" Tunggu...!" pekik Bu Sarah tiba - tiba.
" Ada apa Bu...?" tanya Ayah.
" Yah, dari tadi ibu tidak melihat Raka..."
Deg!
Arvan, Erina dan Hans saling berpandangan. Tidak ada yang berani menatap kedua orangtuanya.
" Benar juga, biasanya juga dia selalu bersama Ayah..." ucap Tuan Sebastian membenarkan ucapan istrinya.
" Bukannya tadi sama Arvan dan Rissa...?" sahut Ricko.
" Mungkin Raka main di luar, kita foto dulu baru cari Raka..." ucap Hans ragu.
" Baiklah, sebaiknya kita percepat sesi fotonya..." timpal Arvan.
" Bersikaplah sewajarnya, Ayah sangat mudah menebak raut wajah seseorang..." bisik Arvan pada Erina.
Erina hanya diam dan mengikuti kemauan Arvan. Laki - laki itu seperti mencari kesempatan dengan memeluk pinggangnya saat sesi foto.
Setelah puas mengambil foto keluarga, Tuan Sebastian langsung menarik lengan Rissa dan Arvan menuju tepian kolam di samping rumah Sandra. Disana nampak sepi karena acara resepsi dilakukan di dalam rumah dan halaman depan.
" Kalian tahu kenapa Ayah membawa kalian kemari...?" ujar Tuan Sebastian datar.
" Maaf Ayah, Rissa yang salah..." ucap Rissa pelan.
" Dimana Raka sekarang...!" bentak Ayah.
" Ayah, jangan marah pada Rissa. Ini semua salah Arvan yang tidak bisa menjaga Raka..." tutur Arvan tegas.
" Semua tetap salah Rissa karena dia ibunya...!"
" Tapi Arvan juga papanya Raka, Yah..."
" Cukup Kak! Raka itu anakku, akulah yang salah. Aku akan mencari Raka sampai dapat..."
" Tunggu Erina! Raka juga anakku, dia pergi juga karena kita...!" tegas Arvan.
Tuan Sebastian tercengang mendengar pengakuan Arvan. Dia berkali - kali menggelengkan kepalanya menguatkan pendengarannya. Apakah tadi dia salah dengar atau hanya karena Raka memang selalu menganggap Arvan papanya?
" Maksud kamu apa Van...?" tanya Ayah dengan tatapan tajam.
" Raka itu anak kandung Arvan, Yah..."
Plakk!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Arvan. Tuan Regan tahu tentang semua yang terjadi dengan Rissa selama ini. Mengetahui ini semua adalah perbuatan Arvan, sang ayah tentu saja sangat murka.
" Sejak kapan kau jadi orang tak bermoral seperti itu...!"
" Ayah, Arvan akan jelaskan semuanya setelah Raka ditemukan..." ucap Arvan.
Erina hanya bisa menangis memikirkan keberadaan anaknya yang tak kunjung ditemukan.
" Rissa, kira - kira dimana Raka suka menyendiri...?" tanya Arvan.
" Dia sering di taman jika sedang di rumah..." jawab Rissa.
" Kita cari Raka sekarang, pasti dia di taman dekat rumah..."
" Ayah, maafkan aku. Arvan pasti bisa menemukan Raka..." ucap Arvan lagi.
" Pergilah, Ayah hanya takut banyak musuh yang mengincar Raka karena dia bersamamu..." ucap Ayah sendu.
" Oh iya, jangan sampai ibumu tahu! Dia pasti sangat khawatir..." pesan Ayah sebelum mereka pergi.
" Iya Ayah, kami pasti akan menemukan Raka secepatnya..." ucap Rissa.
Arvan dan Rissa langsung ke parkiran untuk mengambil mobil lalu bergegas menuju ke taman paling dekat dengan rumah setelah mengajak William untuk ikut mencari.
" Rissa, boleh pinjam ponselmu sebentar...?" ucap William.
" Buat apa Kak...?" tanya Rissa.
" Kita harus membuka kunci penghubung ponselmu dengan ponsel Raka untuk melacaknya..." jawab William.
" Apa itu bisa Kak...?" tanya Arvan.
" Bukankah itu pekerjaanmu, Van..." sahut William.
" Iya, tapi untuk meretas ponsel Raka itu terlalu sulit..." ucap Arvan.
" Coba dulu, masa' kalah sama anak kecil. Sebenarnya apa yang terjadi...?"
" Nanti saja setelah Raka ketemu kita jelaskan semuanya..."
" Rissa, bisakah kamu mengemudi...?" tanya Arvan.
" Iya..."
Arvan bertukar tempat dengan Rissa, dia segera mengutak - atik ponsel Rissa untuk membuka akses ke ponsel Raka.
" Huft... akhirnya bisa terbuka juga..." ucap Arvan lega.
" Cepat lacak lokasinya, kita harus cepat sebelum Raka menyadari kita telah menemukan lokasinya..."
" Raka di taman XX dekat jalan raya...!" ucap Arvan.
" Aku tahu tempat itu..." Rissa segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga membuat Arvan dan William terkejut.
" Erina, hati - hati! Jangan ngebut seperti ini...!" ujar Arvan khawatir.
" Diam! Aku tak butuh nasehatmu...!" pekik Rissa.
" Sudah! Kenapa kalian malah bertengkar...!" bentak William.
William merasa aneh dengan sikap Arvan dan Rissa. Mereka seperti sudah lama saling mengenal. William berpikir mereka berdua punya masa lalu yang buruk. Dari sikap Rissa yang terlihat begitu membenci Arvan, William berusaha untuk menengahi perseteruan keduanya.
Dalam waktu lima belas menit, mereka sampai di taman tempat Raka berada. Rissa menepikan mobilnya di tempat parkir taman. Arvan dan William sudah keluar dari mobil, namun Rissa malah tetap pada posisi semula berdiam diri seraya meneteskan airmata.
Arvan dan William yang sudah berjalan agak jauh segera berhenti karena Rissa masih diam di dalam mobil.
" Rissa...!" teriak William.
" Kak Willy pergilah duluan, Arvan mau bicara sebentar dengan Rissa..." ucap Arvan.
" Apa kalian sudah saling kenal sejak lama...?"
" Iya Kak, kami memang pernah bertemu sebelumnya..."
" Huft... ya sudah, saya cari Raka dulu di dalam..."
" Iya Kak..."
Arvan segera menghampiri Erina yang masih di dalam mobil. Arvan menarik nafas dalam - dalam sebelum masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Erina.
" Erina, kenapa tidak turun? Kita harus mencari Raka..." ucap Arvan lembut.
Rissa mendongakkanwajahnya lalu menatap Arvan dengan tatapan kesedihan.
" Apa kau pernah seperti itu waktu kecil...?" Rissa kembali menatap ke depan melihat pasangan suami istri yang menggandeng seorang anak kecil di tengah - tengah mereka.
" Iya, Ayah dan Ibu selalu mengajakku ke taman setiap akhir pekan. Bahkan Ibu sampai membuat toko bunga karena beliau sangat menyukai bunga..." jawab Arvan.
" Apa kau bahagia...?" airmata Rissa kembali menetes.
" Menangislah jika itu bisa membuatmu lebih tenang. Tapi jangan pernah menangis di depan anak kita..."
Arvan menarik tubuh Erina ke dalam dekapannya. Erina menangis kencang dalam pelukan Arvan. Beban yang selama ini terpendam, pecah seketika saat ini juga. Ia tumpahkan segala kepedihannya pada lelaki yang telah membuat impiannya hancur.
Namun saat ini, hanya dalam dekapan pria itu hati Erina merasa tenang dan nyaman. Dia mengesampingkan rasa bencinya sejenak untuk menenangkan perasaannya.
" Kenapa kau lakukan itu padaku...?" ucap Erina sambil terisak.
" Aku minta maaf, ini semua diluar kendaliku Erina. Aku tidak berdaya waktu itu..." sahut Arvan dengan segala rasa bersalahnya.
" Kau tahu kenapa Raka ke tempat ini...?"
" Tidak Erina, aku bahkan belum pernah mengajak Raka kesini sebelumnya..."
" Dulu aku sering ke tempat ini saat hatiku sedang sedih. Aku merindukan Ibu, merindukan sebuah keluarga yang utuh dan harmonis..."
" Maksud kamu, Raka_..."
" Raka juga menginginkan hal sama seperti aku dulu. Dia menginginkan orangtua yang utuh yang selama ini tidak pernah dia dapatkan..."
" Maafkan aku, seandainya waktu itu aku tidak terlambat mencarimu mungkin hidup Raka tidak akan sesedih ini. Semua ini adalah kesalahanku, seandainya waktu di rumah sakit itu aku punya waktu untuk melihatmu bersama Ibu, mungkin Raka bisa memiliki orangtua yang utuh..."
" Apa kau mencariku...?"
Erina mengurai pelukannya lalu menatap wajah Arvan dengan lekat.
" Iya Erina, aku mencarimu. Aku bahkan sudah bertemu dengan Ayahmu..."
" Sudahlah, sekarang sudah tidak ada gunanya lagi. Aku mau mencari Raka sekarang..."
" Tunggu Erina_..."
.
.
TBC
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments