Rai mengantar Ryo keluar dari gedung apartemen usai makan malam bersama. Saat balik kembali dan hendak menutup pintu, terdengar suara keributan dari sebelah apartemen, tepatnya di kediaman Yuriko. Bahkan terdengar juga gelagar gelas pecah dan barang-barang yang sengaja dibanting. Penasaran, ia pun bergegas menyambangi rumah gadis muda itu.
Benar, hal yang mencengangkan menyapu pandangannya saat masuk ke kediaman Yuriko. Pasalnya, sekelompok wanita tengah menyerang gadis itu. Ia dipukuli dan ditendang secara bergantian oleh empat wanita. Keadaan rumahnya karut-marut, beberapa barang hancur dan berserakan di lantai. Rambut dan tangannya ditarik ke sana-kemari.
Melihat hal itu, sontak membuat Rai segera melerai mereka. Pria itu pasang badan untuk melindungi Yuriko dari penganiayaan wanita-wanita yang penampilannya berkelas.
"Apa yang terjadi? Kenapa kalian melakukan ini padanya?!"
"Gadis liar ini selingkuhan suamiku!" teriak salah satu dari mereka.
Rai terlonjak. Ia menoleh ke arah Yuriko yang wajahnya telah dipenuhi luka cakaran. Bahkan salah satu lengan bajunya telah robek.
"Sudah kubilang aku tidak berpacaran dengan suamimu! Aku bahkan tidak mengenal suamimu!" Yuriko berusaha membela diri dari amukan salah satu wanita yang datang.
"Jangan mengelak! Aku menyewa detektif swasta. Dan dia mengatakan suamiku selalu bermalam di kamar ini. Dia memberiku bukti foto-foto suamiku yang baru saja keluar dari kamar ini," teriak salah satu wanita yang baru saja menyeret Yuriko.
Rai mendadak teringat ucapan Yuriko saat pertama kali bertemu dengannya. Gadis itu mengatakan jika dia tinggal di sini untuk menggantikan kakak sepupunya yang pindah ke apartemen lain. Setahunya, penghuni apartemen sebelumnya memang sering dikunjungi pria berusia yang berumur sekitar empat puluh tahun. Hanya saja, ia mengira pria itu adalah suaminya.
"Nyonya, sepertinya kau salah orang! Dia adalah kekasihku. Kami baru tinggal di sini selama dua hari setelah penghuni sebelumnya pindah. Jika kau tak percaya, kau bisa tanya pemilik gedung ini."
Perkataan Rai tentu membuat Yuriko dan wanita-wanita itu terperanjat. Bahkan keheningan mengisi selama beberapa detik.
"Be–benarkah?" tanya wanita itu dengan mimik meragu.
Rai memegang pergelangan tangan wanita itu. "Kau sudah menganiaya kekasihku dan mengacak-acak apartemen kami. Sekarang, ayo ikut aku ke kantor polisi!"
Wanita dan teman-temannya itu lantas gugup dengan ajakan Rai. "Ka–kantor polisi? Kurasa aku hanya salah paham," ucapnya sambil tersenyum paksa. Ia juga mendadak ramah.
"Pacarku sudah seperti ini dan kau dengan mudah mengatakan hanya salah paham?" Rai melengos seraya mengembuskan napas. "Salah pahammu telah membuat kerugian besar bagi kami!" lanjutnya dengan mata melotot.
"Em ... begini, bagaimana kalau aku memberikan uang ganti rugi pada kalian," tawar wanita itu.
"Satu juta Yen!" jawab Rai tanpa basa-basa hingga membuat Yuriko tersentak.
"Sa–satu juta Yen?" Wanita itu termegap-megap.
"Itu sangat murah untuk biaya ganti rugi, daripada kau harus berurusan dengan polisi. Apa kau bisa memastikan kekasihku tidak akan trauma setelah ini?" cetus Rai.
Wanita itu terdiam sebentar lalu menyodorkan ponselnya. "Isi nomor rekeningmu di sini. Akan kutransfer sekarang!"
Rai mengambil ponsel wanita itu lalu memberikannya kepada Yuriko. Gadis itu justru menatapnya dengan lemah tanpa bergerak.
"Sayang, ayo cepat tulis nomor rekeningmu. Jangan sungkan, kita berhak mendapatkan ganti rugi atas apa yang mereka lakukan. Jika tidak, akan kutulis nomor rekeningku sendiri," ujar Rai.
Yuriko mengambil ponsel itu dengan pelan lalu mulai menekan angka-angka. Dia menyerahkan kembali pada wanita itu setelahnya.
"Sudah kutransfer satu juta Yen!" Wanita itu menunjukkan bukti pemindahan dana. Saat ia hendak keluar dari apartemen itu, Rai malah kembali menahannya.
"Tunggu! Kau dan teman-temanmu belum minta maaf pada kekasihku!"
Wanita itu berbalik kaget. Meneguk ludah sesaat, mau tak mau ia dan teman-temannya pun meminta maaf dan membungkuk penuh di depan Yuriko sesuai yang diinginkan Rai.
Beberapa menit terlewati, kini hanya ada Rai dan Yuriko di ruangan yang berantakan itu.
"Satu juta Yen telah kau miliki. Masalah seperti ini serahkan padaku. Itu hal yang gampang!" ucap Rai sambil memetik jari. Ia lalu berjongkok untuk memunguti pecahan kaca yang berserakan, kemudian mengatur kembali barang-barang yang berjatuhan. Sejenak, pandangannya tertuju pada buket bunga camelia yang diletakkan di atas meja kecil.
"Jadi, itu alasannya tiba-tiba berbaik hati memintaku tinggal di tempat ini? Karena istri dari pacarnya telah mengetahui perselingkuhan mereka?" Yuriko bergumam sendiri sambil tertawa miris. Awalnya, ia merasa senang saat kakak sepupunya menawarkan tempat tinggal di sini. Tak disangka, ia justru harus menanggung akibat dari kelakuan kakak sepupunya yang menjadi simpanan suami orang. Wanita-wanita itu mengira dialah yang menjadi gadis simpanan.
Rai mendekat, lalu berjongkok tepat di hadapan Yuriko. "Hei, apa kau tidak mengucapkan terima kasih padaku?"
"Arigatou gozaimasu," ucap Yuriko menunduk dalam di hadapan Rai.
"Hanya itu? Setidaknya kau memberiku satu kecupan." Rai menutup mata seraya memajukan bibirnya. Di saat yang sama, Yuriko malah memukul kepalanya hingga membuatnya memekik kesakitan.
"Aku sedang kesal! Jangan menambah kekesalanku!" ketus Yuriko sambil berdiri.
"Hei, jangan galak-galak sama pacar sendiri!" ucap Rai sambil kembali membersihkan beberapa barang yang berantakan.
"Siapa yang mau jadi pacarmu!"
"Bukankah tadi kita mengaku sebagai pasangan kekasih?"
"Itu kau, bukan aku!"
"Tapi kau sama sekali tidak mengelaknya."
Yuriko tak merespon, justru melempar raut masam.
"Benar tidak mau jadi pacarku? Aku ini tampan loh!" Rai mengangkat sepasang alisnya, memberi serangan menggoda.
"Tampan tapi miskin untuk apa? Bahkan kau selalu pulang kerja tanpa memakai setelan jas."
Rai kembali berdiri. "Tidak tahu, ya? Dulu aku sangat kaya raya. Aku punya rumah, mobil, dan tabungan yang banyak."
Yuriko tergelak. "Hahaha ... kukira hanya aku saja yang pandai membual, ternyata kau juga!"
Rai mengerucutkan bibirnya ketika Yuriko berpikir ucapannya hanya mengada-ngada seperti yang kerap kali gadis itu lakukan. Sebenarnya sangat wajar kalau Yuriko tak memercayai ucapannya. Kenyataannya, hidupnya kini tak seperti dulu.
Terdiam cukup lama, pandangannya pun teralihkan pada Yuriko yang hendak memasang plester luka di wajahnya.
"Sini biar aku yang memasangnya!" Rai tiba-tiba merebut plester dari tangan Yuriko dan memasangkan ke pipinya di mana ada bekas cakaran yang cukup panjang.
Hening kembali menyapa. Hanya ada dua pasang mata yang bersirobok. Entah karena terbawa suasana, tiba-tiba kepala Rai seakan tertarik untuk mendekat. Semakin dekat, dekat, dan dekat. Hingga hidung mereka nyaris bertemu.
"Hei ...."
Teguran Yuriko membuat Rai tersentak.
"Kenapa?" tanya Rai tanpa menjauhkan wajahnya.
"Kapan kau kembali ke apartemenmu?"
"Apa kau mengusirku?" Sudut bibir Rai tertarik ke atas.
"Sebenarnya tidak. Tapi karena kau sudah lancang, jadi aku terpaksa ...." Yuriko tak melanjutkan kalimatnya. Ia justru melirik ke bawah, tepatnya menatap tangan Rai yang menyelip masuk ke dalam kausnya. Pada detik berikutnya, gadis itu langsung mengambil sapu yang terletak tepat di sampingnya, lalu memukulkan bagian gagang sapu ke badan Rai.
"Dasar mesum! Berani-beraninya mengambil kesempatan dalam kesempitan. Kau pikir karena telah menolongku, lalu aku mengizinkan kau melakukan itu!" Yuriko terus menghajar Rai dengan tongkat sapu sambil menggiring pria itu ke pintu keluar.
Rai yang hanya dapat menangkis serangan tongkat tersebut, lantas berkata, "Gomen, aku hanya terbawa suasana. Kalau tidak mau, ya sudah!"
Ya, sejujurnya Rai melakukan itu tanpa sadar. Sejak keluar dari penjara, ia tak pernah berinteraksi dengan wanita manapun seperti dulu. Berdekatan dengan Yuriko dalam suasana berduaan, tentu membuat naluri kejantanannya bangkit secara alami.
Deru pintu yang tertutup keras membuat bahunya refleks terangkat. Ia memandang pintu yang telah tertutup rapat sambil menyeringai kesal.
"Seumur hidupku baru kau saja yang tidak tertarik padaku! Aku jadi ingin tahu selera priamu seperti apa! Kalau tidak setampan diriku, maka aku akan tertawa terbahak-bahak di depanmu," teriak Rai sambil mendengus.
Terdiam sesaat sembari menenangkan diri yang masih kesal, Rai pun mengulas senyum tipis begitu mengingat saat ia memasangkan plester di wajah gadis itu.
"Oyasumi (selamat tidur)," ucap Rai pelan di depan pintu apartemen Yuriko. Sepertinya, ia benar-benar tertarik dengan gadis yang selalu tidak ramah padanya itu.
Tak terasa, pagi yang dingin telah menyambut. Sisa-sisa butiran salju semalam menghampar di beberapa titik jalanan. Rai masih bergelung dalam selimutnya. Ia tampak tertidur pulas, seolah tak memedulikan jika warna langit telah terang. Namun, itu tak bertahan lama ketika ponselnya terus berdering. Tangan pria itu merayap ke meja samping ranjang untuk meraih ponsel.
"Moshi-moshi ...." Suara Rai terdengar berat, tanda ia masih sangat mengantuk.
"Yo, kau masih tidur?"
Kelopak mata Rai terbuka lebar saat suara Shohei mengalun di pendengarannya.
"Aku sudah berada di gedung apartemen. Sebentar lagi tiba di depan kamarmu. Kita akan membicarakan misi selanjutnya," ucap Shohei sambil berjalan masuk ke lift.
Di sisi lain, Yuriko keluar dari kamar mandi usai menggosok gigi. Ia baru merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya akibat dari serangan para wanita yang tak dikenalinya semalam. Ia ke dapur untuk mengambil tempat sampah dan hendak membuangnya ke luar.
Ketika membuka pintu, pandangannya teralihkan pada sosok pria berkulit putih yang berdiri tepat di depan pintu apartemen Rai. Tentu ia hafal betul wajah pria itu. Dia adalah seorang polisi yang memberikan buket bunga camelia padanya saat berada di Ginza kemarin sore.
"Kau ...." Yuriko menunjuk ke arah pria yang memakai mantel hitam panjang itu. Matanya mengerjap berkali-kali seakan tak memercayai penglihatannya.
"Maaf, ada apa Nona?" Tampaknya pria itu tak mengingatnya. Pasalnya, penampilan Yuriko pagi ini sungguh buruk. Rambutnya terurai berantakan. Belum lagi, terdapat dua plester yang menghiasi wajahnya.
"Apa kau tidak ingat? Kita bertemu kemarin di kawasan Ginza," ucap Yuriko penuh antusias. Ia bahkan sempat merapikan rambutnya di hadapan pria itu.
Pria bergaris alis tebal itu tampak mencoba mengingat-ingat. Detik berikutnya, ia tersentak dengan mulut setengah terbuka. "Oh, iya, kau gadis yang bertopi itu, 'kan? Kau juga menemukan dompetku yang jatuh."
"Benar sekali!" Yuriko menyambut ucapan pria itu dengan senyum semringah.
Pintu apartemen Rai terbuka seketika. Pada saat ini, kening Rai tampak berkerut melihat Shohei dan Yuriko yang saling berhadapan dengan senyum lebar yang membingkai wajah masing-masing.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
Mayyuzira
hahahaha,harga diri rai
2024-11-27
0
ulala ❤️❤️
astaga raaiii /Grin/
2024-05-09
1
ㅤㅤㅤㅤ😻Kᵝ⃟ᴸ⸙ᵍᵏ نَيْ ㊍㊍🍒⃞⃟🦅😻
jreng jreng jreeeeng akhirnya mereka bertiga bertemu
2023-11-20
0