kemudian Mengkhianati
114
Ch. 114 : Menjadi Obat Penawar Luka
115
Ch. 115 : Menenangkan Hati
116
Ch. 116 : Kembali Menjadi Rai yang Dulu?
117
Ch. 117 : Love, be Loved. Leave, be Left
118
Ch. 118 : Siapakah Target Tim Rai?
119
Ch. 119 : Belajarlah dari Kerang!
120
PENGUMUMAN
121
ch. 120 : Aku Sudah Terbiasa
122
Ch. 121 : Secret File
123
Ch. 122 : Kubu Shohei vs Kubu Rai
124
Ch. 123 : Pelaku yang Sama?
125
Ch. 124 : Tokyo Kacau!
126
Ch. 125 : Apa yang Terjadi di Safe Room?
127
Ch. 126 : Kilas Balik
128
Ch. 127 : Situasi yang Terbaca
129
Ch. 128 : Kembalinya Black Shadow
130
Ch. 129 : Tumbal Politik?
131
Ch. 130 : Serangan Balik dari Kazuya Toda
132
Ch. 131 : Negosiasi
133
Ch. 132 : Keputusan Shohei
134
Ch. 133 : Untuk Sebentar Saja ....
135
Ch. 134 : Apa Peran Ai Otaka?
136
Intermezzo Karakter Tokoh
137
Ch. 135 : Mengungkap Misteri
138
Ch. 136 : Meninggal Dunia
139
Ch. 137 : Saksi Kunci Terakhir
140
Ch. 138 : Yuta Menyadari
141
Ch. 139 : Aishiteru
142
Ch. 140 : Aku Akan Kembali
143
ch. 141: Suki Desu
144
ch. 142 : Tertembak
145
Ch. 143: Laptop dan Flashdisk
146
Ch. 144 : Apa isi flashdisk?
147
Ch. 145 : Kejadian Sebenarnya
148
ch. 146 : Saatnya Bangkit
149
Ch. 147 : Perjuangan Terakhir. Berhasilkah?
150
Ch. 148 : Reaksi Publik
151
Ch. 149 : Menilik Aksi di Belakang Layar
152
Ch. 150 : Ketika Kehancuran Datang
153
Ch. 151 : Bagaimana Nasib Rai dan Shohei Setelah ini?
154
Ch. 152 : Akan Ada Masanya
155
Ch. 153 : Senja di Musim Gugur
156
Ch. 154 : Memulai dari Awal
157
Ch 155 : Tak Seperti Bunga Camelia
158
Sayonara!
159
Kei Ayano : Sang Jurnalis part 1
160
Kei Ayano : Sang Jurnalis Part 2
161
Kei Ayano : Sang Jurnalis part 3
162
Kei Ayano : Sang Jurnalis Part 4
163
Pengumuman novel

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!